It’s the Day

Hari H keberangkatan pun tiba. Kami ber-20 sudah berada di Bandara Soekarno Hatta, Jakarta lengkap dengan barang bawaan kami masing-masing yang besar-besar. Koper dengan ukuran Jumbo yang berisi berbagai perlengkapan “tempur” selama 8 minggu di Negeri antah-barantah, Amerika Serikat.

Kami berkumpul di Hall President Hotel Bandara Soetta. Disana kami berkumpul untuk mengecek kembali barang-barang bawaan kami. Kami juga (dibantu) re-packing oleh staf dari Kantor IIEF. Iya re-packing agar lebih rapi dan gak makan tempat di koper. Maklumlah, kami semua (masih) amatir dalam hal packing untuk perjalanan jauh ke luar negeri. Mbak Fenty yang langsung “sidak” koper dan semua barang bawaan kami. Sidak untuk merapikan tata letak barang bawaan kami satu-satu.

Termasuk juga mengecek kelengkapan dokumen kami. Mulai dari tiket pesawat PP (Jakarta <–> Kansas), paspor, dokumen tambahan (medical check-up report, dll). Re-checking is very important. Apalagi terkait dokumen-dokumen penting tersebut. Kalo ada yang gak lengkap atau mungkin ada dokumen yang tercecer, bisa batal berangkat deh. Alhamdulillah semua dokumen kami lengkap.

Sebelum masuk ke Bandara untuk check-in, kami briefing lagi untuk rute perjalanan dari Indonesia hingga ke Amerika dan semua hal terkait the Do’s and Don’ts selama dalam perjalanan. Beberapa orang tua ada yang ikut mengantar keberangkatan kami. Ada Ibunya Tami dan Ince. Kebetulan orang tua mereka tinggalnya di Jakarta. Jadi dekat. Kalo si Tami sih orang Jakarta asli, so wajar kalo ortunya sempet nganter. Ortu kami yang lain pun turut mengantarkan (meskipun) lewat do’a dan restu. Tak apa, do’a restu dari mereka sudah cukup. Meskipun, jujur, rasanya beda kalo raga mereka juga turut hadir melepas keberangkatan kami di Bandara. Hehe..

Masing-masing dari kami adalah back-up buddy bagi teman Grantee/Fellow IELSP Awardee yang lain. Jadi back-up buddy ini adalah “pasangan” kami selama dalam perjalanan menuju ke Amerika, selama Program berlangsung, hingga kembali lagi ke Tanah Air. Back-up buddy ini bertanggung jawab terhadap “pasangannya” dalam hal keamanan, keselamatan, dan kenyamanan selama dalam perjalanan ini. Ia juga adalah teman ngobrol yang chance-nya lebih banyak selama dalam perjalanan karena ia selalu berada disebelah kita. Just like a couple! Hahaha 😀

Dan back-up buddy saya adalah si Tiyo. Sejak awal ketemu di PDO sebulan yang lalu, kami udah (sangat) akrab. Dia adalah salah satu grantee yang memiliki selera humor tinggi. Tak jarang saya dibuat tertawa hingga terbahak-bahak. Hehe.. Jadi, Tiyo is my back-up buddy, dan saya adalah back-up buddy-nya Tiyo. Make sense?

01

Briefing dan “sidak” sebelum keberangkatan oleh Mbak Fenty di aula President Hotel Bandara Soetta. Ini kami ber-40 (bareng Iowa Grantee yang juga akan berangkat)

02

Di sebelah kiri kami adalah koper dkk. Perlengkapan ‘tempur’ selama 8 minggu di Negeri Paman Obama. Berjejer kurang rapi karena baru selesai di ‘sidak’ oleh mbak Fenty dan staf IIEF.

Sekitar pukul 05:45p.m. kami langsung angkat kaki dan semua perlengkapan (koper dkk) menuju terminal II Bandara Soetta untuk check-in. Kami dijadwalkan berangkat dari Jakarta menuju ke Singapura (transit) pada pukul 07:05p.m.

03

Foto bareng dulu sebelum check-in. Kurang satu nih. Ya si Tami yang gak ada dalam bingkai. Kemana dia? gak kemana-mana kok. Doi di depan kami, coz dia yang jepret.hehe

***

Empat puluh orang ditambah dua orang pendamping di masing-masing grup. Kami (grup Kansas) didampingi oleh Mbak Fenty. Sedangkan grup Iowa didampingi mas Budi. Kok (harus) didampingi sih? Ya iyalah, kalo enggak didampingi takut nyasar gak nyampe ke Amerika. Hahaha. Maklumlah ini perjalanan panjang dan jauh mengelilingi separuh belahan bumi dan mengarungi samudera Pasifik. First time in our life! Jadi masih cupu-lah.. hahaha.

Saya dan Tiyo berada di paling depan barisan rombongan. Diikuti teman-teman grantee yang lain mengular dari pintu masuk terminal II hingga ke area Security-Check. Satu per satu kami masuk. Sesekali kami bercanda, ya sekedar memecah “kebekuan” saat mengantri untuk check-in.

05

Saat antri check-in. Ini si Unsun, wajahnya keliatan lelah. Hmm.. mungkin semalam dia tidur kurang nyenyak kali ya..hehe.

