Road to Indonesia Mengajar (Part II)

Assalam’alaikum,

Salam semangat untuk teman-teman dan pembaca sekalian dimana pun berada. Kali ini saya akan sedikit berbagi cerita (lanjutan) dari perjalanan saya untuk menjadi Pengajar Muda dalam Gerakan Indonesia Mengajar.

Selamat membaca! 😉

Sebuah email sore itu berhasil mengukir senyum di wajah saya. Alhamdulillah email itu adalah email dari Tim seleksi Indonesia Mengajar yang isinya adalah ucapan selamat! Yap! Ucapan Selamat Menikah. Loh? Hahaha 😀

Bukaaaaaaaan! (ini bercanda lagi)

Ok-ok-ok.

Ternyata oh ternyata, isinya adalah ucapan selamat atas keberhasilan saya dalam seleksi Tahap II aka Direct Assessment. Alhamdulillah saya lolos seleksi tahap II sodara-sodara. Yang mau tepuk tangan silahkan, ya lagi bertepuk sebelah tangan, sabar yaaa… ini apa?? #Plak! Hahaha 😀

Agak kaget juga sih. Antara percaya & gak. Soalnya dulu katanya pengumumannya sekitar pertengahan bulan Maret. Sekarang masih Februari. Well, tak apalah. Justru lebih cepat lebih baik, kan? Biar galaunya ga terlalu lama. Hahaha 😀

Ok lanjut.

Isi emailnya sederhana, seperti email yang sudah-sudah. Saya diminta untuk segera mempersiapkan diri untuk tes tahap III (akhir) yakni tes kesehatan alias medical check-up.

Dalam email, saya dan para kandidat Pengajar Muda yang juga losos Tahap II diminta untuk memilih lokasi tempat pelaksanaan medical check-up sesuai dengan kota yang sudah di tunjuk oleh pihak Management Indonesia Mengajar.

Saya memilih untuk ikut medical check up di Kota Surabaya. Alasannya karena selain dekat, juga ada teman yang bisa bareng dari kota Malang. Well, harus siap-siap nih, dan yang paling penting harus menjaga stamina agar tetap oke. 😀

Ada satu hal yang sempat membuat saya sedikit ketar-ketir menjelang hari H pelaksanaan medical check-up. Kesehatan? Bukan.

Kesehatan sih, Alhamdulillah ga ada masalah. Sejauh ini saya diberikan nikmat sehat yang luar biasa sama yang Maha Kuasa. Namun satu hal yang sempat menjadi kekhawatiran saya, meskipun sebenarnya ga terlalu besar — tapi sempat kepikiran juga — adalah nanti kan mau medical check-up di Surabaya, tapi ga tau mau nginap dimana pas disana, sementara jadwal untuk medical check-up yang dikirimkan oleh Tim Rekrutmen IM itu pagi jam 07 tanggal 21 Februari, pas hari Jum’at lagi.

Ada sih salah satu teman yang bermurah hati menawarkan tempat untuk menginap. Yang jadi masalah adalah si doi ini cewek. Haduh. Sungkan. Malu. Selain itu, si doi membolehkan untuk nginap di rumahnya di Surabaya, dengan syarat harus punya teman. Jadi saya harus punya teman lagi (laki-laki loh ya), berdua gitu, untuk bisa nginap di rumahnya. Kalo cuma saya sendiri, ya dia minta maaf ga bisa membuka pintu rumahnya.

Ya iyalah, mau sendiri atau berdua, saya juga – maaf- kemungkinan besar ga akan menerima tawaran baiknya itu. Alasan pertama tadi, dia cewek. Haloo? Apa kata dunia nanti? Terus alasan kedua, kita juga baru kenal. Hahaha 😀 kenalnya juga waktu mau persiapan untuk mengikuti Direct Assessment kemarin. Itu pun ga kenal langsung, cuma lewat jejaring sosial twitter, bbm and stuff. Dia arek Suroboyo, jadi ya tau banget seluk beluk kota Pahlawan itu.

Awalnya ada teman yang mau bareng berangkatnya dari Malang, tapi beberapa hari sebelum hari H medical check-up, tiba-tiba dia SMS ngasi tau kalau jadwalnya mendadak dirubah oleh Tim Seleksi IM. Yang diubah jamnya. Harinya tetap sama.

