Belajar dulu, Belajar lagi, Belajar terus

“Mereka yang berhenti belajar akan punah layaknya Dinosaurus.”

-Arasyid Harman- 

Tak ada waktu yang sia-sia bagi setiap insan yang haus akan Ilmu Pengetahuan. Setiap saat mereka sibuk memperbaiki diri yang dimulai dengan memperkaya wawasan keilmuan mereka dengan belajar, belajar, dan belajar.

Yap. Itulah ciri para cendekiawan yang mungkin dianggap aneh oleh kebanyakan   sebagian orang.  Apakah mereka itu manusia yang memang aneh dari sononya? Ah tidak. Dan memang gak ada yang aneh dengan orang-orang yang menghabiskan waktunya dengan belajar kan? Justru yang aneh adalah mereka yang sibuk menghabiskan waktunya untuk mengomentari dan menilai (layaknya hakim) kehidupan orang lain dan luput untuk menilai dan memperbaiki diri mereka sendiri dengan terus belajar.

Belajar sejatinya adalah sebuah kebutuhan. Layaknya tubuh yang membutuhkan makanan untuk kelangsungan organ-organ yang membentuk dan menyusunnya. Belajar dalam arti yang lebih luas adalah menjaga akal agar tidak keriput lalu mati dimakan waktu dan kemajuan peradaban.

Setiap saat kita butuh belajar. Karena setiap saat Ilmu yang ada di dunia ini terus berubah dan berkembang seiring dengan kemajuan pemikiran umat manusia. Adalah sebuah kebodohan yang nyata bagi siapa pun yang malas dan berpikir bahwa belajar itu hanyalah kegiatan yang membuang-buang waktu. Adalah sebuah kemunduran yang nyata bagi siapa saja yang menganggap belajar itu cukup di bangku sekolah saja. Setelah tamat sekolah, belajar itu gak penting, yang penting itu bekerja dan dapat uang.

Ini adalah sebuah pandangan atau pemikiran yang berbahaya dan mematikan. Jangan sampai kita punya pandangan atau pemikiran yang seperti ini ya.

Karena sesungguhnya belajar itu adalah salah satu kewajiban yang diperintahkan langsung oleh sang Pencipta. Kita diperintahkan untuk membaca. Dan membaca ini adalah salah satu cara kita untuk belajar.

Dan belajar itu memang membutuhkan sebuah kesabaran. Kesabaran yang tinggi. Kalau kita gak sabar, ya susah. Sabar adalah salah satu kunci untuk menguasai Ilmu Pengetahuan. Tanpanya, tak akan ada Ilmuwan yang akan berhasil menciptakan berbagai kemajuan dalam segala bidang kehidupan kita saat ini.

Mungkin kita tak akan menikmati cahaya lampu di malam hari jika Thomas Alfa Edison gak sabar dan langsung menyerah saat belajar merangkai dan membuat rangkaian percobaan demi percobaan hingga ia akhirnya berhasil menemukan bohlam lampu listrik yang semua manusia di planet ini merasakan manfaatnya.

Mungkin kita tak akan (pernah) merasakan terbang di udara jika Wright bersaudara gak sabar dalam belajar hingga mereka akhirnya berhasil menciptakan pesawat terbang yang hingga saat ini menjadi salah satu sarana transportasi udara yang memungkinkan kita berpindah dari satu kota ke kota lain atau dari satu Negara ke Negara lain dalam waktu yang cepat.

Dua penemuan luar biasa ini hanyalah sebagian kecil contoh yang merupakan produk dari kemajuan pikiran manusia karena proses belajar yang tak pernah berhenti.

Ada sebuah nasehat dari Imam Syafii yang sangat membumi. Nasehat ini ditujukan kepada kita semua yang mulai merasa bahwa belajar itu gak penting atau belajar itu buang-buang waktu.

Berikut nasehat sang Imam,

“Jika kamu tak tahan lelahnya belajar, maka kamu harus menahan perihnya kebodohan.”

Benar sekali kan? Bahkan menurut saya bukan hanya perihnya kebodohan, tapi juga gelapnya dunia. Gelap dalam artian kemunduran peradaban umat manusia. Kehidupan kita gak akan maju dan berkembang. Mungkin gak akan ada yang namanya teknologi kalau sekiranya semua Ilmuwan itu berhenti belajar.

Akhir kata, kita harus belajar dulu, belajar lagi, dan belajar terus. Bukan untuk mengalahkan yang lain, tapi untuk mengalahkan diri kita sendiri. Dari apa? Dari perihnya kebodohan.

 

Semangat Belajar di akhir pekan ya 🙂

 

 

Salam,

 

Arasyid Harman  

 

Advertisements

Bukan Motivator Biasa

Kalau ditanya siapa Motivator favorit saya, sulit rasanya untuk menyebutkan satu nama saja. Ada begitu banyak Motivator baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri yang menjadi favorit saya. Alasannya cukup sederhana, karena saya terlanjur mengenal mereka lewat pemikiran, gagasan, dan semangat yang tersebar lewat karya-karya mereka baik dalam bentuk buku, DVD, seminar dan pelatihan maupun lewat akun sosial media yang saat ini bisa dengan mudah kita ikuti.

