Jembatan Selat Lembeh

Salah satu indikator kemajuan suatu Negara adalah tersedianya sarana/infrastruktur yang baik yang menunjang segala aktivitas warganya. Pembangunan Infrastruktur yang baik, modern dan berkelanjutan menjadi sebuah keniscayaan bagi kemajuan setiap wilayah perkotaan dan pedesaan yang ada di setiap Negara di dunia. Tak terkecuali di Indonesia.

Indonesia adalah Negara berkembang yang terus menerus melakukan percepatan dalam pembangunan infrastruktur. Setiap daerah di Indonesia terus melakukan inovasi dan percepatan pembangunan infrastruktur untuk menunjang dan memudahkan segala kegiatan warganya.

Salah satu daerah di Indonesia yang terus melakukan pembangunan infrastruktur adalah Kota Bitung, Kota industri yang berada di Provinsi Sulawesi Utara.

Sebagai warga Kota Bitung, penulis melihat pembangunan yang ada di Kota Bitung masih perlu ditingkatkan lagi. Khususnya dalam hal sarana transportasi Jembatan dan Dermaga penyeberangan menuju Pulau Lembeh yang juga merupakan salah satu wilayah Administratif Kota Bitung.

Pulau Lembeh adalah pulau yang menyimpan sejuta pesona wisata bahari dan merupakan salah satu tujuan favorit wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Selain itu, selat lembeh adalah surga bagi para penyelam dan pecinta fotografi bawah laut. Karena kekayaan dan keunikan biota bawah lautnya, para penyelam dan pecinta underwater photography dari berbagai Negara menjulukinya sebagai “The Mecca of Divers” atau Kiblatnya para penyelam dan kiblatnya para underwater macro photography enthusiasts.

Untuk menuju ke Pulau Lembeh, kita bisa melalui Pelabuhan Penyeberangan Feri dan Dermaga Ruko Pateten. Dua titik penyeberangan inilah yang selama ini menjadi sarana transportasi yang digunakan oleh para wisatawan dan masyarakat Kota Bitung yang akan menuju ke Pulau Lembeh dan sebaliknya.

Berdasarkan pengamatan penulis di lapangan, belum ada Jembatan penyeberangan yang menghubungkan Kota Bitung dengan Pulau Lembeh. Padahal, jembatan adalah salah satu infrastruktur transportasi yang penting. Dengan adanya jembatan penyeberangan yang menghubungkan Kota Bitung dan Pulau Lembeh akan memudahkan mobilitas warga, barang, dan kendaraan bermotor.

Selama ini warga menggunakan dua transportasi laut yakni kapal Feri dan perahu motor (Kapal Taxi yang dikelola secara mandiri oleh warga setempat). Kapal Feri juga terbatas jam operasionalnya. Hanya melayani dari jam 07:00 pagi hingga jam 15:00 Wita. Hal ini dikeluhkan oleh Masyarakat, karena banyak masyarakat Pulau Lembeh yang bekerja di Kota Bitung dengan membawa kendaraan pribadi, dan sebaliknya. Selain itu, jumlah armada kapal Feri hanya ada satu yang beroperasi setiap harinya.

Sementara itu, moda transportasi perahu motor yang terletak di Dermaga Ruko Pateten menurut pengamatan dan pengalaman penulis juga kurang efisien dan bahkan tidak aman. Meskipun begitu, banyak warga yang menggunakan jasa perahu motor ini. Tidak aman karena setiap sopir dari Perahu Motor juga menerima muatan kendaraan bermotor roda dua untuk diangkut di atas atap perahu. Hal ini tak jarang menjadi faktor terjadinya kecelakaan saat dalam perjalanan menyeberang dikarenakan kelebihan muatan.

