Pilihan Menjadi Pengajar Muda : Cerita dibalik layar

mychoice-pengajarmuda8.jpg

 

Terbang jauh meninggalkan kampung halaman sudah menjadi bagian dari episode perjalanan hidup saya. Tak terduga dan penuh kejutan adalah dua frase yang mungkin bisa menggambarkan apa yang selama ini saya alami.

Saya banyak belajar dari orang-orang yang saya temui. Semua karena saya melakukan perjalanan. Alhamdulillah… Allah yang Maha Pengasih, memberikan nikmat-Nya yang sungguh tak terhingga kepada saya (dan tentunya kepada pembaca dan semua makhluk ciptaan-Nya).

Sebagai manusia biasa, lebih-lebih sebagai seorang hamba, saya (dan kita semua) sudah seharusnya untuk selalu mensyukuri semua nikmat yang telah dan akan terus dianugerahkan oleh Yang Maha Pengasih sepanjang perjalanan hidup kita di muka bumi ini.

Masing-masing dari kita punya jalan cerita yang tentunya tak sama. Setiap tahun yang telah kita lewati punya kisah yang berbeda. Kisah yang terjadi setahun yang lalu, belum tentu sama atau terulang di tahun ini. Dan begitu juga dengan kisah yang kita ukir di tahun ini, belum tentu akan terulang di tahun depan.

Dan setiap tahun tentunya ada begitu banyak kisah baik suka maupun duka yang menjadikan hidup kita penuh warna.
Bagi saya pribadi, tahun 2014 ini adalah salah satu tahun yang memberikan kesempatan untuk mengukir banyak kisah yang belum pernah saya bayangkan dan tentu saja belum pernah saya alami sebelumnya.

Dalam rencana-Nya, tahun ini saya ditakdirkan untuk mengabdikan diri selama setahun di Bumi ciptaan-Nya yang oleh nenek moyang bangsa Indonesia diberi nama : Bumi Sriwijaya, Sumatera Selatan.

Indonesia Mengajar. Ya, saya (telah) bergabung dengan Gerakan Indonesia Mengajar. Proses untuk bergabung dalam Gerakan yang sudah berjalan selama ± 4 tahun ini adalah proses yang bisa dibilang cukup panjang.

Semua bermula ketika saya berada pada zona “abu-abu” atau dalam bahasa gaulnya galau setelah menyelesaikan studi di bangku kuliah. Ya, galau dalam menentukan pilihan untuk melanjutkan studi pasca Sarjana aka master atau mulai fokus untuk mengembangkan karier di dunia kerja.
Dalam masa “abu-abu” itu, ada seorang teman semasa kuliah yang sudah lebih dulu “nyemplung” ke dalam Gerakan Indonesia Mengajar mengajak saya untuk mengikuti jejaknya.

Waktu itu ia sudah berada di pelosok Negeri mengemban tugas mulia sebagai Pengajar Muda (angkatan 7).
Ia terus memprovokasi saya agar ikut bergabung dalam Gerakan Indonesia Mengajar. Di lain sisi, saya sudah mantap untuk mengambil salah satu program beasiswa master di luar negeri.

Teman saya bilang, banyak banget manfaat yang akan didapat dalam program ini. Salah satunya adalah kesempatan untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan adik-adik yang berada di pelosok negeri dimana manfaatnya sungguh tak bisa dikonversikan dengan nominal angka-angka.

Pengalaman yang nantinya akan terus menjadi ladang amal jariyah selama kita hidup hingga kita wafat.

Apa yang disampaikan oleh teman saya itu tak bisa saya bantah kebenarannya. Tapi, saya pengen banget lanjut studi S2. Katanya kemudian, gampang lanjut studi. Setelah selesai ikut program ini, kan masih bisa daftar dan ambil beasiswa S2 (lagi). Begitu katanya dengan nada yang cukup diplomatis.
Hmm…gimana nih. Saya jadi bingung dan bimbang.

Dalam kebimbangan itu saya merenung dan berdialog dengan diri sendiri. Menimbang-nimbang plus minus dari dua pilihan yang tak mudah ini.
Akhirnya, saya menyerah. Menyerah untuk menimbang-nimbang dalam pengambilan keputusan yang akan mempengaruhi banyak hal dalam perjalanan hidup saya ke depan. Menyerah untuk kemudian menyerahkan kembali semuanya kepada yang Maha Kuasa. Sang Maha Pemberi Petunjuk.

Akhirnya, jurus pamungkas pun saya pakai.
Apa itu? Apalagi kalo bukan Sholat Istikharah. Yup. Istikharah.

Dalam sholat saya utarakan semuanya kepada Allah. Saya selalu yakin, Dia akan memberikan jawaban yang terbaik. Bukan menurut saya, tapi menurut Dia. Karena hanya Dia yang Maha Tahu apa yang terbaik buat saya, hamba-Nya yang pengetahuannya sungguh terbatas ini.

Seperti yang sudah-sudah, saya minta diberikan petunjuk yang terbaik dari yang terbaik. Apakah ambil kesempatan beasiswa studi di luar negeri atau ikut program Indonesia Mengajar.

