Belajar dulu, Belajar lagi, Belajar terus

“Mereka yang berhenti belajar akan punah layaknya Dinosaurus.”

-Arasyid Harman- 

Tak ada waktu yang sia-sia bagi setiap insan yang haus akan Ilmu Pengetahuan. Setiap saat mereka sibuk memperbaiki diri yang dimulai dengan memperkaya wawasan keilmuan mereka dengan belajar, belajar, dan belajar.

Yap. Itulah ciri para cendekiawan yang mungkin dianggap aneh oleh kebanyakan   sebagian orang.  Apakah mereka itu manusia yang memang aneh dari sononya? Ah tidak. Dan memang gak ada yang aneh dengan orang-orang yang menghabiskan waktunya dengan belajar kan? Justru yang aneh adalah mereka yang sibuk menghabiskan waktunya untuk mengomentari dan menilai (layaknya hakim) kehidupan orang lain dan luput untuk menilai dan memperbaiki diri mereka sendiri dengan terus belajar.

Belajar sejatinya adalah sebuah kebutuhan. Layaknya tubuh yang membutuhkan makanan untuk kelangsungan organ-organ yang membentuk dan menyusunnya. Belajar dalam arti yang lebih luas adalah menjaga akal agar tidak keriput lalu mati dimakan waktu dan kemajuan peradaban.

Setiap saat kita butuh belajar. Karena setiap saat Ilmu yang ada di dunia ini terus berubah dan berkembang seiring dengan kemajuan pemikiran umat manusia. Adalah sebuah kebodohan yang nyata bagi siapa pun yang malas dan berpikir bahwa belajar itu hanyalah kegiatan yang membuang-buang waktu. Adalah sebuah kemunduran yang nyata bagi siapa saja yang menganggap belajar itu cukup di bangku sekolah saja. Setelah tamat sekolah, belajar itu gak penting, yang penting itu bekerja dan dapat uang.

Ini adalah sebuah pandangan atau pemikiran yang berbahaya dan mematikan. Jangan sampai kita punya pandangan atau pemikiran yang seperti ini ya.

Karena sesungguhnya belajar itu adalah salah satu kewajiban yang diperintahkan langsung oleh sang Pencipta. Kita diperintahkan untuk membaca. Dan membaca ini adalah salah satu cara kita untuk belajar.

Dan belajar itu memang membutuhkan sebuah kesabaran. Kesabaran yang tinggi. Kalau kita gak sabar, ya susah. Sabar adalah salah satu kunci untuk menguasai Ilmu Pengetahuan. Tanpanya, tak akan ada Ilmuwan yang akan berhasil menciptakan berbagai kemajuan dalam segala bidang kehidupan kita saat ini.

Mungkin kita tak akan menikmati cahaya lampu di malam hari jika Thomas Alfa Edison gak sabar dan langsung menyerah saat belajar merangkai dan membuat rangkaian percobaan demi percobaan hingga ia akhirnya berhasil menemukan bohlam lampu listrik yang semua manusia di planet ini merasakan manfaatnya.

Mungkin kita tak akan (pernah) merasakan terbang di udara jika Wright bersaudara gak sabar dalam belajar hingga mereka akhirnya berhasil menciptakan pesawat terbang yang hingga saat ini menjadi salah satu sarana transportasi udara yang memungkinkan kita berpindah dari satu kota ke kota lain atau dari satu Negara ke Negara lain dalam waktu yang cepat.

Dua penemuan luar biasa ini hanyalah sebagian kecil contoh yang merupakan produk dari kemajuan pikiran manusia karena proses belajar yang tak pernah berhenti.

Ada sebuah nasehat dari Imam Syafii yang sangat membumi. Nasehat ini ditujukan kepada kita semua yang mulai merasa bahwa belajar itu gak penting atau belajar itu buang-buang waktu.

Berikut nasehat sang Imam,

“Jika kamu tak tahan lelahnya belajar, maka kamu harus menahan perihnya kebodohan.”