Tidak adanya jaminan (asuransi) kecelakaan terhadap jiwa dan barang milik penumpang yang diangkut menggunakan perahu motor (kapal taxi), jelas sangat merugikan warga yang menggunakan jasa perahu motor yang dikelola secara mandiri oleh warga setempat. Selain itu, dari segi keamanan juga tidak tersedia fasilitas pelampung di dalam perahu yang berpotensi membahayakan keselamatan jiwa penumpang jika terjadi kecelakaan (perahu tenggelam) karena gelombang air laut yang tinggi atau kelebihan muatan.

 

Suasana di Dermaga Penyeberangan Ruko Pateten. Foto : Dok. Pribadi

Suasana di Dermaga Penyeberangan Ruko Pateten. Foto : Dok. Pribadi

 

IMG_0560

Suasana di Dermaga Penyeberangan Ruko Pateten. Foto : Dok. Pribadi

 

IMG_4936

Para penumpang sedang menunggu keberangkatan perahu motor yang mereka tumpangi. Foto : Dok. Pribadi

 

IMG_7944

Suasana di dalam perahu motor (Kapal Taxi). Tak ada pelampung yang disediakan untuk keselamatan penumpang. Foto : Dok. Pribadi

 

 

IMG_6298

Salah satu Perahu motor yang sedang antri, menunggu penumpang yang akan berangkat ke Pulau Lembeh. Foto : Dok. Pribadi

 

IMG_0563

Pemandangan perahu motor yang telah berangkat menuju ke Pulau Lembeh. Foto : Dok. Pribadi

 

IMG_0564

Perahu Motor yang berangkat dengan muatan penuh. Jelas terlihat, di atas atap perahu juga disesaki penumpang dan kendaraan motor roda dua. Tidak aman bagi keselamatan penumpang. Foto : Dok. Pribadi

 

Kapal Feri yang melayani penyeberangan Kendaraan bermotor dari Pelabuhan Bitung ke Dermaga Papusungan, Pulau Lembeh. Foto : Dok. Pribadi

Kapal Feri yang melayani penyeberangan Kendaraan bermotor dari Pelabuhan Bitung ke Dermaga Papusungan, Pulau Lembeh. Foto : Dok. Pribadi

 

Meskipun lambat, tetapi aman dan nyaman. Kapal Feri yang dikelola oleh PT. Pelindo IV beroperasi setiap hari. Foto : Dok. Pribadi

Meskipun lambat, tetapi aman dan nyaman. Kapal Feri yang dikelola oleh PT. Pelindo IV beroperasi setiap hari. Foto : Dok. Pribadi

 

Setelah melakukan pengamatan dan wawancara dengan beberapa warga dan penumpang yang berada di Pelabuhan dan Dermaga penyeberangan Ruko Pateten, mereka sangat menginginkan adanya jembatan penyeberangan yang menghubungkan Kota Bitung dengan Pulau Lembeh. Karena dengan adanya jembatan penyeberangan, mereka akan lebih mudah dalam melakukan mobilitas dan aktivitas sehari-hari.

Sebagai bagian dari masyarakat Kota Bitung, penulis sendiri juga mengharapkan hal yang sama. Adanya infrastruktur jembatan yang menghubungkan Kota Bitung dengan Pulau Lembeh akan memberikan multiplay effects di berbagai bidang.

1.) Dengan adanya jembatan, distribusi barang dari Kota Bitung ke Pulau Lembeh dan sebaliknya akan semakin cepat. Hal ini akan mendorong laju perputaran roda perekonomian di Kota Bitung.

2.) Jumlah wisatawan baik lokal maupun mancanegara akan meningkat karena akses menuju Pulau Lembeh akan semakin mudah dan murah. Mereka tidak harus antri di dermaga menunggu jam keberangkatan perahu motor dan kapal Feri yang jam operasionalnya terbatas.

3.) Investor baru akan berdatangan menanamkan modal mereka di Kota Bitung, khususnya di Bidang Pariwisata. Sebagaimana yang kita ketahui bersama, salah satu faktor yang menentukan Investor mau berinvestasi di suatu daerah adalah ketersediaan sarana/infrastruktur yang baik dan menunjang kegiatan bisnis dan investasi mereka.

