Penjual Soto Out of the Box

Dalam rangka perjalanan untuk pekerjaan ke Solo, suatu hari saya mampir makan di Warung Soto di Solo. Habis bubaran shalat Jum’at saya mampir ke Warung Soto itu, karena sangat ramai dikunjungi pelanggannya. Saya pikir Soto ini pasti enak karena pengunjungnya sampai ke teras Warung.

Suasananya rada aneh, ketika saya lihat sekeliling meja, banyak sekali abang-abang becak yang makan disana.

“Hemmm… pantesan rame, Sotonya memang benar-benar enak!”

Ketika selesai makan dan mau membayar, Bu Amir pemilik Warung Soto itu melarang saya mengeluarkan uang.

“Tidak usah bayar Dik, terima kasih atas kunjungannya.”

Dengan penuh rasa heran saya bertanya, kenapa gak mau dibayar?

“Ini hari Jum’at Dik, disini tiap hari Jum’at gratis.”

Masya Allah, terjawab sudah kenapa sebagian besar yang makan di Warung ini tukang becak.

Setengah bingung, saya mencoba mendekat ke tempat Bu Amir duduk.

“Ibu, apa gak rugi jual Soto seharian gak dapat uang?”, tanya saya setengah menyelidik.

“Dik, dari Sabtu sampai hari Kamis kan Alhamdulillah kami dikasi rezeki, dikasih untung sama Allah. Kalau kami bersyukur dengan cara menggratiskan satu hari, untung kami masih sangat banyak untuk ukuran kami. Kalau mau jujur seharusnya kami memberikan hak kepada Allah minimal 30%. Coba Adik pikir, siapa yang menggerakkan hati pelanggan-pelanggan kami untuk datang kemari?”

“Kalau kami harus membayar Salesman, berapa uang yang harus kami bayar?”

“Semoga dengan 1/7 bagian ini Allah ridho. Sebagian besar dari hasil usaha ini kami gunakan untuk membiayai empat anak kami. Mereka kuliah semua Dik. Satu di Kedokteran UGM, satu di Teknik Sipil ITB, yang dua lagi di UNS sini. Kalau bukan karena pertolongan Allah, mana bisa usaha kami yang sekecil ini membiayai kuliah empat orang?”

Bu Amir menjelaskan panjang lebar.

Jelegeeer…!!! saya seperti disambar petir.

Warung Soto sekecil ini bisa membiayai empat orang anaknya kuliah di Universitas Negeri semua! Bahkan malah masih bisa memberi makan kepada tukang-tukang becak dan semua orang yang berkunjung ke Warungnya setiap hari Jum’at, gratis lagi!!

Saya gak kehilangan akal. Untuk membayar rasa kagum dan rasa bersalah makan Soto gratis, saya masuk Mall. Saya membeli dompet cantik sebagai hadiah buat Bu Amir.

Saya pikir, “Masa Bu Amir gak mau dikasih dompet secantik ini?”

Dalam waktu tidak sampai satu jam, saya sudah kembali ke Warungnya.

“Lho kok balik lagi, ada yang ketinggalan Dik?”, sapa Bu Amir heran.

“Mohon maaf Bu, ini hadiah dari saya tolong diterima. Anggap saja kenang-kenangan dari saya buat Ibu yang telah memberi pelajaran hidup yang sangat berarti buat saya.

Dengan senyum tulus dan bicaranya halus Bu Amir menolak.

“Dik, terimakasih hadiahnya. Maaf, bukan Ibu menolak. Ibu cukup pake dompet ini saja, kenang-kenangan dari suami Ibu ketika dia masih ada. Awet banget, tuh sampe sekarang masih bagus.”

Bu Amir menepuk bahu saya.

“Bawa saja pulang dan hadiahkan buat Ibumu. Percayalah, Ibumu pasti senang dapat oleh-oleh dari Solo. Adik mampir di Warung Ibu saja sudah merupakan sebuah kebahagiaan yang tidak ternilai. Ibu senang, benar-benar senang sudah bisa ngobrol sama Adik.”

Begitu kata Bu Amir sambil tersenyum.

Saya kehilangan akal dan hanya bisa pamit sambil menundukkan kepala.

 

****

Subhanallah banget kan? Sebuah pelajaran tak ternilai akan arti sebuah ketulusan dan keikhlasan untuk berbagi dengan sesama terlihat anggun nan mempesona yang terpancar dari sosok Ibu Amir.

Jika teman-teman (akan) berkunjung ke Solo atau sedang berada di Solo, silahkan mampir di Warung Bu Amir ini dan cobain sotonya. Lokasinya di daerah Yosodipuro dekat Museum Pers Solo.

Jika beli soto disitu selain hari Jum’at, kembaliannya jangan diterima. Ketika membayar dan diberi kembaliannya, bilang aja :

“Nderek titip kagem sedekah Jum’at Bu.” (ikut nitip sedekah Jum’at Bu)

Beliau akan berterimakasih dan mendo’akan kita nggak habis-habisnya.

Mudah-mudahan kita semua bisa meneladani Ibu Amir ya. Aamiiin.

 

****

Kisah ini saya peroleh dari grup WA ‘alumni’ penghuni Padepokan  kos Al-Kautsar 53 yang dibagikan oleh Ibu Kos tercinta yang hingga hari ini masih menjalin komunikasi dengan kami, para ‘alumni’ padepokan yang telah bertebaran di berbagai penjuru Nusantara. Duuh.. bahasanya.. hehe.. 😀

Kisah ini dialami dan diceritakan oleh Ibu Das Salirawati, seorang Dosen di Univ. Negeri Yogyakarta.

 

Semoga bermanfaat.

 

Salam

 

Arasyid Harman  

 

Kabar gembira untuk kita semua

 

Assalam a’laikum…

Apa kabar?

Semoga sehat selalu ya. 🙂

Selamat Tahun Baru Islam 1438 H. Yeah! Hari ini kita, umat Islam di seluruh dunia memasuki tahun baru Hijriyah. Alhamdulillah…

Semoga di tahun baru Hijriyah kali ini kita semua senantiasa bersyukur atas semua nikmat yang dilimpahkan oleh Allah swt dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Saya ingin berbagi kabar gembira nih buat teman-teman dan pembaca sekalian. Judulnya kayak penggalan lagu di salah satu iklan TV ya? hehe.. “Kabar gembira untuk kita semua… kini …. sudah ada …..” Yang sering nongkrong depan TV pasti dah hapal ni lirik. Hahaha 😀

Ok. Kembali ke leptop!