06

This is Tiyo, my back-up Buddy dalam perjalanan luar biasa ini. He is gonna be “my partner in crime” in this amazing journey. 😀

Setelah mengantri cukup panjang dan lama, akhirnya kami bisa check-in. Alhamdulillah gak ada di antara kami yang kelebihan muatan aka over baggage. Penerbangan kami ke Singapura ini menggunakan Lufthansa Air, maskapai yang berasal dari Jerman.

Boarding-pass udah di tangan. Yes, tinggal menunggu boarding-time. 🙂 

07

Boarding-pass & Passport untuk terbang. Senangnya hati….hahaha 😀

08

09

Ini lagi ngemper (kayak gembel) di lantai salah satu sudut terminal II Bandara Soetta. Sambil nunggu boarding-time, kami ngobrol, becanda, dan main HP. Yah, harap maklum, kami juga manusia (normal). Hahaha.

Sekitar jam 06 kurang kami sudah berada di lantai II area waiting room. Kurang lebih satu jam lagi pesawat akan berangkat. Saya mengajak teman-teman yang Muslim untuk sholat Maghrib berjamaah di Mushollah yang ada di waiting room. Kami sholat Maghrib sekaligus dijamak dengan sholat Isha. Status “Musafir” mulai saat ini melekat pada diri kami. Karena perjalanan yang sebentar lagi akan kami mulai adalah perjalanan yang sangat panjang dan jauh. Berdasarkan informasi yang saya peroleh dari beberapa sumber, perjalanan udara dari Indonesia ke Amerika memakan waktu ± 11 jam. Jauh dan lama banget kan?

Selepas sholat, kami segera kembali ke waiting room. Saya sendiri berdo’a agar perjalanan kami ini dilancarkan dan dimudahkan, terhindar dari segala bentuk hambatan maupun mara bahaya. Dan, pastinya mengucap syukur yang sebesar-besarnya atas kesempatan yang sangat langka dan sangat berharga ini. Bagaimanapun juga, tanpa izin dan kuasa-Nya, I can’t be this far.

Well, akhirnya sekitar pukul 06:30p.m. kami masuk ke dalam pesawat. Pesawatnya asli keren banget. Tipe Air Bus yang dilengkapi layar LCD + headset di sandaran belakang kursinya. Fasilitas standar yang dimiliki setiap maskapai dengan rute penerbangan Internasional. Tapi, buat saya pribadi, ini kali pertama dalam sejarah naik pesawat, saya naik pesawat yang dilengkapi fasilitas yang memanjakan mata ini. Hehehe. Enak banget pokoknya. Ditambah lagi dengan keramahan flight attendants yang cantik-cantik dan cakep-cakep dalam melayani setiap keperluan penumpang. Plus, suguhan snack & soft drink yang menjadi penyempurna perjalanan ini. Masya Allah…rasanya kayak jadi orang penting aka VIP…Hahaha. Alhamdulillah ya, nikmat dari Allah ini guys. Sekali lagi, Alhamdulillah yaaa…. #alasyahroni hihi J

Saya duduk sebelahan dengan Tiyo. Bagi Tiyo ini adalah perjalanan perdananya ke luar Negeri. Ia juga belum pernah naik pesawat sebelumnya. Saya dan Tiyo beda-beda tipis lah. Beda tipis dalam ke-katro-an! Hahahaha.

Kami semua sudah berada di dalam pesawat. Setelah meletakkan semua barang bawaan di dalam kabin, kami duduk menunggu pesawat lepas landas. Senyum bahagia jelas terlihat di raut wajah kami. Beberapa menit lagi, kami akan terbang meninggalkan Bumi Pertiwi untuk memulai petualangan baru di belahan Bumi lain yang pastinya akan sangat menyenangkan.

Bismillah…. Pesawat akhirnya lepas landas. On time, seperti yang tertera di boarding-pass. Sekitar 2 jam kami terbang dari Bandara Soekarno Hatta menuju International Changi Airport, Singapura.

Selama dalam perjalanan di atas awan, sebagian besar dari kami asyik menikmati hiburan yang ada di layar LCD di depan kami. Ada juga yang mendengarkan musik dan ngobrol dengan orang yang ada di samping mereka yang tak lain adalah Back-up Buddy masing-masing.hehe.

Perjalanan selama kurang lebih 2 jam tak terasa harus berakhir. Kami tiba di Changi Airport pukul 10:00p.m. Mbak Fenty dan Mas Budi menginformasikan kepada kami bahwa kami akan Transit selama kurang lebih 6 jam di Changi. Pesawat selanjutnya akan bertolak ke Jepang pada pukul 4 Subuh. Jadi kami Transit di Singapura, kemudian melanjutkan penerbangan ke Jepang. Dan di Jepang pun Transit (lagi) untuk melanjutkan penerbangan ke Amerika.

10

Spot di salah satu terminal (terminal II) Bandara Changi yang kami jadikan sebagai gathering-point. Menunggu penerbangan yang akan berangkat menjelang Shubuh.

Foto di atas adalah tempat kami berkumpul. Kami dipersilahkan oleh Mbak Fenty dan Mas Budi untuk mengeksplorasi aka muter-muter area Bandara Changi yang sangat keren dan bersih ini. Dengan catatan jangan muter-muter sendirian. Harus bersama, minimal dengan Back-up Buddy masing-masing. Dan sebelum jam 4 kami harus sudah berkumpul di gathering-spot yang sudah kami sepakati.

