SMS yang mengubah mimpi menjadi kenyataan

Sore ini saya ‘bernostalgia’ (membuka + membaca) SMS di HP yang lama. Banyak kenangan SMS selama kuliah di UMM yang masih tersimpan rapi di inbox dan folder ‘sent items’ HP jadul yang hingga saat ini masih saya pakai. Sengaja gak saya hapus. Sayang kalo dihapus. Membaca percakapan yang ada di SMS seperti membaca buku diary. Pikiran mau gak mau akan dibawa ke masa dimana SMS itu diketik, terus dikirim. Juga merasakan kembali suasana emosional yang muncul saat itu.

Saya hanya bisa senyam-senyum gak jelas seperti orang gila yang sedang kasmaran. Hingga akhirnya saya terhenti sejenak saat membaca SMS dari sekian banyak SMS yang saya kirim ke salah satu kawan baik saya, Yuswardi. Kami suka SMS-an dalam Bahasa Inggris waktu itu. Jadi banyak SMS diantara kami dalam Bahasa Inggris yang (harap dimaklumi) masih amburadul. Hehe..

Tapi, hal itu tak jadi masalah. Niat kami waktu itu adalah untuk belajar dan berlatih meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris kami (khususnya tulisan) yang masih jauh dari predikat ‘Excellent’. Bahkan hingga hari ini pun kami masih terus belajar dan berlatih dengan alasan yang sama. Gak ada kata berhenti belajar dan berlatih dalam kamus kehidupan kami.

Setidaknya ada 3 SMS yang saya kirim ke Yuswardi waktu itu. 3 SMS ini saya kirim dalam waktu yang berdekatan berdasarkan riwayat waktu pengirimannya. Saya gak ingat persis topik apa yang sedang kami bahas. Tapi ketika membaca isi dari SMS-SMS tersebut, saya yakin saat itu kami sedang bertukar pikiran soal beasiswa dan impian untuk ke luar Negeri melanjutkan studi (melalui program beasiswa).

Berikut petikan SMS-nya :

“I dn’t care!! When I want smthing, I’ll never stop till I get it!! At the end, let’s move together!! I do believe, next year I’ll be not in Indonesia, I’ll be somewhere in another part of the globe!! Insha Allah. My CV has done, now I’m working on anther stuff. Really, I’ll never say never 4 evry single chance that comes to my life!! So what about you??? :D” (Details, To: Yuswardi, sent: 05:16:40pm. 12-09-2011)

“Coz I’m a winner not a Quitter!! A winner never quit, n A Quitter never win!! Just make ur choice!! Winner or Quitter?? :D” (Details, To: Yuswardi, sent: 05:20:11pm. 12-09-2011)

“Just keep this magical words “If there’s a will, there’s a way”, “If you can dream it, you can do it”, “If u think u can, yes u can” n eventually, when u want something, the universe will work for it with the power of The Almighty Allah swt. Let’s just keep doing, moving, n praying fo the best in ourlives!! Allahuakbar!!! :D” (Details, To: Yuswardi, sent: 05:26:28pm. 12-09-2011)

 

Setelah membaca 3 SMS di atas saya merenung, tepatnya membawa diri ‘terbang’ kembali ke masa itu. 12 September 2011. Kurang lebih 5 tahun yang lalu. Waktu itu kami memang sedang mempersiapkan beberapa berkas untuk mendaftar program beasiswa Erasmus Mundus yang sedang dibuka. Kebetulan kampus kami menjadi salah satu mitra Universitas di Indonesia dengan pihak Uni Eropa yang merupakan sponsor dari program beasiswa Erasmus Mundus tersebut. Ada pun kampus yang menjadi tujuan atau mitra dari beasiswa ini semuanya berada di Eropa.

Eropa, salah satu benua yang kaya akan keragaman budaya, bahasa, sejarah,  dan peradabannya. Pokoknya bikin ngiler dah kalo udah ngebahas seputar benua biru itu. Kampus-kampus disana keren-keren baik dari segi sejarah maupun dari segi kualitas sistem Pendidikannya. Gak ada yang gak setuju dengan pernyataan ini kan? Hehe.

Di sisi lain, waktu itu kami juga masih belum selesai dari program OJT di salah satu hotel yang ada di Kota Batu. Masih segar dalam ingatan, semangat dan energi untuk mendaftar berbagai program beasiswa short-term ke luar Negeri begitu besar. Tak ada kata berhenti mencari (atau tepatnya berburu) informasi yang berhubungan dengan program beasiswa ke luar Negeri.

