SMS yang mengubah mimpi menjadi kenyataan

Sore ini saya ‘bernostalgia’ (membuka + membaca) SMS di HP yang lama. Banyak kenangan SMS selama kuliah di UMM yang masih tersimpan rapi di inbox dan folder ‘sent items’ HP jadul yang hingga saat ini masih saya pakai. Sengaja gak saya hapus. Sayang kalo dihapus. Membaca percakapan yang ada di SMS seperti membaca buku diary. Pikiran mau gak mau akan dibawa ke masa dimana SMS itu diketik, terus dikirim. Juga merasakan kembali suasana emosional yang muncul saat itu.

Saya hanya bisa senyam-senyum gak jelas seperti orang gila yang sedang kasmaran. Hingga akhirnya saya terhenti sejenak saat membaca SMS dari sekian banyak SMS yang saya kirim ke salah satu kawan baik saya, Yuswardi. Kami suka SMS-an dalam Bahasa Inggris waktu itu. Jadi banyak SMS diantara kami dalam Bahasa Inggris yang (harap dimaklumi) masih amburadul. Hehe..

Tapi, hal itu tak jadi masalah. Niat kami waktu itu adalah untuk belajar dan berlatih meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris kami (khususnya tulisan) yang masih jauh dari predikat ‘Excellent’. Bahkan hingga hari ini pun kami masih terus belajar dan berlatih dengan alasan yang sama. Gak ada kata berhenti belajar dan berlatih dalam kamus kehidupan kami.

Setidaknya ada 3 SMS yang saya kirim ke Yuswardi waktu itu. 3 SMS ini saya kirim dalam waktu yang berdekatan berdasarkan riwayat waktu pengirimannya. Saya gak ingat persis topik apa yang sedang kami bahas. Tapi ketika membaca isi dari SMS-SMS tersebut, saya yakin saat itu kami sedang bertukar pikiran soal beasiswa dan impian untuk ke luar Negeri melanjutkan studi (melalui program beasiswa).

Berikut petikan SMS-nya :

“I dn’t care!! When I want smthing, I’ll never stop till I get it!! At the end, let’s move together!! I do believe, next year I’ll be not in Indonesia, I’ll be somewhere in another part of the globe!! Insha Allah. My CV has done, now I’m working on anther stuff. Really, I’ll never say never 4 evry single chance that comes to my life!! So what about you??? :D” (Details, To: Yuswardi, sent: 05:16:40pm. 12-09-2011)

“Coz I’m a winner not a Quitter!! A winner never quit, n A Quitter never win!! Just make ur choice!! Winner or Quitter?? :D” (Details, To: Yuswardi, sent: 05:20:11pm. 12-09-2011)

“Just keep this magical words “If there’s a will, there’s a way”, “If you can dream it, you can do it”, “If u think u can, yes u can” n eventually, when u want something, the universe will work for it with the power of The Almighty Allah swt. Let’s just keep doing, moving, n praying fo the best in ourlives!! Allahuakbar!!! :D” (Details, To: Yuswardi, sent: 05:26:28pm. 12-09-2011)

 

Setelah membaca 3 SMS di atas saya merenung, tepatnya membawa diri ‘terbang’ kembali ke masa itu. 12 September 2011. Kurang lebih 5 tahun yang lalu. Waktu itu kami memang sedang mempersiapkan beberapa berkas untuk mendaftar program beasiswa Erasmus Mundus yang sedang dibuka. Kebetulan kampus kami menjadi salah satu mitra Universitas di Indonesia dengan pihak Uni Eropa yang merupakan sponsor dari program beasiswa Erasmus Mundus tersebut. Ada pun kampus yang menjadi tujuan atau mitra dari beasiswa ini semuanya berada di Eropa.

Eropa, salah satu benua yang kaya akan keragaman budaya, bahasa, sejarah,  dan peradabannya. Pokoknya bikin ngiler dah kalo udah ngebahas seputar benua biru itu. Kampus-kampus disana keren-keren baik dari segi sejarah maupun dari segi kualitas sistem Pendidikannya. Gak ada yang gak setuju dengan pernyataan ini kan? Hehe.

Di sisi lain, waktu itu kami juga masih belum selesai dari program OJT di salah satu hotel yang ada di Kota Batu. Masih segar dalam ingatan, semangat dan energi untuk mendaftar berbagai program beasiswa short-term ke luar Negeri begitu besar. Tak ada kata berhenti mencari (atau tepatnya berburu) informasi yang berhubungan dengan program beasiswa ke luar Negeri.

Saya tahu, we were not alone. Pada saat yang sama ada puluhan, ratusan, bahkan ribuan pelajar/mahasiswa di Indonesia yang juga sedang berburu apa yang kami buru, yakni beasiswa. Terlepas apakah beasiswa full-degree (untuk studi S1/S2/S3 di luar Negeri) atau hanya short-term program saja. Apa pun itu, intinya kita sama-sama berjuang untuk sebuah impian memperoleh beasiswa ke luar Negeri.

Yang membuat saya tersenyum setengah gak percaya adalah saya baru menyadari apa yang saya tulis dalam SMS tadi benar-benar terjadi. Benar-benar menjadi kenyataan. Dan yeah, bahkan setelah saya kembali dari belahan dunia yang lain (setahun setelah SMS tadi saya kirim), saya pun masih belum sadar bahwa saya pernah menulis ‘sesuatu’ yang, percaya atau tidak, telah mengantarkan jiwa dan raga saya terbang ke belahan dunia yang lain.

Dalam SMS yang pertama di atas, saya menulis : “…..  I do believe, next year I’ll be not in Indonesia, I’ll be somewhere in another part of the globe!! Insha Allah.”

Dan Alhamdulillah tahun berikutnya, saya benar-benar berada di belahan dunia yang lain. Kebetulan? Ah, rasanya tidak. Saya lebih suka menyebutnya dengan keberuntungan yang bukan kebetulan. Ya, karena dari dulu saya selalu percaya gak ada yang terjadi secara kebetulan di alam semesta ini. Semua atas rencana dan kehendak yang Maha Kuasa, Allah Subhanallahi wabihamdihi subhanallahil adzim. Dan, ini juga penting, karena ada proses yang saya jalani dibalik keberuntungan yang bukan kebetulan itu.

Setelah saya pikir-pikir, delapan bulan kemudian sejak SMS tersebut saya kirim, akhirnya saya berhasil mendapatkan kesempatan untuk terbang dan menginjakkan kaki di belahan bumi yang lain. Waktu yang relatif singkat. Delapan bulan (kurang lebih) Semesta bekerja (atas Perintah sang Pencipta) membantu mewujudkan apa yang menjadi impian saya waktu itu.

Lantas bagaimana kelanjutan dari berkas aplikasi beasiswa Erasmus Mundus yang waktu itu kami persiapkan dan daftarkan? Alhamdulillah gak ada yang lolos. Hahaha!

Tapi, Allah ternyata punya rencana lain buat saya. Saya tidak menyerah. Saya terus mencari informasi lain baik di lingkungan kampus, searching di Internet, maupun di berbagai kegiatan pameran Pendidikan luar Negeri yang diselenggarakan di Kota Malang.

Hingga akhirnya saya mendapatkan informasi salah satu beasiswa yang kemudian mengantarkan saya pada apa yang saya tulis di SMS tadi. Benar-benar berada di belahan bumi yang lain. Bukan di Eropa tapi di Amerika! Masha Allah…

Mengenang perjuangan kala itu, selalu membawa semangat dan energi positif untuk terus berjuang dengan sungguh-sungguh terhadap segala hal yang menjadi impian, cita-cita, dan harapan. Gak ada kata menyerah, gak ada kata putus asa, gak ada kata berhenti terhadap setiap mimpi yang kita miliki, sekecil atau sebesar apa pun itu. Karena Tuhan tak mengenal kata ‘kecil’ atau ‘besar’. Bagi-Nya semua impian itu sama saja. Tinggal bagaimana kita mau atau tidak untuk berjuang dengan sungguh-sungguh dalam meraihnya.

Pelajaran penting yang bisa sama-sama kita catat adalah, apa pun impian atau keinginan atau cita-cita kita, harus dan wajib ditulis. Sekali lagi, di-tu-lis. Dimana saja gak jadi masalah. Selama ia tertulis. Karena, berdasarkan apa yang telah saya alami, impian/keinginan yang kita tulis (apakah di buku catatan, handphone, tablet, laptop, dll) cepat atau lambat, percaya atau gak percaya, akan menjadi kenyataan. Sekali lagi, akan menjadi kenyataan. Ajaib. Benar-benar ajaib!

Tentunya, harus ada niat yang sungguh-sungguh untuk mewujudkannya. Terus dibarengi dengan usaha keras dan do’a dalam proses perjalanan mewujudkan impian tersebut. Sungguh, semesta akan berkonspirasi dalam mewujudkan impian dan keinginan kita. Dan yang pasti, Allah swt juga gak akan tinggal diam. Dia pasti akan membantu. Pasti.

Sangat mudah bagi Allah untuk mewujudkan semua keinginan/impian hamba-hamba-Nya. Kalau Dia sudah berkehendak, gak ada satu setan makhluk pun yang bisa menghalangi keputusan-Nya. Cukup baginya mengatakan, “Kun! faya kun!” Jadi!, maka jadilah (sesuatu itu). Yang jadi pertanyaan kemudian adalah apakah kita sudah pantas (menerimanya)? Apakah kita sudah siap (lahir-batin)? Apakah kita sudah berusaha dengan sungguh-sungguh dalam meraihnya?