Selanjutnya, tanpa komando, kami langsung berpencar ke berbagai arah di sekitar Terminal II Bandara. Saya, Tiyo, Izka & Tami jalan bareng. Yang lain juga membentuk kelompok sendiri-sendiri. Kami muter-muter, liat-liat, dan pastinya apalagi kalo bukan Foto-foto.hahaha.

Momen kapan-lagi-dot-com kayak gini harus bener-bener dimanfaatkan semaksimal mungkin. Iya kan? Meskipun gak keluar area Bandara, setidaknya kami sudah menghirup udara Singapura. Hehe.

Kami takjub dengan keindahan dan kerapihan + kebersihan Bandara Changi ini. Bayangin aja, hampir semua lantainya beralaskan karpet layaknya permadani. Karpet di Masjid kayaknya kalah jauh dan kalah banyak dengan karpet di Bandara ini.hehe. Gila ya, pemerintahnya sangat memperhatikan kualitas Bandaranya. Saya gak ada maksud untuk membanding-bandingkan dengan bandara yang ada di Tanah Air. Tapi, melihat dan merasakan langsung fasilitas yang ada di Bandara Changi Internasional ini, saya harus bilang, ini adalah salah satu Bandara terkeren yang pernah saya singgahi.

Itu beberapa penampakan area Bandara yang tertangkap lensa kamera. Saya penasaran dengan penampakan area “private” si Bandara ini. Kami pun menuju area private Bandara.

2021

22

Believe me, ini akting aja! Hahaha 😀

232425

26

Yang mana ya guys? 😀

Kira-kira dikasih rate yang mana nih? Excellent dong. Setuju ya? Itu area “private”-nya kinclong begitu. Bersih… kering. Berlama-lama disana juga saya mau. Hehehe.

Setelah mencoba area Private Bandara, kami melanjutkan acara muter-muternya. Berbagai fasilitas yang ada di Bandara kami jajal. Hahaha. Termasuk fasilitas internet free-wifi lengkap dengan (beberapa) komputer yang ada di salah satu sudut Bandara. Meskipun hanya sekedar meng-update status di media sosial, fasilitas ini pun kami coba juga. Bahkan sampai antri. Dasar katrook! Hahahaha 😀

Bodo amat, kan kapan-lagi-dot-com ini judulnya. Lupa ya? Hahaha. Waktu transit juga masih (cukup) lama. Daripada-daripada, kan lebih baik daripada… nah loh?? Hahaha.

272829

30

Yang kiri atau yang kanan? ini salah satu dinding Bandara yang diselimuti poster iklan. Poster iklannya gede banget ya. Ini yang jadi modelnya gak capek apa? meskipun capek gak apa-apa, wong dibayar..hehe 😀

 

Tidak semua area kami sambangi, karena Bandara Changi ini sangat luas. Kami hanya sempat muter-muter di Terminal 2. Diantara kami, ada beberapa teman yang udah gak sanggup menahan kantuk. Tapi saya dan Tiyo serta hampir sebagian besar dari kami udah niat gak akan tidur hingga jam keberangkatan menuju Jepang tiba. Kenapa? Ya karena kapan-lagi-dot-com itu. Hehehe

 

31

Nih…yang udah selesai muter-muter. Mungkin udah lelah, mager deh akhirnya. Duduk-duduk santai aja sambil nunggu jam keberangkatan selanjutnya. 🙂

 

***

Waktu pun berlalu. Masa transit akan segera berakhir. Mbak Fenty dan Mas Budi langsung mengajak kami untuk bersiap-siap. Kami bertanggung jawab terhadap barang bawaan masing-masing. Jangan sampai ada yang tercecer apalagi ketinggalan di Bandara. Gak lucu kalo ada yang ketinggalan.

Setelah saya cek kelengkapan anggota grup satu-satu, kami pun bersiap-siap. Saya, karena telah terpilih sebagai group-leader, punya tanggung jawab untuk memastikan kelengkapan anggota grup. Kalo ada yang ketinggalan atau masih keluyuran, saya yang kena. Kena apa? Ya kena tegur sama Mbak Fenty.hehehe.

Syukur teman-teman sangat kooperatif. Alhamdulillah sejak bertolak dari Jakarta, semua berjalan dengan baik dan mulus, semulus senyum para Pramugari. Hahaha.

 

 

***

Perjalanan pun berlanjut. Kami naik pesawat (lagi), dengan menggunakan maskapai United Airlines menuju ke Jepang. Dari Singapura ke Jepang ini memakan waktu sekitar 6 jam. Alhamdulillah selama dalam perjalanan di Pesawat dapet makan & minum (lagi). Gak kebayang kalo enggak dikasih, pasti si perut “ngamuk” menjadi-jadi. Hehe.

Narita adalah bandara di Jepang tempat kami transit selanjutnya. Di Jepang ini transitnya gak lama. Sekitar 3 jam. Kami hanya turun ganti pesawat saja. Dan saat mendarat di Jepang, kami langsung antri bersama penumpang lain yang juga akan berangkat ke Amerika. Antriannya panjang dan padat. Selama transit enggak ada waktu banyak yang bisa dimanfaatkan untuk mengeksplor areal Bandara, karena waktunya mepet.