Benar sekali kan? Bahkan menurut saya bukan hanya perihnya kebodohan, tapi juga gelapnya dunia. Gelap dalam artian kemunduran peradaban umat manusia. Kehidupan kita gak akan maju dan berkembang. Mungkin gak akan ada yang namanya teknologi kalau sekiranya semua Ilmuwan itu berhenti belajar.

Akhir kata, kita harus belajar dulu, belajar lagi, dan belajar terus. Bukan untuk mengalahkan yang lain, tapi untuk mengalahkan diri kita sendiri. Dari apa? Dari perihnya kebodohan.

 

Semangat Belajar di akhir pekan ya 🙂

 

 

Salam,

 

Arasyid Harman  

 

Advertisements

Menemukan tiga ‘cahaya’ dalam sebuah buku

Setelah sholat shubuh pagi ini, saya menyempatkan diri untuk membaca sebuah buku yang saya pinjam dari Sekolah tempat saya bertugas. Dari judulnya, saya merasa tertarik untuk membacanya. Buku ini adalah kumpulan catatan harian sang penulis yang kemudian dibukukan.

“Spirit Iqra” judul buku tersebut yang ditulis oleh Pak Hernowo, salah satu penulis buku-buku best-seller terbitan Mizan. Cukup lama juga usia buku ini. Diterbitkanpada tahun 2003. Buku catatan harian ini ia tulis selama bulan Ramadhan tahun 2001 silam. Ia menuliskan catatan-catatan harian ini via email yang ia share ke mailing-list rekan-rekan kerjanya.

Itu sedikit gambaran tentang buku kecil yang saat ini (sedang) saya baca. Saya ingin menuliskan apa yang saya temukan pada bab pembuka buku catatan harian Pak Hernowo ini.

Setidaknya saya juga merasakan hal yang sama, bahkan mungkin juga lebih, dari apa yang saat itu dirasakan oleh penulis. Apa yang dirasakan oleh Pak Hernowo yang juga dirasakan oleh saya pribadi yang juga membaca tulisan beliau? Keguncangan dan kekaguman jiwa dan raga yang luar biasa akan sang Pencipta, Allah Subhanahu Wata’ala.

Terpesona. Ya terpesona. Saya terpesona ketika saya menemukan tiga ‘cahaya’ yang tertulis dalam buku ini. Cahaya yang merupakan hadis dari Rasulullah SAW. Tiga ‘cahaya’ ini teramat indah dan sarat makna serta pemberi harapan dan kekuatan bagi kita semua yang mengaku beriman kepada Allah Swt, Tuhan semesta Alam.

Tiga hadis tersebut (dua hadits tergolong hadits Qudsi) saya kutipkan di bawah ini.

HADITS PERTAMA

“Setiap malam, Tuhan kita yang Maha Suci lagi Maha Agung ‘turun’ ke langit dunia, yaitu ketika malam hanya tinggal sepertiga yang terakhir.
Ketika itu Dia berfirman, “Siapa yang ingin berdo’a kepada-Ku, niscaya akan Kukabulkan untuknya. Siapa yang (ingin) bermohon kepada-Ku, niscaya akan Kukabulkan permintaanya. Siapa yang akan memohon ampunan-Ku, niscaya akan Kuampuni.” (H.R. [Hadits Riwayat] Bukhari, Muslim, Malik, At-Tirmidzi, dan Abu Daud).

HADITS KEDUA (HADITS QUDSI)

“Aku akan memperlakukan hamba-Ku sesuai dugaan (prasangka) hamba-Ku. Aku bersamanya apabila ia menyebut (nama)-Ku. Apabia ia menyebut-Ku di dalam hatinya, Aku menyebutnya di dalam diri-Ku. Apabila ia menyebut-Ku di dalam khalayak, Aku menyebutnya di hadapan khalayak yang lebih baik daripada khalayak itu.
Apabila ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Apbila ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Apabila ia datang kepada-Ku dengan berjalan perlahan, Aku datang kepadanya dengan berlari.” (H.R. Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

HADITS KETIGA (HADTS QUDSI)

