Binatang Kesayangan

Salam a’laikum!

Selamat berakhir minggu di awal bulan November ya. November ceria, kata orang-orang sih gitu. Semoga selalu ceria ya. Yang penting kan itu. Mau November, Desember, Oktober, September dan ber-ber lainnya, kita wajib ceria. Setuju??

Siiip.

Anyway, teman-teman ada yang punya binatang peliharaan? Pasti punya dong. Yang gak punya, kok bisa? Gak suka melihara binatang ya?
Saya sendiri melihara kucing. Sejak kecil udah suka banget melihara hewan imut-imut (gak kayak marmut) ini. Sampe sekarang, kalo enggak ada kucing di rumah rasanya kayak ada yang kurang. Kenapa suka? Ya suka aja. Dari semua hewan peliharaan, cuma kucing yang selalu melekat di hati. Duuhh bahasanya.. hahaha.

Iya. Selain karena level keimutannya yang overload, saya suka kucing karena bisa diandalkan untuk ngusir tikus dari rumah. Meskipun kadang, si kucing juga takut untuk nangkep tikus karena tikusnya besar-besar. Hahaha.

Mungkin bisa dibilang ada faktor “turunan” dari keluarga. Karena keluarga saya dari dulu suka kucing. Di rumah pasti ada kucing. Selain itu, (Alm) Kakek saya adalah seorang figur penyayang binatang. Terutama kucing. Saya masih ingat, waktu kecil dulu, kakek selalu menyiapkan makanan untuk kucing-kucing peliharaannya. Saya suka mengamati, kakek tak segan melumatkan makanan di mulutnya, kemudian memberikannya kepada si kucing yang masih kecil.

Jenis apa kucingnya? Tenang, bukan jenis yang suka jadi model di iklan makanan kucing di tipi-tipi itu. Hanya kucing kampung. Saya pribadi lebih suka “adopsi” kucing kampung. Hahaha. Kenapa? Selain gak ribet meliharanya, kucing kampung juga gerakannya lebih gesit. Dan, lebih ekonomis juga (pastinya). hahaha. Untuk urusan perut khususnya. Gak perlu beli makanannya di toko. Mereka makan apa yang kita makan. Dikasi nasi, ya di lahap. Di kasi ikan? Apalagi. Hehe.

Tiga hari yang lalu, saya dan Ibu saya “menemukan” si Miwon. Terlantar, sebatang kara. Karena gak tega ngeliatnya, tanpa ba-bi-bu langsung kami bawa pulang. Pas di dekatin juga gak kabur. Berarti dia jinak. Ada kan, kucing yang kalo di deketin dikit langsung cao! Hahaha.

Pas nyampe rumah, kata Ibu namanya Madu. Haa Madu?? Saya gak setuju dong. Kucing kok namanya Madu. Aneh aja di telinga. Setelah muter otak beberapa detik, kata “Miwon” melintas di kepala. Jadilah namanya Miwon.hehe
Nah, di rumah sekarang saya punya tiga (kucing) jagoan. Jerry, Manis, dan Miwon. 3 Idiots versi Binatang. Hahaha.

Ada satu peristiwa yang mengharukan tentang kucing dalam keluarga saya. Tak lama sepeninggal (Alm) Kakek, sekitar setahun pasca meninggalnya, salah satu bibi saya bermimpi bertemu dengan kakek. Dalam mimpinya itu, bibi saya menanyakan kabar Kakek. Katanya ia baik-baik saja. Yang membuat saya dan keluarga terharu adalah jawaban kakek selanjutnya. Ia mengatakan bahwa kucing-kucing peliharaannya yang sering menolongnya di alam barzah/kubur.

Masya Allah, saya selalu mengingat mimpi yang dialami oleh bibi saya ini. Sampe sekarang. Walaupun kejadiannya sudah cukup lama. Sekitar tahun 1998 silam. Kakek wafat setahun sebelumnya. Sejak saat itu, kecintaan kami untuk memelihara kucing makin tinggi. Pokoknya wajib hukumnya dalam keluarga untuk memelihara kucing.

Terlepas dari hukum penafsiran “boleh-tidak” mempercayai mimpi yang dialami oleh bibi saya, saya meyakini bahwa mimpi itu benar adanya dalam perspektif kebenaran akan hukum balasan (baik atau buruk) yang akan dialami oleh semua manusia saat berada di alam kubur/barzah nanti. Dimana balasan itu adalah akibat dari apa yang dahulu ia kerjakan selama hidup di alam dunia. Dalam ajaran agama Islam hal ini adalah salah satu hal yang harus dan wajib kita imani dan yakini. Seperti yang termaktub dalam Al-Qur’an,

“Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarah (atom), niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah (atom), niscaya dia akan melihat balasannya.” {Q.S. Az-Zalzalah : 7-8}.

***

Kejadian yang dialami oleh bibi saya setidaknya mengajarkan dan mengingatkan saya dan keluarga (pada khususnya) dan tentunya kita semua (pada umumnya) bahwa saat kita berada di alam barzah/kubur nanti, kebaikan-kebaikan yang kita kerjakan selama hidup di dunia akan datang memberikan pertolongan. Sekecil apa pun itu. Saat kita akan dihukum oleh para Malaikat yang ditugaskan untuk mengintrogasi atau dalam bahasa kerennya “mengaudit” setiap amal perbuatan kita (baik dan buruk) dan kita terbukti bersalah. Maka saat akan dihukum itulah, amal kebaikan tadi yang akan datang menolong, dan meringankan siksaan yang akan kita terima.