Jadwal pertama sebelum dirubah, kita sama-sama jamnya, pagi jam 07:00. Karena perubahan jadwal yang mendadak ini, akhirnya dia milih berangkatnya langsung pada hari H. Rencananya kita mau bareng berangkatnya satu hari sebelum hari H, pertimbangannya biar ga terlambat datang ke lokasi Medical Check-up.

Akhirnya saya tetap di rencana awal. Berangkat satu hari sebelum hari H. dan teman yang satunya ini jadi berangkat pas hari H karena jadwal medical check – upnya di pindah ke jam 01 siang. Kita sepakat untuk naik kereta api dari Malang ke Surabaya.

Alasannya? Helloooo? Should I tell you why?? Hahaha 😀 ga usah ya, yang pasti selain alasan yang ada sangkut pautnya dengan benda berharga yang ada di balik saku, alasan lainnya adalah karena saya ingin mencoba naik kereta ke Surabaya. Biasanya naik bus, kali ini pengen nyoba naik kereta. Life’s never been flat, hell yeah! Hahaha 😀

Kamis, ya sehari sebelum hari H medical check-up, saya berangkat menuju stasiun kereta api kota Malang. Saya membeli tiket kereta api yang berangkat jam 04 sore. Terus nanti nyampe di Surabaya nginapnya gimana? Halah, persetan dengan tempat nginap! Hahaha 😀

Yang penting saya nyampe Surabaya dengan selamat, dan yang paling penting lagi, saya bisa datang ke lokasi atau Klinik yang sudah ditunjuk untuk melaksanakan Medical check-up pada hari Jum’at pagi tepat waktu.

Bismillah… ada Allah yang selalu bersama saya kemana pun saya melangkah. Selama saya melangkah kan kaki ini dalam kebaikan, saya yakin Allah juga sedang melangkah bersama saya.

Dengan nada yang agak melow, teman cewek, arek Suroboyo itu, minta maaf ga bisa ngajak bermalam di rumahnya setelah tahu kalo saya ga jadi datang berdua dengan teman yang satunya. Terus saya bilang ga apa-apa. Nyantai aja. Gampang dah, paling buruk ya nanti nginap di Stasiun kereta, sambil kucing-kucingan dengan petugas yang jaga stasiun. Hahaha 😀

$$$

Tiket kereta api sudah di tangan. Waktu itu stasiun kereta dipenuhi calon penumpang yang juga akan membeli tiket. Suasana di stasiun kereta api sore itu cukup ramai dipenuhi calon penumpang yang akan berangkat ke berbagai kota.

Kereta yang akan saya tumpangi dijadwalkan akan berangkat ke Surabaya pada pukul 16:15 wib. Tapi, menjelang jam keberangkatan, keretanya tak kunjung datang. Saya tanya ke salah satu petugas yang mondar-mandir di ruang tunggu, katanya kereta yang akan ke Surabaya datang agak terlambat.

Hmm… kaget? Kaget sih ga, jengkel iya! Hahaha. Ya Allah, kapan sistem transportasi di Negeri ini bisa kayak di negeri lain? Yang selalu always, tidak pernah never. Hehe. Mudah-mudahan secepatnya ya.
Sambil menunggu si kereta yang ga tau alasannya kenapa bisa ga on time, saya melangkah mencari musholla di area stasiun. Ingat belum sholat ashar. Astagfirullah..

Habis sholat, seperti biasa, do’a minta dimudahkan dan dilancarkan semua urusan. Khususnya yang saat ini sedang saya ikuti. Mudah-mudahan perjalanan ke Surabaya ini lancar, tidak ada kendala apa pun. Amiiin.

Setelah sholat, salah satu kebiasaan ketika saya akan melakukan perjalanan baik dekat maupun jauh, entah itu lewat darat, laut, maupun udara, saya selalu bersedekah. Melaksanakan salah satu wasiat Nabi. Tujuannya jelas, selain memudahkan semua urusan, sedekah juga bisa menjaga kita dari segala bentuk bala atau bencana. Saya berharap, hanya kepada Allah, mudah-mudahan perjalanan saya ini lancar, nyaman, dan berkah.