Kabar gembiranya sebenarnya sangat sederhana. Tapi ada keindahan dan harapan di balik kabar gembira yang akan saya share ini.

Jadi kabarnya, beberapa waktu yang lalu saya memperoleh sebuah ‘siraman’ rohani dari seorang kawan (tepatnya senior saya di kampus putih) yang ia share di grup WA. Siraman tersebut berupa petikan Hadits Qudsi yang Subhanallah banget. Pokoknya cakep bener dah ini Hadits!

Saya baca berulang-ulang, kok keren ya? Batin saya saat pertama kali membacanya. Lantas, karena penasaran saya Japri deh si Senior ini. Saya ingin menanyakan langsung darimana sumber Hadits Qudsi tersebut. Jawabannya kurang memuaskan. Ia kagak tau juga. Rupanya ia memperolehnya dari grup sebelah. Gitu katanya. Hmm..

Baiklah. Gak apa-apa. Nanti akan saya cari tahu. Insha Allah ini Hadits Qudsi shahih dan benar adanya. Aamiiin.

Seperti apa Haditsnya? Yuk dibaca pelan-pelan ya.

Apa?? pelan-pelan?? Iyaah…kan pelan-pelan itu lebih asyik.hehe.. 😀

 

“Wahai anak Adam, janganlah engkau takut kepada pemilik Kekuasaan. Selama Kekuasaan-Ku masih ada, Kekuasaan-Ku tidak akan sirna selamanya.

Wahai anak Adam, janganlah engkau cemaskan sempitnya rezeki, selama perbendaharaan-Ku masih ada, dan perbendaharaan-Ku tidak akan habis selamanya.

Wahai anak Adam, janganlah meminta kepada selain Aku. Sementara engkau memiliki Aku. Jika engkau mencari-Ku, engkau akan menemukan Aku. Dan jika engkau kehilangan Aku, maka engkau kehilangan seluruh kebaikan.

Wahai anak Adam, Aku ciptakan engkau untuk beribadah. Maka janganlah engkau bermain-main. Dan Aku telah tetapkan bagimu rezekimu, maka jangan penatkan ragamu. Jika engkau ridha terhadap pembagian-Ku, maka akan Aku tenangkan jiwa dan ragamu, dan engkau menjadi orang terpandang di sisi-Ku. Dan jika engkau tidak ridha terhadap pembagian-Ku, maka demi Kemuliaan dan Keperkasaan-Ku, sungguh akan Aku bebankan engkau dengan dunia, engkau terseok-seok laksana hewan melata di permukaan bumi, kemudian engkau tidak akan mendapatkan apa-apa selain yang telah aku tetapkan, dan engkau menjadi orang tercela di sisi-Ku.

Wahai anak Adam, Aku ciptakan tujuh langit dan tujuh bumi, dan Aku tidak berat menciptakan itu semua. Lantas apa beratnya bagi-Ku menyediakan roti (makanan) untuk hidupmu?

Wahai anak Adam, Aku tidak lupa kepada orang yang telah bermaksiat kepada-Ku. Lantas bagaimana mungkin Aku lupa kepada mereka yang taat kepada-Ku? Sedangkan Aku adalah Tuhan Yang Maha Pengasih dan berkuasa atas segala sesuatu.

Wahai anak Adam, janganlah engkau meminta kepada-Ku rezekimu esok hari, sebagaimana Aku tidak menyuruhmu untuk melakukan pekerjaan esok hari.

Wahai anak Adam, Aku sungguh mencintaimu. Maka demi hak-Ku di atasmu, jadilah engkau orang yang cinta kepada-Ku.”

 

***

Subhanallah banget kan? Speechless dah. Rasanya Allah swt seperti sedang ‘berbicara’ langsung dengan kita ya. Adem dan enak banget rasanya. Ini adalah ‘cahaya’ lain yang saya temukan. Setahun yang lalu saya juga menemukan tiga ‘cahaya’ berupa Hadits Qudsi. Masha Allah…

Kembali ke persoalan sumber dari Hadits Qudsi ini, sekiranya ada diantara teman-teman dan pembaca yang mengetahui sumbernya (siapa yang meriwayatkan) atau memiliki kitab dimana Hadits ini berada, tolong di-share disini ya. Tepatnya di kolom komentar dibawah.

Mudah-mudahan kabar gembira ini menjadi penyemangat di tahun baru Hijriyah yang jatuh hari ini. Semoga energi positif dari Hadits Qudsi ini terus menemani kita semua dalam perjalanan mengisi hari-hari di tahun 1438 H.

Sekali lagi, Selamat Tahun Baru Islam 1438 H. Semoga kebaikan dan keberkahan senantiasa menyertai seluruh umat Islam di seluruh penjuru Dunia. Aamiiiin.

 

Bumi Nyiur Melambai, 1 Muharram 1438 H

Wassalam a’laikum…

 

Arasyid Harman

Jembatan Selat Lembeh

Salah satu indikator kemajuan suatu Negara adalah tersedianya sarana/infrastruktur yang baik yang menunjang segala aktivitas warganya. Pembangunan Infrastruktur yang baik, modern dan berkelanjutan menjadi sebuah keniscayaan bagi kemajuan setiap wilayah perkotaan dan pedesaan yang ada di setiap Negara di dunia. Tak terkecuali di Indonesia.

Indonesia adalah Negara berkembang yang terus menerus melakukan percepatan dalam pembangunan infrastruktur. Setiap daerah di Indonesia terus melakukan inovasi dan percepatan pembangunan infrastruktur untuk menunjang dan memudahkan segala kegiatan warganya.

Salah satu daerah di Indonesia yang terus melakukan pembangunan infrastruktur adalah Kota Bitung, Kota industri yang berada di Provinsi Sulawesi Utara.

Sebagai warga Kota Bitung, penulis melihat pembangunan yang ada di Kota Bitung masih perlu ditingkatkan lagi. Khususnya dalam hal sarana transportasi Jembatan dan Dermaga penyeberangan menuju Pulau Lembeh yang juga merupakan salah satu wilayah Administratif Kota Bitung.