“Wahai putra-putri Adam, selama kalian berdo’a kepada-Ku dan mengharapkan ampunan-Ku, Aku ampuni untukmu, apa yang kalian telah lakukan di masa lampau, dan Aku tidak peduli (berapa banyak pun dosa kalian).
Wahai putra-putri Adam, seandainya dosa-dosamu telah mencapai ketinggian langit, kemudian engkau memohon ampunan-Ku, Aku ampuni untukmu. Seandainya kalian datang menemui-Ku membawa dosa-dosa seluas wadah bumi ini, dan kalian datang menjumpai-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu, niscaya Aku datang kepadamu dengan pengampunan seluas wadah itu.” (H.R. At-Tirmidzi dan Imam Ahmad).

Itulah tiga ‘cahaya’ yang saya temukan di awal bab pembuka buku “Spirit Iqra”. Sungguh mempesona bukan? Semoga tiga ‘cahaya’ ini bisa menjadi pelita dalam (sisa) perjalanan hidup kita di dunia yang semakin hari semakin menua ini.

Mudah-mudahan bermanfaat dan semoga saya akan menemukan ‘cahaya-cahaya’ yang lain di lembaran atau halaman berikutnya. Dan mudah-mudahan saya juga menemukan ‘cahaya-cahaya’ di tempat dan dari sumber yang berbeda.

Salam Cahaya dari pedalaman Sumatera

@arasyidharman

Tuhan & Masalah

Setiap hari kita selalu dihadapkan pada berbagai masalah. Masalah yang besar maupun yang kecil. Kenapa Tuhan memberikan kita masalah yang terkadang -menurut pengetahuan kita yang terbatas- masalah itu terlalu berat sehingga tak jarang kita berkeluh kesah. Mengeluh pada diri sendiri, orang lain, lingkungan, atau bahkan mengeluhkan masalah itu sendiri.

Tidak ada manusia dan semua makhluk ciptaan-Nya yang luput dari masalah. Masalah dalam bahasa yang lain bisa diterjemahkan sebagai bentuk ujian yang diberikan Tuhan yang pasti telah direncanakan dengan sempurna jauh sebelum kita diciptakan.

Saya percaya bahwa Tuhan mengirimkan masalah kepada kita bukan tanpa maksud dan tujuan. Pasti ada maksud dan tujuan di balik setiap masalah yang datang silih berganti dalam kehidupan ini. Dan terkadang, maksud dan tujuan Tuhan itu mampu kita cerna dan pahami dengan panca indra. Namun, terkadang hati nuranilah yang mampu mencerna dan memahami dengan sempurna apa yang menjadi maksud dan tujuan Tuhan mengirimkan masalah tertentu dalam hidup kita.

Lagi-lagi, segala sesuatu terjadi karena ada alasan kenapa sesuatu itu (harus) terjadi, atau dalam hal ini kenapa sebuah masalah harus menimpa kita. Dan setelah saya renungkan, saya menemukan sebuah pemahaman sederhana bahwa, Tuhan mengirimkan masalah kepada kita karena Dia sayang kepada kita. Logikanya gimana? Sayang, tapi kenapa justru dikasih masalah? Harusnya kan dikasih kesenangan atau kenikmatan?

Iya memang harusnya begitu. Tapi itu adalah kebenaran dari sudut pandang manusia yang merupakan makhluk yang diciptakan. Lagi-lagi, ini menurut hemat saya, kebenaran itu belum tentu sama dengan kebenaran dari Tuhan, Zat yang menciptakan manusia. Manusia pengetahuannya terbatas sementara Tuhan tidak terbatas dan meliputi segala sesuatu.

Dengan adanya masalah, Tuhan sedang menguji iman kita.

Masalah adalah salah satu cara yang digunakan Tuhan untuk menguji iman kita. Apakah iman kita benar-benar kuat. Iman ibarat cinta. Dan cinta yang sejati harus dibuktikan dengan ujian. Begitu juga dengan Iman. Iman pun harus dibuktikan. Dengan apa? Salah satunya adalah dengan ujian.