 

***

Semoga tulisan singkat ini menjadi penyemangat, khususnya bagi saya pribadi, juga teman-teman yang saat ini sedang berjuang. Tak hanya dalam hal ‘berburu’ beasiswa, tapi dalam hal apa pun yang menjadi impian dan cita-cita dalam kehidupan masing-masing.

Teruslah berjalan. Teruslah bergerak. Teruslah mencari. Teruslah berusaha. Dan, ini yang paling penting, teruslah berdo’a dan berbaik sangka. Tanpa do’a apa yang terlihat mustahil akan selamanya terlihat mustahil. Dan dengan kekuatan do’a apa yang tak mungkin akan menjadi mungkin atas kehendak dan kuasa-Nya. Berbaik sangka juga sangat penting. Bukankah Allah itu sesuai dengan prasangka hamba-Nya? Jadi do’a + baik sangka adalah komponen utama dalam proses memperoleh keberuntungan yang bukan kebetulan (dalam hal apa pun, gak hanya sebatas dalam mencari beasiswa).

Yakinlah, suatu saat nanti kita akan mendapatkan apa yang kita inginkan dan impikan. Jika belum, jangan menyerah dan patah semangat. Teruslah berjuang. Jangan berhenti sebelum berhasil mendapatkan apa pun yang kita inginkan dalam hidup. Hidup di dunia ini hanya sekali kan? Jadi sayang banget kalau nanti di akhir hayat kita, ada kata menyesal yang muncul karena kita telah memutuskan untuk menyerah (terlalu dini) atas impian, harapan, keinginan, dan cita-cita kita.

Semoga tidak ya.

 

Salam Semangat,

 

Arasyid Harman

Advertisements

Tanya-tanya Beasiswa-Part 2

Di Part 2 ini hanya ganti orang aja. Pertanyaannya masih sama. 🙂

 

  •  Ada yang bilang, dapat beasiswa studi di luar negeri itu susah loh. Apa benar begitu?

Untuk mendapatkan beasiswa studi di luar negeri itu memang benar sangat susah, tetapi bukan bearti itu tidak mungkin untuk didapatkan. Dengan usaha yang keras dan tekad yang kuat semua pasti akan menjadi mudah.

  •   Saat ini sedang mendapatkan beasiswa apa ya? Bisa disebutkan nama program beasiswa, durasi program, dan negara tujuannya.

Beasiswa Erasmus Mundus, 1 semester (5 bulan), Czech Republic.

  •  Kenapa tertarik mengikuti program beasiswa Erasmus Mundus? Menurut kamu, apa sih kelebihan dari beasiswa Erasmus Mundus ini dibandingkan dengan beasiswa luar negeri lainnya?

Menurut saya setiap program beasiswa punya kelebihan masing-masing. Nah, kelebihan beasiswa Erasmus Mundus tersebut adalah dia menawarkan berbagai macam program di dalamnya, dia juga menawarkan banyak pilihan Negara.

  • Untuk bisa sukses mendapatkan beasiswa Erasmus Mundus (baik S1, S2, S3 atau Exchange Program) di luar negeri, apa aja yang harus dipersiapkan oleh teman-temanyang ingin mendaftar?

Yang paling utama yang harus dipersiapkan adalah motivasi dan semangat yang kuat, nah yang paling utama kedua adalah motivational letter.

  • Berdasarkan pengalaman, hal-hal apa yang menjadi faktor keberhasilan sebuah aplikasi beasiswa dapat diterima (lolos seleksi) ?

Essay dan recommendation letter.

  • Apakah benar, untuk mendaftar beasiswa Erasmus Mundus, selain bisa Bahasa Inggris, kita juga diharuskan untuk menguasai bahasa negara yang akan menjadi tujuan kita belajar? Misalnya bahasa Italy, atau Polandia?

 Itu tidak benar, tidak ada syarat yang menunjukkan hal demikian.

  • Sejauh ini tantangan selama belajar di Eropa (khususnya di negara tujuan) yang dialami sendiri apa aja?

 Kita harus lebih aktif dalam proses belajar dan tepat waktu.

  •  Selain belajar/kuliah, aktivitas lain selama berada di kampus apa aja ya?

 Duduk bersama mahasiswa yang berasal dari negara lain sambil sharing beberapa ide.

  •  Apakah dibolehkan, bagi penerima beasiswa Erasmus Mundus untuk “nyambi” atau nyari kerjaan part-time diluar jam kuliah? Kenapa?

 Tidak boleh, karena semua biaya hidup sudah diberikan.

  •  Berdasarkan pengamatan dan pengalaman kamu, secara garis besar, apa sih perbedaan sistem perkuliahan yang ada di kampus-kampus Eropa dengan yang ada di Indonesia? Mungkin bisa sedikit dijelaskan per poinnya. Misalnya dari segi dosen, mahasiswa, organisasi mahasiswa, dan interaksi antara dosen dan mahasiswanya.

Dari segi dosennya, dosen selalu datang tepat waktu, memberikan kabar kepada mahasiswa terlebih dahulu terhadap apapun yang terjadi, selalu semangat dalam mengajar di waktu apapun, pagi, siang, sore, maupun malam.

Dari segi mahasiswa, aktif dalam diskusi, tidak malu dalam mencoba.

Dari segi organisasi mahasiswa mereka selalu extra dalam mengerjakan segala hal.

Dari segi interaksi antara dosen dan mahasiswa selalu terlihat sangat akrab dan friendly.

  •  ApaTips Sukses Meraih beasiswa Erasmus Mundus dari kalian untuk temen-temen dan pembaca di tanah air?

Semangat keras, tekad yang kuat, belajar memperbaiki diri, belajar menulis essay lebih giat, dan tidak lupa untuk berdoa.

 

Lanjut ke Part 3 🙂

 

 

 

Journey to America – Part IV

PART IV – PDO (Pre-Departure Orientation)

Setelah pengumuman final itu, sekitar satu sampai dua minggu kemudian, saya dan semua grantees (penerima beasiswa IELSP Cohort X 2011) disibukkan dengan persyaratan administratif yang harus kami penuhi sebelum keberangkatan kami ke Negeri Paman Obama.

Kami diminta untuk segera membuat passport, foto visa, dan beberapa persyaratan administaratif lainnya. Cukup melelahkan juga, tapi semua telah terbayar, karena kesempatan untuk menginjakkan kaki di Negara super power sudah dalam genggaman.

Alhamdulillah…semua ini adalah karunia dan rezeki yang sangat besar dari Allah swt. 🙂

Singkat cerita, saya dan teman-teman yang beruntung memperoleh beasiswa IELSP cohort X ini di pertemukan dalam acara PDO (Pre-Departure Orientation) di Jakarta pada akhir bulan Maret 2012.

Oh ya, sebagai informasi, total penerima beasiswa IELSP Cohort X ada 80 orang yang berasal dari 80 kampus/Universitas berbeda di seluruh Indonesia.

Kami dibagi menjadi empat grup, masing-masing grup berjumlah 20 orang dengan tujuan Negara bagian (state) yang berbeda di Amerika Serikat. Grup pertama akan diberangkatkan ke Arizona dan akan belajar di Arizona State University.

Kemudian Grup kedua, akan diberangkatkan ke Iowa dan akan belajar di Iowa State University. Selanjutnya Grup ketiga, akan diberangkatkan ke Kansas, dan akan belajar di University of Kansas.

Dan terakhir, Grup empat, akan diberangkatkan ke Colorado. Grup pertama berangkat pada bulan Maret dan kembali lagi ke Indonesia pada bulan Mei.

Selanjutnya Grup kedua dan ketiga berangkatnya bersamaan yakni pada akhir Bulan Mei dan kembali lagi ke Indonesia pada akhir Bulan Juli. Dan terakhir grup lima, akan berangkat ke Amerika pada pertengahan bulan Agustus dan kembali ke Indonesia pada bulan Oktober.

Nah, acara PDO ini adalah orientasi seputar program beasiswa IELSP dan persiapan sebelum kami berangkat ke Amerika. Selain itu, ini adalah moment untuk bertemu dan berkenalan langsung dengan grantees lain yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. 🙂

Sebelumnya saya dan sesama grantee yang akan berangkat dan belajar di Kansas (selanjutnya saya tulis dengan Kansas Grantees 2012), telah berkenalan dan berkomunikasi lewat group page yang kami buat di situs jejaring facebook dan tentunya lewat handphone untuk bertukar informasi seputar hal-hal yang harus kami persiapkan sebelum PDO dan keberangkatan kami ke Amerika.

Alhamdulillah, kami sudah akrab sekitar sebulan lebih sebelum kami bertemu langsung di PDO. Saya senang sekali, karena anak-anak Kansas Grantees [hampir] semua easy-going dan gokil-gokil dengan keunikan mereka masing-masing.

Belum juga ketemu langsung, di facebook kita sudah sering bercanda dan saling memberikan nama panggilan baru yang bukan nama panggilan kami yang sebenarnya. Sebagai contoh (baca: korban pertama), teman saya Hans Riki Wibowo yang berasal dari Semarang dipanggil dengan Wewei. Aslinya sih nama panggilannya Riki.

Kemudian grantee yang lain, Dyan Agustin dari Aceh, kami beri nama panggilan baru dengan Utin, padahal nama panggilan sebenarnya Dyan. Hahaha 😀

and guess what? Nama panggilan baru saya adalah Maman. Hahaha 😀

Gak tau darimana judulnya ini nama. Mungkin mereka comot dari tiga huruf terakhir nama belakang saya, Harman. Padahal saya biasa dipanggil Rasyid sebagai nama panggilan di lingkungan teman dan dosen saya di kampus. Dari sinilah keakraban di antara kami dimulai. 🙂

PDO berlangsung dari tanggal 25 – 28 Maret 2012 di Jakarta tepatnya di Hotel New Idola, Jakarta Timur. Seru sekali, meskipun kegiatannya lumayan padat dari pagi sampai malam, kami semua Alhamdulillah bisa menikmati rangkaian acara demi acara.