Pulau Lembeh adalah pulau yang menyimpan sejuta pesona wisata bahari dan merupakan salah satu tujuan favorit wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Selain itu, selat lembeh adalah surga bagi para penyelam dan pecinta fotografi bawah laut. Karena kekayaan dan keunikan biota bawah lautnya, para penyelam dan pecinta underwater photography dari berbagai Negara menjulukinya sebagai “The Mecca of Divers” atau Kiblatnya para penyelam dan kiblatnya para underwater macro photography enthusiasts.

Untuk menuju ke Pulau Lembeh, kita bisa melalui Pelabuhan Penyeberangan Feri dan Dermaga Ruko Pateten. Dua titik penyeberangan inilah yang selama ini menjadi sarana transportasi yang digunakan oleh para wisatawan dan masyarakat Kota Bitung yang akan menuju ke Pulau Lembeh dan sebaliknya.

Berdasarkan pengamatan penulis di lapangan, belum ada Jembatan penyeberangan yang menghubungkan Kota Bitung dengan Pulau Lembeh. Padahal, jembatan adalah salah satu infrastruktur transportasi yang penting. Dengan adanya jembatan penyeberangan yang menghubungkan Kota Bitung dan Pulau Lembeh akan memudahkan mobilitas warga, barang, dan kendaraan bermotor.

Selama ini warga menggunakan dua transportasi laut yakni kapal Feri dan perahu motor (Kapal Taxi yang dikelola secara mandiri oleh warga setempat). Kapal Feri juga terbatas jam operasionalnya. Hanya melayani dari jam 07:00 pagi hingga jam 15:00 Wita. Hal ini dikeluhkan oleh Masyarakat, karena banyak masyarakat Pulau Lembeh yang bekerja di Kota Bitung dengan membawa kendaraan pribadi, dan sebaliknya. Selain itu, jumlah armada kapal Feri hanya ada satu yang beroperasi setiap harinya.

Sementara itu, moda transportasi perahu motor yang terletak di Dermaga Ruko Pateten menurut pengamatan dan pengalaman penulis juga kurang efisien dan bahkan tidak aman. Meskipun begitu, banyak warga yang menggunakan jasa perahu motor ini. Tidak aman karena setiap sopir dari Perahu Motor juga menerima muatan kendaraan bermotor roda dua untuk diangkut di atas atap perahu. Hal ini tak jarang menjadi faktor terjadinya kecelakaan saat dalam perjalanan menyeberang dikarenakan kelebihan muatan.

Tidak adanya jaminan (asuransi) kecelakaan terhadap jiwa dan barang milik penumpang yang diangkut menggunakan perahu motor (kapal taxi), jelas sangat merugikan warga yang menggunakan jasa perahu motor yang dikelola secara mandiri oleh warga setempat. Selain itu, dari segi keamanan juga tidak tersedia fasilitas pelampung di dalam perahu yang berpotensi membahayakan keselamatan jiwa penumpang jika terjadi kecelakaan (perahu tenggelam) karena gelombang air laut yang tinggi atau kelebihan muatan.

 

Suasana di Dermaga Penyeberangan Ruko Pateten. Foto : Dok. Pribadi

Suasana di Dermaga Penyeberangan Ruko Pateten. Foto : Dok. Pribadi

 

IMG_0560

Suasana di Dermaga Penyeberangan Ruko Pateten. Foto : Dok. Pribadi

 

IMG_4936

Para penumpang sedang menunggu keberangkatan perahu motor yang mereka tumpangi. Foto : Dok. Pribadi

 

IMG_7944

Suasana di dalam perahu motor (Kapal Taxi). Tak ada pelampung yang disediakan untuk keselamatan penumpang. Foto : Dok. Pribadi

 

 

IMG_6298

Salah satu Perahu motor yang sedang antri, menunggu penumpang yang akan berangkat ke Pulau Lembeh. Foto : Dok. Pribadi

 

IMG_0563

Pemandangan perahu motor yang telah berangkat menuju ke Pulau Lembeh. Foto : Dok. Pribadi

 

IMG_0564

Perahu Motor yang berangkat dengan muatan penuh. Jelas terlihat, di atas atap perahu juga disesaki penumpang dan kendaraan motor roda dua. Tidak aman bagi keselamatan penumpang. Foto : Dok. Pribadi

 

Kapal Feri yang melayani penyeberangan Kendaraan bermotor dari Pelabuhan Bitung ke Dermaga Papusungan, Pulau Lembeh. Foto : Dok. Pribadi

Kapal Feri yang melayani penyeberangan Kendaraan bermotor dari Pelabuhan Bitung ke Dermaga Papusungan, Pulau Lembeh. Foto : Dok. Pribadi

 

Meskipun lambat, tetapi aman dan nyaman. Kapal Feri yang dikelola oleh PT. Pelindo IV beroperasi setiap hari. Foto : Dok. Pribadi

Meskipun lambat, tetapi aman dan nyaman. Kapal Feri yang dikelola oleh PT. Pelindo IV beroperasi setiap hari. Foto : Dok. Pribadi

 

Setelah melakukan pengamatan dan wawancara dengan beberapa warga dan penumpang yang berada di Pelabuhan dan Dermaga penyeberangan Ruko Pateten, mereka sangat menginginkan adanya jembatan penyeberangan yang menghubungkan Kota Bitung dengan Pulau Lembeh. Karena dengan adanya jembatan penyeberangan, mereka akan lebih mudah dalam melakukan mobilitas dan aktivitas sehari-hari.

Sebagai bagian dari masyarakat Kota Bitung, penulis sendiri juga mengharapkan hal yang sama. Adanya infrastruktur jembatan yang menghubungkan Kota Bitung dengan Pulau Lembeh akan memberikan multiplay effects di berbagai bidang.

1.) Dengan adanya jembatan, distribusi barang dari Kota Bitung ke Pulau Lembeh dan sebaliknya akan semakin cepat. Hal ini akan mendorong laju perputaran roda perekonomian di Kota Bitung.

2.) Jumlah wisatawan baik lokal maupun mancanegara akan meningkat karena akses menuju Pulau Lembeh akan semakin mudah dan murah. Mereka tidak harus antri di dermaga menunggu jam keberangkatan perahu motor dan kapal Feri yang jam operasionalnya terbatas.

