Faktor Pembeda

Salam a’laikum…

Beberapa hari yang lalu saya membaca tulisan    pengalaman salah satu Guru saya yang di re-post oleh seorang kawan di grup whatssApp. Entah kebetulan atau tidak, yang jelas momennya pas dengan apa yang (mungkin) saya butuhkan akhir-akhir ini. Sebuah friendly-reminder atau mungkin fresh-reminder. Entahlah, terlepas dari itu semua, pengalaman dari Guru saya tersebut sungguh menginspirasi dan pastinya (menurut yang saya rasakan) memiliki kekuatan yang “menggerakkan” setiap orang yang membacanya  untuk melakukan dua hal yang menjadi pembeda diri.

Cerita pengalaman Guru saya tersebut terjadi pada tahun 2012 silam. Cerita bermula saat ia berada dalam satu pesawat dari Jakarta menuju Surabaya dengan seseorang yang bernama Yadi Sudjatmiko.

Guru saya ngobrol dengan lelaki paruh baya ini, yang waktu itu akan menuju kota Malang setelah menempuh perjalanan panjang dari Oman. Ia bekerja di salah satu Perusahaan minyak disana. Sebulan sekali ia pulang ke Indonesia, berlibur satu bulan kemudian balik lagi ke Oman untuk bekerja. Jadi ia bekerja selama satu bulan, kemudian libur satu bulan.

Enak ya? masa liburnya sama dengan masa kerjanya. Diam-diam saya penasaran dimana Pak Yadi ini bekerja.

Namun, yang mengejutkan adalah latar belakang Pak Yadi ini yang (hanya) lulusan STM atau setara SMA, tetapi kini ia bekerja dengan bayaran besar mengalahkan sarjana teknik. Luar biasa. Kok bisa ya? seorang yang notabene (bukan maksud untuk menganggap remeh latar belakang pendidikan seseorang) hanyalah tamatan STM.

Bagaimana cerita masa lalunya? Guru saya terus mencari tahu bagaimana ceritanya Pak Yadi hingga bisa sukses berkarir di Negara orang dengan modal ijazah STM yang bagi kita sepertinya mustahil. Jangankan lulusan STM atau SMA/Sederajat, lulusan Perguruan Tinggi pun butuh perjuangan ekstra untuk bisa bekerja dan berkarir di luar Negeri apalagi di sebuah perusahaan raksasa yang bergerak di bidang Oil & Gas.

Setelah tamat dari STM, Pak Yadi melamar pekerjaan di Surabaya dan Jakarta. Namun usahanya waktu itu tak bertepuk dua tangan. Artinya ia belum berhasil memperoleh pekerjaan di dua kota tersebut. Yang ia peroleh hanya jawaban, “Kalau mau cari kerja ke Kalimantan sana, jangan di Kota besar.”

Akhirnya ia berangkat ke Kalimantan. Disana ia bekerja sebagai Room Boy di sebuah hotel kemudian berpindah sebagai supir.

Saat itu ia berpikir, “Ternyata ijazah STM itu tak ada artinya ya. Untuk bekerja di Perusahaan atau kantoran saya harus memiliki sesuatu yang berbeda yang tidak mereka miliki dan lakukan. Tapi apa ya?”

Setelah berusaha mencari apa yang menjadi faktor pembeda itu, akhirnya ia menemukannya. Ia mengatakan setidaknya ada dua hal yang menjadi faktor “P” tersebut. Rupanya salah satu faktor pembedanya bukanlah sesuatu yang asing bagi kita, umat Nabi Muhammad SAW. Yang pertama adalah bangun malam dua jam sebelum waktu Shubuh tiba. Terus ngapain?

Ngapain ya? Saya yakin teman-teman sudah paham apa yang dilakukan dan diamalkan oleh Pak Yadi. Yang pasti bangun malam bukan untuk nonton bola namun untuk beribadah dan berdo’a kepada  Yang Maha Kuasa. Yang kedua adalah selalu melayani orang. Pak Yadi dalam kesehariannya selalu berusaha untuk melayani orang sebaik-baiknya.