Dan percayalah, Tuhan adalah penguji yang sempurna. Analogi sederhana tentang ujian ini adalah, saat kita belajar di Sekolah. Guru kita memberikan ujian untuk mengukur sejauh apa pemahaman kita terhadap pengetahuan yang telah diajarkan dan yang telah kita pelajari. Kalau kita lulus ujian, maka kita akan naik kelas.

Begitu juga dengan ujian iman. Iman yang kuat tidak akan pernah terbentuk kalau tidak ada ujian. Masalah adalah salah satu instrumen yang digunakan Tuhan untuk menguji iman kita. Kalau kita mampu menghadapi dan menyelesaikan masalah yang menimpa kita, itu artinya kita lulus ujian dan bersiap naik ke kelas kehidupan selanjutnya yang tentunya akan diuji lagi dengan masalah yang kadarnya lebih berat dari kelas kehidupan sebelumnya.

Jadi sejatinya masalah itu adalah ujian keimanan yang sengaja diciptakan Tuhan untuk menyiapkan kita menuju kelas atau level kehidupan yang lebih tinggi. Semakin tinggi level keimanan kita, maka semakin tinggi juga kadar masalah yang akan diberikan. Tapi percayalah, Tuhan maha tahu kadar kemampuan kita. Jadi tidak perlu risau, semua sudah diukur dan diatur dengan sempurna karena Tuhan tidak akan pernah membebani atau menguji makhluk ciptaan-Nya melebihi kadar kesanggupannya.

Dengan adanya masalah, Tuhan sedang mendidik kita.

Banyak cara yang dilakukan oleh Tuhan untuk mendidik kita. Salah satunya adalah dengan masalah. Ya, masalah. Entahlah, darimana saya bisa sampai pada pemahaman ini. Tapi berdasarkan pengalaman menghadapi berbagai masalah dalam keseharian, saya merasa bahwa dengan adanya masalah kemampuan saya dalam beberapa aspek berkembang dan menjadi lebih baik.

Masalah datang dalam berbagai bentuk, kadar, dan ukuran. Masing-masing telah diatur dan direncanakan oleh Tuhan dengan sangat rapi. Masalah yang datang terkadang mengharuskan kita berpikir keras untuk mencari solusi. Dalam proses pencarian solusi dari sebuah masalah inilah, kita sebenarnya sedang dididik oleh Tuhan untuk menjadi manusia yang lebih cerdas, lebih baik dan lebih bijak dalam menjalani hidup.

Dengan adanya masalah, Tuhan sedang memperhatikan kita.

Dengan adanya masalah, Tuhan sesungguhnya sedang menyayangi kita dengan cara yang berbeda. Bukankah kalau kita menyayangi seseorang, kita akan memperhatikan dia dengan porsi yang lebih? Dalam hal ini, Tuhan pun begitu. Namun, perhatian Tuhan tidak selalu dalam bentuk kebaikan atau nikmat yang diberikan kepada kita.

Terkadang, bentuk perhatian Tuhan kepada kita berupa masalah. Dengan adanya masalah Tuhan sejatinya sedang memperhatikan kita. Coba pikirkan, kalau Tuhan tidak menyayangi dan mencintai kita, tentunya Dia tidak akan memperhatikan kita. Iya kan?
Maka dari itu, berbahagialah orang yang hidupnya dipenuhi masalah. Hehe.. itu artinya ia sedang mendapatkan perhatian yang besar dari Tuhan. Tapi kalau hidupnya selalu bermasalah, berarti ada sesuatu yang tidak beres. Segeralah introspeksi dan perbanyak istigfar memohon ampun kepada Tuhan. Karena bisa jadi, masalah yang datang itu bukan lagi bentuk kasih sayang Tuhan, melainkan bentuk hukuman yang diberikan-Nya karena kesalahan atau dosa yang kita lakukan. Segeralah bercermin untuk introspeksi diri dan memohon ampunan dan kasih sayang-Nya.

Dengan adanya masalah, Tuhan sedang menguatkan kita.