Saya tahu, we were not alone. Pada saat yang sama ada puluhan, ratusan, bahkan ribuan pelajar/mahasiswa di Indonesia yang juga sedang berburu apa yang kami buru, yakni beasiswa. Terlepas apakah beasiswa full-degree (untuk studi S1/S2/S3 di luar Negeri) atau hanya short-term program saja. Apa pun itu, intinya kita sama-sama berjuang untuk sebuah impian memperoleh beasiswa ke luar Negeri.

Yang membuat saya tersenyum setengah gak percaya adalah saya baru menyadari apa yang saya tulis dalam SMS tadi benar-benar terjadi. Benar-benar menjadi kenyataan. Dan yeah, bahkan setelah saya kembali dari belahan dunia yang lain (setahun setelah SMS tadi saya kirim), saya pun masih belum sadar bahwa saya pernah menulis ‘sesuatu’ yang, percaya atau tidak, telah mengantarkan jiwa dan raga saya terbang ke belahan dunia yang lain.

Dalam SMS yang pertama di atas, saya menulis : “…..  I do believe, next year I’ll be not in Indonesia, I’ll be somewhere in another part of the globe!! Insha Allah.”

Dan Alhamdulillah tahun berikutnya, saya benar-benar berada di belahan dunia yang lain. Kebetulan? Ah, rasanya tidak. Saya lebih suka menyebutnya dengan keberuntungan yang bukan kebetulan. Ya, karena dari dulu saya selalu percaya gak ada yang terjadi secara kebetulan di alam semesta ini. Semua atas rencana dan kehendak yang Maha Kuasa, Allah Subhanallahi wabihamdihi subhanallahil adzim. Dan, ini juga penting, karena ada proses yang saya jalani dibalik keberuntungan yang bukan kebetulan itu.

Setelah saya pikir-pikir, delapan bulan kemudian sejak SMS tersebut saya kirim, akhirnya saya berhasil mendapatkan kesempatan untuk terbang dan menginjakkan kaki di belahan bumi yang lain. Waktu yang relatif singkat. Delapan bulan (kurang lebih) Semesta bekerja (atas Perintah sang Pencipta) membantu mewujudkan apa yang menjadi impian saya waktu itu.

Lantas bagaimana kelanjutan dari berkas aplikasi beasiswa Erasmus Mundus yang waktu itu kami persiapkan dan daftarkan? Alhamdulillah gak ada yang lolos. Hahaha!

Tapi, Allah ternyata punya rencana lain buat saya. Saya tidak menyerah. Saya terus mencari informasi lain baik di lingkungan kampus, searching di Internet, maupun di berbagai kegiatan pameran Pendidikan luar Negeri yang diselenggarakan di Kota Malang.

Hingga akhirnya saya mendapatkan informasi salah satu beasiswa yang kemudian mengantarkan saya pada apa yang saya tulis di SMS tadi. Benar-benar berada di belahan bumi yang lain. Bukan di Eropa tapi di Amerika! Masha Allah…

Mengenang perjuangan kala itu, selalu membawa semangat dan energi positif untuk terus berjuang dengan sungguh-sungguh terhadap segala hal yang menjadi impian, cita-cita, dan harapan. Gak ada kata menyerah, gak ada kata putus asa, gak ada kata berhenti terhadap setiap mimpi yang kita miliki, sekecil atau sebesar apa pun itu. Karena Tuhan tak mengenal kata ‘kecil’ atau ‘besar’. Bagi-Nya semua impian itu sama saja. Tinggal bagaimana kita mau atau tidak untuk berjuang dengan sungguh-sungguh dalam meraihnya.

Pelajaran penting yang bisa sama-sama kita catat adalah, apa pun impian atau keinginan atau cita-cita kita, harus dan wajib ditulis. Sekali lagi, di-tu-lis. Dimana saja gak jadi masalah. Selama ia tertulis. Karena, berdasarkan apa yang telah saya alami, impian/keinginan yang kita tulis (apakah di buku catatan, handphone, tablet, laptop, dll) cepat atau lambat, percaya atau gak percaya, akan menjadi kenyataan. Sekali lagi, akan menjadi kenyataan. Ajaib. Benar-benar ajaib!