***

Di hari pertama, kami berkumpul di Meeting Room Hotel setelah semua peserta tiba di Hotel (Check in). Disana kami disambut oleh Mbak Chichi dan Mbak Fenty, dua orang yang sudah kami kenal (meskipun kenalnya lewat email) dan sangat berjasa karena merekalah yang mengurus semua hal-hal admistratif terkait beasiswa ini mulai dari A – Z.

Sore itu agendanya adalah Visa Briefing, yakni penjelasan seputar pengajuan Visa ke Amerika, termasuk tips interview Visa. Mbak Chichi dan mbak Fenty menjelaskan dengan detail semua hal yang berhubungan dengan U.S. Visa, lokasi Kedutaan Besar Amerika di Jakarta, the Do’s and Don’ts selama interview Visa, dan dokumen yang harus dibawa saat interview visa.

Sesuai agenda PDO, kami dijadwalkan untuk melakukan Visa Interview pada hari kedua yakni hari Senin (26 Maret 2012).

Visa Interview 

Keesokan harinya, tepatnya pukul 05:30 pagi, kami berangkat ke Kedutaan Besar Amerika yang terletak di Jl. Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat. Kami berangkat pagi-pagi untuk menghindari kemacetan yang jamak terjadi di Ibu Kota Jakarta.

Selain itu, yang paling penting adalah agar kami semua tidak terlambat sampai di Kedubes Amerika. Sesuai jadwal, kantor Kedubes Amerika dibuka tepat pukul 07:00. Dan biasanya, sudah banyak orang-orang yang antri di depan pintu gerbang Kedubes dengan tujuan mereka masing-masing. Namun, kebanyakan adalah untuk mengurus Visa dengan agenda study, liburan, atau urusan bisnis dan pekerjaan di Amerika.

Alhamdulillah, kami tiba lebih awal dan menjadi rombongan antrian pertama yang berjejer di sepanjang jalan trotoar di samping Kantor Kedubes Amerika. Tak lama berselang, muncul beberapa orang yang juga langsung membuat antrian di belakang kami.

Selama menunggu pintu gerbang dibuka, kami mempelajari kembali tips interview visa yang diberikan oleh mbak Chichi dan Mbak Fenty.

Kantor Kedubes Amerika sepintas terkesan “angkuh” dengan pintu gerbangnya yang berdiri kokoh dengan jeruji kawat besi menghiasi puncak gerbangnya. Dikelilingi tembok yang tingginya mungkin setinggi 5 meter, mungkin juga lebih. Saya mau sih iseng ngukur, tapi gak sempat bawa meteran! Hahaha. 😀

Tepat pukul 07:00 WIB, pintu gerbang Kedubes Amerika yang berwarna coklat kehitam-hitaman dibuka. Kami pun segera berjalan masih dalam formasi antrian, merapat ke pos pertama yakni Security Check and Appointment Check yang memeriksa jadwal untuk interview visa.

Alhamdulillah, semua berkas yang dibutuhkan sudah disiapkan oleh Mbak Chichi. Kami juga diminta untuk menunjukkan passport dan diharamkan untuk membawa masuk makanan dan minuman, HP, Kamera, dan semua jenis alat elektronik. Jadi semua gadget harus dititipkan di pos, tidak boleh dibawa masuk.

Setelah Security Check selesai, kami diperkenankan masuk. Di dalam ternyata luas juga, ada lapangan tenisnya. Ini Kedubes apa lapangan olahraga.hehe 😀

Selanjutnya kami diarahkan untuk menuju ruang tunggu. Disana, kami duduk berjejer menunggu instruksi selanjutnya. Alhamdulillah, salah seorang petugas datang menginformasikan kalau rombongan IELSP dari IIEF segera menuju ke loket 1 dan 2 dengan tetap membuat antrian. Jadi kami mendapat prioritas untuk dilayani lebih dulu. #Horeeee 😀

Kami merasa seperti rombongan VIP 😀

Selanjunya kami dibagi kedalam grup, untuk kemudian dipanggil interview. Nah pas interview Visa ini yang bikin jantung lompat-lompat tak beraturan.

Kami masuk lagi kedalam ruangan untuk interview. Di dalam ruangan ini ada beberapa loket (sekitar 10, mungkin lebih), untuk interview. Satu-satu kami dipanggil. Beberapa grantees yang dipanggil duluan, saya amati pertanyaan yang diajukan, secara umum kurang lebih sama.

Tiba giliran saya, saya sudah mempersiapkan jawaban yang akan saya berikan ketika ditanya oleh petugas yang akan meng-interview saya. Well, pertanyaannya sangat simple dan mudah sekali. Tidak sesulit yang saya dan teman-teman bayangkan. Cuman, ya itu suasananya yang agak bikin ketar-ketir.hehe 😀

Saya diinterview oleh seorang petugas bule (ini orang Amerika asli), tinggi besar, laki-laki. Sebelum ditanya, dia mengecek semua dokumen persyaratan Visa termasuk passport.

What’s your name? why you want to come to US? Who pays for your trip? How long you will be staying in US? Adalah pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada saya dan teman-teman IELSP grantees. Ada juga beberapa pertanyaan lain yang tidak terduga, seperti have you ever been overseas before? Where, when, and how long?. Tapi empat pertanyaan pertama selalu ditanyakan.

Setelah diinterview, kami diberikan kartu berwarna yang menandakan apakah permohonan Visa kami diterima atau ditolak.

Kalau kartu yang diberikan itu warnanya putih, itu berarti permohonan Visa kami diterima. Warna kuning, itu artinya belum diterima, masih akan diproses. Dan warna merah, itu artinya ditolak.

Setelah kami semua selesai interview, kami keluar menuju ke halaman depan, kami berkumpul di salah satu sudut gedung. Disana kami mengecek apakah ada di antara kami yang mendapat kartu selain warna putih.

Dan kami semua kaget, ternyata salah satu dan satu-satunya teman kami, Layla, yang mendapat kartu warna kuning. Sisanya warna putih semua.

Waduh, gimana ini? Layla pake acara nangis segala lagi. Hahaha 😀 wajarlah dia nangis, karena She was the only & lucky one yang dapat kartu sakti warna kuning. Hahaha 😀

Kalau ada dua atau tiga orang, mungkin dia ga akan sedih dan nangis. Atau bisa jadi juga, ketiga-tiganya nangis semua. Wah bisa gempar tuh kantor Kedubes Amerika… hehe 😀

Akhirnya kami menghubungi mbak Chichi, memberitahukan masalah ini. Kami membesarkan hati Layla, agar dia bersabar, InshAllah Visanya akan keluar. Saya dan beberapa teman pun bertanya-tanya, kok bisa si Layla dapat kartu kuning?

Kata teman-teman saat dia diinterview tadi, dia jawabnya gak lancar dan terlihat gugup bin nervous. Hmm.. mungkin itu penyebabnya. Dan ini yang perlu dicatat, ketika mendapatkan kartu kuning atau putih, kami dan semua pemohon Visa Amerika tidak dibenarkan dan dibolehkan untuk bertanya kenapa pengajuan Visa kami tidak diterima.

Alasannya? Saya dan teman-teman bahkan orang yang punya pengalaman mengurus Visa Amerika pun tidak tahu. Ya begitulah, their home, their rules.

Setelah urusan di Kedubes Amerika selesai, kami kembali ke Hotel. Waktu itu Kota Jakarte panas terik pemirsa dan ya seperti yang sering kita lihat di layar kaca, macet & crouded ..hehe. Kami kembali ke Hotel dengan menumpangi Blue Bird taxi. Alhamdulillah urusan Visa selesai juga.

What’s next??? Penasaran kan? 😛

Just stay tuned and scrolling down!! Hehe 😀

Medical Check-Up

Next thing was, Medical Check-Up. Setelah break-time (Sholat dan Makan siang), semua IELSP Grantees dicek kesehatannya. Tujuannya apa? Agar tidak menyusahkan ketika program berjalan dan tentu saja sebagai langkah antisipasi manakala ada satu dua virus penyakit yang bersarang di dalam tubuh para Grantees.

Jadi sebelum berangkat ke Negeri Uncle Obama, kesehatan kami semua harus oke. Apabila ada satu dua peserta yang kesehatannya bermasalah, kemungkinan besar dia tidak akan diberangkatkan. Sampai segitunya ya…hehe. Karena, lagi-lagi, rule is rule & it’s theirs. Pokoknya Sami’na Wa ato’na deh.. hehe 😀

Satu-satu kami diperiksa. Mulai dari periksa dan tes urine, mata, mulut, sampai tes paru-paru dengan sinar X (Rontgen).

Selain itu, kami juga diberikan vaksin MMR (Mumes, Miles, dan Rebula), yakni vaksin antibiotic untuk mencegah penularan virus campak. Karena dikhawatirkan ketika berada di Amerika nanti sistem immune kami tidak akan bisa beradapatasi dikarenakan iklim dan cuacanya yang sangat berbeda dengan  yang ada di Indonesia.

Jadi pemberian vaksin sebelum kami berangkat adalah sebuah keharusan. Tim medis yang mengecek kesehatan kami adalah tim medis yang sangat professional dari Omni International Hospitals Jakarta.

Malam harinya, kami semua diajak rekreasi. #Horeee 😀

Gila aja, belum juga berangkat ke Amrik, udah diajak jalan-jalan. Alhamdu..? Alhamdulillaaaah… 😀

kami di ajak oleh Mbak Chichi mengunjungi @america, yakni pusat informasi Amerika Serikat mulai dari A – Z. Semua informasi tentang Amerika ada disini.