Namun, jika ‘dipaksa’ untuk menyebutkan satu nama dari sekian banyak motivator favorit di Indonesia, maka dengan keras saya akan menyebutkan nama ini : Ippho Santosa! Yeeeahhh! 😀

Ippho Santosa? Ada yang belum mengenal beliau? Kebangetan kalau belum kenal! Saya anggap teman-teman udah tau lah atau setidaknya pernah dengar namanya atau mungkin pernah baca buku-buku karyanya.

Yup. Ippho Santosa. Secara pribadi saya mengagumi beliau, lebih-lebih karya-karyanya yang penuh inspirasi dan membawa perubahan besar bagi siapa saja yang membaca dan mempraktekkannya. Maka tak berlebihan jika saya mengatakan he is one of the best motivators in the World. Iya di dunia. Karena memang beliau juga telah memberikan motivasi melalui seminar di beberapa Negara yang tersebar di 4 benua. Sebuah bukti bahwa ia bukanlah motivator biasa aka abal-abal. hehe.

Setahu saya (mohon dikoreksi jika keliru), dialah satu-satunya motivator Indonesia (hingga hari ini) yang karya dan seminar motivasinya bisa Go International hingga ke 4 benua.

Salah satu buku karyanya yakni 13 Wasiat Terlarang: Dahsyat dengan otak kanan bahkan masuk rekor MURI. Tak hanya itu, hampir semua buku karyanya juga masuk dalam deretan Best Seller di toko-toko buku tanah air.

Mas Ippho Santosa tak hanya berbagi motivasi dan inspirasi lewat buku, ia juga berbagi lewat seminar dan berbagai media sosial seperti facebook, twitter, instagram, whatssApp dan Telegram. Dan semua akun sosial medianya sarat Ilmu. Ilmu yang ia share juga selalu up-to-date, research-based, dan yang pasti mudah dipahami dan dipraktekkan. Tak heran, followers-nya mencapai ribuan bahkan ratusan ribu dan terus bertambah.

Terkait pelatihan dan seminar motivasi, sudah banyak sekali peserta seminar yang mengikuti seminar-seminarnya dan merasakan keajaiban dalam berbagai aspek kehidupan. Tak terkecuali saya pribadi. 🙂

Saya menyukai buku-buku motivasi juga seminar/training motivasi karena saya ingin selalu bersemangat dalam menjalani setiap aktivitas dalam kehidupan sehari-hari. Dan ketika saya membaca buku atau mengikuti seminar/training motivasi semangat hidup saya terus meningkat yang membuat saya lebih produktif. Ibarat baterai HP yang sedang nge-drop, ketika mengikuti seminar motivasi saya mengisi kembali daya ‘baterai’ dalam diri saya yang sedang lemah.

Memang yang namanya semangat itu selalu naik-turun, oleh sebab itulah kita butuh motivasi setiap hari. Bagi saya membaca buku motivasi belumlah cukup. Harus diikuti dengan pelatihan atau seminar motivasi. Karena saat berada dalam satu ruangan dimana kita bertatapan langsung dengan sang motivator, aura aka energi positifnya jauh lebih dahsyat ketimbang hanya membaca buku.

Selain itu, saat mengikuti seminar motivasi saya belajar Ilmu baru yang tak ditemukan di buku-buku motivasi. Menurut saya, seminar atau training motivasi adalah penyempurna dari buku motivasi yang kita baca. Karena apa yang disampaikan di seminar/training belum tentu ada di dalam buku. Singkatnya, dua-duanya penting dan saling melengkapi.

Kembali ke soal motivator favorit, bagi saya pribadi, Mas Ippho Santosa bukanlah sekedar seorang motivator. Ia juga adalah guru kehidupan. Karena saya belajar banyak dari kisah perjuangan beliau semasa ia hidup di perantauan sebagai seorang pelajar, jauh dari keluarga tercinta demi menimba Ilmu. Semangat juang inilah yang menginspirasi saya untuk lebih bersungguh-sungguh dalam belajar.

Saya selalu kagum dengan gaya bertuturnya baik melalui lisan maupun tulisan. Benar-benar out of the box! Misalnya nih, “Jangan bermalasan dan beralasan!”, “Kaya atau belum kaya, tetaplah ber-mental kaya.”, “Orang hebat itu mau mengajar. Yang lebih hebat lagi, masih mau belajar.” dan masih banyak lagi.

Lebih jauh dari itu, ia juga sering berbagi kisah inspiratif. Dari beberapa kisah yang ia bagikan, ada satu kisah yang luar biasa dalam kehidupan Mas Ippho, dimana ia selalu merinding saat menceritakan kisah ini di berbagai forum seminar motivasi yang sedang ia selenggarakan. Dan, ya, saya pribadi juga ikut merinding saat ia menceritakan kisah tersebut. Apa kisahnya? Cukup panjang kalau saya tulis secara detail. Tapi, izinkan saya mempersingkatnya.

Kisah tersebut adalah kisah seorang bapak-bapak yang memiliki empat orang anak. Ia bekerja di sebuah Perusahaan selama 12 tahun lebih untuk menafkahi keluarganya. Sepanjang karirnya, si Bapak ini gak neko-neko alias lurus-lurus saja dalam bekerja. Ia bekerja dengan baik dan jujur. Tak seperti beberapa karyawan lainnya yang tidak amanah selama bekerja. Suka mengambil barang-barang kantor tanpa izin dari atasan.

