Belajar dulu, Belajar lagi, Belajar terus

“Mereka yang berhenti belajar akan punah layaknya Dinosaurus.”

-Arasyid Harman- 

Tak ada waktu yang sia-sia bagi setiap insan yang haus akan Ilmu Pengetahuan. Setiap saat mereka sibuk memperbaiki diri yang dimulai dengan memperkaya wawasan keilmuan mereka dengan belajar, belajar, dan belajar.

Yap. Itulah ciri para cendekiawan yang mungkin dianggap aneh oleh kebanyakan   sebagian orang.  Apakah mereka itu manusia yang memang aneh dari sononya? Ah tidak. Dan memang gak ada yang aneh dengan orang-orang yang menghabiskan waktunya dengan belajar kan? Justru yang aneh adalah mereka yang sibuk menghabiskan waktunya untuk mengomentari dan menilai (layaknya hakim) kehidupan orang lain dan luput untuk menilai dan memperbaiki diri mereka sendiri dengan terus belajar.

Belajar sejatinya adalah sebuah kebutuhan. Layaknya tubuh yang membutuhkan makanan untuk kelangsungan organ-organ yang membentuk dan menyusunnya. Belajar dalam arti yang lebih luas adalah menjaga akal agar tidak keriput lalu mati dimakan waktu dan kemajuan peradaban.

Setiap saat kita butuh belajar. Karena setiap saat Ilmu yang ada di dunia ini terus berubah dan berkembang seiring dengan kemajuan pemikiran umat manusia. Adalah sebuah kebodohan yang nyata bagi siapa pun yang malas dan berpikir bahwa belajar itu hanyalah kegiatan yang membuang-buang waktu. Adalah sebuah kemunduran yang nyata bagi siapa saja yang menganggap belajar itu cukup di bangku sekolah saja. Setelah tamat sekolah, belajar itu gak penting, yang penting itu bekerja dan dapat uang.

Ini adalah sebuah pandangan atau pemikiran yang berbahaya dan mematikan. Jangan sampai kita punya pandangan atau pemikiran yang seperti ini ya.

Karena sesungguhnya belajar itu adalah salah satu kewajiban yang diperintahkan langsung oleh sang Pencipta. Kita diperintahkan untuk membaca. Dan membaca ini adalah salah satu cara kita untuk belajar.

Dan belajar itu memang membutuhkan sebuah kesabaran. Kesabaran yang tinggi. Kalau kita gak sabar, ya susah. Sabar adalah salah satu kunci untuk menguasai Ilmu Pengetahuan. Tanpanya, tak akan ada Ilmuwan yang akan berhasil menciptakan berbagai kemajuan dalam segala bidang kehidupan kita saat ini.

Mungkin kita tak akan menikmati cahaya lampu di malam hari jika Thomas Alfa Edison gak sabar dan langsung menyerah saat belajar merangkai dan membuat rangkaian percobaan demi percobaan hingga ia akhirnya berhasil menemukan bohlam lampu listrik yang semua manusia di planet ini merasakan manfaatnya.

Mungkin kita tak akan (pernah) merasakan terbang di udara jika Wright bersaudara gak sabar dalam belajar hingga mereka akhirnya berhasil menciptakan pesawat terbang yang hingga saat ini menjadi salah satu sarana transportasi udara yang memungkinkan kita berpindah dari satu kota ke kota lain atau dari satu Negara ke Negara lain dalam waktu yang cepat.

Dua penemuan luar biasa ini hanyalah sebagian kecil contoh yang merupakan produk dari kemajuan pikiran manusia karena proses belajar yang tak pernah berhenti.

Ada sebuah nasehat dari Imam Syafii yang sangat membumi. Nasehat ini ditujukan kepada kita semua yang mulai merasa bahwa belajar itu gak penting atau belajar itu buang-buang waktu.

Berikut nasehat sang Imam,

“Jika kamu tak tahan lelahnya belajar, maka kamu harus menahan perihnya kebodohan.”

Benar sekali kan? Bahkan menurut saya bukan hanya perihnya kebodohan, tapi juga gelapnya dunia. Gelap dalam artian kemunduran peradaban umat manusia. Kehidupan kita gak akan maju dan berkembang. Mungkin gak akan ada yang namanya teknologi kalau sekiranya semua Ilmuwan itu berhenti belajar.

Akhir kata, kita harus belajar dulu, belajar lagi, dan belajar terus. Bukan untuk mengalahkan yang lain, tapi untuk mengalahkan diri kita sendiri. Dari apa? Dari perihnya kebodohan.

 

Semangat Belajar di akhir pekan ya 🙂

 

 

Salam,

 

Arasyid Harman  

 

Kabar gembira untuk kita semua

 

Assalam a’laikum…

Apa kabar?

Semoga sehat selalu ya. 🙂

Selamat Tahun Baru Islam 1438 H. Yeah! Hari ini kita, umat Islam di seluruh dunia memasuki tahun baru Hijriyah. Alhamdulillah…

Semoga di tahun baru Hijriyah kali ini kita semua senantiasa bersyukur atas semua nikmat yang dilimpahkan oleh Allah swt dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Saya ingin berbagi kabar gembira nih buat teman-teman dan pembaca sekalian. Judulnya kayak penggalan lagu di salah satu iklan TV ya? hehe.. “Kabar gembira untuk kita semua… kini …. sudah ada …..” Yang sering nongkrong depan TV pasti dah hapal ni lirik. Hahaha 😀

Ok. Kembali ke leptop!

Kabar gembiranya sebenarnya sangat sederhana. Tapi ada keindahan dan harapan di balik kabar gembira yang akan saya share ini.

Jadi kabarnya, beberapa waktu yang lalu saya memperoleh sebuah ‘siraman’ rohani dari seorang kawan (tepatnya senior saya di kampus putih) yang ia share di grup WA. Siraman tersebut berupa petikan Hadits Qudsi yang Subhanallah banget. Pokoknya cakep bener dah ini Hadits!

Saya baca berulang-ulang, kok keren ya? Batin saya saat pertama kali membacanya. Lantas, karena penasaran saya Japri deh si Senior ini. Saya ingin menanyakan langsung darimana sumber Hadits Qudsi tersebut. Jawabannya kurang memuaskan. Ia kagak tau juga. Rupanya ia memperolehnya dari grup sebelah. Gitu katanya. Hmm..