Dalam contoh kasus (Alm) kakek saya, karena ia selama hidup di dunia sangat menyayangi binatang (baca: Kucing), maka saat ia berada di alam kubur, kucing-kucing peliharaannya-lah yang datang menolongnya dari siksaan. Ngeri ya, kalo gak ada yang menolong… ya Allah Nastagfirullahhal a’ziim.

Peristiwa yang dialami oleh bibi saya (dalam mimpinya) bertemu dengan (Alm) Kakek, adalah kabar gembira untuk keluarga besar saya. Dan mudah-mudahan juga menjadi kabar gembira untuk teman-teman yang saat ini sedang membaca tulisan ini. Bahwa, adalah penting bagi kita semua untuk menyayangi binatang. Apa pun jenis binatang itu. Karena bagaimana pun juga, mereka adalah makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki hak untuk kita sayangi dan lindungi.

Beberapa waktu lalu diberitakan di berbagai media tentang penganiayaan, penyiksaan, dan bahkan pembunuhan binatang yang dilakukan oleh mereka yang tak punya belas kasihan. Saya pribadi mencekam apa yang mereka lakukan! Parahnya lagi aksi biadab mereka itu dipamerkan di media sosial. Ya Allah…. tega banget!

Yang sampe bikin darah saya “mendidih” ada satu foto beberapa kucing yang sudah mati dibunuh oleh sang pelaku. Kemudian dia mengunduhnya di akun pribadi sosmed-nya dengan caption : “Hasil buruan hari ini”. Aaaaaarrrgghhh!!!! Pengen saya gorok rasanya itu orang!
Tega banget ya? BANGET!

Saya hanya bisa mengelus dada sambil berdo’a, mudah-mudahan orang-orang yang gak punya “hati” itu mendapat hukuman yang setimpal. Dan kalo sampe mereka gak tobat, saya yakin di alam barzah kelak mereka akan disiksa juga oleh binatang-binatang yang mereka siksa. Gak akan ada pertolongan! Yang ada hanyalah siksaan!
Ampun dah. Saya sampe gak habis pikir. Kok bisa ya? Itu kucing-kucing tak berdosa mereka bunuh. Ya Allahhh…. mudah-mudahan Engkau ampuni kesalahan mereka kalo mereka melakukannya karena kekhilafan semata. Tapi kalo sengaja, tanpa alasan yang masuk akal, maka please hukum mereka seberat-beratnya!

Melihat kejadian ini, saya jadi ingat dua kisah pada zaman Nabi yang disampaikan oleh guru ngaji saya waktu kecil dulu. Kisah ini juga sering diceritakan oleh Ibu saya. Kisah lengkapnya saya gak hafal betul. Yang jelas dulu dikisahkan ada seorang perempuan sholehah. Ia sangat taat beribadah. Namun ia memiliki sifat yang tidak terpuji. Ia mengurung seekor kucing dan tidak memberikannya makanan. Hingga kucing tersebut meninggal. Dan dikabarkan bahwa perempuan tersebut masuk Neraka. Hanya karena ia mengurung seekor kucing dan tidak memberinya makanan.

Kisah lainnya yang bertolak belakang dengan si perempuan sholehah ini adalah kisah tentang seorang pelacur dan seekor anjing yang kehausan. Si pelacur ini memberi minum anjing tersebut meskipun ia harus mengambilnya di dalam sumur dengan menggunakan sepatunya. Hanya memberi minum seekor anjing, si pelacur ini dikabarkan masuk Surga. SubhanAllah…

Betapa adilnya Allah SWT. Si perempuan yang sholehah, yang taat beribadah, justru masuk Neraka hanya karena mengurung seekor kucing. Sementara sang pelacur, yang berlumuran dosa dan maksiat, justru masuk Surga hanya karena memberi minum seekor anjing yang sedang kehausan.

Dua kisah ini adalah kisah yang selalu saya ingat. Karena mengajarkan sebuah hikmah yang mendalam akan pentingnya kasih-sayang terhadap semua makhluk ciptaan Tuhan. Kepada binatang aja balasannya kayak gitu, gimana kalo terhadap sesama manusia ya?

Gak kebayang, gimana balasan bagi mereka yang menyakiti dan melukai sesama? Apalagi sampai menghilangkan nyawa. Hiii… pasti serem juga tuh balasannya. Naudzubillahi minzalik yaaa.

Sebelum saya menutup tulisan ini, izinkan saya mengingatkan kembali (khususnya teman-teman yang seakidah dengan saya) bahwa menyayangi binatang adalah salah satu sunnah Nabi Muhammad SAW. Rasulullah SAW adalah seorang penyayang binatang. Dan kita tahu bersama bahwa kucing adalah binatang kesayangan Rasulullah SAW. Bahkan pada zamannya, ada salah satu sahabat Nabi yang diberi julukan sebagai “Bapaknya Kucing” karena saking banyaknya kucing yang ia pelihara.

Ya, dialah Abu Hurairah. Sosok sahabat Nabi yang saya kagumi dan ingin rasanya bertemu dengannya dan berguru tentang bagaimana cara memelihara kucing yang baik dan benar. Hehe.
InshAllah di akhirat kelak ya. Dan, tentu saja saya juga ingin sekali berjumpa dengan Rasulullah Muhammad SAW di akhirat nanti. Aamiiin ya Raab.

Dan, satu hal lagi, bagi teman-teman yang pernah berbuat kurang baik atau kurang sopan apalagi kurang ajar terhadap binatang (apa pun jenis binatang itu) segeralah minta ampun. Mudah-mudahan kesalahan yang pernah kita perbuat terhadap binatang diampuni oleh Allah SWT sehingga saat di alam barzah nanti, kita tak akan menerima balasan berupa siksaan.

Salam,
@arasyidharman

Advertisements

So what do you think? An angel smiles every time you leave a comment :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s