Belajar dulu, Belajar lagi, Belajar terus

“Mereka yang berhenti belajar akan punah layaknya Dinosaurus.”

-Arasyid Harman- 

Tak ada waktu yang sia-sia bagi setiap insan yang haus akan Ilmu Pengetahuan. Setiap saat mereka sibuk memperbaiki diri yang dimulai dengan memperkaya wawasan keilmuan mereka dengan belajar, belajar, dan belajar.

Yap. Itulah ciri para cendekiawan yang mungkin dianggap aneh oleh kebanyakan   sebagian orang.  Apakah mereka itu manusia yang memang aneh dari sononya? Ah tidak. Dan memang gak ada yang aneh dengan orang-orang yang menghabiskan waktunya dengan belajar kan? Justru yang aneh adalah mereka yang sibuk menghabiskan waktunya untuk mengomentari dan menilai (layaknya hakim) kehidupan orang lain dan luput untuk menilai dan memperbaiki diri mereka sendiri dengan terus belajar.

Belajar sejatinya adalah sebuah kebutuhan. Layaknya tubuh yang membutuhkan makanan untuk kelangsungan organ-organ yang membentuk dan menyusunnya. Belajar dalam arti yang lebih luas adalah menjaga akal agar tidak keriput lalu mati dimakan waktu dan kemajuan peradaban.

Setiap saat kita butuh belajar. Karena setiap saat Ilmu yang ada di dunia ini terus berubah dan berkembang seiring dengan kemajuan pemikiran umat manusia. Adalah sebuah kebodohan yang nyata bagi siapa pun yang malas dan berpikir bahwa belajar itu hanyalah kegiatan yang membuang-buang waktu. Adalah sebuah kemunduran yang nyata bagi siapa saja yang menganggap belajar itu cukup di bangku sekolah saja. Setelah tamat sekolah, belajar itu gak penting, yang penting itu bekerja dan dapat uang.

Ini adalah sebuah pandangan atau pemikiran yang berbahaya dan mematikan. Jangan sampai kita punya pandangan atau pemikiran yang seperti ini ya.

Karena sesungguhnya belajar itu adalah salah satu kewajiban yang diperintahkan langsung oleh sang Pencipta. Kita diperintahkan untuk membaca. Dan membaca ini adalah salah satu cara kita untuk belajar.

Dan belajar itu memang membutuhkan sebuah kesabaran. Kesabaran yang tinggi. Kalau kita gak sabar, ya susah. Sabar adalah salah satu kunci untuk menguasai Ilmu Pengetahuan. Tanpanya, tak akan ada Ilmuwan yang akan berhasil menciptakan berbagai kemajuan dalam segala bidang kehidupan kita saat ini.

Mungkin kita tak akan menikmati cahaya lampu di malam hari jika Thomas Alfa Edison gak sabar dan langsung menyerah saat belajar merangkai dan membuat rangkaian percobaan demi percobaan hingga ia akhirnya berhasil menemukan bohlam lampu listrik yang semua manusia di planet ini merasakan manfaatnya.

Mungkin kita tak akan (pernah) merasakan terbang di udara jika Wright bersaudara gak sabar dalam belajar hingga mereka akhirnya berhasil menciptakan pesawat terbang yang hingga saat ini menjadi salah satu sarana transportasi udara yang memungkinkan kita berpindah dari satu kota ke kota lain atau dari satu Negara ke Negara lain dalam waktu yang cepat.

Dua penemuan luar biasa ini hanyalah sebagian kecil contoh yang merupakan produk dari kemajuan pikiran manusia karena proses belajar yang tak pernah berhenti.

Ada sebuah nasehat dari Imam Syafii yang sangat membumi. Nasehat ini ditujukan kepada kita semua yang mulai merasa bahwa belajar itu gak penting atau belajar itu buang-buang waktu.

Berikut nasehat sang Imam,

“Jika kamu tak tahan lelahnya belajar, maka kamu harus menahan perihnya kebodohan.”

Benar sekali kan? Bahkan menurut saya bukan hanya perihnya kebodohan, tapi juga gelapnya dunia. Gelap dalam artian kemunduran peradaban umat manusia. Kehidupan kita gak akan maju dan berkembang. Mungkin gak akan ada yang namanya teknologi kalau sekiranya semua Ilmuwan itu berhenti belajar.

Akhir kata, kita harus belajar dulu, belajar lagi, dan belajar terus. Bukan untuk mengalahkan yang lain, tapi untuk mengalahkan diri kita sendiri. Dari apa? Dari perihnya kebodohan.

