SMS yang mengubah mimpi menjadi kenyataan

Sore ini saya ‘bernostalgia’ (membuka + membaca) SMS di HP yang lama. Banyak kenangan SMS selama kuliah di UMM yang masih tersimpan rapi di inbox dan folder ‘sent items’ HP jadul yang hingga saat ini masih saya pakai. Sengaja gak saya hapus. Sayang kalo dihapus. Membaca percakapan yang ada di SMS seperti membaca buku diary. Pikiran mau gak mau akan dibawa ke masa dimana SMS itu diketik, terus dikirim. Juga merasakan kembali suasana emosional yang muncul saat itu.

Saya hanya bisa senyam-senyum gak jelas seperti orang gila yang sedang kasmaran. Hingga akhirnya saya terhenti sejenak saat membaca SMS dari sekian banyak SMS yang saya kirim ke salah satu kawan baik saya, Yuswardi. Kami suka SMS-an dalam Bahasa Inggris waktu itu. Jadi banyak SMS diantara kami dalam Bahasa Inggris yang (harap dimaklumi) masih amburadul. Hehe..

Tapi, hal itu tak jadi masalah. Niat kami waktu itu adalah untuk belajar dan berlatih meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris kami (khususnya tulisan) yang masih jauh dari predikat ‘Excellent’. Bahkan hingga hari ini pun kami masih terus belajar dan berlatih dengan alasan yang sama. Gak ada kata berhenti belajar dan berlatih dalam kamus kehidupan kami.

Setidaknya ada 3 SMS yang saya kirim ke Yuswardi waktu itu. 3 SMS ini saya kirim dalam waktu yang berdekatan berdasarkan riwayat waktu pengirimannya. Saya gak ingat persis topik apa yang sedang kami bahas. Tapi ketika membaca isi dari SMS-SMS tersebut, saya yakin saat itu kami sedang bertukar pikiran soal beasiswa dan impian untuk ke luar Negeri melanjutkan studi (melalui program beasiswa).

Berikut petikan SMS-nya :

“I dn’t care!! When I want smthing, I’ll never stop till I get it!! At the end, let’s move together!! I do believe, next year I’ll be not in Indonesia, I’ll be somewhere in another part of the globe!! Insha Allah. My CV has done, now I’m working on anther stuff. Really, I’ll never say never 4 evry single chance that comes to my life!! So what about you??? :D” (Details, To: Yuswardi, sent: 05:16:40pm. 12-09-2011)

“Coz I’m a winner not a Quitter!! A winner never quit, n A Quitter never win!! Just make ur choice!! Winner or Quitter?? :D” (Details, To: Yuswardi, sent: 05:20:11pm. 12-09-2011)

“Just keep this magical words “If there’s a will, there’s a way”, “If you can dream it, you can do it”, “If u think u can, yes u can” n eventually, when u want something, the universe will work for it with the power of The Almighty Allah swt. Let’s just keep doing, moving, n praying fo the best in ourlives!! Allahuakbar!!! :D” (Details, To: Yuswardi, sent: 05:26:28pm. 12-09-2011)

 

Setelah membaca 3 SMS di atas saya merenung, tepatnya membawa diri ‘terbang’ kembali ke masa itu. 12 September 2011. Kurang lebih 5 tahun yang lalu. Waktu itu kami memang sedang mempersiapkan beberapa berkas untuk mendaftar program beasiswa Erasmus Mundus yang sedang dibuka. Kebetulan kampus kami menjadi salah satu mitra Universitas di Indonesia dengan pihak Uni Eropa yang merupakan sponsor dari program beasiswa Erasmus Mundus tersebut. Ada pun kampus yang menjadi tujuan atau mitra dari beasiswa ini semuanya berada di Eropa.

Eropa, salah satu benua yang kaya akan keragaman budaya, bahasa, sejarah,  dan peradabannya. Pokoknya bikin ngiler dah kalo udah ngebahas seputar benua biru itu. Kampus-kampus disana keren-keren baik dari segi sejarah maupun dari segi kualitas sistem Pendidikannya. Gak ada yang gak setuju dengan pernyataan ini kan? Hehe.

Di sisi lain, waktu itu kami juga masih belum selesai dari program OJT di salah satu hotel yang ada di Kota Batu. Masih segar dalam ingatan, semangat dan energi untuk mendaftar berbagai program beasiswa short-term ke luar Negeri begitu besar. Tak ada kata berhenti mencari (atau tepatnya berburu) informasi yang berhubungan dengan program beasiswa ke luar Negeri.

