Penjual Soto Out of the Box

Dalam rangka perjalanan untuk pekerjaan ke Solo, suatu hari saya mampir makan di Warung Soto di Solo. Habis bubaran shalat Jum’at saya mampir ke Warung Soto itu, karena sangat ramai dikunjungi pelanggannya. Saya pikir Soto ini pasti enak karena pengunjungnya sampai ke teras Warung.

Suasananya rada aneh, ketika saya lihat sekeliling meja, banyak sekali abang-abang becak yang makan disana.

“Hemmm… pantesan rame, Sotonya memang benar-benar enak!”

Ketika selesai makan dan mau membayar, Bu Amir pemilik Warung Soto itu melarang saya mengeluarkan uang.

“Tidak usah bayar Dik, terima kasih atas kunjungannya.”

Dengan penuh rasa heran saya bertanya, kenapa gak mau dibayar?

“Ini hari Jum’at Dik, disini tiap hari Jum’at gratis.”

Masya Allah, terjawab sudah kenapa sebagian besar yang makan di Warung ini tukang becak.

Setengah bingung, saya mencoba mendekat ke tempat Bu Amir duduk.

“Ibu, apa gak rugi jual Soto seharian gak dapat uang?”, tanya saya setengah menyelidik.

“Dik, dari Sabtu sampai hari Kamis kan Alhamdulillah kami dikasi rezeki, dikasih untung sama Allah. Kalau kami bersyukur dengan cara menggratiskan satu hari, untung kami masih sangat banyak untuk ukuran kami. Kalau mau jujur seharusnya kami memberikan hak kepada Allah minimal 30%. Coba Adik pikir, siapa yang menggerakkan hati pelanggan-pelanggan kami untuk datang kemari?”

“Kalau kami harus membayar Salesman, berapa uang yang harus kami bayar?”

“Semoga dengan 1/7 bagian ini Allah ridho. Sebagian besar dari hasil usaha ini kami gunakan untuk membiayai empat anak kami. Mereka kuliah semua Dik. Satu di Kedokteran UGM, satu di Teknik Sipil ITB, yang dua lagi di UNS sini. Kalau bukan karena pertolongan Allah, mana bisa usaha kami yang sekecil ini membiayai kuliah empat orang?”

Bu Amir menjelaskan panjang lebar.

Jelegeeer…!!! saya seperti disambar petir.

Warung Soto sekecil ini bisa membiayai empat orang anaknya kuliah di Universitas Negeri semua! Bahkan malah masih bisa memberi makan kepada tukang-tukang becak dan semua orang yang berkunjung ke Warungnya setiap hari Jum’at, gratis lagi!!

Saya gak kehilangan akal. Untuk membayar rasa kagum dan rasa bersalah makan Soto gratis, saya masuk Mall. Saya membeli dompet cantik sebagai hadiah buat Bu Amir.

Saya pikir, “Masa Bu Amir gak mau dikasih dompet secantik ini?”

Dalam waktu tidak sampai satu jam, saya sudah kembali ke Warungnya.

“Lho kok balik lagi, ada yang ketinggalan Dik?”, sapa Bu Amir heran.

“Mohon maaf Bu, ini hadiah dari saya tolong diterima. Anggap saja kenang-kenangan dari saya buat Ibu yang telah memberi pelajaran hidup yang sangat berarti buat saya.

Dengan senyum tulus dan bicaranya halus Bu Amir menolak.

“Dik, terimakasih hadiahnya. Maaf, bukan Ibu menolak. Ibu cukup pake dompet ini saja, kenang-kenangan dari suami Ibu ketika dia masih ada. Awet banget, tuh sampe sekarang masih bagus.”

Bu Amir menepuk bahu saya.

“Bawa saja pulang dan hadiahkan buat Ibumu. Percayalah, Ibumu pasti senang dapat oleh-oleh dari Solo. Adik mampir di Warung Ibu saja sudah merupakan sebuah kebahagiaan yang tidak ternilai. Ibu senang, benar-benar senang sudah bisa ngobrol sama Adik.”

Begitu kata Bu Amir sambil tersenyum.

Saya kehilangan akal dan hanya bisa pamit sambil menundukkan kepala.

 

****

Subhanallah banget kan? Sebuah pelajaran tak ternilai akan arti sebuah ketulusan dan keikhlasan untuk berbagi dengan sesama terlihat anggun nan mempesona yang terpancar dari sosok Ibu Amir.

Jika teman-teman (akan) berkunjung ke Solo atau sedang berada di Solo, silahkan mampir di Warung Bu Amir ini dan cobain sotonya. Lokasinya di daerah Yosodipuro dekat Museum Pers Solo.

Jika beli soto disitu selain hari Jum’at, kembaliannya jangan diterima. Ketika membayar dan diberi kembaliannya, bilang aja :

“Nderek titip kagem sedekah Jum’at Bu.” (ikut nitip sedekah Jum’at Bu)

Beliau akan berterimakasih dan mendo’akan kita nggak habis-habisnya.

Mudah-mudahan kita semua bisa meneladani Ibu Amir ya. Aamiiin.

 

****

Kisah ini saya peroleh dari grup WA ‘alumni’ penghuni Padepokan  kos Al-Kautsar 53 yang dibagikan oleh Ibu Kos tercinta yang hingga hari ini masih menjalin komunikasi dengan kami, para ‘alumni’ padepokan yang telah bertebaran di berbagai penjuru Nusantara. Duuh.. bahasanya.. hehe.. 😀

Kisah ini dialami dan diceritakan oleh Ibu Das Salirawati, seorang Dosen di Univ. Negeri Yogyakarta.

 

Semoga bermanfaat.

 

Salam

 

Arasyid Harman  

 

Advertisements

SMS yang mengubah mimpi menjadi kenyataan

Sore ini saya ‘bernostalgia’ (membuka + membaca) SMS di HP yang lama. Banyak kenangan SMS selama kuliah di UMM yang masih tersimpan rapi di inbox dan folder ‘sent items’ HP jadul yang hingga saat ini masih saya pakai. Sengaja gak saya hapus. Sayang kalo dihapus. Membaca percakapan yang ada di SMS seperti membaca buku diary. Pikiran mau gak mau akan dibawa ke masa dimana SMS itu diketik, terus dikirim. Juga merasakan kembali suasana emosional yang muncul saat itu.

Saya hanya bisa senyam-senyum gak jelas seperti orang gila yang sedang kasmaran. Hingga akhirnya saya terhenti sejenak saat membaca SMS dari sekian banyak SMS yang saya kirim ke salah satu kawan baik saya, Yuswardi. Kami suka SMS-an dalam Bahasa Inggris waktu itu. Jadi banyak SMS diantara kami dalam Bahasa Inggris yang (harap dimaklumi) masih amburadul. Hehe..

Tapi, hal itu tak jadi masalah. Niat kami waktu itu adalah untuk belajar dan berlatih meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris kami (khususnya tulisan) yang masih jauh dari predikat ‘Excellent’. Bahkan hingga hari ini pun kami masih terus belajar dan berlatih dengan alasan yang sama. Gak ada kata berhenti belajar dan berlatih dalam kamus kehidupan kami.

Setidaknya ada 3 SMS yang saya kirim ke Yuswardi waktu itu. 3 SMS ini saya kirim dalam waktu yang berdekatan berdasarkan riwayat waktu pengirimannya. Saya gak ingat persis topik apa yang sedang kami bahas. Tapi ketika membaca isi dari SMS-SMS tersebut, saya yakin saat itu kami sedang bertukar pikiran soal beasiswa dan impian untuk ke luar Negeri melanjutkan studi (melalui program beasiswa).