Tentunya, harus ada niat yang sungguh-sungguh untuk mewujudkannya. Terus dibarengi dengan usaha keras dan do’a dalam proses perjalanan mewujudkan impian tersebut. Sungguh, semesta akan berkonspirasi dalam mewujudkan impian dan keinginan kita. Dan yang pasti, Allah swt juga gak akan tinggal diam. Dia pasti akan membantu. Pasti.

Sangat mudah bagi Allah untuk mewujudkan semua keinginan/impian hamba-hamba-Nya. Kalau Dia sudah berkehendak, gak ada satu setan makhluk pun yang bisa menghalangi keputusan-Nya. Cukup baginya mengatakan, “Kun! faya kun!” Jadi!, maka jadilah (sesuatu itu). Yang jadi pertanyaan kemudian adalah apakah kita sudah pantas (menerimanya)? Apakah kita sudah siap (lahir-batin)? Apakah kita sudah berusaha dengan sungguh-sungguh dalam meraihnya?

 

***

Semoga tulisan singkat ini menjadi penyemangat, khususnya bagi saya pribadi, juga teman-teman yang saat ini sedang berjuang. Tak hanya dalam hal ‘berburu’ beasiswa, tapi dalam hal apa pun yang menjadi impian dan cita-cita dalam kehidupan masing-masing.

Teruslah berjalan. Teruslah bergerak. Teruslah mencari. Teruslah berusaha. Dan, ini yang paling penting, teruslah berdo’a dan berbaik sangka. Tanpa do’a apa yang terlihat mustahil akan selamanya terlihat mustahil. Dan dengan kekuatan do’a apa yang tak mungkin akan menjadi mungkin atas kehendak dan kuasa-Nya. Berbaik sangka juga sangat penting. Bukankah Allah itu sesuai dengan prasangka hamba-Nya? Jadi do’a + baik sangka adalah komponen utama dalam proses memperoleh keberuntungan yang bukan kebetulan (dalam hal apa pun, gak hanya sebatas dalam mencari beasiswa).

Yakinlah, suatu saat nanti kita akan mendapatkan apa yang kita inginkan dan impikan. Jika belum, jangan menyerah dan patah semangat. Teruslah berjuang. Jangan berhenti sebelum berhasil mendapatkan apa pun yang kita inginkan dalam hidup. Hidup di dunia ini hanya sekali kan? Jadi sayang banget kalau nanti di akhir hayat kita, ada kata menyesal yang muncul karena kita telah memutuskan untuk menyerah (terlalu dini) atas impian, harapan, keinginan, dan cita-cita kita.

Semoga tidak ya.

 

Salam Semangat,

 

Arasyid Harman

Tanya-tanya Beasiswa-Part 3

Ganti orang lagi. 😀

 

  • Ada yang bilang, dapat beasiswa studi di luar negeri itu susah loh. Apa benar begitu?

Susah iya, tapi kebanyakan orang bilang susah duluan sebelum mencoba, tanya-tanya sebelum membaca detil informasi beasiswanya. Sebenarnya gak susah kalo kita udah mencoba, proses mencoba berarti udah melangkah maju pada tujuan yang diinginkan.

Setelah tahu rasanya mencoba disitu kita paham, ketemu hasil entah rejected atau cadangan, setelah itu lanjut paham apa yang mesti dilakukan -perbaikan atau give up!! We decide. 🙂

  • Saat ini sedang mendapatkan beasiswa apa ya? Bisa disebutkan nama program beasiswa, durasi program, dan negara tujuannya?

Saya mendapat beasiswa Erasmus+ “Experts Sustain”. Selama satu semester (5 bulan), di Masaryk University, Brno, Czech Republic.

  • Kenapa tertarik mengikuti program beasiswa Erasmus Mundus? Menurut kamu, apa sih kelebihan dari beasiswa Erasmus Mundus ini dibandingkan dengan beasiswa luar negeri lainnya?

 

Awalnya gk pernah ada kepikiran pengen nginjak benua Eropa, berawal dr iseng, karena beasiswa Eropa sedang booming di kampus saya, lama-lama terjerumus juga tertarik dengan Beasiswa Eropa ini, karena saya staf IRO (International Relation Office) khusus menangani program ini. Menjadi jembatan UNI Eropa Jakarta untuk presentasi2 beasiswa ini di Jawa Timur.