3.) Investor baru akan berdatangan menanamkan modal mereka di Kota Bitung, khususnya di Bidang Pariwisata. Sebagaimana yang kita ketahui bersama, salah satu faktor yang menentukan Investor mau berinvestasi di suatu daerah adalah ketersediaan sarana/infrastruktur yang baik dan menunjang kegiatan bisnis dan investasi mereka.

4.) Jembatan penghubung Kota Bitung dan Pulau Lembeh akan menjadi ikon baru Kota Bitung yang bisa menjadi salah satu magnet para Turis yang ingin berwisata di Kota Bitung pada umumnya, dan pulau Lembeh pada khususnya.

5.) Masyarakat Kota Bitung dan Pulau Lembeh akan lebih meningkat produktivitasnya karena adanya Jembatan Selat Lembeh  memudahkan mobilitas mereka dalam melakukan berbagai kegiatan ekonomi.

 

Sebagai studi banding, penulis mengusulkan konsep atau model Jembatan Selat Lembeh mengikuti model atau konsep Sydney Harbour Bridge di Sydney, Australia. Jembatan Sydney Harbour adalah jembatan yang menghubungkan distrik pusat bisnis dengan wilayah Utara Sydney. Jembatan ini juga menjadi ikon bagi kota Sydney dan juga Australia bersama dengan Gedung Opera Sydney yang tersohor di seantaro dunia itu.

Dalam hal ini, Pemerintah Australia berhasil membangun infrastruktur yang maju, modern, serta berkelanjutan bagi warga masyarakat Sydney dan Australia pada umumnya. Hal tersebut berdampak pada kunjungan wisatawan yang tinggi setiap tahunnya yang secara langsung meningkatkan pertumbuhan ekonomi khususnya dalam bidang pariwisata. Dan tentunya, yang paling merasakan dampak dari adanya infrastruktur jembatan tersebut adalah warga masyarakat Australia, khususnya warga kota Sydney dimana mobilitas dan aktivitas mereka berjalan dengan efektif dan efisien.

 

 

 

Sydney Harbour Bridge from the air. Sumber : https://en.wikipedia.org/wiki/Sydney_Harbour_Bridge

Sydney Harbour Bridge from the air. Source : https://en.wikipedia.org/wiki/Sydney_Harbour_Bridge

 

Harapan penulis dan warga Kota Bitung pada umumnya, Pemerintah baik Pusat maupun Daerah bisa menerapkan konsep “ATM” (Amati, Tiru, Modifikasi) terhadap apa yang telah dilakukan oleh Pemerintah Australia  dalam inovasi pembangunan dan pengembangan infrastruktur jembatan dan juga Pelabuhan Sydney Harbour.

Adapun gambaran (blue-print) sederhana pembangunan infrastruktur Jembatan Selat Lembeh yang penulis bayangkan akan terwujud di masa depan adalah seperti terlihat dalam foto di bawah ini.

 

BEFORE - Plan of Lembeh Strait Bridge. Foto : Dok. Pribadi

BEFORE – Selat Lembeh yang indah dan menyimpan potensi Pariwisata Bahari kelas Dunia. Foto : Dok. Pribadi

 

AFTER - Plan of Lembeh Strait Bridge. Foto : Dok. Pribadi

AFTER – Plan of Lembeh Strait Bridge. Foto dan Desain Jembatan : Dok. Pribadi

 

Sebuah ide besar ini semoga bisa menjadi pertimbangan bagi Pemerintah baik Pusat maupun Daerah. Tentunya, perlu dilakukan berbagai riset dan studi lebih lanjut sebelum pembangunan Jembatan Selat Lembeh ini direalisasikan.

Penulis yakin, dengan adanya inovasi pembangunan infrastruktur berkelanjutan akan mendorong dan meningkatkan laju perekonomian suatu daerah, dalam hal ini Kota Bitung. Jika Australia memiliki Sydney Harbour Bridge, maka nantinya Indonesia akan memiliki Lembeh Strait Bridge yang akan menjadi ikon Kota Bitung yang juga merupakan Kawasan Ekonomi Khusus di Ujung Utara Indonesia.

Semoga.

 

 

 

Bagasi Gratis tis tis

Salam’alaikum everyone!

Salam sejahtera dan penuh kasih untuk kita semua.

Tulisan kali ini adalah pengalamantentang pertolongan Allah Swt yang (lagi-lagi) sungguh mengagumkan dan selalu sukses membuat saya speechless dan bermuara pada rasa syukur yang tak bertepi.

Hari ini saya kembali pulang ke Kampung Halaman setelah sembilan hari berada di Kota Apel. Ngapain (lagi) di Kota Apel? Well, selain kangen dengan kota sejuk di Timur Pulau Jawa ini, saya juga kangen untuk ber-silaturrahim dengan sahabat-sahabat seperjuangan semasa kuliah di Kampus Putih. Plus, mengunjungi ex-kos-kosan saya dulu sekaligus silaturrahim dengan Ibu Kos se-keluarga.

Semenjak meninggalkan Kota ini setahun yang lalu, banyak hal yang berubah dengan penampilannya, khususnya di beberapa area sekitar Kampus tempat saya menyedot Ilmu dan Pengalaman berharga.

Setelah selesai semua urusan, saya pamit pulang.

Pukul 02:35 WIB (dini hari), mobil Travel yang saya pesan menjemput saya di rumah seorang kawan karib yang juga telah bersedia memberikan fasilitas tempat tinggal selama saya berada di Kota Apel ini. Saya sengaja memesan mobil Travel yang berangkat sebelum Shubuh ke Bandara. Alasannya sederhana, biar gak telat nyampe dan menghindari kemacetan di jalan menuju Bandara Juanda.

Saya berangkat diantar oleh sahabat-sahabat saya sampai ke Mobil. Mereka membantu membawakan barang-barang saya ke mobil. Barang bawaan saya gak banyak sih dari segi kuantitas, tapi saya yakin dari segi kualitas aka bobot-nya lumayan berat. Apa aja? Harus banget nih dikasih tau? Hahaha.