Baiklah. Gak apa-apa. Nanti akan saya cari tahu. Insha Allah ini Hadits Qudsi shahih dan benar adanya. Aamiiin.

Seperti apa Haditsnya? Yuk dibaca pelan-pelan ya.

Apa?? pelan-pelan?? Iyaah…kan pelan-pelan itu lebih asyik.hehe.. 😀

 

“Wahai anak Adam, janganlah engkau takut kepada pemilik Kekuasaan. Selama Kekuasaan-Ku masih ada, Kekuasaan-Ku tidak akan sirna selamanya.

Wahai anak Adam, janganlah engkau cemaskan sempitnya rezeki, selama perbendaharaan-Ku masih ada, dan perbendaharaan-Ku tidak akan habis selamanya.

Wahai anak Adam, janganlah meminta kepada selain Aku. Sementara engkau memiliki Aku. Jika engkau mencari-Ku, engkau akan menemukan Aku. Dan jika engkau kehilangan Aku, maka engkau kehilangan seluruh kebaikan.

Wahai anak Adam, Aku ciptakan engkau untuk beribadah. Maka janganlah engkau bermain-main. Dan Aku telah tetapkan bagimu rezekimu, maka jangan penatkan ragamu. Jika engkau ridha terhadap pembagian-Ku, maka akan Aku tenangkan jiwa dan ragamu, dan engkau menjadi orang terpandang di sisi-Ku. Dan jika engkau tidak ridha terhadap pembagian-Ku, maka demi Kemuliaan dan Keperkasaan-Ku, sungguh akan Aku bebankan engkau dengan dunia, engkau terseok-seok laksana hewan melata di permukaan bumi, kemudian engkau tidak akan mendapatkan apa-apa selain yang telah aku tetapkan, dan engkau menjadi orang tercela di sisi-Ku.

Wahai anak Adam, Aku ciptakan tujuh langit dan tujuh bumi, dan Aku tidak berat menciptakan itu semua. Lantas apa beratnya bagi-Ku menyediakan roti (makanan) untuk hidupmu?

Wahai anak Adam, Aku tidak lupa kepada orang yang telah bermaksiat kepada-Ku. Lantas bagaimana mungkin Aku lupa kepada mereka yang taat kepada-Ku? Sedangkan Aku adalah Tuhan Yang Maha Pengasih dan berkuasa atas segala sesuatu.

Wahai anak Adam, janganlah engkau meminta kepada-Ku rezekimu esok hari, sebagaimana Aku tidak menyuruhmu untuk melakukan pekerjaan esok hari.

Wahai anak Adam, Aku sungguh mencintaimu. Maka demi hak-Ku di atasmu, jadilah engkau orang yang cinta kepada-Ku.”

 

***

Subhanallah banget kan? Speechless dah. Rasanya Allah swt seperti sedang ‘berbicara’ langsung dengan kita ya. Adem dan enak banget rasanya. Ini adalah ‘cahaya’ lain yang saya temukan. Setahun yang lalu saya juga menemukan tiga ‘cahaya’ berupa Hadits Qudsi. Masha Allah…

Kembali ke persoalan sumber dari Hadits Qudsi ini, sekiranya ada diantara teman-teman dan pembaca yang mengetahui sumbernya (siapa yang meriwayatkan) atau memiliki kitab dimana Hadits ini berada, tolong di-share disini ya. Tepatnya di kolom komentar dibawah.

Mudah-mudahan kabar gembira ini menjadi penyemangat di tahun baru Hijriyah yang jatuh hari ini. Semoga energi positif dari Hadits Qudsi ini terus menemani kita semua dalam perjalanan mengisi hari-hari di tahun 1438 H.

Sekali lagi, Selamat Tahun Baru Islam 1438 H. Semoga kebaikan dan keberkahan senantiasa menyertai seluruh umat Islam di seluruh penjuru Dunia. Aamiiiin.

 

Bumi Nyiur Melambai, 1 Muharram 1438 H

Wassalam a’laikum…

 

Arasyid Harman

Bukan Motivator Biasa

Kalau ditanya siapa Motivator favorit saya, sulit rasanya untuk menyebutkan satu nama saja. Ada begitu banyak Motivator baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri yang menjadi favorit saya. Alasannya cukup sederhana, karena saya terlanjur mengenal mereka lewat pemikiran, gagasan, dan semangat yang tersebar lewat karya-karya mereka baik dalam bentuk buku, DVD, seminar dan pelatihan maupun lewat akun sosial media yang saat ini bisa dengan mudah kita ikuti.

Namun, jika ‘dipaksa’ untuk menyebutkan satu nama dari sekian banyak motivator favorit di Indonesia, maka dengan keras saya akan menyebutkan nama ini : Ippho Santosa! Yeeeahhh! 😀

Ippho Santosa? Ada yang belum mengenal beliau? Kebangetan kalau belum kenal! Saya anggap teman-teman udah tau lah atau setidaknya pernah dengar namanya atau mungkin pernah baca buku-buku karyanya.

Yup. Ippho Santosa. Secara pribadi saya mengagumi beliau, lebih-lebih karya-karyanya yang penuh inspirasi dan membawa perubahan besar bagi siapa saja yang membaca dan mempraktekkannya. Maka tak berlebihan jika saya mengatakan he is one of the best motivators in the World. Iya di dunia. Karena memang beliau juga telah memberikan motivasi melalui seminar di beberapa Negara yang tersebar di 4 benua. Sebuah bukti bahwa ia bukanlah motivator biasa aka abal-abal. hehe.

Setahu saya (mohon dikoreksi jika keliru), dialah satu-satunya motivator Indonesia (hingga hari ini) yang karya dan seminar motivasinya bisa Go International hingga ke 4 benua.

Salah satu buku karyanya yakni 13 Wasiat Terlarang: Dahsyat dengan otak kanan bahkan masuk rekor MURI. Tak hanya itu, hampir semua buku karyanya juga masuk dalam deretan Best Seller di toko-toko buku tanah air.

Mas Ippho Santosa tak hanya berbagi motivasi dan inspirasi lewat buku, ia juga berbagi lewat seminar dan berbagai media sosial seperti facebook, twitter, instagram, whatssApp dan Telegram. Dan semua akun sosial medianya sarat Ilmu. Ilmu yang ia share juga selalu up-to-date, research-based, dan yang pasti mudah dipahami dan dipraktekkan. Tak heran, followers-nya mencapai ribuan bahkan ratusan ribu dan terus bertambah.