Saya tahu, we were not alone. Pada saat yang sama ada puluhan, ratusan, bahkan ribuan pelajar/mahasiswa di Indonesia yang juga sedang berburu apa yang kami buru, yakni beasiswa. Terlepas apakah beasiswa full-degree (untuk studi S1/S2/S3 di luar Negeri) atau hanya short-term program saja. Apa pun itu, intinya kita sama-sama berjuang untuk sebuah impian memperoleh beasiswa ke luar Negeri.

Yang membuat saya tersenyum setengah gak percaya adalah saya baru menyadari apa yang saya tulis dalam SMS tadi benar-benar terjadi. Benar-benar menjadi kenyataan. Dan yeah, bahkan setelah saya kembali dari belahan dunia yang lain (setahun setelah SMS tadi saya kirim), saya pun masih belum sadar bahwa saya pernah menulis ‘sesuatu’ yang, percaya atau tidak, telah mengantarkan jiwa dan raga saya terbang ke belahan dunia yang lain.

Dalam SMS yang pertama di atas, saya menulis : “…..  I do believe, next year I’ll be not in Indonesia, I’ll be somewhere in another part of the globe!! Insha Allah.”

Dan Alhamdulillah tahun berikutnya, saya benar-benar berada di belahan dunia yang lain. Kebetulan? Ah, rasanya tidak. Saya lebih suka menyebutnya dengan keberuntungan yang bukan kebetulan. Ya, karena dari dulu saya selalu percaya gak ada yang terjadi secara kebetulan di alam semesta ini. Semua atas rencana dan kehendak yang Maha Kuasa, Allah Subhanallahi wabihamdihi subhanallahil adzim. Dan, ini juga penting, karena ada proses yang saya jalani dibalik keberuntungan yang bukan kebetulan itu.

Setelah saya pikir-pikir, delapan bulan kemudian sejak SMS tersebut saya kirim, akhirnya saya berhasil mendapatkan kesempatan untuk terbang dan menginjakkan kaki di belahan bumi yang lain. Waktu yang relatif singkat. Delapan bulan (kurang lebih) Semesta bekerja (atas Perintah sang Pencipta) membantu mewujudkan apa yang menjadi impian saya waktu itu.

Lantas bagaimana kelanjutan dari berkas aplikasi beasiswa Erasmus Mundus yang waktu itu kami persiapkan dan daftarkan? Alhamdulillah gak ada yang lolos. Hahaha!

Tapi, Allah ternyata punya rencana lain buat saya. Saya tidak menyerah. Saya terus mencari informasi lain baik di lingkungan kampus, searching di Internet, maupun di berbagai kegiatan pameran Pendidikan luar Negeri yang diselenggarakan di Kota Malang.

Hingga akhirnya saya mendapatkan informasi salah satu beasiswa yang kemudian mengantarkan saya pada apa yang saya tulis di SMS tadi. Benar-benar berada di belahan bumi yang lain. Bukan di Eropa tapi di Amerika! Masha Allah…

Mengenang perjuangan kala itu, selalu membawa semangat dan energi positif untuk terus berjuang dengan sungguh-sungguh terhadap segala hal yang menjadi impian, cita-cita, dan harapan. Gak ada kata menyerah, gak ada kata putus asa, gak ada kata berhenti terhadap setiap mimpi yang kita miliki, sekecil atau sebesar apa pun itu. Karena Tuhan tak mengenal kata ‘kecil’ atau ‘besar’. Bagi-Nya semua impian itu sama saja. Tinggal bagaimana kita mau atau tidak untuk berjuang dengan sungguh-sungguh dalam meraihnya.

Pelajaran penting yang bisa sama-sama kita catat adalah, apa pun impian atau keinginan atau cita-cita kita, harus dan wajib ditulis. Sekali lagi, di-tu-lis. Dimana saja gak jadi masalah. Selama ia tertulis. Karena, berdasarkan apa yang telah saya alami, impian/keinginan yang kita tulis (apakah di buku catatan, handphone, tablet, laptop, dll) cepat atau lambat, percaya atau gak percaya, akan menjadi kenyataan. Sekali lagi, akan menjadi kenyataan. Ajaib. Benar-benar ajaib!

Tentunya, harus ada niat yang sungguh-sungguh untuk mewujudkannya. Terus dibarengi dengan usaha keras dan do’a dalam proses perjalanan mewujudkan impian tersebut. Sungguh, semesta akan berkonspirasi dalam mewujudkan impian dan keinginan kita. Dan yang pasti, Allah swt juga gak akan tinggal diam. Dia pasti akan membantu. Pasti.