Well, Oke deh. 3 Kardus yang isinya buku-buku bacaan kesayangan & modul kuliah, 2 tas ransel day-pack yang isinya pakaian & laptop serta beberapa sertifikat berharga (sisa-sisa perjuangan selama menjadi Mahasiswa) dan juga Ijazah S1. Plus, 1 tas plastik oleh-oleh untuk keluarga di Rumah dan 1 tas kresek berisi roti dan cemilan serta air mineral dan susu kotak untuk sarapan. Hehe.

Perjalanan dari Kota Malang menuju Bandara Juanda biasanya menghabiskan waktu ±2 jam. Kali ini mobil travel yang membawa saya dan empat orang penumpang tiba di Bandara lebih cepat 30 menit. Alhamdulillah nyampe di Bandara pas adzan Shubuh berkumandang. Reminder-App (Prayer Time) di HP saya tak pernah lupa mengingatkan si empunyadi setiap waktu Shalat dengan mengumandangkan Adzan.

Saya dan penumpang lain pun segera turun. Pak Sopir membantu menurunkan barang-barang bawaan kami. Dan, sepertinya bawaan saya yang paling banyak. Hahaha.

“Berapa Pak?” Tanya saya kepada sang Sopir.

“90 ribu Mas.”

Saya langsung mengambil dompet dan mengeluarkan uang kertas 100 ribu dan memberikannya kepada Pak Sopir.

Sejak dalam perjalanan, saya udah niat untuk bersedekah kepada sang Sopir mobil travel yang mengantarkan saya ke Bandara.

Dan ketika Pak Sopir hendak memberikan kembalian duit 10 ribu, saya langsung mengatakan,

“Gak usah Pak. Kembaliannya buat bapak saja.”

“Owh.. Makasih Mas.”

“Mohon do’anya ya Pak, semoga perjalanan saya lancar.”

“Iya Mas. Saya do’akan semoga perjalanan sampean lancar.”

“Aamiiin..”

Do’a sang Sopir kepada saya sambil berpamitan. Ia langsung masuk ke Mobil dan pergi dengan wajah sumringah.

Saya pun segera mencari kereta dorong atau troli untuk menaruh barang bawaan. Biar mudah juga untuk bergerak menuju check-in counter.

Berhubung jam keberangkatan saya masih relatif lama, yakni jam 08:10 WIB, setelah sholat Shubuh berjamaah di Musholla Bandara, saya menyempatkan diri untuk mencari colokan listrik. Buat apa? Ya buat apalagi kalau bukan buat nge-charge baterai HP yang udah nge-drop. Hehe..

***

Saat menunggu check-in time dan mengisi baterai HP, mata saya tanpa sengaja “menangkap” dua orang (entah pasutri atau bukan, usia kisaran 30-an) yang sedang duduk di salah satu sudut area Bandara. Agak risih juga, karena mereka ngobrol sambil bercumbu mesra di ruang publik dimana penumpang dan pengantar hilir mudik di depan kursi tempat mereka duduk. Lama-lama saya jadi jijay..hahaha.

Sesekali si perempuannya ngeliat ke arah saya. Sepertinya dia curiga, kalo saya melihat tingkah mereka yang nggilani itu. Hahahaha.

Yang bikin saya gak habis pikir, si ceweknya ini pakaiannya sopan, berjilbab, model pakaian seragam ibu-ibu kantoran gitu. Cukup modisala-ala sosialita level sedang. Tapi gaya duduknya itu loooh… yang bikin saya gak nyaman. Bayangin aja, duduknya itu berpangku kaki, terus betisnya kelihatan sampai lutut, dikit lagi pahanya keliatan.Entah sengaja mau dipamerin atau enggak. Intinya gak mencerminkan sikap seorang Ibu yang sering ikut Pengajian rutin. Emang sih putih betisnya, tapi gak gitu juga kelessss.. hahaha 😀

Sementara si Lelakinya, kalo dari dandanannya sih, saya yakin dia itu seorang pejabat. Atau pekerja kantoran gitu. Pokoknya pakaiannya modis bin parlente yang menunjukkan kalo doi itu orang penting aka VIP.

Saya (makin) penasaran.Untuk menghindari kecurigaan mereka kalo aksi mereka itu sedang disorot oleh dua pasang “kamera” di kepala saya, saya pura-pura ngotak-ngatik HP, pura-pura sedang WhatssApp-an & BBM-an. Hahaha (Plis don’t try this at Home, coz ini hanya berlaku di Bandara..hahahaha)

Dan, ini yang saya pikir adalah klimaks dari rasa penasaran dan tanda tanya dalam batok kelapa saya, saat detik-detik sebelum si Lelakinya masuk ke dalam konter check-in untuk berangkat (pesawat si Lelaki bertolak jam 06 pagi), si perempuannya bilang sesuatu kepada si Lelaki-nya (gak tau bilang apa). Kemudian, si Lelaki mengeluarkan dompet, dan mengambil beberapa lembar duit pecahan 100 ribuan dan memberikannya kepada si Perempuan. Semacam “transaksi” gitu. Any idea where this piece of scenes will take you afterwards?

Lalu mereka beranjak menuju ke area security check. Mereka saling berpamitan. Jadi si perempuannya ini gak berangkat, cuman ngantar aja. Dan yang gak lucunya, si Lelaki-nya ini sebelum masuk ke bagian security check, ia meremas “itu”-nya si perempuan. WTF! Hahaha. Sayangeliatnya pengen muntah..hahaha. 😀 #Istigfarberkali-kali

Oke, kita kembali ke jalan yang benar ya. hahaha.. tadi selingan aja. Sorry, ini tulisannya jadi nyasar ke yang gak penting dan nggilani (nggilani ini bahasa kawan di Pulau Jawa, artinya menjijikkan).hehehe.. (awas muntah) hahaha 😀

Well, mau dilanjutkan gak nih ceritanya? Lanjut yaaa… hehe.

***

Pukul 07:05 WIB saya langsung menuju ke counter untuk check-in dan memasukkan barang-barang saya ke Bagasi.

Saya check-in di counter nomor 21 maskapai ….. Air. Nama maskapainya sengaja gak saya tulis karena menghindari isu promosi. Hahaha. You will know it later if you are good in details.hihihi..