Masalah adalah kekuatan. Dengan adanya masalah, kita menjadi semakin kuat dalam menghadapi berbagai macam hal yang tidak mengenakkan. Kita menjadi terbiasa dengan situasi yang berat dan penuh tantangan. Itu semua hanya akan terjadi kalau kita bertemu dengan masalah dan mampu menaklukkannya.

Masalah juga secara langsung membentuk karakter kita menjadi pribadi yang kuat dan tangguh baik secara fisik maupun psikis. Dan Tuhanlah yang sebenarnya sedang berada dibalik masalah itu. Dia menginginkan kita menjadi hamba-Nya yang kuat dan tangguh. Karena memang Tuhan lebih menyukai hamba-Nya yang kuat dan tangguh. Dan sebenarnya kita pun begitu. Kita menyukai dua kata ini, kuat dan tangguh. Lagi-lagi, masalah adalah cara Tuhan untuk menumbuhkan dua kata itu di dalam diri kita. Maka, jika masalah datang, sambutlah dengan gagah berani dan taklukkan masalah tersebut dengan jiwa kesatria.

Dengan adanya masalah, kita menjadi semakin dekat dengan Tuhan.

Dengan adanya masalah, Tuhan sedang melihat kesungguhan kita untuk mendekat kepada-Nya. Masalah, secara langsung maupun tidak sebenarnya akan menuntun kita untuk kembali kepada Tuhan. Mungkin diantara kita, atau bahkan kita semua, pernah merasakan dan mengalami atau membuktikan kebenaran pernyataan di atas.

Masalah adalah salah satu pintu yang disediakan oleh Tuhan kepada kita untuk mendekat kepada-Nya. Dengan adanya masalah yang sulit untuk kita pecahkan, kita memohon petunjuk dan pertolongan kepada Tuhan lewat bait-bait do’a yang kita panjatkan dalam sujud. Kita juga menjadi semakin sadar bahwa kita tidak ada apa-apanya dihadapan-Nya. Dialah yang Maha segalanya. Dialah satu-satunya yang bisa menyelesaikan semua permasalahan hidup yang kita alami.

Mungkin ketika tanpa masalah, kita merasa hidup kita bahagia dan aman sentosa yang berujung pada sikap acuh tak acuh akan perintah dan larangan Tuhan. Dan terkadang, tanpa adanya masalah yang datang, hubungan kita dengan Tuhan menjadi renggang. Tak jarang juga, hubungan kita dengan Tuhan terputus. Kita melupakan Tuhan. Kita sibuk dengan urusan dunia. Kita sibuk dengan diri sendiri. Kita sibuk dengan berbagai kemewahan yang diberikan Tuhan.

Karena kasih sayang-Nya, Tuhan menegur kita dengan mengirimkan masalah. Tujuannya agar kita sadar dan kembali mendekat kepada-Nya. Tuhan ingin mendengar keluh kesah kita sebagai hamba dalam balutan air mata kerinduan. Karena sesungguhnya Tuhan merindukan dan menyayangi kita melebihi seorang Ibu yang merindukan dan menyayangi anaknya.

Tuhan jadikanlah kami sebagai hamba-hamba-Mu yang selalu mensyukuri setiap ujian dan masalah yang Engkau berikan.
Karena kami sekarang menyadari bahwa semua ujian dan masalah yang datang, tidak lain adalah bentuk perhatian dan kasih sayang-Mu kepada kami.

Tuhan, maafkan kekhilafan kami selama ini yang merasa bahwa ketika Engkau mendatangkan masalah, Engkau sedang menghukum kami.
Tidak ada satu hal pun yang Engkau berikan kepada kami melainkan ada kebaikan dan hikmah di dalamnya.
Tuhan, berikan kami kekuatan untuk menjadi hamba-Mu yang pandai bersyukur.
Amiiin.

Semoga tulisan ini bisa memberikan pencerahan, khususnya bagi saya pribadi sebagai insan yang masih harus banyak belajar.

Salam,

@arasyidharman

Be Grateful For The Things You Have

I’ve been seeing and listening to lots of people and sometimes friends of mine expressing their regrets, complaints, negative attitude about their lives. Even though they have almost everything they need in their life. Nice Clothes, money, cars, high-tech gadgets, and all these “Luxury-Stuff” are there around the corner.