Singkat cerita, si Bapak meninggal dunia. Selama 12 tahun lebih bekerja, banyak yang beranggapan ia gak dapat apa-apa. Karena kehidupan keluarganya ya begitu-begitu saja, tetap miskin. Kasian. Begitu komentar para rekan kerjanya. Mungkin ada yang bertanya dimana keadilan Tuhan? Tunggu dulu, kisahnya belum selesai.

Ke-empat orang anak dari si Bapak tadi terus berjuang sepeninggalnya. Ada yang bekerja, dan ada juga yang berbisnis. Dan beberapa tahun kemudian, salah satu anak dari bapak tersebut diliput oleh salah satu media Nasional dan tercatat sebagai salah satu dari 24 tokoh berpengaruh di Indonesia versi RCTI. Ia juga memiliki puluhan cabang Bisnis dan menjadi salah satu pembicara Nasional di berbagai forum. Karya-karyanya juga penuh inspirasi yang mengubah kehidupan banyak orang.

Siapakah anak tersebut? Dialah Ippho Santosa. Yup, dan si Bapak tadi tak lain dan tak bukan adalah Ayah kandung dari Mas Ippho Santosa. Sebuah kisah nyata kehidupan beliau yang mengajarkan kepada kita bahwa sekecil apa pun benih kebaikan yang kita tanam, pasti akan berbuah di kemudian hari. Ayah Mas Ippho memang tidak memetik kebaikan yang ia tanam selama ia bekerja di Perusahaan sebagai ladang amal jariyah baginya untuk menafkahi kehidupan diri dan keluarganya. Namun, benih kebaikan itu kemudian berbuah dan dipetik oleh anak-anaknya.

Setiap kali Mas Ippho menceritakan kisah ini, saya bisa melihat dan merasakan rasa bangganya memiliki seorang Ayah yang hebat dalam kesederhanaan dan kejujuran dalam menjalani kehidupan. Sosok yang sangat berpengaruh dalam perjalanan hidupnya. Dan saya yakin, salah satu hal inilah yang membuat ia menjadi seperti sekarang. Ya, Ippho Santosa bukanlah Motivator biasa. 🙂

Untuk teman-teman yang ingin mengenal Mas Ippho lebih jauh dan lebih dalam, bisa langsung klik link ini:  http://ippho.com/motivator-indonesia-motivator-terbaik-motivator-bisnis

Okay, udah dulu ya sharingnya. Semoga bermanfaat.

Salam Hangat dan Selamat berakhir pekan.

Arasyid Harman

 

 

Jembatan Selat Lembeh

Salah satu indikator kemajuan suatu Negara adalah tersedianya sarana/infrastruktur yang baik yang menunjang segala aktivitas warganya. Pembangunan Infrastruktur yang baik, modern dan berkelanjutan menjadi sebuah keniscayaan bagi kemajuan setiap wilayah perkotaan dan pedesaan yang ada di setiap Negara di dunia. Tak terkecuali di Indonesia.

Indonesia adalah Negara berkembang yang terus menerus melakukan percepatan dalam pembangunan infrastruktur. Setiap daerah di Indonesia terus melakukan inovasi dan percepatan pembangunan infrastruktur untuk menunjang dan memudahkan segala kegiatan warganya.

Salah satu daerah di Indonesia yang terus melakukan pembangunan infrastruktur adalah Kota Bitung, Kota industri yang berada di Provinsi Sulawesi Utara.

Sebagai warga Kota Bitung, penulis melihat pembangunan yang ada di Kota Bitung masih perlu ditingkatkan lagi. Khususnya dalam hal sarana transportasi Jembatan dan Dermaga penyeberangan menuju Pulau Lembeh yang juga merupakan salah satu wilayah Administratif Kota Bitung.

Pulau Lembeh adalah pulau yang menyimpan sejuta pesona wisata bahari dan merupakan salah satu tujuan favorit wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Selain itu, selat lembeh adalah surga bagi para penyelam dan pecinta fotografi bawah laut. Karena kekayaan dan keunikan biota bawah lautnya, para penyelam dan pecinta underwater photography dari berbagai Negara menjulukinya sebagai “The Mecca of Divers” atau Kiblatnya para penyelam dan kiblatnya para underwater macro photography enthusiasts.

Untuk menuju ke Pulau Lembeh, kita bisa melalui Pelabuhan Penyeberangan Feri dan Dermaga Ruko Pateten. Dua titik penyeberangan inilah yang selama ini menjadi sarana transportasi yang digunakan oleh para wisatawan dan masyarakat Kota Bitung yang akan menuju ke Pulau Lembeh dan sebaliknya.

Berdasarkan pengamatan penulis di lapangan, belum ada Jembatan penyeberangan yang menghubungkan Kota Bitung dengan Pulau Lembeh. Padahal, jembatan adalah salah satu infrastruktur transportasi yang penting. Dengan adanya jembatan penyeberangan yang menghubungkan Kota Bitung dan Pulau Lembeh akan memudahkan mobilitas warga, barang, dan kendaraan bermotor.