Petugas yang sedang in-charge di counter 21 adalah seorang gadis berparas cantik. Dari jauh emang keliatan putih, bersih, kerudungan dengan bibir merah merekah balutan lipstik merah yang membuat setiap mata kedap-kedip bak lampu diskotik. Cantik kali kata urang Medan, Cantik niaaan kata urang Palembang. Hahahaha.

Udah-udah, jangan bayangin yang aneh-aneh. Tar saya tunjukin fotonya. Just stay tuned! Hahaha.

Si petugas (saya gak tau namanya, karena gak sempat melihat name-tag di seragamnya), meminta ID dan tiket. Saya langsung menyerahkannya sambiltersenyum simetris. Tapi si doi gak membalas senyuman saya. Jutek gitu. Hahaha. Sayang banget kan? Surplus cantik paras, tapi devisit cantik sikap/kepribadian. Hmmm… gak apa-apa sih, saya juga gak punya ekpektasi yang lebih besar dari kenyataan. (ngelesss hahaha)

“Senyum dikit kenapa mbak.”

“Emang harus gitu senyum ama situ??”

“Ya gak harus sih. Cuman kan kalo situ senyum, atmosfernya jadi lebih adem.”

“Gombal!”

“Siapa yang gombal? Itu beneran loh mbak.”

“Bodo amat! Udah, basi tau nggak!?”

“Ya ampun mbak, galak banget. Si Amat gak bodo loh mbak. Dia itu adek Kosan saya.”

“Aarrrrrggghhh!!! Diam!!!”

“Hahahaha”..

Serius banget bacanya brosis?? Dialog tadi hanyalah fiktif belaka. Wkwkwkw..

Kalo beneran terjadi dialog kayak di atas, saya udah digebukin sama penumpang lain yang antri di belakang hahaha.. 😀

Dan ketika ia meminta saya untuk meletakkan barang-barang yang mau dimasukkan ke bagasi, perasaan saya udah mulai deg-degan. Feeling saya mengatakan kayaknya akan kelebihan berat bagasi (over bagage). Dan ketika saya melihat ke indikator angka digital di samping timbangan, angkanya udah melewati 20 Kg. Saya pikir hanya lewat 1 Kg, eh rupanya sampe 5 Kg.

Waduuh… gawat nih. Kelebihan 5 Kg. Dalam hati udah was-was. Tapi saya tetap menunjukkan roman wajah yang tenang, seolah-olah barang bawaan saya gak over bagasi. Hehe.

Anehnya, si petugas yang cantik itu terlihat kalem bin woles. Harusnya dia langsung bilang kalo berat bagasi saya itu melebihi batas maksimum berat bagasi yang diizinkan oleh maskapainya, yakni maksimumnya 20 Kg. And it didn’t happen!

Dia malah sibuk memasukkan data dan memberikan label ke barang-barang bawaan saya.

Kok bisa dia gak mengatakan itu ya? what’s wrong? Apa indikator angka di depan layar komputer di hadapannya rusak? Atau apa mungkin indikator angka timbangannya tetap menunjukkan angka 20 Kg? Well, I don’t have any idea at all.

Selang beberapa menit kemudian, setelah ia memberikan label bagasi pada setiap item barang-barang saya, ia memberikan boarding-pass. Dengan perasaan dan pikiran yang masih dipenuhi tanda tanya, saya mengambilnya dan balik badan melangkah ke belakang.

Sambil memegang boarding-pass saya masih geleng-geleng kepala memikirkan kejadian aneh yang barusan saya alami. Kok bisa ya? Kenapa si petugasnya gak minta extra-money untuk membayar kelebihan bagasi 5 Kg? Yang jumlah totalnya 100 ribu (Biaya kelebihan bagasi 20 ribu/Kg).

Saya tiba-tiba tersenyum puas + senang + haru. Setelah saya renungkan, kejadian ini bukan tanpa sebab. Dan sebabnya sungguh jelas. Ini adalah “buah sedekah” saya tadi kepada Pak Sopir Travel. Masya Allah. Sungguh Allah SWT yang Maha Pemurah telah mengirimkan pertolongan-Nya kepada saya lewat wasilah Sedekah.

See… lihaat. Lagi-lagi saya ditolong-Nya. Mari kita analisis sambil flashback ya.

Tadi saya sedekah (secara gak langsung) kepada si Sopir Travel yang mengantarkan saya ke Bandara. Jumlah sedekahnya Rp.10.000, yang merupakan ongkos kembalian dari tarif yang harus saya bayarkan kepada Pak Sopir.

Kemudian saya mendapatkan balasan free of chargealias gratis atas kelebihan bagasi 5 Kg. Which is, kalo di itung-itung, nilainya sama dengan Rp.100.000, dimana biaya 1 Kg kelebihan bagasinya Rp.20.000,. Pas 10 kali lipat! Allahuakbar!!!

Saya sedekah Rp.10.000 langsung dibalas Rp.100.000.

Langsung dibalas sama Allah tunai! Hari itu juga, gak pake koma, gak pake lama. 10 kali lipat. SubhanAllah. Allah emang super duper baaaaaiiiikkk dan gak pernah bo-ong. Pokoknya speechlesssss lagi deh… Makasih ya Allah. Makasih. Makasih. Makasiiiiiiiih. 🙂

Dan kalo kembali kepada si Petugas counter yang surplus cantik tadi, ada banyak kemungkinan atas pertanyaan “why” dia gak meminta saya untuk membayar kelebihan bagasi sebanyak 5 Kg. Bisa saja ada Malaikat yang dikirim oleh Allah untuk merubah angka indikator timbangan di layar komputernya. Atau bisa juga, si Malaikat yang dikirim Allah itu menyamarkan penglihatannya, sehingga yang terbaca bukan 25 Kg, tapi 20 Kg atau 18 Kg, atau malah Cuma 10 Kg. Hehehe.. bisa saja.Who knows?

Mudah bagi Allah mah. Gak ada yang mustahil. Pokoknya kalo Allah udah ridho dan berkehendak untuk membantu Hamba-Nya, gak ada satu makhluk pun baik itu dari golongan Jin atau pun Manusia yang bisa menghalanginya. Right??