Kami disarankan oleh mbak Fenty untuk tidak berpencar, dan langsung ikut antrian di barisan penumpang yang akan melanjutkan perjalanan ke Amerika. Kecuali kalo ada yang mau buang air, ya segera. Itu pun gak boleh lama-lama. Karena nanti dikhawatirkan akan tertinggal. Gak lucu kan kalo ada satu atau dua orang yang tertinggal di Jepang?

Kalo sampe ada yang ketinggalan, nanti akan saya buat film “Home Alone versi Indonesia” Hahahaha.

Saat transit di Narita, pemeriksaan oleh petugas bandara cukup ketat. Saat melewati security check kami diwajibkan untuk menanggalkan sepatu dan kaos kaki. Bagi yang cowo, ikat pinggang pun harus dilepas. Agak deg-deg-an juga. Karena ini kali pertama saya melewati pemeriksaan yang kayak gini.

Syukur mereka enggak menyuruh melepas celana dan baju. Apa jadinya kalo sampe itu terjadi. Ampun dah, pasti anu, loh kok anu? Eh maksudnya pasti aneh dan malu-maluin. Hehe.

33343536

37

 

Setelah melalui proses pengecekan oleh otoriter Bandara Narita, kami pun terbang lagi. Kami menaiki pesawat yang langsung menuju Negeri Uncle Obama. Masih dengan maskapai yang sama, United Airlines. Gak akan mampir-mampir lagi di Negara lain. Kata Mbak Fenty, penerbangan ini akan memakan waktu ± 11 jam. Buseeet 11 jam?? Iyaaaa, katanya sih gitu. Gak tau juga, bulet 11 jam atau ada koma-nya. Hehe.

Kami sih percaya aja apa kata Mbak Fenty, secara doi udah bolak-balik Amrik. Mau 11 jam kek, 12 jam kek, atau 24 jam, no problema. Wong dibayarin, wong dapat makan + minum selama dalam penerbangan. Hehehe. Pokoknya kami mah, enjoy-enjoy aja. Hihihi.. 😀

 

38

 

39

This is it. It’s time to fly higher and further. America here we come!

Saat pesawat take-off  pukul 14:40p.m. (waktu Jepang), zikir dan do’a memohon keselamatan selama dalam perjalanan udara terucap dalam hati. Mudah-mudahan perjalanan ini terhindar dari segala bentuk hambatan dan mara bahaya. Dan semoga Allah yang Maha Kuasa menggunakan Kuasa-Nya untuk memudahkan dan melancarkan perjalanan kami ini.

Ini adalah perjalanan saya pertama kali ke Amerika (InshAllah akan kembali lagi suatu saat nanti, bersama sang pujaan hati, Aamiiiin). Saya senang sekali. Asli senangnya peke banget! Tak bisa dibendung rasa bahagia di dalam hati. Alhamdulillah makasih ya Allah, akhirnya salah satu impian (lama) saya menjadi kenyataan.

 

Selama berada di udara, saya merenung dalam kesyukuran akan anugerah yang saat ini sedang saya nikmati. MasyAllah, seketika terbayang lika-liku perjuangan yang saya lalui selama ini. Orang tua dan keluarga yang tak pernah jenuh mendo’akan saya dalam berjuang menuntut Ilmu di tanah rantau. Teman-teman seperjuangan di kampus, para guru dan dosen yang begitu tulus dalam berbagi pengetahuan dan pengalaman mereka.

I can’t make this journey possible without them, and of course without Allah’s will.

And this is really happening now. I am living my dream of going to the United States of America. It’s was just a dream of seorang anak kampung. And it’s now no longer a dream. It’s a dream that finally become a reality! All praises to Allah Swt.

Senyum kemenangan tak bisa terbendung. All the hard-work has been (finally) paid off. Yeah, I am not dreaming anymore. I am making and enjoying it. Right now, right here up at 30.000 (or more) feet above the sea level. Hmm… not sea, an ocean! Pacific Ocean guys!!! Allahuakbar! 🙂

***

Saya mengamati sekeliling. Nampak para awak kabin pesawat yang hilir-mudik melayani semua penumpang yang meminta bantuan mereka. SubhanAllah, mereka melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab. Cakep-cakep, cantik-cantik dari ujung kepala sampe ujung kaki. Mantap dah.

Selang beberapa menit pesawat mengudara, para awak kabin berkeliling memberikan snack + minuman. Untuk minuman tersedia berbagai macam. Mulai dari soft-drink (gak bikin teler) hingga hard-drink (bikin teler). Tinggal pilih. Bisa milih ternyata. Hahaha. Saya pun memilih yang soft-drink. Hard-drink? Owh thank you. I’m a Muslim and I don’t drink Alcoholic drink. It’s Harim. Eh Haram!

“Excusme me, what do you like to drink Sir?” Tanya seorang awak kabin ramah.

“Hmm… I’d like air putih, sir.”

“ ???”

“Oh sorry, I mean the soft-drink with Ice.”

“OK. Wait a minute.” Ia lalu mengambil satu kaleng minuman dan menuangkannya beserta es batu ke dalam gelas.

“Here it is.”

“Thank you.”

“You are welcome”. Sambil tersenyum dan berlalu menuju penumpang yang lain.