 

Semangat Belajar di akhir pekan ya 🙂

 

 

Salam,

 

Arasyid Harman  

 

Pelajaran Bisnis & Investasi dari Ibu Kos

Assalamu ’alaikum…

Semoga teman-teman semua selalu dalam keadaan sehat wal afiat dan bahagia dalam kesyukuran. As always. Aamiin.

Yang sedang galau, mudah-mudahan galaunya hilang saat membaca tulisan ini. Yang sedang bad-mood mudah-mudahan jadi good-mood ya. Aamiin.

Well,

Sore tadi saya dan seorang kawan berkunjung ke rumah mantan Ibu Kos. Setelah kurang lebih setahun tak bersua, Alhamdulillah bisa diberikan kesempatan untuk bertatap muka dengan status bukan anak kos lagi.hehe..

Maksud kedatangan kami adalah untuk silaturrahim dan mengambil berkas  dokumen berharga yang saya titipkan setahun yang lalu saat pamit untuk bertugas sebagai Pengajar Muda dalam Gerakan Indonesia Mengajar.

Dokumen apakah itu? Ada deh. Pokoknya dokumen penting. Hehe.

Saat kami tiba di depan rumahnya, si Ibu gak ada. Saya telpon, katanya ia masih dalam perjalanan dari Majelis Taklim. Kami diminta untuk menunggu.

Syukur di rumah ada Bapak Kos dan Dani, anak bungsu Ibu Kos yang kaget melihat kedatangan saya.

Tak berapa lama kemudian Ibu Kos tiba. Senang rasanya bisa berjumpa kembali setelah setahun tak ketemu. Meskipun saat ini saya sudah tidak tercatat sebagai anak kosnya lagi, tapi tetap ia masih menganggap dan memperlakukan saya sama seperti anak kosnya. Pun demikian halnya dengan saya terhadap beliau dan keluarganya. (tepuk tangan dulu dong..hahaha)

Banyak hal yang terjadi semenjak kepergian saya setahun yang lalu. Ia mulai bercerita tentang kesibukannya saat ini. Mulai dari ekspansi rumah usaha kos-kosannya hingga kegiatan pengajian rutin dimana ia diamanahi sebagai ketua majelisnya. Super sibuk deh pokoknya.

Ia juga menanyakan bagaimana pengalaman saya selama kurang lebih setahun bertugas di pelosok Nusantara. Saya pun cerita dikit. Kalo banyak, waktunya gak cukup. Intinya saya ceritain banyak sukanya. Dukanya dikit aja yang diceritain. Hehe.

Topik cerita pun makin lama makin meluas. Hingga ia menceritakan salah satu orang tua dari anak kos-nya (mahasiswa baru) yang baru saja terkena musibah. Innalillah… saya pikir meninggal dunia. Ternyata musibah usaha (mata pencaharian) keluarga tersebut yang cukup berat.

Intinya orang tua dari anak ini mengalami kerugian dalam usaha dan bisnisnya. Ortunya tinggal di Kalimantan. Aslinya dari Jawa, cuman udah lama merantau kesana. Disana mereka tinggal dan bekerja di kompleks Perusahaan Batu Bara. Karena berada di area Perusahaan Pertambangan Batu Bara ini, banyak orang yang mengadu nasib kesana. Daerah di sekitar Perusahaan pun menjadi ramai. Hal ini membawa berkah ekonomi bagi masyarakat yang tinggal di sekitar area Perusahaan. Salah satunya bagi keluarga si anak ini. Usaha keluarga mereka bisa dibilang sukses. Terbukti dengan kepemilikan berbagai aset. Salah satunya adalah rumah. Rumah mereka sampe enam unit disana.

Dan sekarang Perusahaan Batu Bara tersebut gulung tikar. Akibatnya orang-orang pada pergi meninggalkan daerah dimana Perusahaan batu bara itu beroperasi. Mendadak daerah itu menjadi sepi. Ditinggal penghuninya. Ya karena sudah gak ada lagi mata pencaharian, wajar kalo orang-orang juga angkat kaki.

Banyak masyarakat yang terkena dampak dari bangkrutnya Perusahaan Batu Bara ini. Salah satunya adalah ortu dari anak ini. Usaha ortunya pun tutup. Aset berupa rumah yang jumlahnya enam itu mereka jual. Tapi, ibarat pepatah ‘nasi sudah menjadi bubur’. Semua sudah terlamabat. Tak ada orang lagi disana. Jadi gak ada yang beli itu rumah.