4.) Jembatan penghubung Kota Bitung dan Pulau Lembeh akan menjadi ikon baru Kota Bitung yang bisa menjadi salah satu magnet para Turis yang ingin berwisata di Kota Bitung pada umumnya, dan pulau Lembeh pada khususnya.

5.) Masyarakat Kota Bitung dan Pulau Lembeh akan lebih meningkat produktivitasnya karena adanya Jembatan Selat Lembeh  memudahkan mobilitas mereka dalam melakukan berbagai kegiatan ekonomi.

 

Sebagai studi banding, penulis mengusulkan konsep atau model Jembatan Selat Lembeh mengikuti model atau konsep Sydney Harbour Bridge di Sydney, Australia. Jembatan Sydney Harbour adalah jembatan yang menghubungkan distrik pusat bisnis dengan wilayah Utara Sydney. Jembatan ini juga menjadi ikon bagi kota Sydney dan juga Australia bersama dengan Gedung Opera Sydney yang tersohor di seantaro dunia itu.

Dalam hal ini, Pemerintah Australia berhasil membangun infrastruktur yang maju, modern, serta berkelanjutan bagi warga masyarakat Sydney dan Australia pada umumnya. Hal tersebut berdampak pada kunjungan wisatawan yang tinggi setiap tahunnya yang secara langsung meningkatkan pertumbuhan ekonomi khususnya dalam bidang pariwisata. Dan tentunya, yang paling merasakan dampak dari adanya infrastruktur jembatan tersebut adalah warga masyarakat Australia, khususnya warga kota Sydney dimana mobilitas dan aktivitas mereka berjalan dengan efektif dan efisien.

 

 

 

Sydney Harbour Bridge from the air. Sumber : https://en.wikipedia.org/wiki/Sydney_Harbour_Bridge

Sydney Harbour Bridge from the air. Source : https://en.wikipedia.org/wiki/Sydney_Harbour_Bridge

 

Harapan penulis dan warga Kota Bitung pada umumnya, Pemerintah baik Pusat maupun Daerah bisa menerapkan konsep “ATM” (Amati, Tiru, Modifikasi) terhadap apa yang telah dilakukan oleh Pemerintah Australia  dalam inovasi pembangunan dan pengembangan infrastruktur jembatan dan juga Pelabuhan Sydney Harbour.

Adapun gambaran (blue-print) sederhana pembangunan infrastruktur Jembatan Selat Lembeh yang penulis bayangkan akan terwujud di masa depan adalah seperti terlihat dalam foto di bawah ini.

 

BEFORE - Plan of Lembeh Strait Bridge. Foto : Dok. Pribadi

BEFORE – Selat Lembeh yang indah dan menyimpan potensi Pariwisata Bahari kelas Dunia. Foto : Dok. Pribadi

 

AFTER - Plan of Lembeh Strait Bridge. Foto : Dok. Pribadi

AFTER – Plan of Lembeh Strait Bridge. Foto dan Desain Jembatan : Dok. Pribadi

 

Sebuah ide besar ini semoga bisa menjadi pertimbangan bagi Pemerintah baik Pusat maupun Daerah. Tentunya, perlu dilakukan berbagai riset dan studi lebih lanjut sebelum pembangunan Jembatan Selat Lembeh ini direalisasikan.

Penulis yakin, dengan adanya inovasi pembangunan infrastruktur berkelanjutan akan mendorong dan meningkatkan laju perekonomian suatu daerah, dalam hal ini Kota Bitung. Jika Australia memiliki Sydney Harbour Bridge, maka nantinya Indonesia akan memiliki Lembeh Strait Bridge yang akan menjadi ikon Kota Bitung yang juga merupakan Kawasan Ekonomi Khusus di Ujung Utara Indonesia.

Semoga.

 

 

 

Advertisements

So what do you think? An angel smiles every time you leave a comment :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s