Pokoknya minta yang terbaik. Saya bilang ke Allah, dua-duanya baik. Ikut Program Indonesia Mengajar akan memberikan saya kesempatan untuk mengabdikan diri selama setahun di pelosok negeri tercinta yang pastinya akan menumbuhkan kebaikan-kebaikan yang nantinya akan mekar bagaikan bunga yang harum baunya dan akan selalu dirindukan oleh siapa pun yang menghirup dan merasakan semerbak keharumannya.

Pun sama halnya dengan melanjutkan studi master di luar negeri. Ini pastinya juga akan memberikan kesempatan bagi saya untuk menuntut Ilmu (baru) yang nantinya akan sangat bermanfaat baik bagi diri saya sendiri maupun bagi sesama. Ilmu juga adalah seperti bunga. Bunga yang harum yang akan menjadi buah yang manis. Buah yang manis adalah idaman semua orang. Yang nantinya juga akan memberikan manfaat bagi siapa pun yang memakannya.

Lagi-lagi, dua-duanya baik. Saya minta terbaik dari yang terbaik menurut pengetahuan-Nya.

Saya melaksanakan sholat istikharah beberapa kali. Saya minta diberikan jawaban dan petunjuk lewat mimpi saat tidur. Hingga akhirnya saya bermimpi yang saya yakin adalah jawaban Allah atas pilihan terbaik yang saya minta.

Dalam mimpi tersebut, saya sedang menghadiri sebuah acara. Saat melewati pintu masuk menuju tempat acara, ada seorang bapak-bapak yang sedang berdiri di samping pintu masuk. Ia menyambut saya dan mengatakan, “Selamat datang Pengajar Muda” sambil tersenyum manis dan tulus.

Selamat datang Pengajar Muda? Bapak-bapak dalam mimpi itu memanggil saya dengan sebutan “Pengajar Muda”. Waaah… ini kah jawabannya ya Allah?

Tentu saja Allah enggak jawab langsung, bisa pingsan di tempat kalo Dia jawab langsung! Hahaha.

Tapi keyakinan itu dimunculkan-Nya dalam hati. Ya, dalam hati. Setelah mendapatkan jawaban lewat Istikharah, hati saya semakin mantap. Inilah pilihan terbaik yang diberikan oleh Allah Swt kepada saya. Bergabung dengan Gerakan Indonesia Mengajar.

Akhirnya saya memutuskan untuk membatalkan menunda keinginan saya melanjutkan studi ke luar negeri. Saat ini Allah menginginkan saya untuk melakukan sesuatu yang juga punya dampak besar dalam hidup saya dan juga orang lain.

Bismilillah… saya daftar untuk menjadi Pengajar Muda angkatan 8. Dan Alhamdulillah, Allah memudahkan dan melancarkan segala prosesnya. Mulai dari mengisi formulir aplikasi online, kemudian lolos ke tahap II/Direct Assessment, Medical Check up, hingga ke tahap Pelatihan Intensif sebelum dikirim ke daerah untuk bertugas.

Dan Alhamdulillah saat tulisan ini dibuat, sudah berjalan tiga bulan saya bertugas di daerah penempatan, yakni di Kabupaten Musi Banyuasin. Bagi saya perjalanan hingga saat ini adalah sebuah pembelajaran yang terus menerus saya syukuri. Karena memang tak ada yang lebih indah dari mensyukuri setiap proses perjalanan hidup dari satu episode ke episode yang lain.

Dan menjadi Pengajar Muda juga adalah salah satu cara Tuhan untuk mengajarkan saya akan pentingnya dan indahnya berbagi dalam bingkai rasa syukur terhadap segala nikmat yang sudah diberikan-Nya selama ini.

Untuk teman-teman yang saat ini masih berada di persimpangan pilihan, seperti yang saya alami, mungkin dengan sedikit perbedaan dalam opsi pilihan, tenang, you are not alone. Saya yakin di luar sana juga banyak yang saat ini sedang galau dalam mengambil keputusan penting dalam hidupnya. Hehe.

Dan itu wajar. Karena harapan, impian, dan pilihan kita besar yang tentunya punya dampak besar tidak hanya bagi diri sendiri, tapi juga bagi keluarga, agama, bangsa, dan negara. Duuhh bahasanya udah mulai lebay. Hahaha. 😀
Saran saya, pikirkan baik-baik dulu sebelum mengambil keputusan. Take it easy.

Saya tidak ingin memprovokasi secara frontal (seperti yang telah dilakukan oleh teman saya dulu) untuk bergabung dalam Gerakan Indonesia Mengajar. Ini adalah tentang pilihan hidup masing-masing. Sekali lagi, ini adalah tentang pilihan hidup masing-masing. Tak bisa sembarangan apalagi dipaksakan. Iya kan?

So… take your time. Tanyakan hati nurani. Kalo emang mentok juga, jurus pamungkas silahkan dipake. Saya yakin, Allah swt akan memberikan jawaban yang terbaik. Terbaik dalam kacamata pengetahuan-Nya, bukan dari kacamata pengetahuan kita yang serba terbatas.
Dan bagi yang sudah mantap akan pilihannya bergabung dengan Gerakan ini, selamat berjuang. Luruskan niat semata-mata mencari keridhaan Tuhan yang Maha Kuasa. Mudah-mudahan Tuhan selalu memudahkan setiap niat dan langkah baik kita. Aamiiin.

 

Salam Hangat dari Bumi Serasan Sekate,
@arasyidharman

Advertisements

So what do you think? An angel smiles every time you leave a comment :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s