Awalnya belum ada pengalaman sama sekali tentang beasiswa ini, dan merasa kurang pede, pas udah panjang lebar jelasin tentang beasiswa ini, ujung2nya ditanya, “ Mbaknya udah ke negara mana?” itu sih yg jd motivasi saya.

Kelebihannya: gak ada ikatan dinas, gak ada batasan umur (tapi beberapa institusi pasti akan mempertimbangkan juga), untuk Program full degree mahasiswa berkesempatan untuk kuliah gak hanya di satu kampus aja bahkan bisa sampai di 7 Universitas dan beda negara (tergantung konsorsium program tsb). Motto Erasmus Mundus (sekarang Erasmus+) versi para alumni: part-time student full-time traveler, jalan-jalan dibayarin pulang bawa gelar.  😀

 

  • Untuk bisa sukses mendapatkan beasiswa Erasmus Mundus (baik S1, S2, S3 atau Exchange Program) di luar negeri, apa aja yang harus dipersiapkan oleh teman-teman yang ingin mendaftar?

 

Syaratnya sama seperti beasiswa beasiswa lainnya: Toefl (itp, ibt or ielts), motivation letter, recommendation letter, dll. Yang paling penting itu gak gampang menyerah. Itu kuncinya. Menghargai proses, (gagal sekali dicoba lagi, aplikasi diperbaiki lagi, les Toefl, tes lagi).

 

  • Berdasarkan pengalaman, hal-hal apa yang menjadi faktor keberhasilan sebuah aplikasi beasiswa dapat diterima (lolos seleksi)?

 

Saya bukan termasuk orang yang jenius atau yang pinter-pinter banget. Kata beberapa temen deket saya, kamu itu lolos karena faktor luck !!! hahahaha. Toefl yang saya pakai untuk mendaftar program ini juga gak bagus-bagus amat. Mungkin karena gigih terus mencoba dan percaya Tuhan itu Maha Mendengar, Maha Melihat. Usaha diiringi do’a dan do’a ORANG TUA.

Satu lagi, tulis aplikasi kamu apa adanya. Jangan nulis yg lebay-lebay. Pembaca itu gk bodoh. Dari tulisan, mereka bisa menilai orang. Just be yourself. Sembari apply apply beasiswa, hidup tetap harus berjalan, tetap produktif, nambah kegiatan yang bermanfaat, nambah prestasi, jadi CV pun jadi lebih keren. 🙂

 

  • Apakah benar, untuk mendaftar beasiswa Erasmus Mundus, selain bisa Bahasa Inggris, kita juga diharuskan untuk menguasai bahasa negara yang akan menjadi tujuan kita belajar? Misalnya bahasa Italy, atau Polandia?

 

Secara personal, alangkah lebih baiknya begitu, terlebih lagi negara-negara Eropa. Memudahkan berkomunikasi dan di kelas beberapa dosen masih menjelaskan dengan bahasa lokal. Tapi secara umum, untuk program Erasmus, tidak terlalu menekankan. Toh kita disini fully English. Dan English sudah mendunia, bukan untuk para pelajar aja.

 

  • Sejauh ini tantangan selama belajar di Eropa (khususnya di negara tujuan) yang dialami sendiri apa aja?

 

Awalnya merasa takut, bakal jadi yang tertinggal, ternyata gak seburuk itu, atmosfir pembelajarannya positif, kita jadi percaya diri untuk delivering ide ide kita. Di Masaryk University system pembelajaran sudah bagus, International class banyak tersedia, jadi dosen fully speaks English, dosen disini menghargai proses bukan hasil akhir. Overall positif.

 

  • Selain belajar/kuliah, aktivitas lain selama berada di kampus apa aja ya?

Traveling 😀

Les Piano 😀

Dari awal saya sudah register mata kuliah yang memang tidak terlalu memberatkan dan memang bermanfaat dan lebih practical, such as: methodology, visiting school, practice teaching, grammar, kelas yoga, teaching children. Semua subject suka. Tugas-tugas memang banyak SEKALI, tapi saya merasa gak keberatan, toh useful buat saya juga tugas-tugas yg diberikan. Enjoy your life.

  • Apakah dibolehkan, bagi penerima beasiswa Erasmus Mundus untuk “nyambi” atau nyari kerjaan part-time diluar jam kuliah? Kenapa?