Kalau di Kampus saya dan beberapa kampus lainnya, ada juga pusat Informasi seputar Amerika, namanya American Corner. Namun di @amerika ini lebih lengkap dan design ruangannya benar-benar High-tech guys!! for more info about @america go here.

Ini nih beberapa foto di @america yang sempat diabadikan 😀

@america 01

Welcome gate @america. silahkan masuk 😀

@america 02

Semuanya liat kamera!! Senyuuuummm ^_^ eh eh, itu si Harun gagal fokus! #Plak! 😛 hahaha 😀

@america 03

Liat kamera yg satunya lagi woi! Senyuuumm… ^_^ ada yg gagal fokus lagi ga? 😛

@america 04

Yah itu si Inche liatin Layla, si Izka liatin Hp, si Unsun? dia liatin mbak yg jd MC ya? #Plak #Plak #Plak hahaha 😀 si Tio angkat tangan mau ngapain yoo?? jangan2 ada yg nodong ya di blakang? 😀 Keep Smileeee ^_^

@america 05

Aduh Wewei, Layla, & Nyndia kepotong. Ini yg jepret siapa ya? Minta ditabokin kayaknya.. #Plak 😀 Del, mana senyuuuumnyaa? #Plak 😀

@america 07

Ciye ciye ciyeee, ini kaka ade ya? ato ade kaka? hahaha 😀

@america 08

Liat sini woi, wuiih tau aja klo ada yg mau jepret. Layla km ga kejepit kah? 😀

@america 09

ayo cemu cenyuuumm… jepret jepret jepret suara kaki kuda.. loh? Haha 😀
Achi kok merem gituuuu? -____- #Plak 😀

@america 10

Wuih si Zul hormat. Jangan2 yg jepret ini Mr. President, wadooh.. eh si Dian jugaa.. ciyee Zul & Dian, janjian yaaa? hahaha 😀

@america 11

Cewe-cewe kece lg mejeng nih.. xixixi. eh ada 2 cew ganteng yg nyasar pemirsaaa.. xaxaxa 😀

 $$$

Esok harinya adalah acara inti yakni pembekalan sebelum keberangkatan kami semua ke US. Ada Ibu Diana (manager IIEF), Mbak Fenty, Mbak Vera, dan beberapa alumni IELSP Cohort sebelumnya yang hadir untuk berbagi cerita pengalaman mereka selama mengikuti Program IELSP di Amrik. Termasuk, US-alumni Coordinator (waktu itu) Mas Karim juga hadir.

Acaranya bukan di hotel New Idola, tapi di hotel Cemara II. Ga tau juga kenapa pindah hotel. Ya kami sih ngikut ja. No problem, no problem. Wong di-bayarin.. hahaha 😀

Seru banget. Bu Diana menjelaskan hal-hal seputar persiapan baik fisik maupun psikis. Apa saja yang perlu kami persiapkan sebelum keberangkatan, terutama yang berkaitan dengan persiapan mental. Disana, kata beliau, sangat sangat berbeda dengan di Tanah Air. Mulai dari budaya, cuaca, makanan, gaya hidup, dan lain-lain. Jadi kami harus bisa beradaptasi dengan segala hal yang 180 derajat berbeda tersebut.

Di menit-menit awal, Bu Diana mengucapkan selamat atas keberhasilan kami semua menjadi penerima (Grantees) beasiswa IELSP Cohort X. Katanya kami adalah orang-orang terpilih yang berhasil menyisihkan 3000 lebih peserta lainnya se-Indonesia. Waoooo… baru tau, ternyata ada 3000 lebih yang mendaftar. Dan yang lolos seleksi hanya 80 orang out of 3000!! udah biasa aja, ga usah bilang wow lagi. Cukup sekali aja bilang wao-nya. hehe.

Orientasinya berlangsung seharian, dari pagi sampe malam. Lumayan capek, tapi ga terasa capeknya karena ada energy booster : makanan + minuman super yummy ala buffet, plus snack yang, MashAllah laziizzzzz…hehehe 😀

$$$

Di penghujung orientasi dan pembekalan, sebelum kami kembali ke hotel New Idola, ada satu agenda yang harus kami selesaikan. Yakni pemilihan Group Leader. Wah, ini sih agenda yang ga ada di jadwal PDO, tapi penting.
Kami, grup Kansas dan grup Iowa, mencari spot yang nyaman untuk diskusi sekaligus musyawarah untuk memilih salah satu di antara kami sebagai ketua grup. Oh ya, lupa ngasi tau. Jadi di PDO ini ada dua grup yang ikut PDO dan akan berangkat bareng. Yakni grup Kansas, dan Iowa. Jadi ada 40 orang yang nantinya akan berangkat bersamaan di penghujung bulan Mei 2012.

OK Lanjuuuuut!

Karena mungkin efek capek & ngantuk, pemilihan ketua grup Kansas (grup kami) di hotel Cemara hasilnya nihil. Udah ada sih beberapa nama yang diusulkan sama teman-teman. Tapi, ada juga yang ngusulin ga usah pake voting segala. langsung aja, siapa yang mau, suka & rela. Ga usah pake acara voting-votingan. Ya ribet deh jadinya.

Akhirnya, sampe waktu habis, ga ada yang mau ngacung secara suka rela untuk menjadi grup leader. Mau ga mau kami harus voting untuk memilih satu nama sebagai group leader Kansas Grantees.

Bagaimana dengan grup Iowa?? wah, mereka udah kelar duluan. Ga tau juga, apa mereka pake acara voting, atau suka rela.
Lah kami? Kansas?? Mbuleeeet pake ribeeett. hahaha 😀

Saya sih nge-jagoin si Harun, karena menurut saya dia punya inisiatif yang cukup menonjol di antara kami. Ya dari hari pertama, udah keliatan aksinya. Mulai dari mengkoordinir teman-teman nyari taksi untuk interview visa di Kedubes Amerika, sampe gedor-gedor pintu kamar teman-teman untuk segera siap-siap berangkat ke Hotel Cemara II. Selain itu, menurut saya, dia juga punya sense of fatherhood. Bahasa Indonesianya, gimana ya? rasa ke-Bapakan kali ya? hehe.

Karena tak kunjung ada yang mau menghibahkan dirinya menjadi ketua grup, resikonya kami malam itu ga boleh langsung tidur sekembalinya ke Hotel New Idola. Voting is the final method.

Grup Iowa pas nyampe di hotel New Idola udah santai, bisa langsung tidur, leyeh-leyeh, karena udah ada yang menjadi grup leader mereka. Terlepas metode apa yang pakai, apakah voting, sukarela, atau malah langsung ditunjuk secara sepihak? haha.

Malam itu kami, grup Kansas (terpaksa) harus ngumpul lagi di salah satu sudut hotel New Idola di lantai tiga. Bukan sudut sih, apa ya, anggap aja spot atau tempat ngerumpi gitu. hohoho.

Ngapain? ya ngapain lagi kalo bukan untuk ngelanjutin acara pemilihan ketua grup yang belum sampai pada “titik didih” di hotel Cemara II tadi. Waktu itu udah mau masuk tengah malam. Tepatnya jam 11:00 kurang 10 menit. Ya elah, anak-anak pada ngaret lagi. Kamp***t!! hahaha 😀

Khususnya teman-teman cewek, ampuuun. Ga tau apa, kita udah capek + ngantuk. Saya dan Zul, ya Zul, salah satu grantee udah datang duluan. Si Zul ini berasal dari kota Pare-Pare. Hayo dimana itu?

Oke. Voting pun berlangsung. Setelah muter-muter dengan opini masing-masing, seputar pilihan tentang siapa yang menurut mereka yang dinilai punya potensi (agak lebih) khususnya dalam hal kepemimpinan, kebapakan, kedewasaan, dan hal-hal lain yang melekat pada seorang figur pemimpin, akhirnya keluar tiga nama yang menjadi kandidat ketua grup.

Dan, yang membuat saya ga habis pikir, nama saya adalah salah satu dari tiga nama itu! Sialaaan!! Padahal saya udah berusaha sebisa mungkin agar tidak masuk nominasi. Loh kenapa? Ribet!! dan pasti tanggung jawabnya berat. Ya Allah, apalagi ini mau mimpin 19 orang dalam sebuah program ke luar negeri. Udah kebayang kan, kayak apa ribetnya. Hmmm…

Tapi ya mau gimana lagi, udah kesepakatan bersama untuk voting. Dua orang lainnya yang berhasil masuk nominasi adalah Dhani, dan Harun. Well, satu per satu kami menuliskan nama dari tiga nama yang menjadi nominasi di sebuah gulungan kertas (ini udah berasa kayak Pemilu Presiden. Hahaha). Si Zul yang menjadi notulen sekaligus presidium voting malam itu.

Saya tidak meragukan kemampuan setiap orang yang berada di hadapan saya malam itu, ya mereka adalah orang-orang pilihan yang – saya yakin – memiliki pengalaman nyemplung di dunia Organisasi. They knew what to do for damn sure!

Setelah selesai, penghitungan suara pun berlangsung. Agak deg-degan juga. Dalam hati, mudah-mudahan bukan saya yang kepilih. Mudah-mudahan si Dhani or Harun yang memperoleh suara terbanyak. Pokonya not me. Iya mereka aja. Hahaha.