Terkait pelatihan dan seminar motivasi, sudah banyak sekali peserta seminar yang mengikuti seminar-seminarnya dan merasakan keajaiban dalam berbagai aspek kehidupan. Tak terkecuali saya pribadi. 🙂

Saya menyukai buku-buku motivasi juga seminar/training motivasi karena saya ingin selalu bersemangat dalam menjalani setiap aktivitas dalam kehidupan sehari-hari. Dan ketika saya membaca buku atau mengikuti seminar/training motivasi semangat hidup saya terus meningkat yang membuat saya lebih produktif. Ibarat baterai HP yang sedang nge-drop, ketika mengikuti seminar motivasi saya mengisi kembali daya ‘baterai’ dalam diri saya yang sedang lemah.

Memang yang namanya semangat itu selalu naik-turun, oleh sebab itulah kita butuh motivasi setiap hari. Bagi saya membaca buku motivasi belumlah cukup. Harus diikuti dengan pelatihan atau seminar motivasi. Karena saat berada dalam satu ruangan dimana kita bertatapan langsung dengan sang motivator, aura aka energi positifnya jauh lebih dahsyat ketimbang hanya membaca buku.

Selain itu, saat mengikuti seminar motivasi saya belajar Ilmu baru yang tak ditemukan di buku-buku motivasi. Menurut saya, seminar atau training motivasi adalah penyempurna dari buku motivasi yang kita baca. Karena apa yang disampaikan di seminar/training belum tentu ada di dalam buku. Singkatnya, dua-duanya penting dan saling melengkapi.

Kembali ke soal motivator favorit, bagi saya pribadi, Mas Ippho Santosa bukanlah sekedar seorang motivator. Ia juga adalah guru kehidupan. Karena saya belajar banyak dari kisah perjuangan beliau semasa ia hidup di perantauan sebagai seorang pelajar, jauh dari keluarga tercinta demi menimba Ilmu. Semangat juang inilah yang menginspirasi saya untuk lebih bersungguh-sungguh dalam belajar.

Saya selalu kagum dengan gaya bertuturnya baik melalui lisan maupun tulisan. Benar-benar out of the box! Misalnya nih, “Jangan bermalasan dan beralasan!”, “Kaya atau belum kaya, tetaplah ber-mental kaya.”, “Orang hebat itu mau mengajar. Yang lebih hebat lagi, masih mau belajar.” dan masih banyak lagi.

Lebih jauh dari itu, ia juga sering berbagi kisah inspiratif. Dari beberapa kisah yang ia bagikan, ada satu kisah yang luar biasa dalam kehidupan Mas Ippho, dimana ia selalu merinding saat menceritakan kisah ini di berbagai forum seminar motivasi yang sedang ia selenggarakan. Dan, ya, saya pribadi juga ikut merinding saat ia menceritakan kisah tersebut. Apa kisahnya? Cukup panjang kalau saya tulis secara detail. Tapi, izinkan saya mempersingkatnya.

Kisah tersebut adalah kisah seorang bapak-bapak yang memiliki empat orang anak. Ia bekerja di sebuah Perusahaan selama 12 tahun lebih untuk menafkahi keluarganya. Sepanjang karirnya, si Bapak ini gak neko-neko alias lurus-lurus saja dalam bekerja. Ia bekerja dengan baik dan jujur. Tak seperti beberapa karyawan lainnya yang tidak amanah selama bekerja. Suka mengambil barang-barang kantor tanpa izin dari atasan.

Singkat cerita, si Bapak meninggal dunia. Selama 12 tahun lebih bekerja, banyak yang beranggapan ia gak dapat apa-apa. Karena kehidupan keluarganya ya begitu-begitu saja, tetap miskin. Kasian. Begitu komentar para rekan kerjanya. Mungkin ada yang bertanya dimana keadilan Tuhan? Tunggu dulu, kisahnya belum selesai.

Ke-empat orang anak dari si Bapak tadi terus berjuang sepeninggalnya. Ada yang bekerja, dan ada juga yang berbisnis. Dan beberapa tahun kemudian, salah satu anak dari bapak tersebut diliput oleh salah satu media Nasional dan tercatat sebagai salah satu dari 24 tokoh berpengaruh di Indonesia versi RCTI. Ia juga memiliki puluhan cabang Bisnis dan menjadi salah satu pembicara Nasional di berbagai forum. Karya-karyanya juga penuh inspirasi yang mengubah kehidupan banyak orang.

Siapakah anak tersebut? Dialah Ippho Santosa. Yup, dan si Bapak tadi tak lain dan tak bukan adalah Ayah kandung dari Mas Ippho Santosa. Sebuah kisah nyata kehidupan beliau yang mengajarkan kepada kita bahwa sekecil apa pun benih kebaikan yang kita tanam, pasti akan berbuah di kemudian hari. Ayah Mas Ippho memang tidak memetik kebaikan yang ia tanam selama ia bekerja di Perusahaan sebagai ladang amal jariyah baginya untuk menafkahi kehidupan diri dan keluarganya. Namun, benih kebaikan itu kemudian berbuah dan dipetik oleh anak-anaknya.

Setiap kali Mas Ippho menceritakan kisah ini, saya bisa melihat dan merasakan rasa bangganya memiliki seorang Ayah yang hebat dalam kesederhanaan dan kejujuran dalam menjalani kehidupan. Sosok yang sangat berpengaruh dalam perjalanan hidupnya. Dan saya yakin, salah satu hal inilah yang membuat ia menjadi seperti sekarang. Ya, Ippho Santosa bukanlah Motivator biasa. 🙂

Untuk teman-teman yang ingin mengenal Mas Ippho lebih jauh dan lebih dalam, bisa langsung klik link ini:  http://ippho.com/motivator-indonesia-motivator-terbaik-motivator-bisnis

Okay, udah dulu ya sharingnya. Semoga bermanfaat.

Salam Hangat dan Selamat berakhir pekan.

Arasyid Harman

 

 

Jembatan Selat Lembeh

Salah satu indikator kemajuan suatu Negara adalah tersedianya sarana/infrastruktur yang baik yang menunjang segala aktivitas warganya. Pembangunan Infrastruktur yang baik, modern dan berkelanjutan menjadi sebuah keniscayaan bagi kemajuan setiap wilayah perkotaan dan pedesaan yang ada di setiap Negara di dunia. Tak terkecuali di Indonesia.