Pastinya bro. Top markotop dah kalo Allah udah “turun tangan” dalam menyelesaikan semua urusan kita. Dan janji Allah akan balasan (minimal 10 kali lipat) bagi setiap hamba-Nya juga udah sangat jelas tertulis dalam Kitab Suci,

“Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) 10 kali lipat amalnya.” (Q.S. Al-An’am : 60).

Yang saya pahami sejauh ini terkait balasan atau ganjaran dari Allah, 10 kali lipat itu adalah balasan minimal. Maksimalnya 700 kali lipat bahkan mungkin bisa lebih dari itu.

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat-gandakan (ganjaran). (Q.S. Al-Baqarah : 261).

***

Well, akhirnya saya berangkat tepat pukul 08:10 WIB menuju Bumi Nyiur Melambai. Alhamdulillah perjalanan saya lancar dan aman hingga ke rumah. Terimakasih udah meluangkan waktunya, menemani dan menyelami sepenggal pengalaman saya ini. Mudah-mudahan teman-teman semua bisa memetik hikmah dari cerita ini.

Dan, sebelum saya akhiri, saya ingin mengatakan bahwa ternyata manfaat sedekah itu ada lagi, yaitu bisa dapat ekstra bagasi gratis tis tis.hehehe. Patut dicoba nih. Kalo misalnya teman-teman sedang bepergian dan membawa barang yang cukup banyak, trik dan ilmu Sedekah ini patut dijajal. Bawa aja barang yang banyak, apalagi kalo banyak keluarga yang nunggu oleh-oleh di rumah. Hehe.

Dengan menggunakan logika sederhana dari kejadian yang saya alami ini sebagai landasan teori-aplikasinya. Sedekah Rp.10.000 dapet 5 Kg. Kalo pengen dapet ekstra bagasi 10 Kg, berarti sedekahnya dinaikkin 100 %. Jadi Rp.20.000, yang harus dikeluarkan untuk sedekah. Pengen lebih? You know what to do.hehehe

Okay? Siap mencoba? Siap dong. Harus yakin, jangan setengah-setengah ya. Ingat, keajaiban yang tak pernah disangka-sangka akan hadir setelah kita bersedekah. Trust me, it always works! 😉

And, finally. Foto session! Hehehe.

Nih, barang bukti. 3 kardus isi buku. 2 tas ransel isi laptop & pakaian& dokumen penting. 1 tas plastik isi oleh-oleh. Dan 1 tas kresek isi roti& air minum (ini buat sarapan sebelum take-off) hehe.

Check-in line. Belum terlalu padat. Counter no. 21 juga gak rame. Let's GO! :D

Check-in line. Belum terlalu padat. Counter no. 21 juga gak rame. Let’s GO! 😀

nah... ini dia si jali-jali. Eh maksudnya si petugas counter yang surplus cantik itu. Gimana? Cantik gak? Udah cantik aja. Gak mungkin ganteng kan? Hahaha

Nah… ini dia si jali-jali. Eh maksudnya si petugas counter yang surplus cantik itu. Gimana? Cantik gak? Udah cantik aja. Gak mungkin ganteng kan? Hahaha

Ini si doi sedang fokus. Jangan coba-coba nanya. Tar ditabokin. hahaha.

Ini si doi sedang fokus. Jangan coba-coba nanya. Tar ditabokin. hahaha.

Si doi masih sibuk dengan tugasnya. Itu mas yang dibelakangnya ngapain ya? santai banget. Mungkin dia lelah, jadi bersandar di dinding. Bandara juga gak begitu ramai. Jadi relax-nya kelihatan lebih banyak. Hehehe

Si doi masih sibuk dengan tugasnya. Itu mas yang dibelakangnya ngapain ya? santai banget. Mungkin dia lelah, jadi bersandar di dinding. Bandara juga gak begitu ramai. Jadi relax-nya kelihatan lebih banyak. Hehehe.

Menunggu Boarding sambil mengamati orang-orang yang juga akan terbang.

Menunggu Boarding sambil mengamati orang-orang yang juga akan terbang.

That’s it.

Thanks for being here. See you on the next post!

Wassalamua’alaikum….

Salam hangat dari Bumi Nyiur Melambai 🙂

 Stay Healthy, Stay Happy!

@arasyidharman

 

 

Dem Juku

Dem juku. Dua kata yang sering saya dengar di hari-hari pertama di Desa dan di kota Sekayu, Ibu kota Kabupaten Musi Banyuasin. Pertama kali mendengar dua kata ini dari orang tua angkatku, yakni Bu Lin. Dua kata ini adalah bahasa Melayu Sekayu yang merupakan kota kelahiran Bu Lin.

Awalnya sempat shock juga ketika mendengar orang-orang berkata ‘Dem’ di tengah-tengah obrolan mereka. Dalam hati saya berpikir,

“Wah, orang sini bisa ngomong bahasa Inggris. Hebat juga ya…”  Karena kata ‘dem’ itu ketika diucapkan terdengar seperti kata ‘Damn’ dalam bahasa Inggris yang merupakan sebuah umpatan. Saya pikir Ibu angkat saya suka mengumpat setiap kali dia mengatakan ‘dem’ entah itu di awal kalimat atau bahkan di akhir kalimat ketika ia berbicara dengan orang lain. 😀

Ternyata anggapan saya salah total kawan. ‘dem’ itu artinya selesai atau sudah. Kemudian kata juku. Ini juga sempat membuat saya bingung. Saya pikir kata ‘juku’ itu semacam kata bantu atau kalau dalam bahasa Inggris dikenal dengan sebutan ‘to be’ yang fungsinya untuk membantu sebuah kalimat agar menjadi kalimat sempurna yang setidaknya memiliki satu subjek dan satu predikat.

Kata ‘juku’ ini paling sering saya dengar dari orang tua angkat saya. Ia seringkali menyisipkan kata ‘juku’ setiap kali ia ngobrol dengan keluarga, tetangga rumah dan dengan siapa pun, termasuk dengan saya meskipun ia tahu kalau saya tidak bisa berbahasa Melayu Sekayu. Saya kadang suka tersenyum sendiri. Bukan karena saya paham akan apa yang sedang menjadi topik pembicaraan, tapi karena ekspresi wajah dan nada suaranya yang terdengar lucu di telinga saya. Ya lucu. Ini menurut saya pribadi yang baru pertama kalinya tinggal di Masyarakat bagian Barat Indonesia, dalam hal ini Sumatera Selatan, yang masyarakatnya sebagian besar adalah masyarakat rumpun Melayu.