Selama ini warga menggunakan dua transportasi laut yakni kapal Feri dan perahu motor (Kapal Taxi yang dikelola secara mandiri oleh warga setempat). Kapal Feri juga terbatas jam operasionalnya. Hanya melayani dari jam 07:00 pagi hingga jam 15:00 Wita. Hal ini dikeluhkan oleh Masyarakat, karena banyak masyarakat Pulau Lembeh yang bekerja di Kota Bitung dengan membawa kendaraan pribadi, dan sebaliknya. Selain itu, jumlah armada kapal Feri hanya ada satu yang beroperasi setiap harinya.

Sementara itu, moda transportasi perahu motor yang terletak di Dermaga Ruko Pateten menurut pengamatan dan pengalaman penulis juga kurang efisien dan bahkan tidak aman. Meskipun begitu, banyak warga yang menggunakan jasa perahu motor ini. Tidak aman karena setiap sopir dari Perahu Motor juga menerima muatan kendaraan bermotor roda dua untuk diangkut di atas atap perahu. Hal ini tak jarang menjadi faktor terjadinya kecelakaan saat dalam perjalanan menyeberang dikarenakan kelebihan muatan.

Tidak adanya jaminan (asuransi) kecelakaan terhadap jiwa dan barang milik penumpang yang diangkut menggunakan perahu motor (kapal taxi), jelas sangat merugikan warga yang menggunakan jasa perahu motor yang dikelola secara mandiri oleh warga setempat. Selain itu, dari segi keamanan juga tidak tersedia fasilitas pelampung di dalam perahu yang berpotensi membahayakan keselamatan jiwa penumpang jika terjadi kecelakaan (perahu tenggelam) karena gelombang air laut yang tinggi atau kelebihan muatan.

 

Suasana di Dermaga Penyeberangan Ruko Pateten. Foto : Dok. Pribadi

Suasana di Dermaga Penyeberangan Ruko Pateten. Foto : Dok. Pribadi

 

IMG_0560

Suasana di Dermaga Penyeberangan Ruko Pateten. Foto : Dok. Pribadi

 

IMG_4936

Para penumpang sedang menunggu keberangkatan perahu motor yang mereka tumpangi. Foto : Dok. Pribadi

 

IMG_7944

Suasana di dalam perahu motor (Kapal Taxi). Tak ada pelampung yang disediakan untuk keselamatan penumpang. Foto : Dok. Pribadi

 

 

IMG_6298

Salah satu Perahu motor yang sedang antri, menunggu penumpang yang akan berangkat ke Pulau Lembeh. Foto : Dok. Pribadi

 

IMG_0563

Pemandangan perahu motor yang telah berangkat menuju ke Pulau Lembeh. Foto : Dok. Pribadi

 

IMG_0564

Perahu Motor yang berangkat dengan muatan penuh. Jelas terlihat, di atas atap perahu juga disesaki penumpang dan kendaraan motor roda dua. Tidak aman bagi keselamatan penumpang. Foto : Dok. Pribadi

 

Kapal Feri yang melayani penyeberangan Kendaraan bermotor dari Pelabuhan Bitung ke Dermaga Papusungan, Pulau Lembeh. Foto : Dok. Pribadi

Kapal Feri yang melayani penyeberangan Kendaraan bermotor dari Pelabuhan Bitung ke Dermaga Papusungan, Pulau Lembeh. Foto : Dok. Pribadi

 

Meskipun lambat, tetapi aman dan nyaman. Kapal Feri yang dikelola oleh PT. Pelindo IV beroperasi setiap hari. Foto : Dok. Pribadi

Meskipun lambat, tetapi aman dan nyaman. Kapal Feri yang dikelola oleh PT. Pelindo IV beroperasi setiap hari. Foto : Dok. Pribadi

 

Setelah melakukan pengamatan dan wawancara dengan beberapa warga dan penumpang yang berada di Pelabuhan dan Dermaga penyeberangan Ruko Pateten, mereka sangat menginginkan adanya jembatan penyeberangan yang menghubungkan Kota Bitung dengan Pulau Lembeh. Karena dengan adanya jembatan penyeberangan, mereka akan lebih mudah dalam melakukan mobilitas dan aktivitas sehari-hari.

Sebagai bagian dari masyarakat Kota Bitung, penulis sendiri juga mengharapkan hal yang sama. Adanya infrastruktur jembatan yang menghubungkan Kota Bitung dengan Pulau Lembeh akan memberikan multiplay effects di berbagai bidang.

1.) Dengan adanya jembatan, distribusi barang dari Kota Bitung ke Pulau Lembeh dan sebaliknya akan semakin cepat. Hal ini akan mendorong laju perputaran roda perekonomian di Kota Bitung.

2.) Jumlah wisatawan baik lokal maupun mancanegara akan meningkat karena akses menuju Pulau Lembeh akan semakin mudah dan murah. Mereka tidak harus antri di dermaga menunggu jam keberangkatan perahu motor dan kapal Feri yang jam operasionalnya terbatas.

3.) Investor baru akan berdatangan menanamkan modal mereka di Kota Bitung, khususnya di Bidang Pariwisata. Sebagaimana yang kita ketahui bersama, salah satu faktor yang menentukan Investor mau berinvestasi di suatu daerah adalah ketersediaan sarana/infrastruktur yang baik dan menunjang kegiatan bisnis dan investasi mereka.