Having seen all of this, I thought, “what’s wrong with these people?”. They have everything that most people out there are dying for; money, cars, good house, delicious food, etc. But they’re not happy enough with their life. Oh what a pity life!

It’s silly sometimes, when you find someone who are rich and wealthy but they seem unhappy with their life. They are rich outside but -sorry to say- poor inside.

The only thing I believe causing all this is the lack of gratefulness. Or maybe they don’t have it at all. Something that really matter when we deal with the feeling of happiness. Yes, being grateful is the answer.

Be grateful for all we have, no matter how big or small they are. It’s a (special) gift that God has given us all. Remember, out there there are people who aren’t as lucky as us. That’s why we should always be grateful everyday. It’s not easy though, but we can make it a habit.

When we wake up in the morning, thank God for the new life, fresh air, good health, and all things we have. And (it’s better) while we do this, we also remember those who are homeless, poor, and in a dangerous place, and somewhere out there that are struggling for their lives, and some who are taking their last breath in hospitals, those people in a conflict countries, children who lost their parents and relatives, and the list goes on.

Remember all.

I believe when we do this everyday, we’ll be a grateful-person for the rest of our life. In the long run, there’s no need to be sad. There’s always happiness deep down. Finally, we’ll live our life to the fullest and of course to the happiest! 😉

Have a peaceful best day and…

Stay Healthy, Stay Happy!

@arasyidharman 

Bukan anak Raja

Assalam ‘alaikum teman-teman,

Apa kabar kalian semua? Semoga selalu semangat menjalani hari ya! 🙂

Tak terasa udah minggu ke dua di bulan Januari. Cepat sekali ya. Perasaan baru kemarin tahun 2013 bersalaman dengan tahun 2014. Betapa cepatnya sang waktu berputar.

Anyway, tanpa sengaja saya menemukan sebuah pesan tertulis dari Imam Ghazali yang membuat saya tersinggung. Bukan tersinggung dalam arti yang negatif, tapi sebaliknya. Emang apa pesannya?

Pesannya cukup singkat,

“Kalau kamu bukan anak raja, dan bukan anak ulama besar, maka menulislah.” (Imam Ghazali)

Jleeb! 😀

Setelah membaca pesannya ini, (lupa dimana bacanya), saya seperti disiram air dingin! #lebay 😀

Pesannya singkat, sederhana, namun sarat makna. Saya lantas berfikir dan melihat diri saya. Iya ya, kalau dipikir-pikir saya ini bukanlah anak seorang Raja atau penguasa, bukan pula anak seorang ulama besar. Jangankan ulama besar, ulama kelas teri pun bukan. hehe 😀

Tapi kenapa saya, terkadang, masih merasa berat untuk menulis. Setidaknya menulis rutin tanpa putus. Padahal jelas-jelas saya tahu manfaat menulis itu apa. Jelas-jelas saya tahu kalau menulis itu adalah kebiasaan yang sangat bagus dan juga merupakan kebiasaan orang-orang besar, yang telah memberikan warisan yang tak ternilai bagi perkembangan Ilmu Pengetahuan beserta berbagai manfaat lainnya yang tak ternilai harganya.

Lama saya berpikir. Mencoba untuk menasehati dan memotivasi diri ini untuk mengikuti apa yang telah dipesankan oleh Imam Ghazali tersebut. Ini adalah sebuah tanda sekaligus peringatan berharga yang harus saya jalankan. Tidak ada kerugian materi sih kalau tidak mengindahkan pesan sang Imam. Namun, sepertinya saya tetap akan merugi.

