Transit di Masjid Bayung Lencir (Part 2)

Setelah sholat Dhuha, saya menyempatkan diri untuk membaca buletin Indonesia Mengajar di Saf depan Masjid Jamiatul Muslimin Bayung Lencir. Sedang asyik-asyiknya membaca, tanpa saya duga, ada seorang Bapak paruh baya datang menghampiri saya. Dia tersenyum dan menyapa dengan pertanyaan standar orang yang ingin tahu tentang orang yang baru dijumpai. Bapak ini memperkenalkan dirinya sebagai Pak Boy. Padahal nama aslinya, Pak Hasan. Cuman masyarakat lebih mengenalnya dengan panggilan Pak Boy.

Saya pun menutup buletin yang sedang saya baca dengan alasan menghormati si Bapak yang kelihatannya ingin ngobrol dengan saya. Well, obrolan berjalan dengan random. Mulai dari perkenalan, asal, dan sedang apa saya disini (di Kecamatan Bayung Lencir, khususnya di Desa Mangsang), termasuk alasan saya ada di Masjid sejak kemarin. Hehehe..

Alasannya klasik sih, sama seperti kasus tempo hari yang sudah saya ceritakan. Ketinggalan Sepit. Hahahaha. Jadi teman-teman yang udah tau, pasti udah sempat ngelirik tulisan saya yang ini.

Okay. Kembali ke cerita kali ini. Duh maaf ya, cerita mulu nih.. hehe.. abis cerita yang sedang teman-teman baca ini juga penting. At least, menurut saya.. hahaha 😀 bagi yang udah jenuh dan capek, silahkan setop. I mean stop. Iya stop aja bacanya. No need to go on keless.. hahaha.

Kita lanjut ya.

Nah si Bapak-bapak tadi, udah ambil posisi cantik tuh persis di depan saya. Posisi duduk bersila. Ia mulai bercerita tentang keadaan Kecamatan Bayung Lencir zaman dulu, di era tahun 70-an. Saat ia masih muda, dimana dulu katanya daerah Bayung Lencir itu adalah hutan belantara. Orang tuanya berasal dari Palembang (entah Palembang sebelah mana, intinya dari Palembang).

Kedua orang tuanya merantau ke Bayung Lencir pada tahun 60-an dan membuka lahan (hutan) yang ada di Bayung Lencir. Ia menambahkan, kedua orang tuanyalah yang kali pertama mendirikan tiang bangunan (waktu itu masih dari Kayu) Masjid Jamiatul Muslimin Bayung Lencir. Waktu itu masih sedikit orang yang paham Agama. Akhirnya si Bapak tadi mengambil inisiatif untuk mengajarkan anak-anak yang ada di sekitar Masjid membaca Al-Qur’an (mengaji).

Dulu masih banyak Buaya dan hewan-hewan liar seperti Singa, Harimau, yang berkeliaran atau keluar masuk di pemukiman warga. Dulu juga katanya, masih banyak orang Kubu, suku asli yang menempati wilayah pedalaman Sumatera.

Setelah ngobrol kesana kemari, akhirnya ia menceritakan tentang perjalanan karir panjangnya sebagai seorang Sopir. Mulai sopir bus, truk, hingga sopir pribadi atau rental yang saat ini kita kenal dengan sebutan Sopir Travel. Hampir semua rute di Sumatera ini telah ia jelajahi. Praktis, 30 tahun lebih ia menghabiskan sebagian besar waktunya di jalan.

Saya iseng nanya, ya bisa dibilang semacam basa-basi, tapi pertanyaan basa-basinya sedikit berkelas. Hehe..

Saya nanya, “Pak, selama menjadi Sopir, pernah gak ngalamin hal-hal yang tidak diinginkan, seperti kecelakaan?”

Sambil tersenyum si Bapak menjawab, “Selama kurang lebih 30 tahun saya jadi Sopir ya Dek, dan selama kurang lebih 8 X perpanjang SIM, saya baru dua kali mengalami yang namanya musibah.”

“Wah,,, hebat ya. hanya dua kali aja ngalamin musibah. Kalo boleh tau, apa sih Pak rahasianya, kok bisa gitu? Padahal kan jadi Sopir, apalagi sopir kendaraan berat lintas Provinsi, resiko mengalami kecelakaan selama dalam perjalanan bisa dibilang cukup tinggi.”

“Ia Dek. Sederhana aja. Saya sebelum nyopir atau setiap kali naik mobil saya selalu mengamalkan satu hal. Bismillah.. dan Alhamdulillah selama dalam perjalanan saya lancar dan aman. Dan kalau misalnya ada hal-hal buruk yang sekiranya akan menimpa saya di jalan, itu saya sudah mendapat firasat dalam hati. Misalnya, ada mobil dari arah yang berlawanan yang bisa dibilang akan menabrak mobil saya, itu dalam hati udah mulai ada semacam getaran yang secara ajaib atau diluar kendali mengingatkan saya untuk waspada. Dan, Alhamdulillah, hal yang tidak diinginkan tadi tidak terjadi atau kalaupun terjadi saya selalu bisa terhindar atau selamat.”

“Subhanallah… jadi setiap kali Bapak akan bepergian bapak tidak pernah lupa untuk membaca ‘Bismillahirrahmanirrahim’? ”.

“Iya. Itu adalah do’a yang paling mudah. Pokoknya baca Bismillah aja udah cukup. InshAllah Allah akan selalu melindungi kita selama dalam perjalanan atau dalam setiap aktivitas yang kita lakukan.”

****

Tak terasa waktu sholat Dzuhur telah tiba. Alhamdulillah, Saya mendapatkan pelajaran yang tak ternilai pagi ini.  Sederhana sekali. Bahwa, Allah Swt itu selalu ada bersama kita dan akan selalu melindungi kita ketika kita (selalu) mengingat dan menyebut Asma-Nya.

Tanpa saya minta, pagi ini Allah mengingatkan saya melalui Pak Boy bahwa segala sesuatu yang ada di alam ini tunduk dan patuh kepada kebesaran-Nya. Oleh sebab itu, saya mengingatkan diri saya sendiri dan teman-teman semua yang saat ini sedang membaca tulisan ini, jangan pernah sekali-kali lupa untuk mengingat Allah sebelum, selama, dan sesudah, kita melakukan suatu aktivitas. Karena selain menjadi ibadah, hal ini juga akan menjadi perisai dari berbagai macam mara bahaya.

Semoga Allah Swt selalu membimbing kita semua. Aamiiin.

Salam dari Bumi Serasan Sekate,

@arasyidharman

Advertisements

3 comments on “Transit di Masjid Bayung Lencir (Part 2)

  1. Ditha Cahya says:

    Nice! Thanks udah mengingatkan dan sharing pengalaman sederhana namun sarat makna.. 🙂

    Salam,

    Ditha Cahya K., S.Psi. Psychology Faculty Padjadjaran University, Bandung

    Pengajar Muda Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar

    alternate email: ditha@pm9.indonesiamengajar.org ph. +6285223206178

So what do you think? An angel smiles every time you leave a comment :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s