4.) Jembatan penghubung Kota Bitung dan Pulau Lembeh akan menjadi ikon baru Kota Bitung yang bisa menjadi salah satu magnet para Turis yang ingin berwisata di Kota Bitung pada umumnya, dan pulau Lembeh pada khususnya.

5.) Masyarakat Kota Bitung dan Pulau Lembeh akan lebih meningkat produktivitasnya karena adanya Jembatan Selat Lembeh  memudahkan mobilitas mereka dalam melakukan berbagai kegiatan ekonomi.

 

Sebagai studi banding, penulis mengusulkan konsep atau model Jembatan Selat Lembeh mengikuti model atau konsep Sydney Harbour Bridge di Sydney, Australia. Jembatan Sydney Harbour adalah jembatan yang menghubungkan distrik pusat bisnis dengan wilayah Utara Sydney. Jembatan ini juga menjadi ikon bagi kota Sydney dan juga Australia bersama dengan Gedung Opera Sydney yang tersohor di seantaro dunia itu.

Dalam hal ini, Pemerintah Australia berhasil membangun infrastruktur yang maju, modern, serta berkelanjutan bagi warga masyarakat Sydney dan Australia pada umumnya. Hal tersebut berdampak pada kunjungan wisatawan yang tinggi setiap tahunnya yang secara langsung meningkatkan pertumbuhan ekonomi khususnya dalam bidang pariwisata. Dan tentunya, yang paling merasakan dampak dari adanya infrastruktur jembatan tersebut adalah warga masyarakat Australia, khususnya warga kota Sydney dimana mobilitas dan aktivitas mereka berjalan dengan efektif dan efisien.

 

 

 

Sydney Harbour Bridge from the air. Sumber : https://en.wikipedia.org/wiki/Sydney_Harbour_Bridge

Sydney Harbour Bridge from the air. Source : https://en.wikipedia.org/wiki/Sydney_Harbour_Bridge

 

Harapan penulis dan warga Kota Bitung pada umumnya, Pemerintah baik Pusat maupun Daerah bisa menerapkan konsep “ATM” (Amati, Tiru, Modifikasi) terhadap apa yang telah dilakukan oleh Pemerintah Australia  dalam inovasi pembangunan dan pengembangan infrastruktur jembatan dan juga Pelabuhan Sydney Harbour.

Adapun gambaran (blue-print) sederhana pembangunan infrastruktur Jembatan Selat Lembeh yang penulis bayangkan akan terwujud di masa depan adalah seperti terlihat dalam foto di bawah ini.

 

BEFORE - Plan of Lembeh Strait Bridge. Foto : Dok. Pribadi

BEFORE – Selat Lembeh yang indah dan menyimpan potensi Pariwisata Bahari kelas Dunia. Foto : Dok. Pribadi

 

AFTER - Plan of Lembeh Strait Bridge. Foto : Dok. Pribadi

AFTER – Plan of Lembeh Strait Bridge. Foto dan Desain Jembatan : Dok. Pribadi

 

Sebuah ide besar ini semoga bisa menjadi pertimbangan bagi Pemerintah baik Pusat maupun Daerah. Tentunya, perlu dilakukan berbagai riset dan studi lebih lanjut sebelum pembangunan Jembatan Selat Lembeh ini direalisasikan.

Penulis yakin, dengan adanya inovasi pembangunan infrastruktur berkelanjutan akan mendorong dan meningkatkan laju perekonomian suatu daerah, dalam hal ini Kota Bitung. Jika Australia memiliki Sydney Harbour Bridge, maka nantinya Indonesia akan memiliki Lembeh Strait Bridge yang akan menjadi ikon Kota Bitung yang juga merupakan Kawasan Ekonomi Khusus di Ujung Utara Indonesia.

Semoga.

 

 

 

2015 : moments to reflect

 

image credit (via) : www.gcu.ac.uk

image credit (via) : http://www.gcu.ac.uk

 

The moment I decided to change the way I think about life was the moment of self-transformation. I have always believed that everything happened for good reasons. If it is not good, then it is better. There are no bad reasons for the sake of life-improvement. It is always good at the end. And if it is not good even better, then yeah it is not the end. Truth be told. That’s how I see life.

I recall one of my teacher’s points of view towards life, he said: “Life is just a matter of ups and downs.” This was, with all means, simply true.

Since then, I kept reminding myself for not taking anything for granted. Just live and enjoy every bit of your life. Period.

I also believe that if God takes something from us, He will give another thing which is far better than the one He took. And, it always at the right, and mostly, perfect time.

When I was in doubt, there was also a voice within myself that kept telling me to believe. To believe in what I can’t see and feel. I didn’t know what that voice was. Was it this little thing known as intuition or some sort?

Maybe. One thing for sure, that voice has been right. I never imagined how it could finally lead me into the right direction.

I am sure all of us have been in ups and downs moments. No matter how perfect our life seems to be. And these moments have shaped our personality as well as characters. Moreover, our point of view towards life itself.

As for me personally, these moments of ups and downs taught me lessons that brought me closer to God. I know, God must not be crazy giving us such moments in our life. He knows exactly what He was, is, will be doing to us and all of His creation.

It is acceptable to complain though. Have I complained? Do I look like that-one-human-free-of-problems? Which made me far away from the word ‘complaining’…??