 

Pastinya gak boleh, karena visa kita visa belajar. Tapi sempet kepikiran, pengen karena udah gak ada kegiatan sama sekali saat ini. Tapi belum terealisasikan terhambat jadwal travelling :0

 

  • Apa Tips Sukses Meraih beasiswa Erasmus Mundus dari kalian untuk temen-temen dan pembaca di tanah air?

 

Gak gampang putus asa, nothing to lose untuk mencoba, TERUS berusaha dan berdo’a gak akan mengkhianati hasil, berbakti dan manut apa kata orang tua, selalu minta support dan dukungan, percaya sama diri sendiri, jangan banyak tanya. Baca website. Hahahhahhaha.. 😀 😀

***

Demikian sedikit curcol seputar Beasiswa dari tiga orang kawan yang saat ini sedang belajar di Negeri Orang. Semoga bermanfaat khususnya bagi teman-teman yang saat ini sedang berburu beasiswa.

Sukses on your future-move! 🙂

 

Arasyid Harman

 

 

 

 

Tanya-tanya Beasiswa-Part 2

Di Part 2 ini hanya ganti orang aja. Pertanyaannya masih sama. 🙂

 

  •  Ada yang bilang, dapat beasiswa studi di luar negeri itu susah loh. Apa benar begitu?

Untuk mendapatkan beasiswa studi di luar negeri itu memang benar sangat susah, tetapi bukan bearti itu tidak mungkin untuk didapatkan. Dengan usaha yang keras dan tekad yang kuat semua pasti akan menjadi mudah.

  •   Saat ini sedang mendapatkan beasiswa apa ya? Bisa disebutkan nama program beasiswa, durasi program, dan negara tujuannya.

Beasiswa Erasmus Mundus, 1 semester (5 bulan), Czech Republic.

  •  Kenapa tertarik mengikuti program beasiswa Erasmus Mundus? Menurut kamu, apa sih kelebihan dari beasiswa Erasmus Mundus ini dibandingkan dengan beasiswa luar negeri lainnya?

Menurut saya setiap program beasiswa punya kelebihan masing-masing. Nah, kelebihan beasiswa Erasmus Mundus tersebut adalah dia menawarkan berbagai macam program di dalamnya, dia juga menawarkan banyak pilihan Negara.

  • Untuk bisa sukses mendapatkan beasiswa Erasmus Mundus (baik S1, S2, S3 atau Exchange Program) di luar negeri, apa aja yang harus dipersiapkan oleh teman-temanyang ingin mendaftar?

Yang paling utama yang harus dipersiapkan adalah motivasi dan semangat yang kuat, nah yang paling utama kedua adalah motivational letter.

  • Berdasarkan pengalaman, hal-hal apa yang menjadi faktor keberhasilan sebuah aplikasi beasiswa dapat diterima (lolos seleksi) ?

Essay dan recommendation letter.

  • Apakah benar, untuk mendaftar beasiswa Erasmus Mundus, selain bisa Bahasa Inggris, kita juga diharuskan untuk menguasai bahasa negara yang akan menjadi tujuan kita belajar? Misalnya bahasa Italy, atau Polandia?

 Itu tidak benar, tidak ada syarat yang menunjukkan hal demikian.

  • Sejauh ini tantangan selama belajar di Eropa (khususnya di negara tujuan) yang dialami sendiri apa aja?

 Kita harus lebih aktif dalam proses belajar dan tepat waktu.

  •  Selain belajar/kuliah, aktivitas lain selama berada di kampus apa aja ya?

 Duduk bersama mahasiswa yang berasal dari negara lain sambil sharing beberapa ide.

  •  Apakah dibolehkan, bagi penerima beasiswa Erasmus Mundus untuk “nyambi” atau nyari kerjaan part-time diluar jam kuliah? Kenapa?

 Tidak boleh, karena semua biaya hidup sudah diberikan.

  •  Berdasarkan pengamatan dan pengalaman kamu, secara garis besar, apa sih perbedaan sistem perkuliahan yang ada di kampus-kampus Eropa dengan yang ada di Indonesia? Mungkin bisa sedikit dijelaskan per poinnya. Misalnya dari segi dosen, mahasiswa, organisasi mahasiswa, dan interaksi antara dosen dan mahasiswanya.

Dari segi dosennya, dosen selalu datang tepat waktu, memberikan kabar kepada mahasiswa terlebih dahulu terhadap apapun yang terjadi, selalu semangat dalam mengajar di waktu apapun, pagi, siang, sore, maupun malam.