Aneh ya, saya. Udah pokoknya hati kecil saya maunya gitu. hehe.
Daaaan, to my surprise, saya yang memperoleh suara terbanyak pemirsa!! Mayoritas memilih saya. Ciyeee… apaan ciye-ciyeee! #plak #plak -_____- Di luar sih kulkas, tapi di dalam, kompor gas!! hahahaha 😀

Ampuuuun. Haduuuh, aslinya kaget dan ga percaya, tapi my sense of acting terpaksa saya pakai dan lipatgandakan. Ya, Ilmu kamuflase-nya si Bunglon malam itu (terpaksa) saya keluarin juga. If you’re smiling or maybe laughing right now, you know exactly what I am talking about! hahahaha 😀

Dan suara terbanyak berasal dari teman-teman cewek. Karena emang jumlah mereka lebih banyak, 60 %. Cowok ya sisanya, 40 %.

Setelah saya terpilih, kami langsung mendiskusikan rencana ke depan, khususnya tentang kegiatan yang akan kami laksanakan selain dari agenda program. Belajar dari pengalaman para alumni sebelumnya, dimana mereka mengadakan acara pementasan seni dan budaya Indonesia di sela-sela program, maka kami juga tak mau menyia-nyiakan kesempatan berharga ini untuk mengenalkan seni dan budaya Indonesia di luar negeri, khususnya di negeri Paman Sam.

Karena teman-teman Kansas Grantees mengamanahkan saya sebagai ketua grup, maka mereka harus mengikuti aturan main yang saya terapkan. hihihi.. (Kuntilanak’s laugh) 😀

Saya langsung menunjuk Tami sebagai wakil merangkap sekretaris. Teman-teman yang lain ga ada yang ga setuju. Apa kata saya dah pokoknya. Ampuuun Boss.. hahaha 😀

Malam itu malah jadinya ngerumpi, tapi ini bukan sembarang rumpi ya guys. Kami ngerumpiin tentang kegiatan atau program dan segala persiapan lahir-batin sebelum kami berangkat ke Amerika.

Termasuk hal-hal remeh-temeh mulai dari bagasi, pakaian, gudget, souvenir, berbagai cinderamata khas daerah masing-masing yang akan kami bawa, hingga makanan. Tapi malam itu fokus utama kami adalah persiapan tentang acara besar yang akan kami persembahkan, yakni pertunjukan seni dan budaya Indonesia di Kansas nanti.

Kok kesannya kayak ga ada waktu lagi buat diskusi gitu? Emang dah ga ada waktu lagi untuk bisa ngumpul langsung bertatap muka. Karena besoknya kami harus kembali ke daerah masing-masing untuk persiapan. Jadi malam itu kami manfaatkan sebaik-baiknya untuk sharing berbagai hal terkait persiapan sebelum kami berangkat.

Si Zul, mencatat dengan seksama apa yang menjadi poin penting diskusi kami malam itu. Termasuk pembagian tugas setiap orang yang nantinya akan menyumbangkan keahliannya dalam pementasan. Mulai dari tari, pencak silat, lagu Nasional, hingga makanan yang akan kami buat untuk para tamu undangan pada puncak acara.

Saya sangat mengapresiasi setiap ide, usulan, serta antusiasme teman-teman Kansas Grantee yang keren-keren. Termasuk salah satu teman yang berasal dari Aceh. Dyan namanya. Ketika Saya tanya apakah dia bisa nari Saman atau tidak. Dengan semangat dia menjawab,

“Wah saya ga bisa nari Saman, tapi nanti saya akan belajar dan latihan sekembalinya ke Aceh.” Really appreciate it, Dyan!

Padahal waktu yang tersisa ga banyak. Sekitar sebulan sebelum hari H keberangkatan. Saya bisa ngebayangin, nari Saman itu ga gampang loh. Dan sebulan untuk menguasai tari Saman dari nol, adalah waktu yang sangat minim. Saya dulu pernah belajar (latihan) dengan teman-teman waktu KKN. Kebetulan ada salah satu teman KKN yang bisa nari Saman. Ampun, itu gerakannya susah-susah gampang. It takes a lot of time and energy to deal with!

Tapi Dyan? dia bersedia untuk belajar nari, padahal dia ga bisa nari Saman. This is what I call dedication, pure dedication. Kami mempercayakan masalah tari Saman ini sepenuhnya kepada Dyan. Dia-lah yang nantinya akan menjadi Instruktur tari Saman buat kami nanti ketika kami sudah berada di Amerika.

Acara ngerumpi berakhir lewat tengah malam. Teman-teman bubar, kembali ke kamar masing-masing. Saya dan beberapa teman cowok masih melanjutkan pembicaraan yang makin larut makin ga jelas arahnya. hahaha 😀

$$$

PDO-pun selesai. Kami kembali ke daerah masing-masing dengan membawa kesan yang berbeda-beda namun tetap satu. Satu? Maksudnya? Maksdunya satu dalam rasa tak sabar untuk segera terbang ke belahan bumi yang lain. hehe.

Di satu sisi, keakraban di antara kami pun semakin erat. Seperti jaring laba-laba yang saling merekat satu sama lain. PDO ini adalah awal dari sebuah persahabatan dan dari sebuah petualangan yang tak lama lagi akan kami jalani bersama.

Kurang lebih satu bulan, waktu yang tersedia untuk mempersiapkan segalanya. Ya sebulan sebelum Departure Day. Saya menyempatkan diri untuk pulang ke rumah. Selain untuk pamit dengan keluarga tercinta, saya juga meng-agendakan untuk bertemu dengan para pemangku kepentingan di daerah saya.

Ya semacam minta do’a restu gitu deh, karena Putra daerahnya memperoleh beasiswa dan akan berangkat membawa nama daerahnya ke salah satu Negara yang memiliki pengaruh besar di dunia Internasional. Plus, nggolek sangu to…hahaha 😀

Pengen liat foto-foto PDO yang lain? Pengen ga pengen tetep saya uplod di bawah. Hahaha 😀

This slideshow requires JavaScript.

To be continued…..

 

 

 

 

Journey to America – Part III

Part III – The Announcement 

Jujur saya akui, meskipun telah berusaha untuk selalu berpikir positif, kata galau sesekali datang menghantui selama menunggu  pengumuman final setelah interview. Galau kalau nanti harapan tidak sesuai dengan kenyataan.hehe  😀

Tapi si Mr. Galau itu tidak berhasil mengalahkan si Mr. Optimis. Yup! Saya terus membayangkan, saya lolos interview dan menjadi salah satu penerima beasiswa ini dan berangkat ke Amerika. 🙂

Di awal saya lupa memberitahu teman-teman kalau saya menuliskan impian saya sebagai salah satu penerima beasiswa IELSP ini.

Saya ketik impian itu, kemudian diprint, dan saya pajang di depan meja belajar. Setiap hari ketika bangun tidur dan selesai sholat Shubuh, saya baca & saya visualisasikan impian saya tersebut sambil berdo’a kepada Allah dalam hati agar mengabulkan keinginan dan impian ini.

Mungkin teman-teman bertanya-tanya apa sih yang saya tulis di selembar kertas tersebut. Baiklah-baiklah, akan saya tulis disini. Berikut tulisannya :

“Congratulations!!! Selamat atas terpilihnya nama-nama dibawah ini sebagai penerima beasiswa Indonesia English Language Study Program (IELSP) Cohort X, 2011.”

Kemudian di bawahnya adalah daftar nama-nama penerima beasiswanya. Nama saya, saya letakkan di urutan pertama. Nama-namanya diurutkan berdasarkan abjad. Kebetulan huruf depan nama saya juga A.

Sebenarnya tulisan di atas saya kutip dari pengumuman penerima beasiswa tahun sebelumnya (Cohort IX, 2010) yang ada di websitenya IIEF, saya edit saja nama pertama dari daftar penerima beasiswa dan saya ganti dengan nama saya.hehe 😀

Alhamdulillah believe it or not, it damn worked out guys!! 😀 

Dan SubhanAllah keajaiban itu pun datang. Kurang lebih dua minggu setelah interview, saya mendapat telepon dari IIEF Jakarta untuk yang kedua kalinya.

Dan seperti yang saya ceritakan di awal, bahwa kalau mendapat telepon itu artinya kita dinyatakan lolos seleksi. Nah saya dapat telepon lagi tuh, itu artinya …….. (Silahkan sambung sendiri kalimatnya) hehe. 😀

Jadi begini cerita lengkapnya.

Waktu itu hari kamis tanggal 28 Desember 2011 sekitar jam 4 sore. Saya sedang berada di kos, tepatnya di dalam kamar saya. Saya sedang mengerjakan laporan akhir Magang. Tiba-tiba Handphone saya berdering, ketika saya lihat di layar, eh nomor dari Jakarta lagi. Jantung dag-dig-dug ketika saya angkat telponnya.

Berikut sedikit percakapan yang masih saya ingat waktu itu:

“Hallo… Assalamu’alaikum”

“Wa’alaikumsalam..”

“Ini benar dengan Rasyid ya?”

“Iya benar sekali” (Jantung mulai dag-dig-dug ga beraturan)

“Rasyid rencana lulusnya kapan?”

“Masih lama mbak. Maaf ini dari IIEF bukan?”

“Iya saya Chichi dari IIEF Jakarta. Kamu rencana lulusnya kapan?”

Sebelum menjawab, saya mikir, ini kenapa nanya lulus ya? Ini mau ngasi tau pengumuman saya lolos atau kagak sih.. Saya tambah deg-degan. Ya Allah… :3

“Hmm… InshAllah sekitar bulan November 2012 mbak.” (Saya jawab aja, meskipun belum yakin nanti bisa lulus bulan November atau tidak.hehe)

“Beneran ya?”

“Iya mbak.”

“Ok. Karena kamu rencana lulusnya setelah bulan Agustus 2012, kami kasih kesempatan nih untuk berangkat ke Amerika lewat beasiswa IELSP”

“Alhamdulillah…Ya Allah…serius mbak???”