Of course not! I do complain. A looooot! Hahaha. And that’s fine, I guess. That’s how I measure my faith to God. If I never complained, I would never have the feeling of being weak, lost, desperate, and hopeless, in front of God.

And my complaints always go along with tears. That’s how I relieve all the down-moments. Was God angry to me? What a silly question! Of course He wasn’t. If He was, then He would not change my life for the better after the dark-time (s).

I have come into conclusion that, all these moments are meant to change my life for the better. And that’s only work if I change the way I think about the life God has been blessed me with. For that I can’t thank God enough and I am forever grateful.

It’s always been a self-relief mantra to reflect towards anything that happen in my life. Not to mention, every single thing I’ve done in certain period of time as well as in daily basis. And of course at the end of year before welcoming the new year of freshness and hopes which is yet to come soon.

Well, 2015 has been around the end of its time. This year, has been great with all of its ups & downs of course, and I always value and learn to pause for a reflection towards those mixed-moments of learning, growing, sharing, and living in one whole year. By doing so, I become more content, mature, generous, and most importantly, grateful.

 

2015, Thank you for all the lessons.

2016, I am ready.

Hope everyone is taking their own time of reflection for this amazing year of 2015 and being ready for this (coming) brand new year of 2016!

Is it too soon to shout “Happy New Year” ?

 

Warm Regards from Celebes Island,

 

Arasyid Harman

 

 

 

 

Notes to dear YOU

To the person who are reading this. You. Yes, YOU. Look at me closely and deeply.
You are awesome. You are amazing. You are brilliant. You are outstanding.
You are a light in the darkness. You are a rainbow.
You are here to make the world brighter. You are here to shine bright, brighter than the sunshine.

You are dreamed
You are wanted.
You are desired.

Not by me. Not by your lover. But by the world. The people.
They want you. They really want you. Why? Because they need you. Your presence. You words. Your smile. Your time. All yours.

Don’t you realize that?
There are so many things inside you that the world wanted. If you never realized that before, that’s okay. Now you do. Now you realize that you are very special. You are rare. You are unique. You are one in million. You are a shining star in the Universe.

God created you for a noble purpose. Always remember that.
So, stop complaining. Stop thinking that you are not good enough. Stop thinking that you are not brave enough to do the things you have always wanted to do. Stop thinking that you have no power to make your dreams come true.
Stop saying you can’t. Stop saying you are stupid. Stop saying you are weak. Stop saying you are such a failure. Stop saying you are a looser. Stop. Just stop. Right now, right here.
Look at me. Again. Closely and deeply.

What do you see? Yes. You see two shining eyes of hope and faith. If you can’t see it clearly, close your eyes. Just close now for five seconds. Then open them.
Look at me again. You see? Yes. Now you can see my eyes. I trust you. Even I never met you in person. But I can feel you. Why? Because we are one. We are one soul that always connected.

Do you believe it? I hope you do.
You believe or not, it doesn’t matter. The Truth is, I always there. Right there, inside of your heart.
I am always with you wherever you are. I am your soul. Your protector. Your friend. Your reminder. Your compass. Your guide. Your inner voice.
God created me to be with you. To be right beside you. So you will not get lost, sad, and lonely in this worldly life.

So smile and be happy. You know that you are not alone. And you will never be. Even the world leaves you; just remember that I will never leave you. We stick together until the end of our time.
One more thing, always remember that our Creator is always with us. Always.

Hug Tight,

Your Dear Soul

Binatang Kesayangan

Salam a’laikum!

Selamat berakhir minggu di awal bulan November ya. November ceria, kata orang-orang sih gitu. Semoga selalu ceria ya. Yang penting kan itu. Mau November, Desember, Oktober, September dan ber-ber lainnya, kita wajib ceria. Setuju??

Siiip.

Anyway, teman-teman ada yang punya binatang peliharaan? Pasti punya dong. Yang gak punya, kok bisa? Gak suka melihara binatang ya?
Saya sendiri melihara kucing. Sejak kecil udah suka banget melihara hewan imut-imut (gak kayak marmut) ini. Sampe sekarang, kalo enggak ada kucing di rumah rasanya kayak ada yang kurang. Kenapa suka? Ya suka aja. Dari semua hewan peliharaan, cuma kucing yang selalu melekat di hati. Duuhh bahasanya.. hahaha.

Iya. Selain karena level keimutannya yang overload, saya suka kucing karena bisa diandalkan untuk ngusir tikus dari rumah. Meskipun kadang, si kucing juga takut untuk nangkep tikus karena tikusnya besar-besar. Hahaha.

Mungkin bisa dibilang ada faktor “turunan” dari keluarga. Karena keluarga saya dari dulu suka kucing. Di rumah pasti ada kucing. Selain itu, (Alm) Kakek saya adalah seorang figur penyayang binatang. Terutama kucing. Saya masih ingat, waktu kecil dulu, kakek selalu menyiapkan makanan untuk kucing-kucing peliharaannya. Saya suka mengamati, kakek tak segan melumatkan makanan di mulutnya, kemudian memberikannya kepada si kucing yang masih kecil.