 

Karena saya duduk pada posisi aisle, saya yang langsung berhadapan dengan sang awak kabin. Si Tiyo juga memesan minuman yang sama. Saya pikir dia mau pesan yang hard-drink. Kalo sampe dia pesan yang itu, saya tabokin pake es batu! Hahaha. Back-up Buddy gak boleh diam, olrait? Hehe.

Lucunya, kita sempat “ngerjain” para awak kabin. Kita pesan minuman kaleng berkali-kali. Hahaha. Kata si Tiyo buat stok minum kalo habis. Hahaha. Dan, sepertinya ada awak kabin yang mulai curiga. Terlihat jelas, ketika ada salah satu awak kabin yang mengantar minuman kaleng pesanan kami, mukanya udah flat gitu. Hahaha.

Mungkin dalam hatinya, “Kurang ajar. Dua penumpang udik ini ngabisin stok minuman kami.” Wkwkwkw. Ah bodo amat, yang penting kan itu minuman gak dibuang. Tapi tar bakal diminum juga. hihihi 😀

Saya dan Tiyo udah pasang muka bodok tembok. Pas si awak kabin berlalu, kita baru ketawa. Hahaha. Tapi ketawanya anggun ya, gak lebay. Hehe. Kalo sampe lebay, bahaya. Kasian juga penumpang lainnya yang sedang terlelap.

Perjalanan yang panjang di dalam pesawat ini sukses membuat saya dan Tiyo terlelap. Begitu juga dengan teman-teman yang lain. Suhu di dalam pesawat yang cukup dingin juga menambah suasana nyaman untuk mengistirahatkan mata sejenak.

Syukur awak kabin memberikan selimut untuk menutup wajah dan sebagian anggota tubuh selama dalam perjalanan. Benar-benar nyenyak tidurnya. Gak tau juga, apa selama tidur itu pake acara “mendengkur” apa enggak.hehe. Pokoknya enak banget tidurnya. Meskipun dalam posisi duduk tidurnya, tetep aja nyenyak. Mungkin karena tubuh udah mulai letih juga. Jadi tidur pun pules. Alhamdulillah.

 

***

Setelah menempuh perjalanan udara selama ± 11 jam, akhirnya kami tiba juga di Negeri Dongeng. Eh kok Dongeng? Bangun woi bangun! Hahaha. Maksudnya Negeri Uncle Sam & Uncle Obama. Hehe.

Kami pun bersiap-siap turun. Kami tiba di Bandara Ohare Chicago, salah satu bandara yang menjadi entry-point Airport di Amerika. Masing-masing dari kami diminta oleh mbak Fenty untuk mempersiapkan paspor dan visa sebelum masuk ke bagian Imigrasi untuk melapor.

Antrian menuju pintu masuk ke Terminal 2 Bandara, sangat panjang. Nampak deretan manusia dari berbagai corak, bentuk, dan warna yang berbaris mengular.

Penduduk asli (American Citizen) baris-nya terpisah dengan kami dan penumpang lain yang bukan penduduk Amerika. Beberapa petugas bandara dengan seragam biru muda, celana hitam, nampak sibuk menertibkan barisan yang mulai gak beraturan. They were really well-prepared and organized.

Nah saat antri ini, perut saya tiba-tiba mules. Entahlah, apa karena makanan yang saya makan selama di pesawat atau mungkin karena kemasukan angin Amerika? Hahaha. Saya minta ditemanin Tiyo ke Toilet. Minta gak minta, dia tetap harus ikut kemana pun saya pergi. Back-up buddy is like your spouse Bro! Hahaha.

Sebenarnya perut udah mulai terasa gak nyaman sejak berangkat dari Jakarta. Malam sebelum keberangkatan, saya dan teman-teman makan nasi goreng di warteg pinggir jalan dekat Hotel kami nginap. Dan sejak malam itu, perut saya udah mulai gak enak. Besar kemungkinan karena faktor nasgor itu.

Dan puncak ke-gak-enak-an itu adalah saat tiba di Bandara Ohare Chicago ini. Ya Allah, mulesnya makin menjadi. Saya langsung bergegas menuju Toilet. Dan byuuurrr!!! Hahahaha. Suara apa coba itu? Hihihihi. Terserah imajinasi ente-ente semua dah! Hahaha.

Sekitar 15 menit saya berjibaku di dalam Toilet, menahan rasa nyeri di perut yang, ya ampun, kayak rasanya lagi dapet. Emang pernah dapet? Ya enggak lah, tapi ya pokoknya rasanya sakit bro. Dan saat mau cebok, ya ampun gak ada gayung dan ember air buat cebok. Hahaha!

Baru nyadar, ini kan bukan di Indonesia…. Ampuuuun cuma ada Tisu gulung yang terpajang di samping closet duduk. -____-

Ini pegimana coba. Karena saya gak keluar-keluar dari bilik WC, si Tiyo pun masuk mencari tau what’s going on with me. Apa saya baik-baik aja di dalam sana. Dari luar dia memanggil-manggil saya.

“Man, kamu gak apa-apa?”

“Iya. Gak apa-apa bro. Bentar lagi, tinggal cebok aja ini.”

“Owh… ayo buruan!.”

“Oke-oke.”