Indonesia adalah Negara berkembang yang terus menerus melakukan percepatan dalam pembangunan infrastruktur. Setiap daerah di Indonesia terus melakukan inovasi dan percepatan pembangunan infrastruktur untuk menunjang dan memudahkan segala kegiatan warganya.

Salah satu daerah di Indonesia yang terus melakukan pembangunan infrastruktur adalah Kota Bitung, Kota industri yang berada di Provinsi Sulawesi Utara.

Sebagai warga Kota Bitung, penulis melihat pembangunan yang ada di Kota Bitung masih perlu ditingkatkan lagi. Khususnya dalam hal sarana transportasi Jembatan dan Dermaga penyeberangan menuju Pulau Lembeh yang juga merupakan salah satu wilayah Administratif Kota Bitung.

Pulau Lembeh adalah pulau yang menyimpan sejuta pesona wisata bahari dan merupakan salah satu tujuan favorit wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Selain itu, selat lembeh adalah surga bagi para penyelam dan pecinta fotografi bawah laut. Karena kekayaan dan keunikan biota bawah lautnya, para penyelam dan pecinta underwater photography dari berbagai Negara menjulukinya sebagai “The Mecca of Divers” atau Kiblatnya para penyelam dan kiblatnya para underwater macro photography enthusiasts.

Untuk menuju ke Pulau Lembeh, kita bisa melalui Pelabuhan Penyeberangan Feri dan Dermaga Ruko Pateten. Dua titik penyeberangan inilah yang selama ini menjadi sarana transportasi yang digunakan oleh para wisatawan dan masyarakat Kota Bitung yang akan menuju ke Pulau Lembeh dan sebaliknya.

Berdasarkan pengamatan penulis di lapangan, belum ada Jembatan penyeberangan yang menghubungkan Kota Bitung dengan Pulau Lembeh. Padahal, jembatan adalah salah satu infrastruktur transportasi yang penting. Dengan adanya jembatan penyeberangan yang menghubungkan Kota Bitung dan Pulau Lembeh akan memudahkan mobilitas warga, barang, dan kendaraan bermotor.

Selama ini warga menggunakan dua transportasi laut yakni kapal Feri dan perahu motor (Kapal Taxi yang dikelola secara mandiri oleh warga setempat). Kapal Feri juga terbatas jam operasionalnya. Hanya melayani dari jam 07:00 pagi hingga jam 15:00 Wita. Hal ini dikeluhkan oleh Masyarakat, karena banyak masyarakat Pulau Lembeh yang bekerja di Kota Bitung dengan membawa kendaraan pribadi, dan sebaliknya. Selain itu, jumlah armada kapal Feri hanya ada satu yang beroperasi setiap harinya.

Sementara itu, moda transportasi perahu motor yang terletak di Dermaga Ruko Pateten menurut pengamatan dan pengalaman penulis juga kurang efisien dan bahkan tidak aman. Meskipun begitu, banyak warga yang menggunakan jasa perahu motor ini. Tidak aman karena setiap sopir dari Perahu Motor juga menerima muatan kendaraan bermotor roda dua untuk diangkut di atas atap perahu. Hal ini tak jarang menjadi faktor terjadinya kecelakaan saat dalam perjalanan menyeberang dikarenakan kelebihan muatan.

Tidak adanya jaminan (asuransi) kecelakaan terhadap jiwa dan barang milik penumpang yang diangkut menggunakan perahu motor (kapal taxi), jelas sangat merugikan warga yang menggunakan jasa perahu motor yang dikelola secara mandiri oleh warga setempat. Selain itu, dari segi keamanan juga tidak tersedia fasilitas pelampung di dalam perahu yang berpotensi membahayakan keselamatan jiwa penumpang jika terjadi kecelakaan (perahu tenggelam) karena gelombang air laut yang tinggi atau kelebihan muatan.

 

Suasana di Dermaga Penyeberangan Ruko Pateten. Foto : Dok. Pribadi

Suasana di Dermaga Penyeberangan Ruko Pateten. Foto : Dok. Pribadi

 

IMG_0560

Suasana di Dermaga Penyeberangan Ruko Pateten. Foto : Dok. Pribadi

 

IMG_4936

Para penumpang sedang menunggu keberangkatan perahu motor yang mereka tumpangi. Foto : Dok. Pribadi

 

IMG_7944

Suasana di dalam perahu motor (Kapal Taxi). Tak ada pelampung yang disediakan untuk keselamatan penumpang. Foto : Dok. Pribadi

 

 

IMG_6298

Salah satu Perahu motor yang sedang antri, menunggu penumpang yang akan berangkat ke Pulau Lembeh. Foto : Dok. Pribadi

 

IMG_0563

Pemandangan perahu motor yang telah berangkat menuju ke Pulau Lembeh. Foto : Dok. Pribadi

 

IMG_0564

Perahu Motor yang berangkat dengan muatan penuh. Jelas terlihat, di atas atap perahu juga disesaki penumpang dan kendaraan motor roda dua. Tidak aman bagi keselamatan penumpang. Foto : Dok. Pribadi

 

Kapal Feri yang melayani penyeberangan Kendaraan bermotor dari Pelabuhan Bitung ke Dermaga Papusungan, Pulau Lembeh. Foto : Dok. Pribadi

Kapal Feri yang melayani penyeberangan Kendaraan bermotor dari Pelabuhan Bitung ke Dermaga Papusungan, Pulau Lembeh. Foto : Dok. Pribadi

 

Meskipun lambat, tetapi aman dan nyaman. Kapal Feri yang dikelola oleh PT. Pelindo IV beroperasi setiap hari. Foto : Dok. Pribadi

Meskipun lambat, tetapi aman dan nyaman. Kapal Feri yang dikelola oleh PT. Pelindo IV beroperasi setiap hari. Foto : Dok. Pribadi

 

Setelah melakukan pengamatan dan wawancara dengan beberapa warga dan penumpang yang berada di Pelabuhan dan Dermaga penyeberangan Ruko Pateten, mereka sangat menginginkan adanya jembatan penyeberangan yang menghubungkan Kota Bitung dengan Pulau Lembeh. Karena dengan adanya jembatan penyeberangan, mereka akan lebih mudah dalam melakukan mobilitas dan aktivitas sehari-hari.

Sebagai bagian dari masyarakat Kota Bitung, penulis sendiri juga mengharapkan hal yang sama. Adanya infrastruktur jembatan yang menghubungkan Kota Bitung dengan Pulau Lembeh akan memberikan multiplay effects di berbagai bidang.