Jenis apa kucingnya? Tenang, bukan jenis yang suka jadi model di iklan makanan kucing di tipi-tipi itu. Hanya kucing kampung. Saya pribadi lebih suka “adopsi” kucing kampung. Hahaha. Kenapa? Selain gak ribet meliharanya, kucing kampung juga gerakannya lebih gesit. Dan, lebih ekonomis juga (pastinya). hahaha. Untuk urusan perut khususnya. Gak perlu beli makanannya di toko. Mereka makan apa yang kita makan. Dikasi nasi, ya di lahap. Di kasi ikan? Apalagi. Hehe.

Tiga hari yang lalu, saya dan Ibu saya “menemukan” si Miwon. Terlantar, sebatang kara. Karena gak tega ngeliatnya, tanpa ba-bi-bu langsung kami bawa pulang. Pas di dekatin juga gak kabur. Berarti dia jinak. Ada kan, kucing yang kalo di deketin dikit langsung cao! Hahaha.

Pas nyampe rumah, kata Ibu namanya Madu. Haa Madu?? Saya gak setuju dong. Kucing kok namanya Madu. Aneh aja di telinga. Setelah muter otak beberapa detik, kata “Miwon” melintas di kepala. Jadilah namanya Miwon.hehe
Nah, di rumah sekarang saya punya tiga (kucing) jagoan. Jerry, Manis, dan Miwon. 3 Idiots versi Binatang. Hahaha.

Ada satu peristiwa yang mengharukan tentang kucing dalam keluarga saya. Tak lama sepeninggal (Alm) Kakek, sekitar setahun pasca meninggalnya, salah satu bibi saya bermimpi bertemu dengan kakek. Dalam mimpinya itu, bibi saya menanyakan kabar Kakek. Katanya ia baik-baik saja. Yang membuat saya dan keluarga terharu adalah jawaban kakek selanjutnya. Ia mengatakan bahwa kucing-kucing peliharaannya yang sering menolongnya di alam barzah/kubur.

Masya Allah, saya selalu mengingat mimpi yang dialami oleh bibi saya ini. Sampe sekarang. Walaupun kejadiannya sudah cukup lama. Sekitar tahun 1998 silam. Kakek wafat setahun sebelumnya. Sejak saat itu, kecintaan kami untuk memelihara kucing makin tinggi. Pokoknya wajib hukumnya dalam keluarga untuk memelihara kucing.

Terlepas dari hukum penafsiran “boleh-tidak” mempercayai mimpi yang dialami oleh bibi saya, saya meyakini bahwa mimpi itu benar adanya dalam perspektif kebenaran akan hukum balasan (baik atau buruk) yang akan dialami oleh semua manusia saat berada di alam kubur/barzah nanti. Dimana balasan itu adalah akibat dari apa yang dahulu ia kerjakan selama hidup di alam dunia. Dalam ajaran agama Islam hal ini adalah salah satu hal yang harus dan wajib kita imani dan yakini. Seperti yang termaktub dalam Al-Qur’an,

“Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarah (atom), niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah (atom), niscaya dia akan melihat balasannya.” {Q.S. Az-Zalzalah : 7-8}.

***

Kejadian yang dialami oleh bibi saya setidaknya mengajarkan dan mengingatkan saya dan keluarga (pada khususnya) dan tentunya kita semua (pada umumnya) bahwa saat kita berada di alam barzah/kubur nanti, kebaikan-kebaikan yang kita kerjakan selama hidup di dunia akan datang memberikan pertolongan. Sekecil apa pun itu. Saat kita akan dihukum oleh para Malaikat yang ditugaskan untuk mengintrogasi atau dalam bahasa kerennya “mengaudit” setiap amal perbuatan kita (baik dan buruk) dan kita terbukti bersalah. Maka saat akan dihukum itulah, amal kebaikan tadi yang akan datang menolong, dan meringankan siksaan yang akan kita terima.

Dalam contoh kasus (Alm) kakek saya, karena ia selama hidup di dunia sangat menyayangi binatang (baca: Kucing), maka saat ia berada di alam kubur, kucing-kucing peliharaannya-lah yang datang menolongnya dari siksaan. Ngeri ya, kalo gak ada yang menolong… ya Allah Nastagfirullahhal a’ziim.

Peristiwa yang dialami oleh bibi saya (dalam mimpinya) bertemu dengan (Alm) Kakek, adalah kabar gembira untuk keluarga besar saya. Dan mudah-mudahan juga menjadi kabar gembira untuk teman-teman yang saat ini sedang membaca tulisan ini. Bahwa, adalah penting bagi kita semua untuk menyayangi binatang. Apa pun jenis binatang itu. Karena bagaimana pun juga, mereka adalah makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki hak untuk kita sayangi dan lindungi.

Beberapa waktu lalu diberitakan di berbagai media tentang penganiayaan, penyiksaan, dan bahkan pembunuhan binatang yang dilakukan oleh mereka yang tak punya belas kasihan. Saya pribadi mencekam apa yang mereka lakukan! Parahnya lagi aksi biadab mereka itu dipamerkan di media sosial. Ya Allah…. tega banget!

Yang sampe bikin darah saya “mendidih” ada satu foto beberapa kucing yang sudah mati dibunuh oleh sang pelaku. Kemudian dia mengunduhnya di akun pribadi sosmed-nya dengan caption : “Hasil buruan hari ini”. Aaaaaarrrgghhh!!!! Pengen saya gorok rasanya itu orang!
Tega banget ya? BANGET!