(Saya hampir jatuh dari kursi, karena kaget campur senang antara percaya dan gak, macem-macem dah perasaannya waktu itu, ibaratnya kayak permen nano-nano rame rasanya. Hehe)

“Iya Rasyid. Selamat yaa. Nanti informasi selanjutnya akan kami sampaikan lewat email.”

“Iiiiyaa mbaakk… ya Allah.. makasih banyak mbak.” (Tak terasa air mata saya menetes perlahan)

“Iya sama-sama. Oh ya, Kamu nanti beserta grantees yang lain akan berangkat tanggal 28 Mei 2012 ke Kansas, dan akan belajar di University of Kansas. Sekali lagi selamat yaaaa…. Yaudah saya masih mau menelpon grantees yang lain. Assalam’alaikum….”

“Wa’alaikumsalam….”

Begitu telpon ditutup, saya langsung sujud syukur. Ya Allah terimakasih, terimakasih telah mengabulkan permohonan saya. Jujur saya nangis… T_T

Benar-benar tidak bisa saya gambarkan bagaimana perasaan saya saat itu. Senang sekali, rasa-rasanya seperti ditelepon dan dicium oleh Bidadari dari surga. Miss. Universe lewat dah..hehehe 😀

Saat itu juga saya langsung menghubungi Ibu saya di rumah. Saya kabari kalau saya lolos interview beasiswa IELSP dan InshAllah akan berangkat ke Amerika tahun depan. Ibu saya menyambut kabar gembira ini dengan penuh suka cita.

Alhamdulillah ini benar-benar karunia dan rezeki yang besar dari yang Maha Kuasa. Ingin rasanya memeluk dan mencium Ibu saya saat itu. Saya bisa membayangkan raut wajahnya ketika saya bilang saya menjadi salah satu penerima beasiswa IELSP dan akan berangkat ke Amerika.

Lagi-lagi Ibu mengatakan bahwa firasatnya kuat sekali kalau saya akan lolos interview dan akan memenangkan beasiswa ini.

Alhamdulillah terimakasih Ibu, semua ini berkat campur tangan Allah lewat do’a dalam sujud-sujud panjangmu.

I love you mom, I love you more than anything.

Kok cuma Ibu saya yang saya kabari? Of course not! Cerita belum selesai coy! Hehe.

Tentu saja saya juga mengabari Ayah saya dan keluarga yang lain. Termasuk dosen-dosen yang memberikan rekomendasi untuk mendukung aplikasi beasiswa saya. Alhamdulillah mereka semua senang sekali mendengarnya dan memberikan ucapan selamat.

Teman-teman kuliah belum saya kabari hari itu, sengaja, just wanted to give them a lil surprise! Hehe. 😀 

(Bersambung….)

Journey to America – Part II

Part II – The Interview

Perjuangan saya belum selesai kawan, masih ada satu tahapan seleksi lagi yang harus saya lalui yang akan menentukan apakah saya benar-benar lolos dan memenangkan beasiswa ini atau tidak. Jadi saya masih harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya agar saya lolos lagi di seleksi final, yakni wawancara.

Saya pun mempersiapkan diri untuk menghadapi interview yang akan dilaksanakan pada hari Minggu, atau tiga hari setelah pengumuman seleksi berkas.

Selama tiga hari menjelang interview, saya menghubungi mbah Google untuk memperoleh berbagai informasi seputar tips-tips sukses dalam menghadapi interview.

Alhamdulillah saya memperoleh banyak tips dari berbagai sumber dan artikel dari si mbah Google, termasuk dari beberapa tulisan di blog para alumni IELSP angkatan sebelumnya.

Berdasarkan informasi dari tulisan tips seputar interview, yang paling penting dalam interview beasiswa IELSP ini adalah kesesuaian antara tulisan (essays) dalam aplikasi yang kita tulis dengan jawaban yang kita berikan saat interview nanti.

Karena pada dasarnya para peng-interview akan menanyakan hal-hal yang berhubungan langsung dengan apa yang kita tulis di dalam aplikasi beasiswa IELSP itu sendiri. So, membaca dan mempelajari kembali aplikasi beasiswa yang telah kita tulis adalah sebuah keniscayaan bin keharusan. Begitu kira-kira intisari dari berbagai tips yang saya baca dari mbah Google (baca:Internet). Hehe  :)

Hari yang tidak ditunggu-tunggu pun tiba. Hari itu hari Ahad tanggal 11 Desember 2011 sekitar jam 07:30 pagi saya berangkat ke TKP (baca: tempat interview) bersama teman saya, Fika. Fyi, Fika adalah teman kuliah saya yang juga ikut mendaftar beasiswa ini. Alhamdulillah dia juga lolos seleksi administratif berkas dan akan mengikuti interview bersama saya dan ratusan mahasiswa lain dari berbagai Universitas yang ada di Indonesia khususnya di regional Jawa Timur.

Ada sekitar seratusan mungkin lebih mahasiswa yang berasal dari beberapa Universitas regional Jawa Timur yang akan ikut interview pagi itu. Itu berarti aplikasi beasiswa IELSP mereka juga lolos seleksi tahap pertama (seleksi berkas).

Awalnya sempat ada rasa pesimis, “gila aja ini saingannya banyak banget”, pasti mereka hebat-hebat dan punya segudang prestasi. Lah saya? Saya merasa biasa-biasa aja, ga ada prestasi yang begitu menonjol selama di kampus. Sempat mikir, “bisa gak yaa lolos interview?”. 😀

Tapi akhirnya saya menyemangati diri sendiri bahwa saya pasti bisa. Yah pasti bisa. Saya harus bin wajib percaya diri kalau nanti saya akan lolos interview. Saya terus mensugesti diri saya dengan kata-kata positif sebelum interview dimulai. Tidak lupa juga saya mengirimkan sms ke Ibu di rumah untuk mendo’akan saya pagi itu.

 Tidak puas dengan sms, akhirnya saya telpon Ibu beberapa menit sebelum interviewnya dimulai. Saya bilang kalau sebentar lagi saya akan interview, mohon do’anya. Meskipun saat itu Ibu sedang beraktifitas dia tinggalkan aktifitasnya sebentar. Ibu bilang mau sholat Dhuha terus berdo’a untuk kelancaran dan kesuksesan interview saya. 🙂

Ya Allah… saya hampir mau nangis saat itu. Ibu saya benar-benar Ibu yang terbaik yang Allah berikan kepada saya. Saya tidak sedang mendramatisir cerita ini ya, ini benar adanya. Sebenarnya sejak awal daftar beasiswa ini saya sudah dan selalu minta do’a dan restu dari orang tua, terutama Ibu.

Bukan cuma kali ini saja, dari jaman saya mulai masuk Sekolah dulu, kalau mau ikut kegiatan dan lomba atau apalah itu, saya selalu minta do’a restu sama Ibu.

Dan luar biasa sekali, do’a Ibu itu emang top abis dah!! tidak ada Hijab atau penghalang dengan Allah, benar-benar pasti dikabulkan oleh Allah. Apalagi kalau Ibu kita itu berdo’anya ketika sholat, MashAllah tidak ada yang bisa menghalangi do’anya. Bukankah keridho’an Allah itu terletak pada keridho’an orang tua? Begitu juga dengan kemurkaan-Nya?

OK lanjuuuuuuut,

Akhirnya saya dipanggil interview. Ketika masuk ke dalam ruangan, saya dipersilahkan duduk. Ini yang interview sepintas agak serem, ibarat kalau di kampus ada dosen yang kalau ngajar itu suka marah-marah atau yang sering kita kenal dengan istilah dosen killer. Hahaha 😀

Nah anggapan saya saat itu ketika masuk dan melihat penampakan eh perawakan yang mau interview saya juga begitu. Eh dugaan saya meleset 10 %. Artinya 90 % benar!! Hahaha :D meskipun kadar ke-killer-annya tidak seberapa jika dibandingkan dengan salah satu dosen saya. Hehe :D

 Jreng-jreng! 

Saya pun di-interview. Pertanyaan pertama, kedua, ketiga, bisa saya jawab. Oya, yang interview saya ini namanya, katakanlah Ibu Lucy (maaf saya lupa namanya). Saya kurang tahu beliau jabatannya apa, kemungkinan besar sih dosen juga. Karena ada gelar akademik yang bertengger di depan dan belakang namanya. Di depannya tertulis “Dr.” dan belakangnya “M.Sc”.

Tidak salah lagi, ini benar-benar bukan orang sembarangan pikir saya saat itu. Perkiraan saya usianya sekitar 50 tahunan atau mungkin sudah masuk angka 60. Tapi penampilannya sangat modis bin kece. Terbukti dengan berbagai aksesoris yang ia pakai plus, you know what? Sepatu High Heels yang menjadikan beliau tampak sangat fashionable.hehe  :D

Yang menarik selama interview ini adalah ketika saya ditanya tentang budaya Indonesia. Ibu Lucy menanyakan berapa persen budaya Indonesia yang sudah saya kuasai. Waduh kok ada pertanyaan kayak gini ya? Pikir saya saat itu. Di dalam form aplikasi saja tidak ada tema essay yang berhubungan dengan kebudayaan.