 

Dan thank God, setelah meyakinkan diri bahwa gak apa-apa pake Tisu dan emang karena gak ada pilihan lain, finally I did it! Hahaha. Untuk pertama kalinya sepanjang sejarah, saya cebok pake Tisu! Wkwkwkw. Asli gak nyaman banget! Beneran. Hahaha. Bagi kita orang Indo yang terbiasa pake air dalam urusan beginian, rasanya gak banget kalo harus memakai “alat” lain yang terbuat dari lapisan kayu itu.

Yasudahlah yaaaa. Yang terjadi biarlah terjadi. Ini pelajaran budaya langsung on the spot! Hahaha. Karena emang salah satu tujuan program IELSP ini adalah mempelajari budaya-nya orang Amerika. So I have just learned one which was nggilani! Hahaha.

 

Setelah beres dari urusan di Toilet, saya dan Tiyo kembali ke barisan antrian. Gila, masih panjang aja tuh antriannya. Perut udah mulai agak reda dari amukan badai. Alhamdulillah. Tapi kalo inget yang tadi di Toilet, kayak masih belum puas. Maksudnya? Ya belum puas karena tadi gak pake air. Hahaha. Kayak masih ada yang tersisa gituuu. Wkwkwwk.

Sekitar 1 jam lebih mengantri, akhirnya rombongan kami selesai melapor di bagian Imigrasi. Sebagian dari kami sudah masuk ke area Terminal 2 bandara lebih dulu. Saya dan Tio agak belakangan. Ya karena kami tertinggal saat acara di Toilet tadi itu. Gak apa-apa yang penting udah melewati bagian Imigrasi.

Saat di bagian Imigrasi ini, kami cukup menunjukkan paspor dan visa kepada petugas. Ia mengecek dan mengetik beberapa hal di komputer, kemudian kalo pun dia mau nanya, pertanyaan yang diajukan pun standar. Seperti dalam rangka apa anda datang kesini, siapa yang membiayai perjalanan anda, dan berapa lama akan tinggal disini. Gitu aja. Gak tau juga kalo ada pertanyaan yang lain. Tapi waktu itu saya ditanya hanya terkait tiga hal ini.

 

***

Kami berkumpul di salah satu sudut Terminal 2 Bandara. Kami harus berpisah dengan Grup Iowa. Mereka akan melanjutkan penerbangan ke negara bagian Iowa. Sementara kami akan bertolak ke Kansas. Sebelum berpamitan, kami memastikan dulu semua anggota sudah berkumpul di satu titik. Aman, gak ada yang tercecer.

 

 

Sempetin foto meskipun cuma sebentar gak apa-apa. Dokumentasi itu penting, iya gak? Hehe. Selanjutnya kami berpisah dan Insha Allah delapan minggu lagi kami akan bertemu di Bandara ini saat akan kembali ke Tanah Air tercinta. Mereka pun berlalu.

Kami yang tergabung dalam Grup Kansas, selanjutnya menunggu jadwal keberangkatan pesawat yang akan menuju Negara bagian Kansas. Dan rupanya pesawat kami delay. Kami harus menunggu di ruang tunggu Terminal 2. Tak apa menunggu, asal yang ditunggu udah jelas akan datang. Hehe.

Selama menunggu jam keberangkatan ke Kansas, sebagian dari kami ada yang jalan-jalan di sekitar terminal 2 bandara. Ada juga yang jajan, foto-foto, biasalah ke-laku-an orang kita. Hahaha.

Oh ya, selama dalam perjalanan dari Indonesia hingga ke Amerika kami dibekali uang saku. Masing-masing dikasi $,100,00. Lumayanlah kalo dirupiahkan. Saya sendiri gak tega untuk ngabisin itu duit buat jajan. Disimpan aja di dalam tas kecil bersama paspor yang selalu saya bawa kemana-mana. Hehe. Lagipula, saya gak terlalu suka jajan kalo lagi bepergian. Kalo ngemil sih doyan. Hahaha.

 

46

47

48

 

49

50

51

52

53

 

 

***

Setelah menunggu selama ± 5 jam, akhirnya sekitar pukul 09:50p.m. (waktu Amerika) kami menaiki pesawat yang akan terbang ke negara bagian Kansas. Kali ini ukuran pesawatnya lebih kecil dari yang kami naiki sebelumnya. Tipe maskapai yang melayani rute penerbangan domestik antar negara bagian yang ada di Amerika.

60

61

 

Meskipun kecil, tapi tetap saja pelayanannya numero uno. Selama mengangkasa, kami mendapatkan fasilitas snack  dan minuman. Perjalanan dari Chicago ke Kansas menghabiskan waktu sekitar 1,5 jam. Cukup jauh kalo naik mobil. Dan sangat jauh kalo jalan kaki. Hahaha..

Karena udah malam, pemandangan dari udara terlihat indah sekali. Lampu-lampu yang menerangi kota Chicago bak kunang-kunang yang bertaburan di padang rumput. SubhanAllah… cantik mempesona. Kelihatan juga kendaraan yang lalu lalang di beberapa titik. Pesawat mengudara tidak begitu tinggi sehingga kami bisa melihat pemandangan kota Chicago dari balik jendela pesawat.