Berikut petikan SMS-nya :

“I dn’t care!! When I want smthing, I’ll never stop till I get it!! At the end, let’s move together!! I do believe, next year I’ll be not in Indonesia, I’ll be somewhere in another part of the globe!! Insha Allah. My CV has done, now I’m working on anther stuff. Really, I’ll never say never 4 evry single chance that comes to my life!! So what about you??? :D” (Details, To: Yuswardi, sent: 05:16:40pm. 12-09-2011)

“Coz I’m a winner not a Quitter!! A winner never quit, n A Quitter never win!! Just make ur choice!! Winner or Quitter?? :D” (Details, To: Yuswardi, sent: 05:20:11pm. 12-09-2011)

“Just keep this magical words “If there’s a will, there’s a way”, “If you can dream it, you can do it”, “If u think u can, yes u can” n eventually, when u want something, the universe will work for it with the power of The Almighty Allah swt. Let’s just keep doing, moving, n praying fo the best in ourlives!! Allahuakbar!!! :D” (Details, To: Yuswardi, sent: 05:26:28pm. 12-09-2011)

 

Setelah membaca 3 SMS di atas saya merenung, tepatnya membawa diri ‘terbang’ kembali ke masa itu. 12 September 2011. Kurang lebih 5 tahun yang lalu. Waktu itu kami memang sedang mempersiapkan beberapa berkas untuk mendaftar program beasiswa Erasmus Mundus yang sedang dibuka. Kebetulan kampus kami menjadi salah satu mitra Universitas di Indonesia dengan pihak Uni Eropa yang merupakan sponsor dari program beasiswa Erasmus Mundus tersebut. Ada pun kampus yang menjadi tujuan atau mitra dari beasiswa ini semuanya berada di Eropa.

Eropa, salah satu benua yang kaya akan keragaman budaya, bahasa, sejarah,  dan peradabannya. Pokoknya bikin ngiler dah kalo udah ngebahas seputar benua biru itu. Kampus-kampus disana keren-keren baik dari segi sejarah maupun dari segi kualitas sistem Pendidikannya. Gak ada yang gak setuju dengan pernyataan ini kan? Hehe.

Di sisi lain, waktu itu kami juga masih belum selesai dari program OJT di salah satu hotel yang ada di Kota Batu. Masih segar dalam ingatan, semangat dan energi untuk mendaftar berbagai program beasiswa short-term ke luar Negeri begitu besar. Tak ada kata berhenti mencari (atau tepatnya berburu) informasi yang berhubungan dengan program beasiswa ke luar Negeri.

Saya tahu, we were not alone. Pada saat yang sama ada puluhan, ratusan, bahkan ribuan pelajar/mahasiswa di Indonesia yang juga sedang berburu apa yang kami buru, yakni beasiswa. Terlepas apakah beasiswa full-degree (untuk studi S1/S2/S3 di luar Negeri) atau hanya short-term program saja. Apa pun itu, intinya kita sama-sama berjuang untuk sebuah impian memperoleh beasiswa ke luar Negeri.

Yang membuat saya tersenyum setengah gak percaya adalah saya baru menyadari apa yang saya tulis dalam SMS tadi benar-benar terjadi. Benar-benar menjadi kenyataan. Dan yeah, bahkan setelah saya kembali dari belahan dunia yang lain (setahun setelah SMS tadi saya kirim), saya pun masih belum sadar bahwa saya pernah menulis ‘sesuatu’ yang, percaya atau tidak, telah mengantarkan jiwa dan raga saya terbang ke belahan dunia yang lain.

Dalam SMS yang pertama di atas, saya menulis : “…..  I do believe, next year I’ll be not in Indonesia, I’ll be somewhere in another part of the globe!! Insha Allah.”

Dan Alhamdulillah tahun berikutnya, saya benar-benar berada di belahan dunia yang lain. Kebetulan? Ah, rasanya tidak. Saya lebih suka menyebutnya dengan keberuntungan yang bukan kebetulan. Ya, karena dari dulu saya selalu percaya gak ada yang terjadi secara kebetulan di alam semesta ini. Semua atas rencana dan kehendak yang Maha Kuasa, Allah Subhanallahi wabihamdihi subhanallahil adzim. Dan, ini juga penting, karena ada proses yang saya jalani dibalik keberuntungan yang bukan kebetulan itu.

Setelah saya pikir-pikir, delapan bulan kemudian sejak SMS tersebut saya kirim, akhirnya saya berhasil mendapatkan kesempatan untuk terbang dan menginjakkan kaki di belahan bumi yang lain. Waktu yang relatif singkat. Delapan bulan (kurang lebih) Semesta bekerja (atas Perintah sang Pencipta) membantu mewujudkan apa yang menjadi impian saya waktu itu.

Lantas bagaimana kelanjutan dari berkas aplikasi beasiswa Erasmus Mundus yang waktu itu kami persiapkan dan daftarkan? Alhamdulillah gak ada yang lolos. Hahaha!

Tapi, Allah ternyata punya rencana lain buat saya. Saya tidak menyerah. Saya terus mencari informasi lain baik di lingkungan kampus, searching di Internet, maupun di berbagai kegiatan pameran Pendidikan luar Negeri yang diselenggarakan di Kota Malang.

Hingga akhirnya saya mendapatkan informasi salah satu beasiswa yang kemudian mengantarkan saya pada apa yang saya tulis di SMS tadi. Benar-benar berada di belahan bumi yang lain. Bukan di Eropa tapi di Amerika! Masha Allah…

Mengenang perjuangan kala itu, selalu membawa semangat dan energi positif untuk terus berjuang dengan sungguh-sungguh terhadap segala hal yang menjadi impian, cita-cita, dan harapan. Gak ada kata menyerah, gak ada kata putus asa, gak ada kata berhenti terhadap setiap mimpi yang kita miliki, sekecil atau sebesar apa pun itu. Karena Tuhan tak mengenal kata ‘kecil’ atau ‘besar’. Bagi-Nya semua impian itu sama saja. Tinggal bagaimana kita mau atau tidak untuk berjuang dengan sungguh-sungguh dalam meraihnya.

Pelajaran penting yang bisa sama-sama kita catat adalah, apa pun impian atau keinginan atau cita-cita kita, harus dan wajib ditulis. Sekali lagi, di-tu-lis. Dimana saja gak jadi masalah. Selama ia tertulis. Karena, berdasarkan apa yang telah saya alami, impian/keinginan yang kita tulis (apakah di buku catatan, handphone, tablet, laptop, dll) cepat atau lambat, percaya atau gak percaya, akan menjadi kenyataan. Sekali lagi, akan menjadi kenyataan. Ajaib. Benar-benar ajaib!

Tentunya, harus ada niat yang sungguh-sungguh untuk mewujudkannya. Terus dibarengi dengan usaha keras dan do’a dalam proses perjalanan mewujudkan impian tersebut. Sungguh, semesta akan berkonspirasi dalam mewujudkan impian dan keinginan kita. Dan yang pasti, Allah swt juga gak akan tinggal diam. Dia pasti akan membantu. Pasti.

Sangat mudah bagi Allah untuk mewujudkan semua keinginan/impian hamba-hamba-Nya. Kalau Dia sudah berkehendak, gak ada satu setan makhluk pun yang bisa menghalangi keputusan-Nya. Cukup baginya mengatakan, “Kun! faya kun!” Jadi!, maka jadilah (sesuatu itu). Yang jadi pertanyaan kemudian adalah apakah kita sudah pantas (menerimanya)? Apakah kita sudah siap (lahir-batin)? Apakah kita sudah berusaha dengan sungguh-sungguh dalam meraihnya?