Lalu apa arti kata juku itu sendiri? Ternyata setelah saya tanya, kata juku itu artinya “kata saya atau kataku”. Jadi kalau ada ucapan, “Dem Juku” artinya “sudah kataku”.

Ah, lagi-lagi peribahasa “Lain padang, lain pula belalangnya” menjadi pengingat dikala berada di daerah baru yang saya tinggali.

So dem juku! Hahaha.. 😀

 

Salam,

@arasyidharman

Semarak Menyambut Kemerdekaan

Semarak Lomba 17-an siswa SDN 1 Mangsang dalam rangka menyambut Hari Proklamasi Kemerdekaan RI yang ke 69 Tahun. Bravo Indonesia!!!

Semarak Lomba 17-an siswa SDN 1 Mangsang dalam rangka menyambut Hari Proklamasi Kemerdekaan RI yang ke 69 Tahun. Bravo Indonesia!!!

Merdeka!!!

69 tahun yanga lalu Bangsa ini memproklamirkan kemerdekaannya dari tangan penjajah. Hingga detik ini berbagai kemajuan di bidang pembangunan infrastruktur terus berjalan. Semua tak lepas dari perjuangan dan pengorbanan para Pahlawan yang telah berjuang dengan jiwa dan raga.

Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia menggema di seluruh penjuru Negeri. Mulai dari masyarakat yang tinggal di kota hingga masyarakat yang tinggal di Desa. Semua bersuka cita memeriahkan hari bersejarah yang telah membebaskan Bangsa Indonesia dari tangan penjajah ini.

Berbagai kegiatan pun ikut dilaksanakan untuk menyambut Hari Proklamasi. Siswa dan Guru di SDN 1 Mangsang, tempat saya bertugas sekarang juga turut memeriahkan peringatan Kemerdekaan dengan mengadakan berbagai lomba. Meskipun jauh dari hingar bingar kemajuan teknologi, siswa dan guru tetap bersemangat untuk menyambut Hari Kemerdekaan.

Berbagai perlombaan 17-an pun diadakan. Seperti lomba balap kelereng, makan kerupuk, balap sarung, sepak bola sarung, dan lomba joget balon. Selain untuk menumbuhkan semangat Nasionalisme kepada anak-anak, berbagai lomba ini juga bertujuan untuk meningkatkan jiwa patriotisme dan menumbuhkan semangat untuk berkompetisi di dalam diri anak-anak. Tentunya berkompetisi dengan cara yang sehat dan tidak melanggar aturan.

Saya pun ikut menjadi bagian dalam euforia Kemerdekaan Republik Indonesia yang kali ini saya rayakan bersama anak-anak, para Guru serta warga masyarakat yang berada di Desa Mangsang, sebuah desa yang berada di tepi sungai Lalan, anak sungai Musi, Sumatera Selatan.

Ada satu lomba yang  menarik dan bagi saya adalah satu hal yang baru dalam perlombaan menyambut hari Kemerdekaan. Lomba Joget Balon. Lomba joget balon bagi anak-anak adalah sebuah keseruan yang bisa dibilang tak ada duanya. Lomba ini menguji ketahanan dua orang peserta dalam mempertahankan balon yang mereka letakkan di wajah agar tidak jatuh. Dan mereka tidak boleh diam, harus joget mengikuti irama musik yang sedang diputar.

Musik apa? Musik apalagi kalau bukan musik Dangdut. Iya musik dangdut yang sudah dikreasi ulang dengan tempo yang cepat.

Lomba Joget Balon yang menundang tawa. Anak-anak sungguh menikmatinya. Berjoget ria sambil mempertahankan balon yang ditempelkan di wajah agar tidak jatuh. :)

Lomba Joget Balon yang menundang tawa. Anak-anak sungguh menikmatinya. Berjoget ria sambil mempertahankan balon yang ditempelkan di wajah agar tidak jatuh. 🙂

 

Semua anak, termasuk para Guru tak kuasa menahan tawa ketika menyaksikan aksi anak-anak saat mengikuti lomba joget balon ini. Seperti halnya lomba lain, ada yang menang dan ada yang kalah. Dalam loma joget balon ini, peserta yang menang adalah yang balonnya tidak jatuh hingga musik selesai.

Lomba Sepak Bola sarung juga menjadi primadona dalam rangkain lomba yang diselenggarakan di Sekolah. Lebih-lebih ketika yang menjadi pemain adalah anak perempuan. Ya, lomba sepak bola sarung putri. Meskipun lapangan sekolah becek, karena sehari sebelumnya hujan mengguyur Desa, hasrat anak-anak untuk mengikuti lomba sepak bola sarung ini tak terbendung.

Permainan sepak bola sarung putri ini ramai bukan main. Bukan karena teriakan penonton yang ikut menyemangati para pemain, namun karena suara dari para pemainnya sendiri yang selalu berteriak histeris ketika akan menendang bola.  Teriakan itu akan bertambah volumenya ketika ada salah satu pemain yang mendekati tiang gawang dan akan melakukan tendangan ke arah gawang. Seru sekali.

Semangat bermain Sepak Bola Sarung di lapangan Sekolah yang becek tak pernah surut. Mereka sangat menikmati Keseruan bermain sepak bola sarung ini. :)

Semangat bermain Sepak Bola Sarung di lapangan Sekolah yang becek tak pernah surut. Mereka sangat menikmati keseruan bermain sepak bola sarung ini. 🙂

 

Saya pun ikut tertawa dan hanyut dalam euforia di musim Kemerdekaan Rebublik tercinta ini. Betapa indah, nikmat yang telah dianugerahkan oleh sang Maha Kuasa kepada Bangsa Indonesia, nikmat Kemerdekaan.

Jauh dari semarak perayaan Kemederkaan, saya merenung dalam fikir, apakah bangsa kita sudah benar-benar Merdeka? Apakah kemerdekaan yang seutuhnya itu? Apakah hanya sebatas selebrasi suka-cita?

Entahlah, saya juga masih dalam perjalanan mencari jawaban-jawaban itu. Atau ada diantara teman-teman dan pembaca yang mau menjawabnya?

Salam,

@arasyidharman