Sangat mudah bagi Allah untuk mewujudkan semua keinginan/impian hamba-hamba-Nya. Kalau Dia sudah berkehendak, gak ada satu setan makhluk pun yang bisa menghalangi keputusan-Nya. Cukup baginya mengatakan, “Kun! faya kun!” Jadi!, maka jadilah (sesuatu itu). Yang jadi pertanyaan kemudian adalah apakah kita sudah pantas (menerimanya)? Apakah kita sudah siap (lahir-batin)? Apakah kita sudah berusaha dengan sungguh-sungguh dalam meraihnya?

 

***

Semoga tulisan singkat ini menjadi penyemangat, khususnya bagi saya pribadi, juga teman-teman yang saat ini sedang berjuang. Tak hanya dalam hal ‘berburu’ beasiswa, tapi dalam hal apa pun yang menjadi impian dan cita-cita dalam kehidupan masing-masing.

Teruslah berjalan. Teruslah bergerak. Teruslah mencari. Teruslah berusaha. Dan, ini yang paling penting, teruslah berdo’a dan berbaik sangka. Tanpa do’a apa yang terlihat mustahil akan selamanya terlihat mustahil. Dan dengan kekuatan do’a apa yang tak mungkin akan menjadi mungkin atas kehendak dan kuasa-Nya. Berbaik sangka juga sangat penting. Bukankah Allah itu sesuai dengan prasangka hamba-Nya? Jadi do’a + baik sangka adalah komponen utama dalam proses memperoleh keberuntungan yang bukan kebetulan (dalam hal apa pun, gak hanya sebatas dalam mencari beasiswa).

Yakinlah, suatu saat nanti kita akan mendapatkan apa yang kita inginkan dan impikan. Jika belum, jangan menyerah dan patah semangat. Teruslah berjuang. Jangan berhenti sebelum berhasil mendapatkan apa pun yang kita inginkan dalam hidup. Hidup di dunia ini hanya sekali kan? Jadi sayang banget kalau nanti di akhir hayat kita, ada kata menyesal yang muncul karena kita telah memutuskan untuk menyerah (terlalu dini) atas impian, harapan, keinginan, dan cita-cita kita.

Semoga tidak ya.

 

Salam Semangat,

 

Arasyid Harman

Advertisements

NARIHIRO

Namanya Narihiro. Seorang mahasiswa yang berasal dari Negeri Sakura. Pertemuan pertamaku dengannya akan menjadi kenangan yang takkan terlupakan baginya. Karena aku bisa dibilang telah-meskipun tanpa sengaja- membangunkannya dari tidur pulasnya.

Harap maklum kami tiba di Hashinger Hall tengah malam (waktu Amerika). Dan aku ditempatkan sekamar dengan dia. Ya, dia adalah teman sekamarku (roomate) selama aku mengikuti program IELSP ini.

Ketika aku masuk ke kamar sambil membawa koper dan barang-barang, Narihiro sedang tidur. Pelan-pelan aku menutup pintu dan meletakkanbarang-barangku. Rupanya kehadiranku membangunkannya.

“Hey who are you?” spontan ia bertanya.
“Hi, I am Harman. I am your roomate.”
“Oooh….” sambil bangkit dari tempat tidurnya.
“ I am sorry for waking you up.”
“Oh it’s Ok. No problem.”

Ketika aku merapikan tas dan menata tempat tidurku, ia mengamati setiap apa yang aku lakukan.

“Hmm… where are you from?” tanyanya kemudian.
“I am from Indonesia.”
“Oh… it’s so far away.”
“Yup.”

Setelah ngobrol singkat, aku izin untuk sholat. Aku baru ingat kalau belum sholat Maghrib dan Isha. Saat itu jarum jam menunjuk angka 02 dini hari. Perjalanan udara dari Indonesia membutuhkan waktu lebih dari 20 jam. Cukup menguras tenaga.

Aku sholat Magrib dan Isha dengan menjamak keduanya. Sejak takbir pertama, aku merasa kawan baruku ini sedang mengamati setiap inchi gerakan sholat yang sedang aku kerjakan.

Selesai sholat dengan ekspresi penasaran tingkat dewa ia menghampiriku dan menanyakan apa yang barusan aku lakukan.

“What did you do?” tanyanya.
“I was praying.”
“What??”
“I was praying.” Ku ulangi lagi dengan sedikit memberikan penekanan pada kata Praying.

Melihat raut wajahnya yang sepertinya tidak paham dengan kata praying, aku membantu menjelaskan dengan menggunakan kata ‘God’ dan ‘Religion’. Ia lantas bergegas menuju meja belajarnya mengambil kamus elektronik bahasa Inggrisnya.

Setelah mengetikkan kata ‘religion’ di kamus elektroniknya ia mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum. Barulah aku tahu, ternyata ia adalah seorang yang tidak percaya akan adanya Tuhan atau bisa dibilang seorang Ateis. Lagi-lagi aku ingat kalau masyarakat Jepang banyak yang tidak beragama.