 

***

Semoga tulisan singkat ini menjadi penyemangat, khususnya bagi saya pribadi, juga teman-teman yang saat ini sedang berjuang. Tak hanya dalam hal ‘berburu’ beasiswa, tapi dalam hal apa pun yang menjadi impian dan cita-cita dalam kehidupan masing-masing.

Teruslah berjalan. Teruslah bergerak. Teruslah mencari. Teruslah berusaha. Dan, ini yang paling penting, teruslah berdo’a dan berbaik sangka. Tanpa do’a apa yang terlihat mustahil akan selamanya terlihat mustahil. Dan dengan kekuatan do’a apa yang tak mungkin akan menjadi mungkin atas kehendak dan kuasa-Nya. Berbaik sangka juga sangat penting. Bukankah Allah itu sesuai dengan prasangka hamba-Nya? Jadi do’a + baik sangka adalah komponen utama dalam proses memperoleh keberuntungan yang bukan kebetulan (dalam hal apa pun, gak hanya sebatas dalam mencari beasiswa).

Yakinlah, suatu saat nanti kita akan mendapatkan apa yang kita inginkan dan impikan. Jika belum, jangan menyerah dan patah semangat. Teruslah berjuang. Jangan berhenti sebelum berhasil mendapatkan apa pun yang kita inginkan dalam hidup. Hidup di dunia ini hanya sekali kan? Jadi sayang banget kalau nanti di akhir hayat kita, ada kata menyesal yang muncul karena kita telah memutuskan untuk menyerah (terlalu dini) atas impian, harapan, keinginan, dan cita-cita kita.

Semoga tidak ya.

 

Salam Semangat,

 

Arasyid Harman

Bagasi Gratis tis tis

Salam’alaikum everyone!

Salam sejahtera dan penuh kasih untuk kita semua.

Tulisan kali ini adalah pengalamantentang pertolongan Allah Swt yang (lagi-lagi) sungguh mengagumkan dan selalu sukses membuat saya speechless dan bermuara pada rasa syukur yang tak bertepi.

Hari ini saya kembali pulang ke Kampung Halaman setelah sembilan hari berada di Kota Apel. Ngapain (lagi) di Kota Apel? Well, selain kangen dengan kota sejuk di Timur Pulau Jawa ini, saya juga kangen untuk ber-silaturrahim dengan sahabat-sahabat seperjuangan semasa kuliah di Kampus Putih. Plus, mengunjungi ex-kos-kosan saya dulu sekaligus silaturrahim dengan Ibu Kos se-keluarga.

Semenjak meninggalkan Kota ini setahun yang lalu, banyak hal yang berubah dengan penampilannya, khususnya di beberapa area sekitar Kampus tempat saya menyedot Ilmu dan Pengalaman berharga.

Setelah selesai semua urusan, saya pamit pulang.

Pukul 02:35 WIB (dini hari), mobil Travel yang saya pesan menjemput saya di rumah seorang kawan karib yang juga telah bersedia memberikan fasilitas tempat tinggal selama saya berada di Kota Apel ini. Saya sengaja memesan mobil Travel yang berangkat sebelum Shubuh ke Bandara. Alasannya sederhana, biar gak telat nyampe dan menghindari kemacetan di jalan menuju Bandara Juanda.

Saya berangkat diantar oleh sahabat-sahabat saya sampai ke Mobil. Mereka membantu membawakan barang-barang saya ke mobil. Barang bawaan saya gak banyak sih dari segi kuantitas, tapi saya yakin dari segi kualitas aka bobot-nya lumayan berat. Apa aja? Harus banget nih dikasih tau? Hahaha.

Well, Oke deh. 3 Kardus yang isinya buku-buku bacaan kesayangan & modul kuliah, 2 tas ransel day-pack yang isinya pakaian & laptop serta beberapa sertifikat berharga (sisa-sisa perjuangan selama menjadi Mahasiswa) dan juga Ijazah S1. Plus, 1 tas plastik oleh-oleh untuk keluarga di Rumah dan 1 tas kresek berisi roti dan cemilan serta air mineral dan susu kotak untuk sarapan. Hehe.

Perjalanan dari Kota Malang menuju Bandara Juanda biasanya menghabiskan waktu ±2 jam. Kali ini mobil travel yang membawa saya dan empat orang penumpang tiba di Bandara lebih cepat 30 menit. Alhamdulillah nyampe di Bandara pas adzan Shubuh berkumandang. Reminder-App (Prayer Time) di HP saya tak pernah lupa mengingatkan si empunyadi setiap waktu Shalat dengan mengumandangkan Adzan.

Saya dan penumpang lain pun segera turun. Pak Sopir membantu menurunkan barang-barang bawaan kami. Dan, sepertinya bawaan saya yang paling banyak. Hahaha.

“Berapa Pak?” Tanya saya kepada sang Sopir.

“90 ribu Mas.”

Saya langsung mengambil dompet dan mengeluarkan uang kertas 100 ribu dan memberikannya kepada Pak Sopir.

Sejak dalam perjalanan, saya udah niat untuk bersedekah kepada sang Sopir mobil travel yang mengantarkan saya ke Bandara.

Dan ketika Pak Sopir hendak memberikan kembalian duit 10 ribu, saya langsung mengatakan,

“Gak usah Pak. Kembaliannya buat bapak saja.”

“Owh.. Makasih Mas.”

“Mohon do’anya ya Pak, semoga perjalanan saya lancar.”

“Iya Mas. Saya do’akan semoga perjalanan sampean lancar.”

“Aamiiin..”

Do’a sang Sopir kepada saya sambil berpamitan. Ia langsung masuk ke Mobil dan pergi dengan wajah sumringah.

Saya pun segera mencari kereta dorong atau troli untuk menaruh barang bawaan. Biar mudah juga untuk bergerak menuju check-in counter.

Berhubung jam keberangkatan saya masih relatif lama, yakni jam 08:10 WIB, setelah sholat Shubuh berjamaah di Musholla Bandara, saya menyempatkan diri untuk mencari colokan listrik. Buat apa? Ya buat apalagi kalau bukan buat nge-charge baterai HP yang udah nge-drop. Hehe..

***

Saat menunggu check-in time dan mengisi baterai HP, mata saya tanpa sengaja “menangkap” dua orang (entah pasutri atau bukan, usia kisaran 30-an) yang sedang duduk di salah satu sudut area Bandara. Agak risih juga, karena mereka ngobrol sambil bercumbu mesra di ruang publik dimana penumpang dan pengantar hilir mudik di depan kursi tempat mereka duduk. Lama-lama saya jadi jijay..hahaha.

Sesekali si perempuannya ngeliat ke arah saya. Sepertinya dia curiga, kalo saya melihat tingkah mereka yang nggilani itu. Hahahaha.

Yang bikin saya gak habis pikir, si ceweknya ini pakaiannya sopan, berjilbab, model pakaian seragam ibu-ibu kantoran gitu. Cukup modisala-ala sosialita level sedang. Tapi gaya duduknya itu loooh… yang bikin saya gak nyaman. Bayangin aja, duduknya itu berpangku kaki, terus betisnya kelihatan sampai lutut, dikit lagi pahanya keliatan.Entah sengaja mau dipamerin atau enggak. Intinya gak mencerminkan sikap seorang Ibu yang sering ikut Pengajian rutin. Emang sih putih betisnya, tapi gak gitu juga kelessss.. hahaha 😀

Sementara si Lelakinya, kalo dari dandanannya sih, saya yakin dia itu seorang pejabat. Atau pekerja kantoran gitu. Pokoknya pakaiannya modis bin parlente yang menunjukkan kalo doi itu orang penting aka VIP.