1.) Dengan adanya jembatan, distribusi barang dari Kota Bitung ke Pulau Lembeh dan sebaliknya akan semakin cepat. Hal ini akan mendorong laju perputaran roda perekonomian di Kota Bitung.

2.) Jumlah wisatawan baik lokal maupun mancanegara akan meningkat karena akses menuju Pulau Lembeh akan semakin mudah dan murah. Mereka tidak harus antri di dermaga menunggu jam keberangkatan perahu motor dan kapal Feri yang jam operasionalnya terbatas.

3.) Investor baru akan berdatangan menanamkan modal mereka di Kota Bitung, khususnya di Bidang Pariwisata. Sebagaimana yang kita ketahui bersama, salah satu faktor yang menentukan Investor mau berinvestasi di suatu daerah adalah ketersediaan sarana/infrastruktur yang baik dan menunjang kegiatan bisnis dan investasi mereka.

4.) Jembatan penghubung Kota Bitung dan Pulau Lembeh akan menjadi ikon baru Kota Bitung yang bisa menjadi salah satu magnet para Turis yang ingin berwisata di Kota Bitung pada umumnya, dan pulau Lembeh pada khususnya.

5.) Masyarakat Kota Bitung dan Pulau Lembeh akan lebih meningkat produktivitasnya karena adanya Jembatan Selat Lembeh  memudahkan mobilitas mereka dalam melakukan berbagai kegiatan ekonomi.

 

Sebagai studi banding, penulis mengusulkan konsep atau model Jembatan Selat Lembeh mengikuti model atau konsep Sydney Harbour Bridge di Sydney, Australia. Jembatan Sydney Harbour adalah jembatan yang menghubungkan distrik pusat bisnis dengan wilayah Utara Sydney. Jembatan ini juga menjadi ikon bagi kota Sydney dan juga Australia bersama dengan Gedung Opera Sydney yang tersohor di seantaro dunia itu.

Dalam hal ini, Pemerintah Australia berhasil membangun infrastruktur yang maju, modern, serta berkelanjutan bagi warga masyarakat Sydney dan Australia pada umumnya. Hal tersebut berdampak pada kunjungan wisatawan yang tinggi setiap tahunnya yang secara langsung meningkatkan pertumbuhan ekonomi khususnya dalam bidang pariwisata. Dan tentunya, yang paling merasakan dampak dari adanya infrastruktur jembatan tersebut adalah warga masyarakat Australia, khususnya warga kota Sydney dimana mobilitas dan aktivitas mereka berjalan dengan efektif dan efisien.

 

 

 

Sydney Harbour Bridge from the air. Sumber : https://en.wikipedia.org/wiki/Sydney_Harbour_Bridge

Sydney Harbour Bridge from the air. Source : https://en.wikipedia.org/wiki/Sydney_Harbour_Bridge

 

Harapan penulis dan warga Kota Bitung pada umumnya, Pemerintah baik Pusat maupun Daerah bisa menerapkan konsep “ATM” (Amati, Tiru, Modifikasi) terhadap apa yang telah dilakukan oleh Pemerintah Australia  dalam inovasi pembangunan dan pengembangan infrastruktur jembatan dan juga Pelabuhan Sydney Harbour.

Adapun gambaran (blue-print) sederhana pembangunan infrastruktur Jembatan Selat Lembeh yang penulis bayangkan akan terwujud di masa depan adalah seperti terlihat dalam foto di bawah ini.

 

BEFORE - Plan of Lembeh Strait Bridge. Foto : Dok. Pribadi

BEFORE – Selat Lembeh yang indah dan menyimpan potensi Pariwisata Bahari kelas Dunia. Foto : Dok. Pribadi

 

AFTER - Plan of Lembeh Strait Bridge. Foto : Dok. Pribadi

AFTER – Plan of Lembeh Strait Bridge. Foto dan Desain Jembatan : Dok. Pribadi

 

Sebuah ide besar ini semoga bisa menjadi pertimbangan bagi Pemerintah baik Pusat maupun Daerah. Tentunya, perlu dilakukan berbagai riset dan studi lebih lanjut sebelum pembangunan Jembatan Selat Lembeh ini direalisasikan.

Penulis yakin, dengan adanya inovasi pembangunan infrastruktur berkelanjutan akan mendorong dan meningkatkan laju perekonomian suatu daerah, dalam hal ini Kota Bitung. Jika Australia memiliki Sydney Harbour Bridge, maka nantinya Indonesia akan memiliki Lembeh Strait Bridge yang akan menjadi ikon Kota Bitung yang juga merupakan Kawasan Ekonomi Khusus di Ujung Utara Indonesia.

Semoga.

 

 

 

Binatang Kesayangan

Salam a’laikum!

Selamat berakhir minggu di awal bulan November ya. November ceria, kata orang-orang sih gitu. Semoga selalu ceria ya. Yang penting kan itu. Mau November, Desember, Oktober, September dan ber-ber lainnya, kita wajib ceria. Setuju??

Siiip.

Anyway, teman-teman ada yang punya binatang peliharaan? Pasti punya dong. Yang gak punya, kok bisa? Gak suka melihara binatang ya?
Saya sendiri melihara kucing. Sejak kecil udah suka banget melihara hewan imut-imut (gak kayak marmut) ini. Sampe sekarang, kalo enggak ada kucing di rumah rasanya kayak ada yang kurang. Kenapa suka? Ya suka aja. Dari semua hewan peliharaan, cuma kucing yang selalu melekat di hati. Duuhh bahasanya.. hahaha.

Iya. Selain karena level keimutannya yang overload, saya suka kucing karena bisa diandalkan untuk ngusir tikus dari rumah. Meskipun kadang, si kucing juga takut untuk nangkep tikus karena tikusnya besar-besar. Hahaha.

Mungkin bisa dibilang ada faktor “turunan” dari keluarga. Karena keluarga saya dari dulu suka kucing. Di rumah pasti ada kucing. Selain itu, (Alm) Kakek saya adalah seorang figur penyayang binatang. Terutama kucing. Saya masih ingat, waktu kecil dulu, kakek selalu menyiapkan makanan untuk kucing-kucing peliharaannya. Saya suka mengamati, kakek tak segan melumatkan makanan di mulutnya, kemudian memberikannya kepada si kucing yang masih kecil.