“Saya yakin sedikit Sarjana yang bangun malam dan Sarjana yang senang melayani orang. Saat bangun malam saya mohon ampun dan mohon pertolongan kepada Allah. Ditambah prakteknya siang hari, yakni melayani orang sebaik-baiknya.” Begitu tutur Pak Yadi kepada Guru saya.

Setelah mempraktekkan dua kebiasaan ini beberapa bulan, atas izin-Nya Pak Yadi diterima di sebuah Perusahaan minyak Total. Dan dengan ketekunannya, ia berhasil menguasai sebuah keterampilan yang jarang dikuasai orang, yaitu memasang alat-alat di dalam ‘perut’ bumi.

“Pekerjaan saya tidak terlihat tetapi gajinya sangat terlihat.” ujar Pak Yadi sambil tertawa.

Setelah berpenghasilan besar, ia tidak lupa untuk terus melayani orang lain, baik di lingkungan perusahaan tempat ia bekerja maupun di kampung halamannya. Untuk melayani masyarakat, gajinya sebagian ia sisihkan untuk membeli sapi yang ia kerjasamakan dengan para peternak di kampung halamannya dengan sistem bagi hasil.

“Saya punya pengalaman menarik. Saat saya baik sangka, menolong dan melayani peternak, saya mendapat balasan lebih besar. Waktu itu salah satu sapi saya mati. Peternaknya ketakutan dan berjanji akan menggantinya. Tapi saya katakan, tidak usah menggantinya, saya ikhlas. Saya pun memberinya lagi sapi untuk dipelihara.”

Dan, MashAllah sapi yang dipelihara sang peternak selalu melahirkan anak sapi kembar. SubhanAllah….

Guru saya saking asyiknya ngobrol, sampe lupa kalau pesawat yang mereka tumpangi telah mendarat di Bandara Juanda, Surabaya. Sebelum mereka berpisah, Pak Yadi menasehati Guru saya,

“Bangunlah setiap malam sebelum kebanyakan orang lain bangun. Layanilah orang lain tanpa berharap balasan. Gusti Allah ora sare (tidak tidur). Kalau anda melakukan itu, Allah-lah yang akan melayani keperluan Anda. Enak kan?”

Guru saya kehabisan kata-kata. Ia (hanya) tertegun menatapnya hingga lupa mengucapkan kata-kata yang sudah sepantasnya ia terima.

Saya, meskipun tak bertemu langsung dengan sosok Pak Yadi yang kisah suksesnya sungguh menginspirasi itu, tetap merasakan pancaran kesederhanaan yang dibalut cahaya iman yang kokoh kepada Allah SWT.

Terimakasih Pak Yadi, terimakasih Kek Jamil, karena telah menulis membagikan kisah ini kepada saya dan semua orang yang sempat membacanya. Mudah-mudahan bias-bias pahala dari semua pengalaman dan pengetahuan Kek Jamil, khususnya Pak Yadi juga mengalir kepada keluarga yang terkasih. Amiiin.

Akhir kata, semoga tulisan ini menjadi bahan renungan kita semua untuk juga mempraktekkan dua hal yang telah menjadikan Pak Yadi menjadi Pak Yadi seperti saat ini. Menjadi manusia yang ‘berbeda’. Kalau Pak Yadi bisa, kita pun (harusnya) bisa! Semua tergantung dari niat dan usaha kita masing-masing. Mau atau gak. Udah ada bukti hidup, lantas apalagi yang kita tunggu?

Yuk kita biasakan (lagi) untuk bangun malam/bangun lebih awal untuk mendirikan Qiyyamul Lail dan membiasakan diri untuk melayani sesama dengan ikhlas. Semoga Allah SWT meridhoi setiap apa yang kita kerjakan, dan memenuhi semua hal yang menjadi hajat kita. Amiiin.

Wassalam a’laikum and…

Stay Healthy, Stay Happy!

@arasyidharman

Advertisements

So what do you think? An angel smiles every time you leave a comment :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s