Saya (makin) penasaran.Untuk menghindari kecurigaan mereka kalo aksi mereka itu sedang disorot oleh dua pasang “kamera” di kepala saya, saya pura-pura ngotak-ngatik HP, pura-pura sedang WhatssApp-an & BBM-an. Hahaha (Plis don’t try this at Home, coz ini hanya berlaku di Bandara..hahahaha)

Dan, ini yang saya pikir adalah klimaks dari rasa penasaran dan tanda tanya dalam batok kelapa saya, saat detik-detik sebelum si Lelakinya masuk ke dalam konter check-in untuk berangkat (pesawat si Lelaki bertolak jam 06 pagi), si perempuannya bilang sesuatu kepada si Lelaki-nya (gak tau bilang apa). Kemudian, si Lelaki mengeluarkan dompet, dan mengambil beberapa lembar duit pecahan 100 ribuan dan memberikannya kepada si Perempuan. Semacam “transaksi” gitu. Any idea where this piece of scenes will take you afterwards?

Lalu mereka beranjak menuju ke area security check. Mereka saling berpamitan. Jadi si perempuannya ini gak berangkat, cuman ngantar aja. Dan yang gak lucunya, si Lelaki-nya ini sebelum masuk ke bagian security check, ia meremas “itu”-nya si perempuan. WTF! Hahaha. Sayangeliatnya pengen muntah..hahaha. 😀 #Istigfarberkali-kali

Oke, kita kembali ke jalan yang benar ya. hahaha.. tadi selingan aja. Sorry, ini tulisannya jadi nyasar ke yang gak penting dan nggilani (nggilani ini bahasa kawan di Pulau Jawa, artinya menjijikkan).hehehe.. (awas muntah) hahaha 😀

Well, mau dilanjutkan gak nih ceritanya? Lanjut yaaa… hehe.

***

Pukul 07:05 WIB saya langsung menuju ke counter untuk check-in dan memasukkan barang-barang saya ke Bagasi.

Saya check-in di counter nomor 21 maskapai ….. Air. Nama maskapainya sengaja gak saya tulis karena menghindari isu promosi. Hahaha. You will know it later if you are good in details.hihihi..

Petugas yang sedang in-charge di counter 21 adalah seorang gadis berparas cantik. Dari jauh emang keliatan putih, bersih, kerudungan dengan bibir merah merekah balutan lipstik merah yang membuat setiap mata kedap-kedip bak lampu diskotik. Cantik kali kata urang Medan, Cantik niaaan kata urang Palembang. Hahahaha.

Udah-udah, jangan bayangin yang aneh-aneh. Tar saya tunjukin fotonya. Just stay tuned! Hahaha.

Si petugas (saya gak tau namanya, karena gak sempat melihat name-tag di seragamnya), meminta ID dan tiket. Saya langsung menyerahkannya sambiltersenyum simetris. Tapi si doi gak membalas senyuman saya. Jutek gitu. Hahaha. Sayang banget kan? Surplus cantik paras, tapi devisit cantik sikap/kepribadian. Hmmm… gak apa-apa sih, saya juga gak punya ekpektasi yang lebih besar dari kenyataan. (ngelesss hahaha)

“Senyum dikit kenapa mbak.”

“Emang harus gitu senyum ama situ??”

“Ya gak harus sih. Cuman kan kalo situ senyum, atmosfernya jadi lebih adem.”

“Gombal!”

“Siapa yang gombal? Itu beneran loh mbak.”

“Bodo amat! Udah, basi tau nggak!?”

“Ya ampun mbak, galak banget. Si Amat gak bodo loh mbak. Dia itu adek Kosan saya.”

“Aarrrrrggghhh!!! Diam!!!”

“Hahahaha”..

Serius banget bacanya brosis?? Dialog tadi hanyalah fiktif belaka. Wkwkwkw..

Kalo beneran terjadi dialog kayak di atas, saya udah digebukin sama penumpang lain yang antri di belakang hahaha.. 😀

Dan ketika ia meminta saya untuk meletakkan barang-barang yang mau dimasukkan ke bagasi, perasaan saya udah mulai deg-degan. Feeling saya mengatakan kayaknya akan kelebihan berat bagasi (over bagage). Dan ketika saya melihat ke indikator angka digital di samping timbangan, angkanya udah melewati 20 Kg. Saya pikir hanya lewat 1 Kg, eh rupanya sampe 5 Kg.

Waduuh… gawat nih. Kelebihan 5 Kg. Dalam hati udah was-was. Tapi saya tetap menunjukkan roman wajah yang tenang, seolah-olah barang bawaan saya gak over bagasi. Hehe.

Anehnya, si petugas yang cantik itu terlihat kalem bin woles. Harusnya dia langsung bilang kalo berat bagasi saya itu melebihi batas maksimum berat bagasi yang diizinkan oleh maskapainya, yakni maksimumnya 20 Kg. And it didn’t happen!

Dia malah sibuk memasukkan data dan memberikan label ke barang-barang bawaan saya.

Kok bisa dia gak mengatakan itu ya? what’s wrong? Apa indikator angka di depan layar komputer di hadapannya rusak? Atau apa mungkin indikator angka timbangannya tetap menunjukkan angka 20 Kg? Well, I don’t have any idea at all.

Selang beberapa menit kemudian, setelah ia memberikan label bagasi pada setiap item barang-barang saya, ia memberikan boarding-pass. Dengan perasaan dan pikiran yang masih dipenuhi tanda tanya, saya mengambilnya dan balik badan melangkah ke belakang.

Sambil memegang boarding-pass saya masih geleng-geleng kepala memikirkan kejadian aneh yang barusan saya alami. Kok bisa ya? Kenapa si petugasnya gak minta extra-money untuk membayar kelebihan bagasi 5 Kg? Yang jumlah totalnya 100 ribu (Biaya kelebihan bagasi 20 ribu/Kg).

Saya tiba-tiba tersenyum puas + senang + haru. Setelah saya renungkan, kejadian ini bukan tanpa sebab. Dan sebabnya sungguh jelas. Ini adalah “buah sedekah” saya tadi kepada Pak Sopir Travel. Masya Allah. Sungguh Allah SWT yang Maha Pemurah telah mengirimkan pertolongan-Nya kepada saya lewat wasilah Sedekah.

See… lihaat. Lagi-lagi saya ditolong-Nya. Mari kita analisis sambil flashback ya.

Tadi saya sedekah (secara gak langsung) kepada si Sopir Travel yang mengantarkan saya ke Bandara. Jumlah sedekahnya Rp.10.000, yang merupakan ongkos kembalian dari tarif yang harus saya bayarkan kepada Pak Sopir.

Kemudian saya mendapatkan balasan free of chargealias gratis atas kelebihan bagasi 5 Kg. Which is, kalo di itung-itung, nilainya sama dengan Rp.100.000, dimana biaya 1 Kg kelebihan bagasinya Rp.20.000,. Pas 10 kali lipat! Allahuakbar!!!

Saya sedekah Rp.10.000 langsung dibalas Rp.100.000.

Langsung dibalas sama Allah tunai! Hari itu juga, gak pake koma, gak pake lama. 10 kali lipat. SubhanAllah. Allah emang super duper baaaaaiiiikkk dan gak pernah bo-ong. Pokoknya speechlesssss lagi deh… Makasih ya Allah. Makasih. Makasih. Makasiiiiiiiih. 🙂

Dan kalo kembali kepada si Petugas counter yang surplus cantik tadi, ada banyak kemungkinan atas pertanyaan “why” dia gak meminta saya untuk membayar kelebihan bagasi sebanyak 5 Kg. Bisa saja ada Malaikat yang dikirim oleh Allah untuk merubah angka indikator timbangan di layar komputernya. Atau bisa juga, si Malaikat yang dikirim Allah itu menyamarkan penglihatannya, sehingga yang terbaca bukan 25 Kg, tapi 20 Kg atau 18 Kg, atau malah Cuma 10 Kg. Hehehe.. bisa saja.Who knows?