Dari segi mahasiswa, aktif dalam diskusi, tidak malu dalam mencoba.

Dari segi organisasi mahasiswa mereka selalu extra dalam mengerjakan segala hal.

Dari segi interaksi antara dosen dan mahasiswa selalu terlihat sangat akrab dan friendly.

  •  ApaTips Sukses Meraih beasiswa Erasmus Mundus dari kalian untuk temen-temen dan pembaca di tanah air?

Semangat keras, tekad yang kuat, belajar memperbaiki diri, belajar menulis essay lebih giat, dan tidak lupa untuk berdoa.

 

Lanjut ke Part 3 🙂

 

 

 

Tanya-tanya Beasiswa -Part 1

 

 

Beberapa waktu yang lalu, saya chatting dengan seorang kawan yang sedang kuliah di salah satu Negara yang ada di Benua Biru. Obrolan ringan sih awalnya, hingga akhirnya topik pembicaraan mengarah ke hal yang lebih penting.

Apa itu? Yup, sesuai judul postingan ini. Seputar Beasiswa. Si doi juga adalah salah satu senior saya di Kampus saat kuliah. Saya pun memintanya untuk menjawab beberapa pertanyaan yang udah saya buat yang selanjutnya saya kirim via email. Rupanya ada beberapa temannya dari Indonesia yang juga sedang kuliah di Kampus yang sama dengannya.

Saya meminta bantuannya untuk (juga) memberikan file yang berisi sejumlah pertanyaan beasiswa ke mereka. Ya anggap aja sedang melakukan interview ke beberapa responden layaknya seorang Mahasiswa tingkat akhir yang sedang melakukan Data Collection buat Tugas Akhirnya. hehe.

Seperti apa bentuk pertanyaannya?

Yuk kita intip bareng-bareng. 😀

 

  • Ada yang bilang, dapat beasiswa studi di luar negeri itu susah loh. Apa benar begitu?

Menurut saya susah-susah gampang. Jika sudah berangkat sekali aja, pasti jalan kedepannya sudah mulus. Sebab untuk saya sendiri, saya daftar beasiswa sudah berpuluh-puluh kali. Ditolak dan gagal hanya dalam tahap administrasi sudah biasa.Tetapi kegagalan itulah yang membuat saya sadar kelemahan di setiap aplikasi saya. Coba saja semua, tidak perlu memikirkan susah atau gampangnya.

  • Saat ini sedang mendapatkan beasiswa apa ya? Bisa disebutkan nama program beasiswa, durasi program, dan negara tujuannya.

Saat ini sedang mengikuti Program beasiswa Erasmus+ Bachelor exchange, nama programnya EXPERT selama 5 bulan di Republik Ceko.

  • Kenapa tertarik mengikuti program beasiswa Erasmus Mundus? Menurut kamu, apa kelebihan dari beasiswa Erasmus Mundus ini dibandingkan dengan beasiswa luar negeri lainnya?

Kelebihannya bisa menikmati fasilitas pendidikan dan sistem pendidikan terbaik khas Eropa. Selain itu, nominal yang diberikan Erasmus cukup untuk hidup dan rekreasi / jalan-jalan. Erasmus tidak memberikan beban moral serta tanggung jawab lebih kepada awardee-nya, seperti ikatan kerja atau predikat “uang-rakyat”.

Selain itu, Erasmus memiliki nilai prestige dan pamor yang amat sangat terkenal di seluruh dunia. Bahkan dunia kerja sangat terbuka pada mantan awardee Erasmus (hal ini proved, menurut teman saya yang sekarang bekerja di KPMG Milan) sebab awardee Erasmus sudah dianggap tahan banting di lapangan terutama soal adaptasi di tempat yang totally different dengan comfort zone asal awardee-nya.

  • Untuk bisa sukses mendapatkan beasiswa Erasmus Mundus (baik S1, S2, S3 atau Exchange Program) di luar negeri, apa aja yang harus dipersiapkan oleh teman-teman yang ingin mendaftar?

Seluruh persyaratan ada di website, antara program satu dan yang lainnya ada kemungkinan berbeda. Kalau saya harus menyiapkan sertifikat TOEFL, transkrip nilai, rekomendasi dosen, motivation letter, paspor, foto, curriculum vitae dan learning agreement.

  • Berdasarkan pengalaman, hal-hal apa yang menjadi faktor keberhasilan sebuah aplikasi beasiswa dapat diterima (lolos seleksi) ?