Jenis apa kucingnya? Tenang, bukan jenis yang suka jadi model di iklan makanan kucing di tipi-tipi itu. Hanya kucing kampung. Saya pribadi lebih suka “adopsi” kucing kampung. Hahaha. Kenapa? Selain gak ribet meliharanya, kucing kampung juga gerakannya lebih gesit. Dan, lebih ekonomis juga (pastinya). hahaha. Untuk urusan perut khususnya. Gak perlu beli makanannya di toko. Mereka makan apa yang kita makan. Dikasi nasi, ya di lahap. Di kasi ikan? Apalagi. Hehe.

Tiga hari yang lalu, saya dan Ibu saya “menemukan” si Miwon. Terlantar, sebatang kara. Karena gak tega ngeliatnya, tanpa ba-bi-bu langsung kami bawa pulang. Pas di dekatin juga gak kabur. Berarti dia jinak. Ada kan, kucing yang kalo di deketin dikit langsung cao! Hahaha.

Pas nyampe rumah, kata Ibu namanya Madu. Haa Madu?? Saya gak setuju dong. Kucing kok namanya Madu. Aneh aja di telinga. Setelah muter otak beberapa detik, kata “Miwon” melintas di kepala. Jadilah namanya Miwon.hehe
Nah, di rumah sekarang saya punya tiga (kucing) jagoan. Jerry, Manis, dan Miwon. 3 Idiots versi Binatang. Hahaha.

Ada satu peristiwa yang mengharukan tentang kucing dalam keluarga saya. Tak lama sepeninggal (Alm) Kakek, sekitar setahun pasca meninggalnya, salah satu bibi saya bermimpi bertemu dengan kakek. Dalam mimpinya itu, bibi saya menanyakan kabar Kakek. Katanya ia baik-baik saja. Yang membuat saya dan keluarga terharu adalah jawaban kakek selanjutnya. Ia mengatakan bahwa kucing-kucing peliharaannya yang sering menolongnya di alam barzah/kubur.

Masya Allah, saya selalu mengingat mimpi yang dialami oleh bibi saya ini. Sampe sekarang. Walaupun kejadiannya sudah cukup lama. Sekitar tahun 1998 silam. Kakek wafat setahun sebelumnya. Sejak saat itu, kecintaan kami untuk memelihara kucing makin tinggi. Pokoknya wajib hukumnya dalam keluarga untuk memelihara kucing.

Terlepas dari hukum penafsiran “boleh-tidak” mempercayai mimpi yang dialami oleh bibi saya, saya meyakini bahwa mimpi itu benar adanya dalam perspektif kebenaran akan hukum balasan (baik atau buruk) yang akan dialami oleh semua manusia saat berada di alam kubur/barzah nanti. Dimana balasan itu adalah akibat dari apa yang dahulu ia kerjakan selama hidup di alam dunia. Dalam ajaran agama Islam hal ini adalah salah satu hal yang harus dan wajib kita imani dan yakini. Seperti yang termaktub dalam Al-Qur’an,

“Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarah (atom), niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah (atom), niscaya dia akan melihat balasannya.” {Q.S. Az-Zalzalah : 7-8}.

***

Kejadian yang dialami oleh bibi saya setidaknya mengajarkan dan mengingatkan saya dan keluarga (pada khususnya) dan tentunya kita semua (pada umumnya) bahwa saat kita berada di alam barzah/kubur nanti, kebaikan-kebaikan yang kita kerjakan selama hidup di dunia akan datang memberikan pertolongan. Sekecil apa pun itu. Saat kita akan dihukum oleh para Malaikat yang ditugaskan untuk mengintrogasi atau dalam bahasa kerennya “mengaudit” setiap amal perbuatan kita (baik dan buruk) dan kita terbukti bersalah. Maka saat akan dihukum itulah, amal kebaikan tadi yang akan datang menolong, dan meringankan siksaan yang akan kita terima.

Dalam contoh kasus (Alm) kakek saya, karena ia selama hidup di dunia sangat menyayangi binatang (baca: Kucing), maka saat ia berada di alam kubur, kucing-kucing peliharaannya-lah yang datang menolongnya dari siksaan. Ngeri ya, kalo gak ada yang menolong… ya Allah Nastagfirullahhal a’ziim.

Peristiwa yang dialami oleh bibi saya (dalam mimpinya) bertemu dengan (Alm) Kakek, adalah kabar gembira untuk keluarga besar saya. Dan mudah-mudahan juga menjadi kabar gembira untuk teman-teman yang saat ini sedang membaca tulisan ini. Bahwa, adalah penting bagi kita semua untuk menyayangi binatang. Apa pun jenis binatang itu. Karena bagaimana pun juga, mereka adalah makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki hak untuk kita sayangi dan lindungi.

Beberapa waktu lalu diberitakan di berbagai media tentang penganiayaan, penyiksaan, dan bahkan pembunuhan binatang yang dilakukan oleh mereka yang tak punya belas kasihan. Saya pribadi mencekam apa yang mereka lakukan! Parahnya lagi aksi biadab mereka itu dipamerkan di media sosial. Ya Allah…. tega banget!

Yang sampe bikin darah saya “mendidih” ada satu foto beberapa kucing yang sudah mati dibunuh oleh sang pelaku. Kemudian dia mengunduhnya di akun pribadi sosmed-nya dengan caption : “Hasil buruan hari ini”. Aaaaaarrrgghhh!!!! Pengen saya gorok rasanya itu orang!
Tega banget ya? BANGET!

Saya hanya bisa mengelus dada sambil berdo’a, mudah-mudahan orang-orang yang gak punya “hati” itu mendapat hukuman yang setimpal. Dan kalo sampe mereka gak tobat, saya yakin di alam barzah kelak mereka akan disiksa juga oleh binatang-binatang yang mereka siksa. Gak akan ada pertolongan! Yang ada hanyalah siksaan!
Ampun dah. Saya sampe gak habis pikir. Kok bisa ya? Itu kucing-kucing tak berdosa mereka bunuh. Ya Allahhh…. mudah-mudahan Engkau ampuni kesalahan mereka kalo mereka melakukannya karena kekhilafan semata. Tapi kalo sengaja, tanpa alasan yang masuk akal, maka please hukum mereka seberat-beratnya!