****

Selama mengikuti program IELSP ini, banyak hal yang aku pelajari dari roomate-ku ini. Narihiro adalah salah satu mahasiswa Internasional yang sangat rajin dan disiplin. Tak jarang aku menjumpainya di Perpustakaan kampus sedang membaca buku atau mengerjakan tugas kuliahnya.

Ia juga cukup ketat dalam hal menjaga ritme atau jam tidurnya. Juga pola makannya. Setiap hari aku selalu mengamati kebiasaan dia dari mulai bangun tidur hingga tidur lagi.

Yang membuat aku kagum adalah konsistensinya dalam menjaga jumlah jam tidurnya. Ia selalu tidur tepat jam 10 malam. Tidak peduli apakah tugas atau pekerjaan rumah lainnya telah selesai atau belum. Pokoknya kalau udah jam 10 malam, ia langsung tidur. Sangat disiplin. Bangunnya pun selalu jam 05 subuh, kecuali hari minggu. Hari minggu biasanya Ia bangun agak siang.

Kadang ia suka mengingatkanku untuk segera istirahat kalau aku sedang mengerjakan tugas sampai larut malam. Emang benar begadang itu ga baik untuk kesehatan. Namun, lagi-lagi ini kembali ke kebiasaan setiap orang. Karena aku adalah tipikal orang yang gak bisa tidur kalau tugas-tugas belum selesai, jadinya begadang dalam rangka menyelesaikan tugas atau pekerjaan adalah hal biasa. Bahkan ga tidur sampai pagi pun udah biasa.hehe.

Jadi masih perlu banyak belajar untuk pengelolaan waktu. Lain halnya dengan Narihiro ini. Manajamen waktu dan kerjanya patut diacungi jempol. Semangat belajarnya juga tinggi. Ia juga rutin olahraga. Sekali dua kali, aku dan teman-teman berpapasan dengannya di area kampus sedang jogging.

Selama menjadi roommate mahasiswa yang gemar mengkonsumsi teh hijau buatan negaranya sendiri ini, aku belajar banyak hal baru darinya. Terutama dalam hal kedisiplinan. Ya, memang benar orang Jepang itu terkenal dengan kedisiplinan dan kerja kerasnya. Dan disini aku menemukan langsung buktinya. Narihiro.

Di sisi lain, Narihiro juga ternyata belajar banyak hal dari kami, mahasiswa Indonesia. Suatu waktu, dia menghampiriku dan menanyakan suatu hal yang bisa membuat orang Indonesia tersenyum atau mungkin tertawa.

“Harman, why Indonesian students always going together and always laugh most of the time? Is it part of your culture?” Tanyanya dengan mimik wajah serius.

Dengan santainya aku jawab,
“Yeah. It is. We love going together and have fun eventhough we have lots of homework to do. Why asking?”
“Nope. It is not like in my country. People in Japan are very busy and individualistic.” Nada bicaranya terlihat lesu.
Ia melanjutkan, “We are very rare to be in group and hang out together. We are busy people.”
“oh pantesan, banyak yang bunuh diri…”
“Sorry? What did you say?”

“opps.. Sorry nothing. I said, you guys can join us to hang out and have some fun on the go.”

Aku keceplosan ngomong pake bahasa mama. Hahaha.
Untung dia ga ngerti.. kalo ngerti, bisa gawat.hehe.. 😀

Jadi ternyata orang Jepang, berdasarkan apa yang diceritakan oleh Narihiro adalah orang-orang super sibuk yang bisa dibilang sangat jarang untuk ketawa-ketiwi atau jalan bergerombol dalam satu kelompok.

Ini kesimpulan singkat yang ga bisa dijadikan sebagai sebuah justifikasi atau pembenaran akan karakter orang Jepang ya. Tapi, setidaknya aku setuju dengan apa yang disampaikan oleh Narihiro setelah melihat langsung gerak-gerik mahasiswa Jepang yang waktu itu sedang belajar di University of Kansas.

Well, demikian cerita tentang Roomate-ku, Narihiro. Sebenarnya masih ada banyak hal yang belum aku certain disini. Nanti aja ya, kapan-kapan ( baca : kalau lagi ga males ngetik). Hahaha 😀

Lagi banyak tugas juga sekarang. Deadline-nya dempet-dempetan. Hehe. InshAllah akan aku lanjutkan cerita yang lainnya. (Kalau sempet ngelamun) hehehe.. 😀

Just stay tuned! Okay? 😉

 

Salam dari kota Lawrence, Kansas, USA

@arasyidharman