Mudah bagi Allah mah. Gak ada yang mustahil. Pokoknya kalo Allah udah ridho dan berkehendak untuk membantu Hamba-Nya, gak ada satu makhluk pun baik itu dari golongan Jin atau pun Manusia yang bisa menghalanginya. Right??

Pastinya bro. Top markotop dah kalo Allah udah “turun tangan” dalam menyelesaikan semua urusan kita. Dan janji Allah akan balasan (minimal 10 kali lipat) bagi setiap hamba-Nya juga udah sangat jelas tertulis dalam Kitab Suci,

“Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) 10 kali lipat amalnya.” (Q.S. Al-An’am : 60).

Yang saya pahami sejauh ini terkait balasan atau ganjaran dari Allah, 10 kali lipat itu adalah balasan minimal. Maksimalnya 700 kali lipat bahkan mungkin bisa lebih dari itu.

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat-gandakan (ganjaran). (Q.S. Al-Baqarah : 261).

***

Well, akhirnya saya berangkat tepat pukul 08:10 WIB menuju Bumi Nyiur Melambai. Alhamdulillah perjalanan saya lancar dan aman hingga ke rumah. Terimakasih udah meluangkan waktunya, menemani dan menyelami sepenggal pengalaman saya ini. Mudah-mudahan teman-teman semua bisa memetik hikmah dari cerita ini.

Dan, sebelum saya akhiri, saya ingin mengatakan bahwa ternyata manfaat sedekah itu ada lagi, yaitu bisa dapat ekstra bagasi gratis tis tis.hehehe. Patut dicoba nih. Kalo misalnya teman-teman sedang bepergian dan membawa barang yang cukup banyak, trik dan ilmu Sedekah ini patut dijajal. Bawa aja barang yang banyak, apalagi kalo banyak keluarga yang nunggu oleh-oleh di rumah. Hehe.

Dengan menggunakan logika sederhana dari kejadian yang saya alami ini sebagai landasan teori-aplikasinya. Sedekah Rp.10.000 dapet 5 Kg. Kalo pengen dapet ekstra bagasi 10 Kg, berarti sedekahnya dinaikkin 100 %. Jadi Rp.20.000, yang harus dikeluarkan untuk sedekah. Pengen lebih? You know what to do.hehehe

Okay? Siap mencoba? Siap dong. Harus yakin, jangan setengah-setengah ya. Ingat, keajaiban yang tak pernah disangka-sangka akan hadir setelah kita bersedekah. Trust me, it always works! 😉

And, finally. Foto session! Hehehe.

Nih, barang bukti. 3 kardus isi buku. 2 tas ransel isi laptop & pakaian& dokumen penting. 1 tas plastik isi oleh-oleh. Dan 1 tas kresek isi roti& air minum (ini buat sarapan sebelum take-off) hehe.

Check-in line. Belum terlalu padat. Counter no. 21 juga gak rame. Let's GO! :D

Check-in line. Belum terlalu padat. Counter no. 21 juga gak rame. Let’s GO! 😀

nah... ini dia si jali-jali. Eh maksudnya si petugas counter yang surplus cantik itu. Gimana? Cantik gak? Udah cantik aja. Gak mungkin ganteng kan? Hahaha

Nah… ini dia si jali-jali. Eh maksudnya si petugas counter yang surplus cantik itu. Gimana? Cantik gak? Udah cantik aja. Gak mungkin ganteng kan? Hahaha

Ini si doi sedang fokus. Jangan coba-coba nanya. Tar ditabokin. hahaha.

Ini si doi sedang fokus. Jangan coba-coba nanya. Tar ditabokin. hahaha.

Si doi masih sibuk dengan tugasnya. Itu mas yang dibelakangnya ngapain ya? santai banget. Mungkin dia lelah, jadi bersandar di dinding. Bandara juga gak begitu ramai. Jadi relax-nya kelihatan lebih banyak. Hehehe

Si doi masih sibuk dengan tugasnya. Itu mas yang dibelakangnya ngapain ya? santai banget. Mungkin dia lelah, jadi bersandar di dinding. Bandara juga gak begitu ramai. Jadi relax-nya kelihatan lebih banyak. Hehehe.

Menunggu Boarding sambil mengamati orang-orang yang juga akan terbang.

Menunggu Boarding sambil mengamati orang-orang yang juga akan terbang.

That’s it.

Thanks for being here. See you on the next post!

Wassalamua’alaikum….

Salam hangat dari Bumi Nyiur Melambai 🙂

 Stay Healthy, Stay Happy!

@arasyidharman

 

 

Pelajaran Berharga dari seorang Mantan Preman & Bandar Narkoba

Salam’alaikum Everyone!

Sehat dan Bahagia terus ya. Aamiiin… 🙂

Kisah kali ini adalah kisah yang saya alami dalam perjalanan (kembali) dari kota Palembang menuju Kec. Bayung Lencir, Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.

Selamat membaca.

Pagi tadi, saat berangkat, penumpang mobil Travel yang saya tumpangi (hanya) tiga orang. Saya duduk di samping Sopir yang menjemput saya di tempat seorang kawan di daerah Bukit Siguntang, Palembang. Dua penumpang lainnya, yang satu seorang wanita muda (sekitar 20-an) dan yang lainnya seorang wanita paruh baya duduk di kursi tengah mobil berwarna putih yang sudah menjadi langganan saya dalam perjalanan dinas ini.

Perjalanan naik Travel dari Kota Palembang menuju Kecamatan Bayung Lencir kali ini sungguh berkesan. Bukan karena mobil yang saya tumpangi tidak penuh sesak oleh penumpang, namun lebih karena obrolan yang sarat pelajaran antara saya dan sang sopir yang tak pernah saya duga sebelumnya.

Sopir Travel ini namanya Kak Beno (Maaf nama asli disamarkan, alasan keamanan dan memang belum izin ke orangnya, hehe). Kak Beno ini terkenal tempramental. Di jalan, kalau ada mobil lain yang mencoba menghalangi jalan atau ugal-ugalan, ia tak segan-segan turun dan memarahi sang sopir. Kalau sang sopir itu terlihat melawan, ia tak segan-segan mengajaknya untuk beradu fisik. Sangar pokoknya. Hahaha.

Awalnya saya kaget melihat model sopir begini. Namun karena udah sering naik travel bareng doi, lama-lama udah terbiasa kalau ia mulai beraksi di jalan. Ia sering juga mengeluarkan beberapa umpatan dalam bahasa Palembang ketika ada mobil yang menyalipnya dari belakang. Seperti, “Mati kau! Wong giloo! Buyan nian sopir mobil itu!” dan beberapa umpatan lainnya yang gak akan saya tulis disini.hehehe.

Sebuah fakta tentang hidupnya baru terungkap saat seorang penumpang, si wanita paruh baya tadi, meminta pendapatnya tentang rencananya untuk pergi Umroh ke Tanah Suci. Rupanya si penumpang ini udah kenal dekat dengan Kak Beno karena sering menjadi penumpangnya kalau mau ke Palembang. Kak Beno pun akhirnya menceritakan pengalamannya pergi Umroh tahun 2014 lalu bersama mertuanya.