Ya Allah… sedih banget kan? Siapa yang mau beli coba. Orang-orang udah pada pergi dari sana. Kalo pun ada yang beli, buat apa juga. Udah gak ada aktivitas ekonomi disana. Ya orang mikir-mikir mau beli. Gak ada yang mau beli gitu aja terus dianggurin. Gak dipake atau disewain lagi.

Imbasnya adalah, sang anak yang kuliah di Jawa tak bisa menutupi biaya kuliah dan biaya sewa kos. Akhirnya ortu si anak ini kembali (lagi) ke Jawa. Kampung halaman dari ortunya ini di Kediri. Nah, di Kediri ini Ibu dari si anak ini punya harta warisan pemberian dari kakek dan neneknya berupa satu petak tanah. Sedihnya, itu warisan ya cuma tanah aja. Gak ada apa-apanya di atas tanah itu. Polos gitu. Gak ada bangunan atau rumah. Ya ampun… jadi mereka harus merintis (usaha) lagi dari nol.

Kasian banget ya. 😦

Saya ikut prihatin dengan keadaan keluarga ini. Mudah-mudahan keluarga ini diberikan keteguhan iman dan keikhlasan untuk melalui masa-masa penuh ujian yang saya yakin pasti mengandung hikmah baik bagi mereka maupun bagi keluarga-keluarga yang lain.

Ibu Kos saya lalu berpesan kepada kami yang sedari tadi menyimak dengan seksama setiap lipatan cerita yang keluar dari lisannya. Pesannya mungkin adalah hikmah yang bisa sama-sama kita ambil dari peristiwa yang dialami oleh keluarga salah satu anak Kosnya tersebut.

Dan pesannya adalah…..

  • Pintar-pintarlah dalam mengelola uang. Kalau ada kelebihan dana, investasikan dana tersebut dalam bentuk usaha yang lain. Misalnya, dengan membeli aset berupa rumah atau lahan tanah di daerah yang lain atau di kota lain. Jangan hanya membeli aset di lokasi usaha saat ini.
  • Jangan terlena dengan ‘zona nyaman’ dalam hal ini zona nyaman finansial.
  • Yang namanya sumber daya alam (tambang) pasti suatu saat akan habis. Oleh sebab itu, bijaksanalah dalam menyusun rencana pengembangan usaha/bisnis agar tetap berkibar.
  • Selalu antisipasi segala kemungkinan terburuk yang bisa terjadi dalam bisnis atau usaha yang sedang kita geluti. Terus bekali diri dengan Ilmu. Jangan berhenti belajar, khususnya belajar menangkap peluang usaha dan berinovasi terhadap jenis usaha yang sedang digeluti.
  • Investasi kelebihan dana usaha dengan membeli aset produktif di kota/daerah lain diluar lokasi usaha utama atau dilokasi tempat kita tinggal. Atau bisa juga investasi di bisnis orang lain yang punya potensi besar dalam melipatgandakan profit dan aset.

Yap, itulah kira-kira inti dari nasehat dalam hal usaha/bisnis yang disampaikan oleh Ibunda Kos tercinta. Saya dan kawan saya baru saja mendapatkan “kuliah tamu” dari Ibu Kos yang dalam pandangan saya adalah seorang pelaku usaha yang cukup sukses.

Oh ya, Ibu Kos juga memiliki usaha lain selain kos-kosan. Ia menjadi supplier sayuran, buah-buahan, dan rempah-rempah untuk daerah Papua. Meskipun masih skala kecil, ia terus berekspansi. Saat ini Ibu Kos memiliki 75 unit Kamar Kos Putra dan 7 Kamar Putri. Disamping itu, ia juga membuka usaha kripik buah (oleh-oleh khas Kota Malang). Super sekali kan? Padahal zaman saya nge-kos dulu jumlah kamarnya hanya sekitar 40-an. Itu pun hanya Kamar buat cowo aja. Lah sekarang dia mulai buka Kos untuk cewe. Cakep dah!

Pengen banget kayak Ibu Kos. Insha Allah saya juga mau buka usaha Kos-kosan (nanti). Habis kos-kosan lanjut kontrakan, terus lanjut Perumahan, hingga pengen punya usaha real estate beneran! Ya impian gilanya besarnya bisa mengikuti jejaknya Om Donald Trump yang sangat sukses dalam bisnis real estate. Aamiiiin ya Allah… nah, bagaimana dengan teman-teman?

Mudah-mudahan kita semua bisa punya usaha sendiri ya. Apa pun jenis usahanya asalkan baik, halal, dan bermanfaat untuk sesama. Aamiiin.

Ok. udah dulu ya…

Salam satu jiwa dari Bumi Arema!

Arasyid Harman