Pelajaran Berharga dari seorang Mantan Preman & Bandar Narkoba

Salam’alaikum Everyone!

Sehat dan Bahagia terus ya. Aamiiin… 🙂

Kisah kali ini adalah kisah yang saya alami dalam perjalanan (kembali) dari kota Palembang menuju Kec. Bayung Lencir, Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.

Selamat membaca.

Pagi tadi, saat berangkat, penumpang mobil Travel yang saya tumpangi (hanya) tiga orang. Saya duduk di samping Sopir yang menjemput saya di tempat seorang kawan di daerah Bukit Siguntang, Palembang. Dua penumpang lainnya, yang satu seorang wanita muda (sekitar 20-an) dan yang lainnya seorang wanita paruh baya duduk di kursi tengah mobil berwarna putih yang sudah menjadi langganan saya dalam perjalanan dinas ini.

Perjalanan naik Travel dari Kota Palembang menuju Kecamatan Bayung Lencir kali ini sungguh berkesan. Bukan karena mobil yang saya tumpangi tidak penuh sesak oleh penumpang, namun lebih karena obrolan yang sarat pelajaran antara saya dan sang sopir yang tak pernah saya duga sebelumnya.

Sopir Travel ini namanya Kak Beno (Maaf nama asli disamarkan, alasan keamanan dan memang belum izin ke orangnya, hehe). Kak Beno ini terkenal tempramental. Di jalan, kalau ada mobil lain yang mencoba menghalangi jalan atau ugal-ugalan, ia tak segan-segan turun dan memarahi sang sopir. Kalau sang sopir itu terlihat melawan, ia tak segan-segan mengajaknya untuk beradu fisik. Sangar pokoknya. Hahaha.

Awalnya saya kaget melihat model sopir begini. Namun karena udah sering naik travel bareng doi, lama-lama udah terbiasa kalau ia mulai beraksi di jalan. Ia sering juga mengeluarkan beberapa umpatan dalam bahasa Palembang ketika ada mobil yang menyalipnya dari belakang. Seperti, “Mati kau! Wong giloo! Buyan nian sopir mobil itu!” dan beberapa umpatan lainnya yang gak akan saya tulis disini.hehehe.

Sebuah fakta tentang hidupnya baru terungkap saat seorang penumpang, si wanita paruh baya tadi, meminta pendapatnya tentang rencananya untuk pergi Umroh ke Tanah Suci. Rupanya si penumpang ini udah kenal dekat dengan Kak Beno karena sering menjadi penumpangnya kalau mau ke Palembang. Kak Beno pun akhirnya menceritakan pengalamannya pergi Umroh tahun 2014 lalu bersama mertuanya.

Si penumpang tadi menceritakan kekhawatirannya akan cerita orang-orang bahwa ketika berada di Tanah Suci (entah itu dalam rangka ibadah Haji atau Umroh) akan ada balasan terhadap amal perbuatan baik dan buruk kita selama ini. Mendengar hal itu, Kak Beno membantahnya. Katanya, gak benar seratus persen cerita itu. Iya benar akan ada balasan, tapi gak semua. Jelasnya kepada sang penumpang yang terlihat masih belum percaya.

Saya pura-pura tidak mendengar apa yang sedang mereka obrolkan. Padahal telinga saya menangkap dan merekam obrolan mereka berdua dengan rapi. Hehe..

Kak Beno terus meyakinkan si Penumpang tadi agar mewujudkan niatnya untuk pergi Umroh. Hingga si penumpang turun dari mobil, saya belum melihat ada kata “Ya” dari raut wajahnya akan dorongan semangat dari Kak Beno.

Penumpang yang satunya tak berapa lama tiba di depan rumahnya. Kak Beno membukakan pintu mobil dan menurunkan barang bawaan si penumpang dan meletakkannya di halaman depan rumah. Sebuah “SOP” yang tak pernah ia lewatkan. Melayani penumpang dengan baik adalah prinsipnya dalam bekerja sebagai sopir Travel. Kini hanya saya, satu-satunya penumpang yang tersisa. Waktu yang dibutuhkan untuk sampai di Kecamatan Bayung Lencir kurang lebih 30 menit lagi.

Tak lama, setelah mobil kembali meluncur, saya iseng nanya ke Kak Beno.