Si penumpang tadi menceritakan kekhawatirannya akan cerita orang-orang bahwa ketika berada di Tanah Suci (entah itu dalam rangka ibadah Haji atau Umroh) akan ada balasan terhadap amal perbuatan baik dan buruk kita selama ini. Mendengar hal itu, Kak Beno membantahnya. Katanya, gak benar seratus persen cerita itu. Iya benar akan ada balasan, tapi gak semua. Jelasnya kepada sang penumpang yang terlihat masih belum percaya.

Saya pura-pura tidak mendengar apa yang sedang mereka obrolkan. Padahal telinga saya menangkap dan merekam obrolan mereka berdua dengan rapi. Hehe..

Kak Beno terus meyakinkan si Penumpang tadi agar mewujudkan niatnya untuk pergi Umroh. Hingga si penumpang turun dari mobil, saya belum melihat ada kata “Ya” dari raut wajahnya akan dorongan semangat dari Kak Beno.

Penumpang yang satunya tak berapa lama tiba di depan rumahnya. Kak Beno membukakan pintu mobil dan menurunkan barang bawaan si penumpang dan meletakkannya di halaman depan rumah. Sebuah “SOP” yang tak pernah ia lewatkan. Melayani penumpang dengan baik adalah prinsipnya dalam bekerja sebagai sopir Travel. Kini hanya saya, satu-satunya penumpang yang tersisa. Waktu yang dibutuhkan untuk sampai di Kecamatan Bayung Lencir kurang lebih 30 menit lagi.

Tak lama, setelah mobil kembali meluncur, saya iseng nanya ke Kak Beno.

“Kak, kapan pergi Umrohnya?”

“La lamo dek. Hmm…Sekitar bulan November tahun lalu.”

“Owh… jadi bener Kak, disano ada balasan tentang perbuatan kito?”

“Iyo Dek, ado nian. Tapi ndak pulo cak yang diceritain wong-wong itu.”

“Dek, kakak ini dulunyo nakal nian dek.” Kak Beno mulai bercerita tentang perjalanan hidupnya yang kelam.

“Kakak dulu preman dek. Bosnya Preman malah. Kakak megang geng preman di Palembang Dek. Banyak anak buah Kakak disana.”

“Oh ya?? Nian kak?” Tanya saya, penasaran.

“Iyo nian Dek. Kakak dulu galak nian mabok. Minum-minum tiap hari. Kakak jugo pernah jadi Bosnya preman yang galak jambret dompet penumpang di Bus-bus yang ado di Palembang.” Jawabnya santai.

“Waaah…itu pas masih bujang Kak?” Saya kaget. Tapi ekspresi kekagetan saya sebisa mungkin saya samarkan.

Dalam hati saya meracau sendiri. “Ya Allah, sopir Travel yang selama ini sering saya pakai jasanya untuk mengantar saya bepergian, ternyata adalah mantan preman, bosnya preman malah.”

 

***

Obrolan kami pun berlanjut. Ia memacu mobil dengan kecepatan sedang.

“Dek, kakak dulu juga pernah jadi Bandar Narkoba. Kakak nyari Ganja itu sampe ke Aceh sana. Perbatasan Medan dan Aceh.”

“Tahun berapo itu Kak?” Tanya saya makin penasaran dengan kisah perjalanan hidupnya kala itu.

“Itu sekitar tahun 98 sampe 2000, Dek. Dulu bukan cak sekarang Dek. Dulu bebas. Ndak ado polisi yang grebek atau meriksa mobil di jalan. Apalagi mobil pribadi.” Tambahnya penuh semangat. Seolah ia sedang berada di masa itu.

“Trus cakmano kok bisa idak ketahuan Kak?”

“Kaca mobil kakak, kakak pasang kaca hitam galo. Ndak pacak tejelik dari luar. Jadi aman sampe Palembang. Di Palembang, ado agen yang membeli dan mendistribusikannya disana. Jadi kakak tinggal terima bersih bae.”

***

Jadi Kak Beno ini hanya menjadi Bandar saja, bukan pemakai. Ia murni berbisnis. Katanya dari omset penjualan Ganja ia bisa membeli mobil Panther tahun 1999. Waktu itu harga mobilnya sekitar 40 Juta. Dan itu langsung tunai belinya. Gak pake kredit. Sungguh menggiurkan katanya.I

Ia mulai berhenti menjalani profesi sebagai Bosnya Preman dan Bandar Narkoba di awal tahun 2002, saat ia akan mengakhiri masa lajangnya. Ia menikah. Sejak saat itu, ia tak pernah berurusan lagi dengan dunia Preman maupun Narkoba. Ia memutuskan untuk mencari rezeki dengan cara yang baik dan halal.

Apalagi ketika anak pertamanya lahir. Saat ini anaknya berumur 12 tahun. Artinya Kak Beno sudah kurang lebih 12 tahun meninggalkan “dunia hitam” yang telah menjadi sejarah kelam perjalanan hidupnya.

Dan ketika ia menceritakan pengalamannya saat melaksanakan Ibadah Umroh di penghujung tahun 2014 lalu, ia sangat antusias. Katanya selama ia berada di Tanah Suci, selalu ada saja orang yang tidak ia kenal datang memberinya makanan dan minuman. Makanan berupa roti dan minuman dalam bentuk kemasan botol (seperti kemasan botol air mineral yang dijual di pasaran).

Ia terheran-heran, kok ada orang asing yang tak ia kenal datang memberinya roti dan minuman hampir setiap hari selama ia disana. Anehnya, kawan-kawan yang satu rombongan dengannya, gak dapat roti. Padahal mereka tinggal satu asrama. Jadi katanya, satu kali ia lagi bersama beberapa jamaah Umroh yang satu asrama dengannya, tiba-tiba ada orang yang entah darimana datangnya, memberinya roti ukuran besar lengkap dengan air minumnya di suatu pagi. Sementara jamaah lainnya gak dikasih, hanya dilewati saja oleh orang yang membawa roti dan minuman tadi.

SubhanAllah….

Saya pun makin penasaran. Apa gerangan yang menjadi sebab-musababnya? Ketika saya telisik dengan mengajukan pertanyaan tentang amalan atau apa yang sering dilakukan oleh Kak Beno sebelum ia pergi Umroh (dalam kurun waktu 12 tahun terakhir setelah ia berkeluarga).

Dan sungguh saya dibuat takjub. Kak Beno dengan nada suara yang rendah, tak sama dengan nada suara normalnya ketika ia berbicara, mengatakan bahwa ia gemar menyantuni anak-anak Yatim Piatu di Panti Asuhan. Ia rutin bersedekah dan berderma dengan semua orang. Tak hanya dengan anak-anak Yatim-Piatu, tapi juga dengan kawan-kawannya sesama sopir Travel. Pun dengan teman-teman premannya yang sampai sekarang masih menaruh hormat kepadanya.

Jadi ketika ia ada rezeki berlebih atau nggak, kalau sedang kumpul di warung makan bersama teman-temannya, ia suka bayarin makan dan minum. Ringan tangannya untuk menolong orang. Lebih-lebih dalam hal makan dan minum. Istri dan anaknya udah paham betul dengan kebiasaannya ini. Jadi kalau ada duit lebih, pas tiba dirumah tinggal dikit, istrinya udah ngerti kemana larinya tuh duit.hehehe..

Katanya, “Dek, kakak cak itulah wongnyo. Kalo ada kawan nak makan di warung makan, kakak yang bayarnyo. Dari dulu sampe sekarang. Cak itulah.”

Rupanya, ini yang menjadi rahasianya mendapatkan balasan kebaikan ketika ia berada di Tanah Suci. Dan saya jadi penasaran, bagaimana dengan perbuatannya saat jadi preman dan bandar Narkoba? Apa dibalas juga?