Sayang gak sempat terabadikan dalam lensa kamera. Baterainya ngedrop -_____-

 

Tapi teman-teman yang kameranya masih ON tak melewatkan momen pemandangan dari langit Chicago, Amerika Serikat ini. 🙂

Alhamdulillah meskipun udah mulai terasa capek dan ngantuk, namun saat berada di atas udara dan menyaksikan keindahan kota Chicago di malam hari dari ketinggian ribuan meter, ngantuk dan capek seketika hilang. Hehe. Tak lama lagi, kami akan tiba di Kansas! Yeay!

 

***

Saat mendarat di Bandara Kansas City, jarum jam berada di angka 11:35p.m. (waktu Amerika). Udah hampir tengah malam. Dan kami sudah ditunggu oleh Aaron, Kayla, dan Sydney (yang menjemput kami di Bandara). Mereka juga yang akan menjadi tempat bertanya ini-itu dan yang nantinya akan sedikit-banyak “direpotkan” oleh kami selama mengikuti Program IELSP. Hehe..

Udah nyampe dong berarti? Belom 100 %. Iya udah nyampe Kansas, tapi belum nyampe area kampus, tepatnya di Asrama Mahasiswa tempat kami akan tinggal selama mengikuti kegiatan IELSP ini.

Perjalanan masih berlanjut kawan. Dan perjalanan selanjutnya akan ditempuh lewat jalur darat. Jadi kami dijemput menggunakan bus sekolah yang kayak di pelem-pelem itu loh. Bus sekolah warna kuning tua yang biasa dipake nganter-jemput anak-anak sekolah di Amerika.

Setelah ngobrol-ngobrol singkat dengan Aaron,Kayla, dan Sydney, biasalah basi-basa ketemu orang baru, kami pun berangkat.

 

62

63

64

 

Sepanjang perjalanan menuju asrama kampus yang berada di kota Lawrence, kami “menyerbu” si nona Kayla dengan berbagai macam pertanyaan. Dari yang berbau “basa-basi” sampe yang berbau terasi. Hahaha. Sorry, maksudnya pertanyaan yang penting terkait agenda kegiatan kami selama mengikuti program IELSP ini.

Kayla dengan sigap menjawab setiap pertanyaan yang kami ajukan. Ia juga membagikan map/folder yang berisi modul AEC (Applied English Center) profile, majalah kampus University of Kansas, dan majalah yang berisi informasi tentang Kota Lawrence serta jadwal kegiatan kami dalam Program IELSP ini. Lengkap satu paket hemat ala KFC! Hehe.

Karena lampu di dalam bus gak dinyalain, kami gak bisa membaca (baca: mempelajari) paket yang diberikan oleh Kayla. Ngobrol pun menjadi satu-satunya media untuk memperoleh informasi dari nona Kayla yang sepertinya punya “segudang” informasi yang kami butuhkan. Hihihi..

Nada ngomongnya juga cepat. Kadang saya dan juga teman-teman gak nangkep apa yang ia omongin. Tak jarang kami memintanya untuk mengulang kata-kata yang ia ucapkan dengan tempo yang sedikit lebih selow.

 

“Selow mbak, ojo banter-banter ngono ngomongeee. Ora ngerti mbak…” Hahaha.

“English… English…” celetuk Kayla kalo kami udah ngomong bahasa planet kita. Hahaha.

Suara berisik bus juga menjadi salah satu faktor penyebab miskom obrolan selama dalam perjalanan.

 

***

Meskipun ngobrol-ngobrol, saya sesekali melihat keluar jendela bus. Jalanan nampak sepi. Karena udah larut malam, tak banyak kendaraan yang lalu lalang di jalan raya. Di beberapa titik, jalan nampak basah dengan air hujan. Rupanya hujan baru saja menyapa bumi Kansas, buminya para cowboy.

Kata Kayla, di Kansas ini sering terjadi badai torpedo. Atau angin puting beliung yang hobinya muter-muter gak jelas itu. Hahaha. Wah serem juga ya. Mudah-mudahan badai itu gak terjadi selama kami berada di Kansas ini. Harapan saya dalam hati. Kalo pun terjadi, mudah-mudahan anginnya muter-muter cantik aja, jangan muter-muter jelek. Hehe.

Di Indonesia sendiri juga ada kan ya. Tapi jarang-jarang penampakannya. Yang paling sering kalo enggak banjir ya gempa bumi. Nah di Kansas ini ya itu tadi, si cantik Torpedo yang sering tebar pesona. Hahaha.

Sementara itu, mbak Fenty ikut bareng Aaron dan Sydney naik mobil. Jadi gak sempat ngobrol dengan Sydney dan Aaron. Mereka gak satu armada dengan kami. Tapi kita jalannya tetap beriringan.

Alhamdulillah, setelah menghabiskan ± 1,5 jam di dalam bus, kami akhirnya tiba di depan asrama kampus. Saat kami turun, rupanya gerimis. Sesekali nampak cipratan kilat di kaki langit. Kami segera menurunkan barang-barang perbekalan “perang” dari dalam bus. Yang cowok harus kerja keras  ngangkatin barang-barang temen-temen cewek. Gila, udah kayak barang bawaan orang mau pindahan aja. Hahaha.

Kami langsung bergegas masuk ke lobi asrama yang nampak cukup megah dan kokoh dengan tembok berwarna batu-bata bernuansa romawi.