“Kak, kapan pergi Umrohnya?”

“La lamo dek. Hmm…Sekitar bulan November tahun lalu.”

“Owh… jadi bener Kak, disano ada balasan tentang perbuatan kito?”

“Iyo Dek, ado nian. Tapi ndak pulo cak yang diceritain wong-wong itu.”

“Dek, kakak ini dulunyo nakal nian dek.” Kak Beno mulai bercerita tentang perjalanan hidupnya yang kelam.

“Kakak dulu preman dek. Bosnya Preman malah. Kakak megang geng preman di Palembang Dek. Banyak anak buah Kakak disana.”

“Oh ya?? Nian kak?” Tanya saya, penasaran.

“Iyo nian Dek. Kakak dulu galak nian mabok. Minum-minum tiap hari. Kakak jugo pernah jadi Bosnya preman yang galak jambret dompet penumpang di Bus-bus yang ado di Palembang.” Jawabnya santai.

“Waaah…itu pas masih bujang Kak?” Saya kaget. Tapi ekspresi kekagetan saya sebisa mungkin saya samarkan.

Dalam hati saya meracau sendiri. “Ya Allah, sopir Travel yang selama ini sering saya pakai jasanya untuk mengantar saya bepergian, ternyata adalah mantan preman, bosnya preman malah.”

 

***

Obrolan kami pun berlanjut. Ia memacu mobil dengan kecepatan sedang.

“Dek, kakak dulu juga pernah jadi Bandar Narkoba. Kakak nyari Ganja itu sampe ke Aceh sana. Perbatasan Medan dan Aceh.”

“Tahun berapo itu Kak?” Tanya saya makin penasaran dengan kisah perjalanan hidupnya kala itu.

“Itu sekitar tahun 98 sampe 2000, Dek. Dulu bukan cak sekarang Dek. Dulu bebas. Ndak ado polisi yang grebek atau meriksa mobil di jalan. Apalagi mobil pribadi.” Tambahnya penuh semangat. Seolah ia sedang berada di masa itu.

“Trus cakmano kok bisa idak ketahuan Kak?”

“Kaca mobil kakak, kakak pasang kaca hitam galo. Ndak pacak tejelik dari luar. Jadi aman sampe Palembang. Di Palembang, ado agen yang membeli dan mendistribusikannya disana. Jadi kakak tinggal terima bersih bae.”

***

Jadi Kak Beno ini hanya menjadi Bandar saja, bukan pemakai. Ia murni berbisnis. Katanya dari omset penjualan Ganja ia bisa membeli mobil Panther tahun 1999. Waktu itu harga mobilnya sekitar 40 Juta. Dan itu langsung tunai belinya. Gak pake kredit. Sungguh menggiurkan katanya.I

Ia mulai berhenti menjalani profesi sebagai Bosnya Preman dan Bandar Narkoba di awal tahun 2002, saat ia akan mengakhiri masa lajangnya. Ia menikah. Sejak saat itu, ia tak pernah berurusan lagi dengan dunia Preman maupun Narkoba. Ia memutuskan untuk mencari rezeki dengan cara yang baik dan halal.

Apalagi ketika anak pertamanya lahir. Saat ini anaknya berumur 12 tahun. Artinya Kak Beno sudah kurang lebih 12 tahun meninggalkan “dunia hitam” yang telah menjadi sejarah kelam perjalanan hidupnya.

Dan ketika ia menceritakan pengalamannya saat melaksanakan Ibadah Umroh di penghujung tahun 2014 lalu, ia sangat antusias. Katanya selama ia berada di Tanah Suci, selalu ada saja orang yang tidak ia kenal datang memberinya makanan dan minuman. Makanan berupa roti dan minuman dalam bentuk kemasan botol (seperti kemasan botol air mineral yang dijual di pasaran).

Ia terheran-heran, kok ada orang asing yang tak ia kenal datang memberinya roti dan minuman hampir setiap hari selama ia disana. Anehnya, kawan-kawan yang satu rombongan dengannya, gak dapat roti. Padahal mereka tinggal satu asrama. Jadi katanya, satu kali ia lagi bersama beberapa jamaah Umroh yang satu asrama dengannya, tiba-tiba ada orang yang entah darimana datangnya, memberinya roti ukuran besar lengkap dengan air minumnya di suatu pagi. Sementara jamaah lainnya gak dikasih, hanya dilewati saja oleh orang yang membawa roti dan minuman tadi.