Saya hanya bisa mengelus dada sambil berdo’a, mudah-mudahan orang-orang yang gak punya “hati” itu mendapat hukuman yang setimpal. Dan kalo sampe mereka gak tobat, saya yakin di alam barzah kelak mereka akan disiksa juga oleh binatang-binatang yang mereka siksa. Gak akan ada pertolongan! Yang ada hanyalah siksaan!
Ampun dah. Saya sampe gak habis pikir. Kok bisa ya? Itu kucing-kucing tak berdosa mereka bunuh. Ya Allahhh…. mudah-mudahan Engkau ampuni kesalahan mereka kalo mereka melakukannya karena kekhilafan semata. Tapi kalo sengaja, tanpa alasan yang masuk akal, maka please hukum mereka seberat-beratnya!

Melihat kejadian ini, saya jadi ingat dua kisah pada zaman Nabi yang disampaikan oleh guru ngaji saya waktu kecil dulu. Kisah ini juga sering diceritakan oleh Ibu saya. Kisah lengkapnya saya gak hafal betul. Yang jelas dulu dikisahkan ada seorang perempuan sholehah. Ia sangat taat beribadah. Namun ia memiliki sifat yang tidak terpuji. Ia mengurung seekor kucing dan tidak memberikannya makanan. Hingga kucing tersebut meninggal. Dan dikabarkan bahwa perempuan tersebut masuk Neraka. Hanya karena ia mengurung seekor kucing dan tidak memberinya makanan.

Kisah lainnya yang bertolak belakang dengan si perempuan sholehah ini adalah kisah tentang seorang pelacur dan seekor anjing yang kehausan. Si pelacur ini memberi minum anjing tersebut meskipun ia harus mengambilnya di dalam sumur dengan menggunakan sepatunya. Hanya memberi minum seekor anjing, si pelacur ini dikabarkan masuk Surga. SubhanAllah…

Betapa adilnya Allah SWT. Si perempuan yang sholehah, yang taat beribadah, justru masuk Neraka hanya karena mengurung seekor kucing. Sementara sang pelacur, yang berlumuran dosa dan maksiat, justru masuk Surga hanya karena memberi minum seekor anjing yang sedang kehausan.

Dua kisah ini adalah kisah yang selalu saya ingat. Karena mengajarkan sebuah hikmah yang mendalam akan pentingnya kasih-sayang terhadap semua makhluk ciptaan Tuhan. Kepada binatang aja balasannya kayak gitu, gimana kalo terhadap sesama manusia ya?

Gak kebayang, gimana balasan bagi mereka yang menyakiti dan melukai sesama? Apalagi sampai menghilangkan nyawa. Hiii… pasti serem juga tuh balasannya. Naudzubillahi minzalik yaaa.

Sebelum saya menutup tulisan ini, izinkan saya mengingatkan kembali (khususnya teman-teman yang seakidah dengan saya) bahwa menyayangi binatang adalah salah satu sunnah Nabi Muhammad SAW. Rasulullah SAW adalah seorang penyayang binatang. Dan kita tahu bersama bahwa kucing adalah binatang kesayangan Rasulullah SAW. Bahkan pada zamannya, ada salah satu sahabat Nabi yang diberi julukan sebagai “Bapaknya Kucing” karena saking banyaknya kucing yang ia pelihara.

Ya, dialah Abu Hurairah. Sosok sahabat Nabi yang saya kagumi dan ingin rasanya bertemu dengannya dan berguru tentang bagaimana cara memelihara kucing yang baik dan benar. Hehe.
InshAllah di akhirat kelak ya. Dan, tentu saja saya juga ingin sekali berjumpa dengan Rasulullah Muhammad SAW di akhirat nanti. Aamiiin ya Raab.

Dan, satu hal lagi, bagi teman-teman yang pernah berbuat kurang baik atau kurang sopan apalagi kurang ajar terhadap binatang (apa pun jenis binatang itu) segeralah minta ampun. Mudah-mudahan kesalahan yang pernah kita perbuat terhadap binatang diampuni oleh Allah SWT sehingga saat di alam barzah nanti, kita tak akan menerima balasan berupa siksaan.

Salam,
@arasyidharman

A lover

A lover? Yeah. Maybe some of you have been in line as well. I do hope so. Being a lover means being a good listener and a good fighter for the loved ones.

It’s not that easy to be a true lover. One should has a big heart to deal with uncomfortable things. Have you ever met someone that you consider as a true lover? They exist and inspire. They really have the quality which we wanted to be there within all human race.

Being a lover means being a fighter for what we love. No matter what. If you love your parents then you will never hurt their feeling. You will fight to protect them. You will fight to make them proud of you. This also applies to other things that we have that feeling on.

I am simply on the way of becoming a true lover. Not only for my loved ones, but also for all of my beautiful dreams. If you have a dream, you should be a lover for it. Love your dream (s) as you love your loved ones. They are as precious as the loved ones.

Your dreams are really worth fighting for. If you declare yourself as a dreamer, you should declare yourself as a lover as well. It’s my personal point of view anyway.

If you agree with me, then okay. We are in the same state of faith. If you disagree, well, it’s all up to you dude. I am just saying. 😛

Well, I think you are a lover as well. Yes? Okay. I consider everyone is a lover. But not everyone is a fighter.

Best,

@arasyidharman