Alhamdulillah, katanya gak ada balasan. Ia juga heran. Padahal dulu ia sering gangguin orang, mukulin orang, dan sederet tindak kriminal lainnya. Tapi, ia tak mendapatkan perlakuan kasar selama melaksanakan Ibadah Umroh. Luar biasa. Mungkin Allah Swt telah menghapus semua kesalahan di masa lalunya melalui pahala kebaikan amal baiknya melalui derma dan sedekah rutin yang ia berikan kepada anak-anak Yatim-Piatu. Bisa jadi. Siapa yang tahu?

Saya semakin kagum dengan Kak Beno. Hari ini, untuk yang kesekian kalinya, dengan segala pengaturan dan skenario indah-Nya, saya mendapatkan pelajaran hidup yang luar biasa dari seorang mantan Preman dan Bandar Narkoba.

***

Tak terasa, mobil sudah tiba di Kecamatan. Sebelum saya turun, Kak Beno berpesan untuk bersedekah yang rutin khususnya kepada anak-anak Yatim-Piatu. Ia juga menyarankan saya, apabila ada rezeki yang cukup, segera pergi ke Tanah Suci untuk melaksanakan Ibadah Umrah maupun Ibadah Haji.

Saya melangkah turun dan menuju warung makan Solber, sudah pukul 01:35 WIB. Perut udah joget-joget dan saya belum sholat Dzuhur.

Udah dulu ya teman-teman. Semoga cerita ini memberikan pencerahan yang tak kalah cerahnya dengan lampu neon di rumah tetangga. Hehehe..

Selamat berakhir pekan. Bagi yang belum sholat, sholat dulu lah… bagi yang belum bersedekah hari ini, senyum dong.  Siip, cakeeep dah! Ciee udah sedekah senyum. Sedekah yang paling mudah. Hehehe.

Mantap dah! Habis baca ini langsung cari target sedekah ya. Kasi duit, jangan cuma dikasi senyum doang! Oke??

Salam Hangat dari Bumi Bayung Lencir,

Stay Healthy, Stay Happy! 

@arasyidharman

 

Faktor Pembeda

Salam a’laikum…

Beberapa hari yang lalu saya membaca tulisan    pengalaman salah satu Guru saya yang di re-post oleh seorang kawan di grup whatssApp. Entah kebetulan atau tidak, yang jelas momennya pas dengan apa yang (mungkin) saya butuhkan akhir-akhir ini. Sebuah friendly-reminder atau mungkin fresh-reminder. Entahlah, terlepas dari itu semua, pengalaman dari Guru saya tersebut sungguh menginspirasi dan pastinya (menurut yang saya rasakan) memiliki kekuatan yang “menggerakkan” setiap orang yang membacanya  untuk melakukan dua hal yang menjadi pembeda diri.

Cerita pengalaman Guru saya tersebut terjadi pada tahun 2012 silam. Cerita bermula saat ia berada dalam satu pesawat dari Jakarta menuju Surabaya dengan seseorang yang bernama Yadi Sudjatmiko.

Guru saya ngobrol dengan lelaki paruh baya ini, yang waktu itu akan menuju kota Malang setelah menempuh perjalanan panjang dari Oman. Ia bekerja di salah satu Perusahaan minyak disana. Sebulan sekali ia pulang ke Indonesia, berlibur satu bulan kemudian balik lagi ke Oman untuk bekerja. Jadi ia bekerja selama satu bulan, kemudian libur satu bulan.

Enak ya? masa liburnya sama dengan masa kerjanya. Diam-diam saya penasaran dimana Pak Yadi ini bekerja.

Namun, yang mengejutkan adalah latar belakang Pak Yadi ini yang (hanya) lulusan STM atau setara SMA, tetapi kini ia bekerja dengan bayaran besar mengalahkan sarjana teknik. Luar biasa. Kok bisa ya? seorang yang notabene (bukan maksud untuk menganggap remeh latar belakang pendidikan seseorang) hanyalah tamatan STM.

Bagaimana cerita masa lalunya? Guru saya terus mencari tahu bagaimana ceritanya Pak Yadi hingga bisa sukses berkarir di Negara orang dengan modal ijazah STM yang bagi kita sepertinya mustahil. Jangankan lulusan STM atau SMA/Sederajat, lulusan Perguruan Tinggi pun butuh perjuangan ekstra untuk bisa bekerja dan berkarir di luar Negeri apalagi di sebuah perusahaan raksasa yang bergerak di bidang Oil & Gas.

Setelah tamat dari STM, Pak Yadi melamar pekerjaan di Surabaya dan Jakarta. Namun usahanya waktu itu tak bertepuk dua tangan. Artinya ia belum berhasil memperoleh pekerjaan di dua kota tersebut. Yang ia peroleh hanya jawaban, “Kalau mau cari kerja ke Kalimantan sana, jangan di Kota besar.”

Akhirnya ia berangkat ke Kalimantan. Disana ia bekerja sebagai Room Boy di sebuah hotel kemudian berpindah sebagai supir.

Saat itu ia berpikir, “Ternyata ijazah STM itu tak ada artinya ya. Untuk bekerja di Perusahaan atau kantoran saya harus memiliki sesuatu yang berbeda yang tidak mereka miliki dan lakukan. Tapi apa ya?”

Setelah berusaha mencari apa yang menjadi faktor pembeda itu, akhirnya ia menemukannya. Ia mengatakan setidaknya ada dua hal yang menjadi faktor “P” tersebut. Rupanya salah satu faktor pembedanya bukanlah sesuatu yang asing bagi kita, umat Nabi Muhammad SAW. Yang pertama adalah bangun malam dua jam sebelum waktu Shubuh tiba. Terus ngapain?

Ngapain ya? Saya yakin teman-teman sudah paham apa yang dilakukan dan diamalkan oleh Pak Yadi. Yang pasti bangun malam bukan untuk nonton bola namun untuk beribadah dan berdo’a kepada  Yang Maha Kuasa. Yang kedua adalah selalu melayani orang. Pak Yadi dalam kesehariannya selalu berusaha untuk melayani orang sebaik-baiknya.

“Saya yakin sedikit Sarjana yang bangun malam dan Sarjana yang senang melayani orang. Saat bangun malam saya mohon ampun dan mohon pertolongan kepada Allah. Ditambah prakteknya siang hari, yakni melayani orang sebaik-baiknya.” Begitu tutur Pak Yadi kepada Guru saya.

Setelah mempraktekkan dua kebiasaan ini beberapa bulan, atas izin-Nya Pak Yadi diterima di sebuah Perusahaan minyak Total. Dan dengan ketekunannya, ia berhasil menguasai sebuah keterampilan yang jarang dikuasai orang, yaitu memasang alat-alat di dalam ‘perut’ bumi.

“Pekerjaan saya tidak terlihat tetapi gajinya sangat terlihat.” ujar Pak Yadi sambil tertawa.

Setelah berpenghasilan besar, ia tidak lupa untuk terus melayani orang lain, baik di lingkungan perusahaan tempat ia bekerja maupun di kampung halamannya. Untuk melayani masyarakat, gajinya sebagian ia sisihkan untuk membeli sapi yang ia kerjasamakan dengan para peternak di kampung halamannya dengan sistem bagi hasil.

“Saya punya pengalaman menarik. Saat saya baik sangka, menolong dan melayani peternak, saya mendapat balasan lebih besar. Waktu itu salah satu sapi saya mati. Peternaknya ketakutan dan berjanji akan menggantinya. Tapi saya katakan, tidak usah menggantinya, saya ikhlas. Saya pun memberinya lagi sapi untuk dipelihara.”