SubhanAllah….

Saya pun makin penasaran. Apa gerangan yang menjadi sebab-musababnya? Ketika saya telisik dengan mengajukan pertanyaan tentang amalan atau apa yang sering dilakukan oleh Kak Beno sebelum ia pergi Umroh (dalam kurun waktu 12 tahun terakhir setelah ia berkeluarga).

Dan sungguh saya dibuat takjub. Kak Beno dengan nada suara yang rendah, tak sama dengan nada suara normalnya ketika ia berbicara, mengatakan bahwa ia gemar menyantuni anak-anak Yatim Piatu di Panti Asuhan. Ia rutin bersedekah dan berderma dengan semua orang. Tak hanya dengan anak-anak Yatim-Piatu, tapi juga dengan kawan-kawannya sesama sopir Travel. Pun dengan teman-teman premannya yang sampai sekarang masih menaruh hormat kepadanya.

Jadi ketika ia ada rezeki berlebih atau nggak, kalau sedang kumpul di warung makan bersama teman-temannya, ia suka bayarin makan dan minum. Ringan tangannya untuk menolong orang. Lebih-lebih dalam hal makan dan minum. Istri dan anaknya udah paham betul dengan kebiasaannya ini. Jadi kalau ada duit lebih, pas tiba dirumah tinggal dikit, istrinya udah ngerti kemana larinya tuh duit.hehehe..

Katanya, “Dek, kakak cak itulah wongnyo. Kalo ada kawan nak makan di warung makan, kakak yang bayarnyo. Dari dulu sampe sekarang. Cak itulah.”

Rupanya, ini yang menjadi rahasianya mendapatkan balasan kebaikan ketika ia berada di Tanah Suci. Dan saya jadi penasaran, bagaimana dengan perbuatannya saat jadi preman dan bandar Narkoba? Apa dibalas juga?

Alhamdulillah, katanya gak ada balasan. Ia juga heran. Padahal dulu ia sering gangguin orang, mukulin orang, dan sederet tindak kriminal lainnya. Tapi, ia tak mendapatkan perlakuan kasar selama melaksanakan Ibadah Umroh. Luar biasa. Mungkin Allah Swt telah menghapus semua kesalahan di masa lalunya melalui pahala kebaikan amal baiknya melalui derma dan sedekah rutin yang ia berikan kepada anak-anak Yatim-Piatu. Bisa jadi. Siapa yang tahu?

Saya semakin kagum dengan Kak Beno. Hari ini, untuk yang kesekian kalinya, dengan segala pengaturan dan skenario indah-Nya, saya mendapatkan pelajaran hidup yang luar biasa dari seorang mantan Preman dan Bandar Narkoba.

***

Tak terasa, mobil sudah tiba di Kecamatan. Sebelum saya turun, Kak Beno berpesan untuk bersedekah yang rutin khususnya kepada anak-anak Yatim-Piatu. Ia juga menyarankan saya, apabila ada rezeki yang cukup, segera pergi ke Tanah Suci untuk melaksanakan Ibadah Umrah maupun Ibadah Haji.

Saya melangkah turun dan menuju warung makan Solber, sudah pukul 01:35 WIB. Perut udah joget-joget dan saya belum sholat Dzuhur.

Udah dulu ya teman-teman. Semoga cerita ini memberikan pencerahan yang tak kalah cerahnya dengan lampu neon di rumah tetangga. Hehehe..

Selamat berakhir pekan. Bagi yang belum sholat, sholat dulu lah… bagi yang belum bersedekah hari ini, senyum dong.  Siip, cakeeep dah! Ciee udah sedekah senyum. Sedekah yang paling mudah. Hehehe.

Mantap dah! Habis baca ini langsung cari target sedekah ya. Kasi duit, jangan cuma dikasi senyum doang! Oke??

Salam Hangat dari Bumi Bayung Lencir,

Stay Healthy, Stay Happy! 

@arasyidharman

 

Advertisements

So what do you think? An angel smiles every time you leave a comment :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s