Kami dipandu oleh Kayla untuk menghadap sekaligus mengambil kunci kamar di resepsionis. Dua orang resepsionis yang juga mahasiswa di University of Kansas (KU), menyambut kami dengan ramah. Mereka ini dikenal dengan sebutan RA (Residence Assistant).

Masing-masing dari kami diberikan fasilitas kamar tidur, meja belajar, lengkap dengan teman bermain. Eh maksudnya teman sekamar aka roommate. Hehe.

Lucunya, kita gak dikasi tau nama dan asalnya si roommate. Mungkin sengaja kali ya, biar kami sendiri yang cari tahu dengan menanyakan langsung kepada yang bersangkutan. Tak jadi soal, yang penting kami udah nyampe dengan selamat. Alhamdulillah… makasih ya Allah.

 

Setelah beres urusan dengan RA, Aaron meminta kami untuk berkumpul di lobi lantai 7, lantai dimana kamar kami berada. Katanya sih mereka udah nyiapin makan malam. Haaa?? Makan malam jam segini?? Udah lewat jam satu dini hari. Ini sih namanya makan maaaaaaaaaalaaaaam…hahahaha.

Eits, rezeki jangan ditolak. Sebagai wujud penghargaan dan sebagai bagian dari budaya kita yang senang menghargai, maka kami pun memenuhi permintaan Mr. Aaron.

Ya ampun mereka rela masakin masakan Indonesia. Mereka masak nasi dan daging ikan laut yang ditusuk kayak sate gitu. Gak tau juga belajar darimana masak masakan Indonesia. Ada nasi juga. Paling mereka kursus kilat sama Mbah Google. Hehehe.

Meskipun daging sate-nya adalah daging ikan laut, bukan daging sate ayam atau kambing, tapi tetap enak di lidah. Maklum perut juga udah laper. Yang membawakan makan malam adalah rekan kerjanya Aaron, namanya Geri. Coba tebak, cowok apa cewek nih si Geri? Hehe. Nah, si Geri ini juga punya tugas yang kurang lebih sama dengan Aaron, yakni sebagai special program coordinator yang nantinya akan sering berinteraksi dengan kami selama mengikuti Program IELSP di University of Kansas ini.

Setelah makan malam di lobi, kami briefing sejenak untuk jadwal kegiatan esok harinya. Alhamdulillah akhirnya perjalanan puuuanjaaang dari Jakarta, Singapura, Jepang, Chicago, Kansas, hingga ke Lawrence (Campus Dormitory) selesai sudah. Selanjutnya kami dipersilahkan untuk beristirahat. Tapi anehnya, kami gak ngerasa ngantuk! Loh kok bisa?? Ini kan udah tengah malam lewat?

Jet lag. Rupanya saya dan sebagian besar dari kami mengalami langsung fenomena jet lag. Iya, saya juga bingung ngejelasinnya gimana. Jadi intinya kami susah merem, karena pola tidur kami masih pola tidur Indonesia dimana kalo di Indonesia jam segini (jam 1 dini hari di Amerika) masih siang yakni kira-kira masih jam 1 siang! Hahaha. Jadi ya masih pada ON semua panca indera.

Tapi yaaa, mau gimana lagi. Kami harus segera beradaptasi dengan ‘alam lain’ yang perbedaan zona waktunya dua belas jam. Iya dua belas jam.

Meskipun susah merem, saya memaksakan diri untuk tidur. Mengingat besoknya akan beraktivitas. Selain itu, tubuh juga butuh istirahat setelah melakukan perjalanan yang sangat jauh.

Tapi oh tapi pemirsa, saat saya masuk ke kamar, roommate saya terbangun dari tidurnya. Rupanya ia tahu kalo ada orang baru yang masuk ke kamar. Saya pun menyapanya dan memperkenalkan diri.

Roommate saya ternyata orang Jepang guys! Hahaha.. padahal pengennya dapet native American, biar cas-cis-cus bahasa Inggrisnya makin terasah. Tapi gak apa-apa, komunikasinya selama disini juga pake bahasa Inggris, kecuali dengan sesama teman-teman fellow Indonesian. Hehe.

Rencana langsung mau tidur gak jadi, karena kita akhirnya ngobrol beberapa menit. Biasaaaa basa-basi lagiiii hahaha. Apalagi saat saya selesai sholat di dalam kamar. Si Jepang yang bernama Narihiro ini jadi penasaran dengan apa yang saya lakukan. Belakangan saya tahu kalo doi adalah seorang Atheis.

Akhirnya saya jelasin deh dikit. Ia pun akhirnya paham dengan bantuan kamus elektronik miliknya. Hahaha. Si doi gak ngerti kata “pray”. Setelah saya bilang kata “religion”, ia mencari arti kata itu di kamus elektronik bahasa Jepangnya apa. Baru deh ia mangguk-mangguk kayak burung pelatuk.. hahaha.

Well, ceritanya saya cukupkan sampe sini dulu ya gaes. InshAllah kita lanjutkan lagi. Makasih udah ngeluangin waktunya untuk mendengarkan si tukang cerita yang kadang suka gak jelas ini. Hahaha.

 

Salam Hangat dari Kansas, Amerika Serikat

Stay Healthy, Stay Happy!

@arasyidharman

Advertisements

So what do you think? An angel smiles every time you leave a comment :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s