Melihat kejadian ini, saya jadi ingat dua kisah pada zaman Nabi yang disampaikan oleh guru ngaji saya waktu kecil dulu. Kisah ini juga sering diceritakan oleh Ibu saya. Kisah lengkapnya saya gak hafal betul. Yang jelas dulu dikisahkan ada seorang perempuan sholehah. Ia sangat taat beribadah. Namun ia memiliki sifat yang tidak terpuji. Ia mengurung seekor kucing dan tidak memberikannya makanan. Hingga kucing tersebut meninggal. Dan dikabarkan bahwa perempuan tersebut masuk Neraka. Hanya karena ia mengurung seekor kucing dan tidak memberinya makanan.

Kisah lainnya yang bertolak belakang dengan si perempuan sholehah ini adalah kisah tentang seorang pelacur dan seekor anjing yang kehausan. Si pelacur ini memberi minum anjing tersebut meskipun ia harus mengambilnya di dalam sumur dengan menggunakan sepatunya. Hanya memberi minum seekor anjing, si pelacur ini dikabarkan masuk Surga. SubhanAllah…

Betapa adilnya Allah SWT. Si perempuan yang sholehah, yang taat beribadah, justru masuk Neraka hanya karena mengurung seekor kucing. Sementara sang pelacur, yang berlumuran dosa dan maksiat, justru masuk Surga hanya karena memberi minum seekor anjing yang sedang kehausan.

Dua kisah ini adalah kisah yang selalu saya ingat. Karena mengajarkan sebuah hikmah yang mendalam akan pentingnya kasih-sayang terhadap semua makhluk ciptaan Tuhan. Kepada binatang aja balasannya kayak gitu, gimana kalo terhadap sesama manusia ya?

Gak kebayang, gimana balasan bagi mereka yang menyakiti dan melukai sesama? Apalagi sampai menghilangkan nyawa. Hiii… pasti serem juga tuh balasannya. Naudzubillahi minzalik yaaa.

Sebelum saya menutup tulisan ini, izinkan saya mengingatkan kembali (khususnya teman-teman yang seakidah dengan saya) bahwa menyayangi binatang adalah salah satu sunnah Nabi Muhammad SAW. Rasulullah SAW adalah seorang penyayang binatang. Dan kita tahu bersama bahwa kucing adalah binatang kesayangan Rasulullah SAW. Bahkan pada zamannya, ada salah satu sahabat Nabi yang diberi julukan sebagai “Bapaknya Kucing” karena saking banyaknya kucing yang ia pelihara.

Ya, dialah Abu Hurairah. Sosok sahabat Nabi yang saya kagumi dan ingin rasanya bertemu dengannya dan berguru tentang bagaimana cara memelihara kucing yang baik dan benar. Hehe.
InshAllah di akhirat kelak ya. Dan, tentu saja saya juga ingin sekali berjumpa dengan Rasulullah Muhammad SAW di akhirat nanti. Aamiiin ya Raab.

Dan, satu hal lagi, bagi teman-teman yang pernah berbuat kurang baik atau kurang sopan apalagi kurang ajar terhadap binatang (apa pun jenis binatang itu) segeralah minta ampun. Mudah-mudahan kesalahan yang pernah kita perbuat terhadap binatang diampuni oleh Allah SWT sehingga saat di alam barzah nanti, kita tak akan menerima balasan berupa siksaan.

Salam,
@arasyidharman

Faktor Pembeda

Salam a’laikum…

Beberapa hari yang lalu saya membaca tulisan    pengalaman salah satu Guru saya yang di re-post oleh seorang kawan di grup whatssApp. Entah kebetulan atau tidak, yang jelas momennya pas dengan apa yang (mungkin) saya butuhkan akhir-akhir ini. Sebuah friendly-reminder atau mungkin fresh-reminder. Entahlah, terlepas dari itu semua, pengalaman dari Guru saya tersebut sungguh menginspirasi dan pastinya (menurut yang saya rasakan) memiliki kekuatan yang “menggerakkan” setiap orang yang membacanya  untuk melakukan dua hal yang menjadi pembeda diri.

Cerita pengalaman Guru saya tersebut terjadi pada tahun 2012 silam. Cerita bermula saat ia berada dalam satu pesawat dari Jakarta menuju Surabaya dengan seseorang yang bernama Yadi Sudjatmiko.

Guru saya ngobrol dengan lelaki paruh baya ini, yang waktu itu akan menuju kota Malang setelah menempuh perjalanan panjang dari Oman. Ia bekerja di salah satu Perusahaan minyak disana. Sebulan sekali ia pulang ke Indonesia, berlibur satu bulan kemudian balik lagi ke Oman untuk bekerja. Jadi ia bekerja selama satu bulan, kemudian libur satu bulan.

Enak ya? masa liburnya sama dengan masa kerjanya. Diam-diam saya penasaran dimana Pak Yadi ini bekerja.

Namun, yang mengejutkan adalah latar belakang Pak Yadi ini yang (hanya) lulusan STM atau setara SMA, tetapi kini ia bekerja dengan bayaran besar mengalahkan sarjana teknik. Luar biasa. Kok bisa ya? seorang yang notabene (bukan maksud untuk menganggap remeh latar belakang pendidikan seseorang) hanyalah tamatan STM.

Bagaimana cerita masa lalunya? Guru saya terus mencari tahu bagaimana ceritanya Pak Yadi hingga bisa sukses berkarir di Negara orang dengan modal ijazah STM yang bagi kita sepertinya mustahil. Jangankan lulusan STM atau SMA/Sederajat, lulusan Perguruan Tinggi pun butuh perjuangan ekstra untuk bisa bekerja dan berkarir di luar Negeri apalagi di sebuah perusahaan raksasa yang bergerak di bidang Oil & Gas.

Setelah tamat dari STM, Pak Yadi melamar pekerjaan di Surabaya dan Jakarta. Namun usahanya waktu itu tak bertepuk dua tangan. Artinya ia belum berhasil memperoleh pekerjaan di dua kota tersebut. Yang ia peroleh hanya jawaban, “Kalau mau cari kerja ke Kalimantan sana, jangan di Kota besar.”

Akhirnya ia berangkat ke Kalimantan. Disana ia bekerja sebagai Room Boy di sebuah hotel kemudian berpindah sebagai supir.

Saat itu ia berpikir, “Ternyata ijazah STM itu tak ada artinya ya. Untuk bekerja di Perusahaan atau kantoran saya harus memiliki sesuatu yang berbeda yang tidak mereka miliki dan lakukan. Tapi apa ya?”