Menurut saya pribadi, motivation letter, transkrip dan curriculum vitae memberikan pengaruh paling dominan di setiap aplikasi saya.

  • Apakah benar, untuk mendaftar beasiswa Erasmus Mundus, selain bisa Bahasa Inggris, kita juga diharuskan untuk menguasai bahasa negara yang akan menjadi tujuan kita belajar? Misalnya bahasa Italy, atau Polandia?

Tidak, tetapi akan lebih baik jika kita bisa Bahasa lokal setidaknya untuk bertahan hidup. 😀

  • Sejauh ini tantangan selama belajar di Eropa (khususnya di negara tujuan) yang dialami sendiri apa aja?

Saya sangat senang berada disini, saya bergaul dengan siapa saja, dan melakukan hal apa pun yang belum pernah saya lakukan di Indonesia.Kesulitan yang saya alami adalah dalam menyesuaikan waktu ibadah serta minimnya Muslim di Eropa, terutama di Ceko.

  • Selain belajar/kuliah, aktivitas lain selama berada di kampus apa aja ya?

Berdiskusi dengan teman-teman, serta mengikuti kegiatan yang diadakan oleh International Student Centre.

  • Apakah dibolehkan, bagi penerima beasiswa Erasmus Mundus untuk “nyambi” atau nyari kerjaan part-time diluar jam kuliah? Kenapa?

Tergantung, kalau sanggup dan bisa Bahasa lokal akan diperbolehkan. Tetapi untuk bekerja bagi mahasiswa Internasional ada waktu tertentu. Seperti di Poland misalnya, mahasiswa yang bukan Polish hanya diperbolehkan bekerja saat musim liburan, dan itu pun hanya dibatasi 60 hari kerja. Sedangkan di Spanyol dan Portugal mahasiswa hanya diperbolehkan bekerja saat summer. Secara umum waktu kerja yang diperbolehkan hanya 20 jam maksimal per minggu.

  • Berdasarkan pengamatan dan pengalaman kamu, secara garis besar, apa sih perbedaan sistem perkuliahan yang ada di kampus-kampus Eropa dengan yang ada di Indonesia? Mungkin bisa sedikit dijelaskan per poinnya. Misalnya dari segi dosen, mahasiswa, organisasi mahasiswa, dan interaksi antara dosen dan mahasiswanya.

Dari segi dosen, amat sangat berbeda. Dosen disini sangat terbuka dan update dengan hal baru. Selain itu, dosen disini lebih open-minded serta sangat terbuka untuk berdiskusi dengan mahasiswanya. Mengenai mahasiswa dan oraganisasi, pengelompokannya sangat jelas dan terstruktur rapi. Selain itu, sangat minim ditemukan bias antara organisasi profesi, minat dan bakat dan perpolitikan.

Hampir tidak pernah saya temui organisasi mahasiswa disini dicampuri urusan partai apalagi kepentingan politik dan keagamaan. Interaksi antar stake holder di kampus Eropa sangat gamblang, kalau ini ya ini kalau itu ya itu, langsung to the point.

  • Apa Tips Sukses Meraih beasiswa Erasmus Mundusuntuk temen-temen dan pembaca di tanah air?

Rajin rajinlah membaca, sebab kehidupan di Eropa sangat mandiri. Jangan memulai mendaftar sebagai awardee dengan terlalu banyak bertanya, mulailah berlatih menemukan apa yang kamu butuhkan.

Sebenarnya semua tips yang telah tersedia di Internet sudah lebih dari cukup untuk kamu bisa menggapai suksesmu, tinggal kamu baca, pahami dan temukan jalan suksesmu sendiri. Jalan sukses itu baru ditemukan setelah berulang kali kegagalan.

Seperti saat saya pertama kali mencoba ice skating, jika saya takut terjatuh dan gagal maka saya tidak akan bisa dan semahir seperti saat ini.

Jatuh dan gagal adalah konsekuensi yang harus kita bayar atas perbuatan kita sendiri. Saran saya sekali lagi, temukan kegagalanmu untuk mendapatkan kunci sukses dalam hidupmu.

Teknis dari saya mungkin berlatihlah menulis motivation letter yang benar benar KAMU! Bukan copy-paste apalagi hasil google translate yang masih acak kadul.

 

Lanjut ke Part-2 🙂