Saya mikir sejenak, kemudian saya jawab saja kalau saya belum menguasai seratus persen budaya Indonesia karena budaya Indonesia sangat banyak dan beragam. Tapi, saya tambahkan kalau saya menguasai budaya dari daerah saya sendiri. Saya bilang saja saya bisa menari salah satu tarian yang berasal dari daerah saya di utara pulau Sulawesi. 😀

Meskipun, jujur harus saya akui, saya sudah [agak] lupa dengan gerakan tariannya. Dalam hati “Waduh bahaya nih kalau nanti disuruh memperagakan tariannya.”Hahaha :D

Tapi thanks God, Ibu Lucy tidak meminta saya untuk menari di depannya. Mungkin dia sudah yakin dengan jawaban saya, karena saya menjawab dengan penuh keyakinan meskipun dalam hati was-was juga khawatir kalau nanti disuruh nari..hahaha :D

Kalau misalnya diminta untuk memperagakan itu tarian, saya siap-siap aja, meskipun nanti gerakannya ngarang bin ngaco bin ngawur!! Yang penting nari!! Hahahaha :D

Intinya harus PD kalau kita bisa! oyiiiii?? 😀

Pertanyaan selanjutnya yang tidak kalah menarik dan mengejutkan adalah tentang cultural shock. Ibu Lucy bertanya kalau misalnya saya memenangkan beasiswa ini dan nanti berangkat ke Amerika saya akan mengalami Cultural Shock atau tidak, kalau iya, bagaimana saya akan menyikapi dan mengatasinya. Spontan saja saya jawab iya saya pasti akan mengalami cultural shock! (Yakin banget jawabnya, padahal dalam hati tetep saja dag-dig-dug) 😀

Saya jelasin tuh alasannya panjang lebar dengan menjadikan pengalaman saya selama kuliah di Jawa sebagai contoh nyata. Saya bilang hari-hari pertama saya ketika berada di Kota Malang penuh dengan kata-kata “Kok begini ya? Kok begitu ya? Kenapa begini kenapa begitu?” “Kenapa makanannya seperti ini? Kenapa makanannya gak seperti di daerah saya?” dan seterusnya.

Kemudian saya hubungkan dengan Amerika yang merupakan Negara Adikuasa dengan segala keragaman budaya, makanan, tradisi, dan masyarakatnya yang heterogen dan dinamis. Sudah pasti saya akan mengalami cultural shock.

Nah bagaimana saya akan menyikapinya? Saya dengan gamblang menjelaskan bahwa kita harus bersikap netral, open-minded dan tolerant, artinya kita tidak boleh dengan seenaknya mengeluarkan pernyataan dengan nada menghakimi kalau budaya atau hal-hal yang dilaksanakan dan dipraktekkan di daerah atau di Negara lain dalam hal ini Amerika itu baik atau buruk hanya karena apa yang ada disana itu tidak ada, tidak sesuai dengan tradisi atau budaya yang ada di daerah atau Negara kita.

Mungkin di mata kita itu jelek, tapi di mata mereka justru sebaliknya. Nah sebagai warga Negara yang baik dan mengerti akan pentingnya nilai-nilai toleransi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita harus bisa menempatkan diri pada posisi yang netral.

#nadaserius #nadadiplomatis 😀

Tentu saja dalam hal-hal yang tidak berhubungan dengan masalah akidah atau keimanan. Seperti sebuah pepatah yang berbunyi “Dimana kaki dipijak, disitu langit dijunjung” artinya kita harus menghargai dan menghormati setiap aturan, adat-istiadat, norma, dan budaya sebuah masyarakat atau daerah dimana kita tinggal.

Inilah yang kemudian harus dipahami sebagai upaya untuk menciptakan kerukunan dan keharmonisan yang hanya akan terwujud jika ada rasa saling pengertian terhadap perbedaan budaya antara satu daerah atau satu Negara dengan daerah atau Negara lain. Hal ini biasa kita kenal dengan istilah Cross-Culture Understanding atau pemahaman lintas budaya.

(ini udah kayak pidato diplomasi aja ya) hehe 😀

***

Sejenak saya amati Ibu Lucy mengangguk-anggukkan kepalanya ketika saya menjawab pertanyaannya yang menurut saya cukup menguras pikiran itu.hehe :D

Kurang lebih sekitar 30 menit saya di interview oleh Ibu Lucy. Alhamdulillah semua pertanyaan yang diberikan bisa saya jawab dengan baik. Terakhir sebelum saya keluar, saya ucapkan terimakasih sembari menjabat tangan Ibu Lucy.

Saya pun keluar dengan perasaan lega ditemani sedikit keringat di wajah saya. Di dalam terasa panas, perpaduan antara ruangan yang tidak memiliki AC dan sedikit perasaan nerveous yang tidak bisa saya ajak kompromi mengakibatkan hawa yang ada di dalam ruangan semakin panas. Akibatnya keringat bercucuran bak air mancur, Just kidding. hehe :D

Ketika keluar ruangan interview, teman-teman yang belum dipanggil untuk interview menghampiri saya dan menanyakan seputar pertanyaan apa saja yang diberikan tadi, susah atau gak. Saya bilang gampang kok, pertanyaannya juga tidak jauh-jauh dari aplikasi yang sudah kita tulis. Meskipun ada satu dua pertanyaan yang tak terduga, dan sedikit keluar jalur. Yang penting kita harus percaya diri ketika menjawab pertanyaan yang diberikan. Itu saja. 😉

Saya selesai, tinggal menunggu si Fika yang saat itu masih menunggu panggilan untuk interview di ruang yang berbeda. Saya melihat para peserta yang belum dipanggil interview sibuk mempelajari aplikasi beasiswa yang mereka tulis. Yang jelas, semua terlihat begitu antusias untuk interview.

***

Tak terasa adzhan dzuhur berkumandang. Saya melirik jam tangan, 11:45 WIB. Saya pun menuju ke Musholla yang terletak tidak jauh dari gedung dimana interview sedang berlangsung. Setelah sholat Dzuhur saya kembali menghubungi Ibu saya. Saya bilang terimakasih atas do’anya karena Alhamdulillah tadi waktu interview semua pertanyaan yang diberikan bisa saya jawab dengan baik. Ibu bilang InshAllah saya akan lolos dan memenangkan beasiswa ini. Ibu saya begitu yakin ketika mengatakannya. Saya pun semakin optimis bahwa saya akan berangkat ke Amerika melalui beasiswa ini. (Hati pun mengaminkan dengan penuh keyakinan) 🙂

Yes that feeling just simply strong. I just believe it without any doubt at all. Yakin aja pokoknya. 🙂

Interview selesai. Saya sudah melakukan yang terbaik yang saya bisa. I have done my best and now just let God do the rest. 🙂

Saya serahkan semuanya kepada yang Maha Kuasa. Dialah yang akan menentukan nasib saya selanjutnya. Selama menunggu hasil interview dan pengumuman final, yang saya lakukan adalah terus berpikir positif sambil terus memohon kepada-Nya. Yah saya bertawakkal sepenuhnya kepada-Nya. Dan memang seharusnya begitu, bukankah Dia telah berfirman dalam Kitab-Nya:

Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”. (Q.S. Ali-Imran : 159).

Ayat ini pas banget dengan keadaan saya saat itu. Saya telah berusaha melakukan yang terbaik mulai dari awal pendaftaran sampai ke tahap interview (membulatkan tekad), dan setelah usaha maksimal telah dikerahkan, Allah memerintahkan kita untuk bertawakkal kepada-Nya.

Dalam hal ini biarlah Allah yang melakukan sisa pekerjaan atau usaha kita. Atau dalam bahasa Bule-nya: Do your best and God will do the rest!  (kalo bahasa Pak-lenya gimana ya? Hehe) 😀

(Bersambung…)

Journey to America-Part I

PART I – The Beginning

Assalamu’alaikum teman-teman!!

Apa kabar? Semoga selalu dalam keadaan sehat wal afiat ya. 🙂

Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah swt, Tuhan semesta alam. Tulisan ini adalah cerita perjalanan dan pengalaman saya ke Amerika Serikat dua bulan yang lalu.

Alhamdulillah atas izin-Nya, saya diberi kesempatan untuk menimba Ilmu di salah satu Universitas yang ada di Amerika melalui Indonesia English Language Study Program (IELSP), yakni sebuah program pelatihan atau kursus Bahasa Inggris jangka pendek (short-course) selama delapan minggu di Amerika Serikat. Program ini adalah salah satu program kerjasama antara Pemerintah Indonesia dan Amerika di bidang pendidikan, dimana para peserta yang terpilih berkesempatan untuk tidak hanya belajar Bahasa Inggris, tapi juga belajar kebudayaan dan Masyarakat Amerika.

Mau tahu bagaimana saya bisa kesana? Just keep reading ya ;)

Sekitar bulan September 2011, saya memperoleh informasi beasiswa IELSP dari papan Informasi yang terletak di salah satu sudut kampus dimana saya belajar. Ketika melihat tulisan “The Most Wanted Scholarship is back” di salah satu brosur yang tertempel di papan informasi tersebut, perhatian saya langsung tertuju ke brosur scholarship tersebut.

Saya baca dari awal sampai akhir. Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, salah satunya adalah nilai TOEFL ITP minimal 450. Sebenarnya, saya sudah pernah mendengar tentang beasiswa ini sebelumnya, bahkan saya juga sempat ketemu, berkenalan dan sharing dengan salah satu Alumni IELSP di penghujung tahun 2009. Kebetulan dia adalah kakak tingkat saya. Selain itu, saya juga memperoleh informasi dari AMINEF dan American Corner (Amcor) yang merupakan pusat segala informasi study di luar negeri terutama di Amerika.

Waktu itu, saya juga masih belum selesai Magang di salah satu hotel berbintang yang ada di Kota Batu, Jawa Timur. Dilema menyapa, antara ikut mencoba untuk apply atau tidak. Setelah berfikir dan berdialog dengan diri sendiri, mempertimbangkan ini itu, akhirnya saya memantapkan niat untuk mencoba mendaftar & ikut seleksi, lolos atau tidak itu urusan belakangan.