Setelah berusaha mencari apa yang menjadi faktor pembeda itu, akhirnya ia menemukannya. Ia mengatakan setidaknya ada dua hal yang menjadi faktor “P” tersebut. Rupanya salah satu faktor pembedanya bukanlah sesuatu yang asing bagi kita, umat Nabi Muhammad SAW. Yang pertama adalah bangun malam dua jam sebelum waktu Shubuh tiba. Terus ngapain?

Ngapain ya? Saya yakin teman-teman sudah paham apa yang dilakukan dan diamalkan oleh Pak Yadi. Yang pasti bangun malam bukan untuk nonton bola namun untuk beribadah dan berdo’a kepada  Yang Maha Kuasa. Yang kedua adalah selalu melayani orang. Pak Yadi dalam kesehariannya selalu berusaha untuk melayani orang sebaik-baiknya.

“Saya yakin sedikit Sarjana yang bangun malam dan Sarjana yang senang melayani orang. Saat bangun malam saya mohon ampun dan mohon pertolongan kepada Allah. Ditambah prakteknya siang hari, yakni melayani orang sebaik-baiknya.” Begitu tutur Pak Yadi kepada Guru saya.

Setelah mempraktekkan dua kebiasaan ini beberapa bulan, atas izin-Nya Pak Yadi diterima di sebuah Perusahaan minyak Total. Dan dengan ketekunannya, ia berhasil menguasai sebuah keterampilan yang jarang dikuasai orang, yaitu memasang alat-alat di dalam ‘perut’ bumi.

“Pekerjaan saya tidak terlihat tetapi gajinya sangat terlihat.” ujar Pak Yadi sambil tertawa.

Setelah berpenghasilan besar, ia tidak lupa untuk terus melayani orang lain, baik di lingkungan perusahaan tempat ia bekerja maupun di kampung halamannya. Untuk melayani masyarakat, gajinya sebagian ia sisihkan untuk membeli sapi yang ia kerjasamakan dengan para peternak di kampung halamannya dengan sistem bagi hasil.

“Saya punya pengalaman menarik. Saat saya baik sangka, menolong dan melayani peternak, saya mendapat balasan lebih besar. Waktu itu salah satu sapi saya mati. Peternaknya ketakutan dan berjanji akan menggantinya. Tapi saya katakan, tidak usah menggantinya, saya ikhlas. Saya pun memberinya lagi sapi untuk dipelihara.”

Dan, MashAllah sapi yang dipelihara sang peternak selalu melahirkan anak sapi kembar. SubhanAllah….

Guru saya saking asyiknya ngobrol, sampe lupa kalau pesawat yang mereka tumpangi telah mendarat di Bandara Juanda, Surabaya. Sebelum mereka berpisah, Pak Yadi menasehati Guru saya,

“Bangunlah setiap malam sebelum kebanyakan orang lain bangun. Layanilah orang lain tanpa berharap balasan. Gusti Allah ora sare (tidak tidur). Kalau anda melakukan itu, Allah-lah yang akan melayani keperluan Anda. Enak kan?”

Guru saya kehabisan kata-kata. Ia (hanya) tertegun menatapnya hingga lupa mengucapkan kata-kata yang sudah sepantasnya ia terima.

Saya, meskipun tak bertemu langsung dengan sosok Pak Yadi yang kisah suksesnya sungguh menginspirasi itu, tetap merasakan pancaran kesederhanaan yang dibalut cahaya iman yang kokoh kepada Allah SWT.

Terimakasih Pak Yadi, terimakasih Kek Jamil, karena telah menulis membagikan kisah ini kepada saya dan semua orang yang sempat membacanya. Mudah-mudahan bias-bias pahala dari semua pengalaman dan pengetahuan Kek Jamil, khususnya Pak Yadi juga mengalir kepada keluarga yang terkasih. Amiiin.

Akhir kata, semoga tulisan ini menjadi bahan renungan kita semua untuk juga mempraktekkan dua hal yang telah menjadikan Pak Yadi menjadi Pak Yadi seperti saat ini. Menjadi manusia yang ‘berbeda’. Kalau Pak Yadi bisa, kita pun (harusnya) bisa! Semua tergantung dari niat dan usaha kita masing-masing. Mau atau gak. Udah ada bukti hidup, lantas apalagi yang kita tunggu?

Yuk kita biasakan (lagi) untuk bangun malam/bangun lebih awal untuk mendirikan Qiyyamul Lail dan membiasakan diri untuk melayani sesama dengan ikhlas. Semoga Allah SWT meridhoi setiap apa yang kita kerjakan, dan memenuhi semua hal yang menjadi hajat kita. Amiiin.

Wassalam a’laikum and…

Stay Healthy, Stay Happy!

@arasyidharman

Be Grateful For The Things You Have

I’ve been seeing and listening to lots of people and sometimes friends of mine expressing their regrets, complaints, negative attitude about their lives. Even though they have almost everything they need in their life. Nice Clothes, money, cars, high-tech gadgets, and all these “Luxury-Stuff” are there around the corner.

Having seen all of this, I thought, “what’s wrong with these people?”. They have everything that most people out there are dying for; money, cars, good house, delicious food, etc. But they’re not happy enough with their life. Oh what a pity life!

It’s silly sometimes, when you find someone who are rich and wealthy but they seem unhappy with their life. They are rich outside but -sorry to say- poor inside.

The only thing I believe causing all this is the lack of gratefulness. Or maybe they don’t have it at all. Something that really matter when we deal with the feeling of happiness. Yes, being grateful is the answer.

Be grateful for all we have, no matter how big or small they are. It’s a (special) gift that God has given us all. Remember, out there there are people who aren’t as lucky as us. That’s why we should always be grateful everyday. It’s not easy though, but we can make it a habit.

When we wake up in the morning, thank God for the new life, fresh air, good health, and all things we have. And (it’s better) while we do this, we also remember those who are homeless, poor, and in a dangerous place, and somewhere out there that are struggling for their lives, and some who are taking their last breath in hospitals, those people in a conflict countries, children who lost their parents and relatives, and the list goes on.

Remember all.

I believe when we do this everyday, we’ll be a grateful-person for the rest of our life. In the long run, there’s no need to be sad. There’s always happiness deep down. Finally, we’ll live our life to the fullest and of course to the happiest! 😉

Have a peaceful best day and…

Stay Healthy, Stay Happy!

@arasyidharman