Pertama, kalau saya tidak menulis, banyak hal yang akan hilang dari ingatan. Saya sadar, sadar sekali kalau ingatan ini lemah. Kapasitas memori sih emang besar, namun tetap saja ada keterbatasan. So, tidak ada jalan lain selain menjaganya dengan baik, dan saya pikir tulisan adalah media terbaik untuk menjaga hal-hal penting dalam hidup agar tetap hidup. Seperti kata peribahasa latin, “Verba volant, scripta manent” atau yang tertulis akan abadi. Yah, jelas sudah, tidak ada alasan kuat yang mengharuskan saya dan kita semua untuk tidak menulis. 😉

Kedua, kalau saya tidak menulis, saya kehilangan momentum untuk belajar. Karena dengan menulis, sejatinya saya belajar. Belajar memahami diri ini. Belajar memaknai suatu hal dan berbagai hal yang saya alami atau yang saya amati di sekeliling saya. Dan, mungkin ini juga penting, dengan menulis saya merasakan suatu kepuasan yang hanya bisa saya rasakan ketika saya menulis. Tentunya bukan nulis karya Ilmiah atau skripsi dkk ya..hehe 😀

Ketiga, kalau saya tidak menulis, otak saya perlahan namun pasti akan “membeku”. Karena tidak terpakai untuk berfikir. Sama halnya dengan membaca, menulis juga adalah proses berfikir. Ketika saya menulis maka saya berfikir. Menulis = berfikir. Tidak menulis = tidak berfikir. Tidak berfikir = Otak tumpul. Otak tumpul = Otak beku. Otak beku = …… (isi sendiri) hehe 😀

Keempat, kalau saya tidak menulis, gagasan atau ide-ide brilian atau pengalaman-pengalaman penting dan berharga akan hilang ditelan waktu. Saya jadi ingat sebuah pepatah Arab, “Ilmu itu laksana binatang buruan. Tulisan itu laksana tali. Ikatlah binatang buruanmu dengan menuliskannya.” Pas sekali bukan? Jadi kalau saya tidak menuliskan ide atau gagasan makan ide atau gagasan tersebut akan “kabur” laksana binatang buruan. Syukur-syukur kalau ia kabur ke pekarangan rumah masih bisa di tangkap, tapi kalau kabur ke hutan? hehehe 😀

Kelima, kalau saya tidak menulis, saya tidak akan meninggalkan warisan pengetahuan bagi generasi setelah saya. Kita semua sadar, bahwa suatu saat kita akan meninggalkan dunia ini. Gajah saja kalau mati masih ada yang diwariskan. Tahu kan apa yang ditinggalkan sang Gajah? Nah, kalau manusia? Ada yang bilang kalau manusia mati, yang ia tinggalkan adalah namanya. Selain nama? Okelah, harta, perbuatan baik dan buruk selama ia hidup, terus apa lagi? Okelah, anak, istri, saudara, teman, tetangga, rakyat, dan sebagainya.

Namun, menurut saya, ada satu lagi warisan yang sangat berharga yang bisa saya dan kita semua tinggalkan ketika kita telah tiada. Warisan itu adalah Ilmu, pengalaman, dan nasehat yang tertulis dalam sebuah kitab. Atau dalam media apa pun, selama ia tertulis.

Ingat, yang tertulis akan abadi. Bisa dibayangkan, kalau Ilmu, pengalaman, dan nasehat berharga tidak kita warisakan kepada orang lain dan generasi sepeninggal kita hanya karena kita lupa atau justru sengaja tidak menuliskannya? Semoga tidak.

Oleh karena itulah, menulis itu perlu dan harus!

Tentunya menulis sesuatu yang baik dan bermanfaat bagi sesama. Bukankah Ilmu yang kita berikan kepada orang lain itu adalah amal jariyah? Yang Pahalanya akan tetap mengalir meskipun kita telah meninggal dunia selama Ilmu yang kita wariskan itu digunakan dan memberikan cahaya kemanfaatan bagi banyak orang?

Saya yakin kita semua paham akan hal ini.

Mudah-mudahan saya dan kita semua bisa menjalankan apa yang telah dinasehatkan oleh Imam Ghazali di atas. Tidak peduli kau anak Raja atau bukan, menulislah! karena menulis itu bermanfaat tidak hanya bagi diri kita pribadi, tapi juga bagi sesama. 🙂

Semoga bermanfaat. Dan silahkan di-share ke yang lain ya.

Salam Hangat,

@arasyidharman