Tidak ada salahnya juga kan mencoba? kalau sekiranya saya lolos dan memenangkan This Most Wanted Scholarship ya Alhamdulillah, kalau gak juga ya Alhamdulillah. 🙂

Kok kalau misalnya ga lolos tetap Alhamdulillah?? Ya iya dong, harus Alhamdulillah, karena meskipun misalnya gagal  belum berhasil saya tetap ga rugi, setidaknya saya memperoleh “pengalaman” pernah mengikuti seleksinya yang bisa saya jadikan pelajaran berharga kalau misalnya saya ikutan lagi program beasiswa yang serupa atau mungkin yang lainnya.

Bukankah pengalaman itu adalah guru yang terbaik? Terimakasih atas anggukannya..hehe :D

Intinya harus dicoba dulu, masa belum dicoba sudah menyerah duluan. Kalau misalnya udah nyerah duluan, apa kata duniaaaa…?? Hehe. 😀

Oke kembali ke leptop!

Selanjutnya saya browsing (baca-Research) di internet seputar beasiswa ini. Tidak lupa saya juga men-download formulir aplikasinya dari website resmi penyelenggara beasiswa IELSP. Saya pun kemudian menyiapkan persyaratan-persyaratan lain yang juga wajib disertakan dalam aplikasi beasiswa ini seperti transkrip nilai, surat keterangan aktif kuliah, dan surat rekomendasi dari dosen.

Proses pengurusan berkas-berkas tersebut cukup menguras tenaga. Terutama dua berkas yang pertama. Saya harus sabar menunggu dan bolak-balik dari kantor jurusan ke bagian administrasi (Tata Usaha) Fakultas untuk “memburu” tanda tangan dosen wali akademik dan ketua Jurusan.

Maklumlah, bapak-ibu dosen adalah manusia super duper sibuk. Proses pengurusan segala tetek bengek administrasi tersebut berlangusng kurang lebih sekitar dua minggu. Tolong jangan bilang “WOW” sambil loncat dari kursi ya. Hahaha :D

That’s the fact guys! :P

Sebenarnya semuanya bisa selesai dalam satu hari jika Bapak-Ibu dosen semuanya ada dalam satu tempat dan dalam waktu yang bersamaan. Tapi, kenyataanya tidak begitu kawan. Tahu sendirilah bagaimana ribetnya proses administrasi. Harus minta tanda tangan, stempel, dll. Saya yakin yang pernah mengalami hal yang sama saat ini sedang senyam-senyum atau mengangguk-anggukan kepala atau malah dua-duanya.hehe :D

Berkas selesai, saya lupa masih ada satu persyaratan yang belum. Tes TOEFL. Saya pun segera menuju kantor AMINEF yang terletak di salah satu sudut perpustakaan kampus saya untuk menanyakan informasi seputar tes TOEFL sekaligus daftar untuk tesnya.

Alhamdulillah saya masih bisa daftar karena ada kebijakan quota yang bisa ikut tes TOEFL maksimal 20 orang dikarenakan terbatasnya ruang untuk tes. Saya ingat waktu itu ada juga beberapa mahasiswa dari kampus lain yang ikut daftar tes TOEFL di AMINEF. Mungkin mereka juga ingin daftar berbagai program beasiswa ke luar negeri yang mensyaratkan TOEFL skor atau [mungkin] mendaftar beasiswa yang sama yang saat itu sedang saya incar. Bisa jadi, bisa jadi… hahaha 😀

Lanjuuuuttt!!

Saat itu, ada sedikit rasa khawatir yang menyeruak dari semak-semak, eh kok dari semak-semak? haha. Sorry-sory, maksudnya dari dalam diri. Ya, saya khawatir kalau nilai TOEFL saya nanti tidak mencapai batas standar yang disyaratkan dalam beasiswa IELSP ini. hehe. 😀

Setelah mengikuti tes TOEFL dan menunggu hasil tesnya selama seminggu, rasa khawatir yang dulu sempat mampir, kini hilang sudah. Hasil skor TOEFL saya Alhamdulillah melebihi standar yang disyaratkan. 😀

Itu berarti berkas persyaratan yang dibutuhkan sudah lengkap. Tinggal menyusun dan mengirimkannya lewat pos.

Sebelum dikirim, saya cek kembali semua berkas, takut ada berkas persyaratan yang tercecer. Setelah yakin semuanya lengkap, saya pun pergi ke tempat pengiriman barang dan dokumen yang tidak terlalu jauh dari tempat kos. Saya mengirimkan berkas aplikasi IELSP lewat jasa pengiriman dokumen JNE dua hari sebelum deadline.

Deadline pengiriman berkas aplikasi beasiswanya tanggal 18 November 2011, saya baru mengirimkan berkas dua hari sebelum itu. Hahaha :D

Sebelum saya kirim, saya tanya ke mbak-mbak petugas JNE, kira-kira kalau ke Jakarta butuh waktu berapa hari. Kata si Mbak sekitar 2 – 3 hari kalau paket yang regular. Waduh, gimana nih? 2 – 3 hari…?

Wah bisa telat sampai ke kantor IIEF nih. Oh ya, just fyi, IIEF (Indonesian International Education Foundation) ini adalah yayasan Pendidikan Internasional yang menyelenggarakan program IELSP mulai dari proses seleksi sampai pemberangkatan ke Amerika. Untuk lebih jelasnya silahkan kunjungi websitenya di sini.

Ok lanjut! 😀

Saya tanya ada paket yang lebih cepat ga? Si mbak petugas JNE yang memiliki paras [hampir] mirip dengan aktris film India Rani Mukerji langsung menyarankan saya untuk mengirimkan berkas dengan paket YES alias Yakin Esok Sampai. 😀

Pas nih!! Akhirnya saya kirim berkas aplikasi beasiswanya dengan paket YES dengan konsekuensi saya harus membayar lebih mahal dari paket regular. Tidak masalah, yang penting berkas aplikasi IELSP saya tiba dengan selamat dan tepat waktu. Hehe :D

Saya masih ingat, waktu itu hujan mengguyur kota Malang saat saya dalam perjalanan ke kantor JNE. Saya jalan kaki dari kampus ke kantor JNE. Hujan tidak saya hiraukan. Alhasil saya sedikit kehujanan. Tapi Alhamdulillah berkas aplikasi IELSP saya aman karena saya simpan di dalam tas butut kesayangan saya.hehe. 😀

Di bawah hujan, saya berjalan dengan langkah yang agak cepat dan sedikit berlari.

Dalam hati saya berdo’a semoga perjuangan ini akan berbuah manis. Tuhan sedang melihat apa yang saat ini sedang saya perjuangkan. Suara hilir mudik kendaraan seolah hanya angin lalu, pikiran saya penuh dengan gambar-gambar abstrak yang sesekali menghasilkan semburat senyum di wajah saya. Amerika dan segala “keangkuhannya”. Ya gambar patung liberty dan Presiden Obama samar-samar menari-nari di dalam pikiran saya. Senyum optimisme pun tak bisa saya bendung dari hati, pikiran, dan wajah saya. InshAllah I’ll be there… ;) 

Entah kenapa sejak awal ada semacam rasa percaya diri yang luar biasa dalam diri saya bahwa saya akan lolos dan memenangkan beasiswa ini. Yah saya optimis dan yakin saja waktu itu. InshAllah kalau Allah sudah mengizinkan, meskipun seluruh makhluk yang ada di alam semesta ini bersatu untuk menggagalkannya, tidak ada yang akan bisa. Teman-teman percaya? Well, Saya sangat percaya. :)

Setelah berkas aplikasi beasiswanya terkirim, yang saya lakukan adalah menunggu pengumuman sambil terus berdo’a agar aplikasi saya lolos. Berdasarkan informasi dari para alumni, pihak IIEF yang akan menghubungi langsung via telepon. Jika kita mendapat telepon dari IIEF itu berarti kita lolos seleksi berkas dan lanjut ke seleksi berikutnya yaitu Interview yang merupakan seleksi final.

Kurang lebih sembilan belas hari setelah deadline pengiriman berkas aplikasi, kabar itu pun tiba. Waktu itu hari Rabu tanggal 7 Desember 2011, saya sedang rapat dengan teman-teman pengurus BEM di kampus. Ketika rapat itu, tiba-tiba HP saya berdering.

Saya lihat di layar HP, nomor baru yang gak ada dalam kontak. Saya izin keluar dari dalam ruangan rapat untuk mengangkat telepon. Saya angkat, suara seorang cewek di seberang sana,

“Selamat siang, ini benar dengan saudara Arasyid Harman?”

“Iya benar…” (Detak jantung mulai gak beraturan)

“Kemarin ikut daftar beasiswa IELSP gak?”

“Iya mbak kemarin saya mengirimkan aplikasinya ke Jakarta.”

“Kalau begitu selamat ya, aplikasi kamu lolos seleksi administratif.”

“Beneran mbak??” (Percaya dan gak percaya. Detak jantung makin gak karu-karuan) 😀

“Iya. Nanti siap-siap untuk interview ya?”

“Iiiiya iyaaa mbak. Ya Allah..makasih ya mbak” (Detak jantung mulai stabil, tapi masih bergelombang) 😀

Saya masih dalam keadaan antara percaya dan tidak, setelah selesai ditelpon, langsung sujud syukur.

Alhamdulillah aplikasi IELSP saya lolos. Senang sekali, rasanya seperti dicium Miss Universe!! Hehehe :D Setelah itu saya kembali masuk ke ruang rapat sambil senyam-senyum, sekali lagi seperti habis dicium Miss Universe!! Hahaha :D

(Bersambung…)