Dan, MashAllah sapi yang dipelihara sang peternak selalu melahirkan anak sapi kembar. SubhanAllah….

Guru saya saking asyiknya ngobrol, sampe lupa kalau pesawat yang mereka tumpangi telah mendarat di Bandara Juanda, Surabaya. Sebelum mereka berpisah, Pak Yadi menasehati Guru saya,

“Bangunlah setiap malam sebelum kebanyakan orang lain bangun. Layanilah orang lain tanpa berharap balasan. Gusti Allah ora sare (tidak tidur). Kalau anda melakukan itu, Allah-lah yang akan melayani keperluan Anda. Enak kan?”

Guru saya kehabisan kata-kata. Ia (hanya) tertegun menatapnya hingga lupa mengucapkan kata-kata yang sudah sepantasnya ia terima.

Saya, meskipun tak bertemu langsung dengan sosok Pak Yadi yang kisah suksesnya sungguh menginspirasi itu, tetap merasakan pancaran kesederhanaan yang dibalut cahaya iman yang kokoh kepada Allah SWT.

Terimakasih Pak Yadi, terimakasih Kek Jamil, karena telah menulis membagikan kisah ini kepada saya dan semua orang yang sempat membacanya. Mudah-mudahan bias-bias pahala dari semua pengalaman dan pengetahuan Kek Jamil, khususnya Pak Yadi juga mengalir kepada keluarga yang terkasih. Amiiin.

Akhir kata, semoga tulisan ini menjadi bahan renungan kita semua untuk juga mempraktekkan dua hal yang telah menjadikan Pak Yadi menjadi Pak Yadi seperti saat ini. Menjadi manusia yang ‘berbeda’. Kalau Pak Yadi bisa, kita pun (harusnya) bisa! Semua tergantung dari niat dan usaha kita masing-masing. Mau atau gak. Udah ada bukti hidup, lantas apalagi yang kita tunggu?

Yuk kita biasakan (lagi) untuk bangun malam/bangun lebih awal untuk mendirikan Qiyyamul Lail dan membiasakan diri untuk melayani sesama dengan ikhlas. Semoga Allah SWT meridhoi setiap apa yang kita kerjakan, dan memenuhi semua hal yang menjadi hajat kita. Amiiin.

Wassalam a’laikum and…

Stay Healthy, Stay Happy!

@arasyidharman

Menemukan tiga ‘cahaya’ dalam sebuah buku

Setelah sholat shubuh pagi ini, saya menyempatkan diri untuk membaca sebuah buku yang saya pinjam dari Sekolah tempat saya bertugas. Dari judulnya, saya merasa tertarik untuk membacanya. Buku ini adalah kumpulan catatan harian sang penulis yang kemudian dibukukan.

“Spirit Iqra” judul buku tersebut yang ditulis oleh Pak Hernowo, salah satu penulis buku-buku best-seller terbitan Mizan. Cukup lama juga usia buku ini. Diterbitkanpada tahun 2003. Buku catatan harian ini ia tulis selama bulan Ramadhan tahun 2001 silam. Ia menuliskan catatan-catatan harian ini via email yang ia share ke mailing-list rekan-rekan kerjanya.

Itu sedikit gambaran tentang buku kecil yang saat ini (sedang) saya baca. Saya ingin menuliskan apa yang saya temukan pada bab pembuka buku catatan harian Pak Hernowo ini.

Setidaknya saya juga merasakan hal yang sama, bahkan mungkin juga lebih, dari apa yang saat itu dirasakan oleh penulis. Apa yang dirasakan oleh Pak Hernowo yang juga dirasakan oleh saya pribadi yang juga membaca tulisan beliau? Keguncangan dan kekaguman jiwa dan raga yang luar biasa akan sang Pencipta, Allah Subhanahu Wata’ala.

Terpesona. Ya terpesona. Saya terpesona ketika saya menemukan tiga ‘cahaya’ yang tertulis dalam buku ini. Cahaya yang merupakan hadis dari Rasulullah SAW. Tiga ‘cahaya’ ini teramat indah dan sarat makna serta pemberi harapan dan kekuatan bagi kita semua yang mengaku beriman kepada Allah Swt, Tuhan semesta Alam.

Tiga hadis tersebut (dua hadits tergolong hadits Qudsi) saya kutipkan di bawah ini.

HADITS PERTAMA

“Setiap malam, Tuhan kita yang Maha Suci lagi Maha Agung ‘turun’ ke langit dunia, yaitu ketika malam hanya tinggal sepertiga yang terakhir.
Ketika itu Dia berfirman, “Siapa yang ingin berdo’a kepada-Ku, niscaya akan Kukabulkan untuknya. Siapa yang (ingin) bermohon kepada-Ku, niscaya akan Kukabulkan permintaanya. Siapa yang akan memohon ampunan-Ku, niscaya akan Kuampuni.” (H.R. [Hadits Riwayat] Bukhari, Muslim, Malik, At-Tirmidzi, dan Abu Daud).

HADITS KEDUA (HADITS QUDSI)

“Aku akan memperlakukan hamba-Ku sesuai dugaan (prasangka) hamba-Ku. Aku bersamanya apabila ia menyebut (nama)-Ku. Apabia ia menyebut-Ku di dalam hatinya, Aku menyebutnya di dalam diri-Ku. Apabila ia menyebut-Ku di dalam khalayak, Aku menyebutnya di hadapan khalayak yang lebih baik daripada khalayak itu.
Apabila ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Apbila ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Apabila ia datang kepada-Ku dengan berjalan perlahan, Aku datang kepadanya dengan berlari.” (H.R. Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

HADITS KETIGA (HADTS QUDSI)

“Wahai putra-putri Adam, selama kalian berdo’a kepada-Ku dan mengharapkan ampunan-Ku, Aku ampuni untukmu, apa yang kalian telah lakukan di masa lampau, dan Aku tidak peduli (berapa banyak pun dosa kalian).
Wahai putra-putri Adam, seandainya dosa-dosamu telah mencapai ketinggian langit, kemudian engkau memohon ampunan-Ku, Aku ampuni untukmu. Seandainya kalian datang menemui-Ku membawa dosa-dosa seluas wadah bumi ini, dan kalian datang menjumpai-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu, niscaya Aku datang kepadamu dengan pengampunan seluas wadah itu.” (H.R. At-Tirmidzi dan Imam Ahmad).

Itulah tiga ‘cahaya’ yang saya temukan di awal bab pembuka buku “Spirit Iqra”. Sungguh mempesona bukan? Semoga tiga ‘cahaya’ ini bisa menjadi pelita dalam (sisa) perjalanan hidup kita di dunia yang semakin hari semakin menua ini.

Mudah-mudahan bermanfaat dan semoga saya akan menemukan ‘cahaya-cahaya’ yang lain di lembaran atau halaman berikutnya. Dan mudah-mudahan saya juga menemukan ‘cahaya-cahaya’ di tempat dan dari sumber yang berbeda.

Salam Cahaya dari pedalaman Sumatera

@arasyidharman

The Best Way to…

The Best Way to predict the future is to create it. [Peter Drucker]

This is so true! We can predict our own future by creating it right now. There’s no need to over thinking and worrying. Stop it! and let’s create our own bestest future NOW!!!

If you think your life is going to be different the next three , five months, or the next three, four, five years,  then why not start creating it now?

I think creating the future of our own will be great if we jot them down. Things like goals, resolutions, dreams, target, vision, and all the like are better written down. So let’s DO it! 🙂

Have a blessed Friday Guys!

mysignaturee