Allah juga tahu, kalo saya ga tau mau nginap dimana pas nyampe di Surabaya. Dan saya selalu yakin, Dia ga mungkin tega ngebiarin hamba-Nya yang unyu-unyu ini terlantar begitu saja. Hehe.. Saya pasrah saja. Sambil do’a minta dicarikan tempat menginap di sekitar stasiun kereta pas nyampe Surabaya.

Tidak lupa, saya juga minta do’a dan restu dari ortu di rumah. Bagaimanapun, do’a orang tua kepada anaknya adalah sebaik-baiknya do’a yang selalu mujarab. Setelah berdo’a dan bersedekah, perasaan dan pikiran jadi plong dan rileks. Ga ada rasa khawatir apalagi gundah gulana. It always works! 😉

Kereta Penataran. Agak aneh sih di telinga orang yang baru pertama kalinya naik kereta api ke Surabaya. Iya itu nama kereta yang akan bertolak ke stasiun Gubeng, Surabaya. Kereta yang dari tadi ditunggu-tunggu.

Sekitar jam 05:30 wib, kereta berangkat dari Stasiun kota Malang, menuju stasiun Gubeng Surabaya. Alhamdulillah, akhirnya berangkat juga.
Di depan tempat duduk saya, duduk seorang nenek muda bersama cucunya. Kursi penumpang banyak yang kosong.

Nenek muda? Maksudnya? Iya nenek yang terlihat muda, belum 100 % masuk kategori nenek-nenek. Hehe 😀

“Mau kemana dek?” si nenek membuka percakapan.

“Mau ke Surabaya, Bu.”

Saya jawabnya pake kata “Bu” karena saya pikir itu yang duduk di sampingnya adalah anaknya. Awalnya. Kemudian setelah saya tanya status si anak kecil yang berumur sekitar 4 atau 5 tahun itu, barulah saya tahu kalo itu adalah cucunya. Tapi beneran, sang nenek nampak seperti Ibunya si anak kecil itu. Mungkin si nenek ini dulu nikahnya masih sangat muda, mungkin saja.

Ini yang selalu saya suka ketika dalam perjalanan. Selalu ada saja hal-hal yang bisa kita amati dan pelajari. Dan tidak jarang juga, dapat kenalan baru, yang minimal bisa di ajak ngobrol selama dalam perjalanan. Dan kali ini saya ketemu dengan si Nenek dan cucunya yang baik hati itu.

Baik hati? Tau darimana?

Iya baik banget. Saya bersyukur dapat tempat duduk berhadapan dengan si Nenek dan cucunya itu. Ketika saya menaruh tas ransel saya di atas, kabin? Ga tau lah apa namanya kalo di kereta, intinya tempat naro barang bawaan penumpang yang berada persis di atas tempat duduk, sang nenek menegur dan mengingatkan saya agar tasnya di pangku saja, ga usah di letakkan di atas. Katanya rawan. Banyak maling di atas kereta.

Saya kaget, loh kok bisa ada maling?? Ini gimana ceritanya. Ada maling yang tempat operasinya di dalam kereta?? Unbelievable.

Kata si nenek, sih gitu. Udah banyak kasus alias kejadian penumpang yang kehilangan barang bawaannya di dalam kereta. Ya Allah, ampuuuun. Jadi cara beraksinya, mereka ada yang pura-pura jadi penumpang. Duduk di samping kita. Nah pas kita misalnya pergi ke toilet, atau pas kita ketiduran, si maling beraksi. Waah, pintar juga tuh si Maling.

Dalam beberapa kasus, si maling cuma ngambil barang berharga yang ada di dalam tas, seperti dompet, HP, laptop, dan barang berharga lainnya. Ada juga yang ekstrim, tas dan isinya diambil semuanya! Hahaha. Kalo yang ini mah maling serakah! Mang ada maling yang ga serakah?? Hehe 😀

Alhamdulillah… Allah menolong saya dari perangkap maling di dalam kereta. Caranya? Ya lewat si nenek tadi. Well, buah dari do’a dan sedekah. Top dah!!! Allah selalu punya cara tak terduga untuk melindungi hamba-Nya yang lemah nan unyu-unyu ini. Hehe 😀

$$$

Ketika memasuki daerah Sidoarjo, sebuah pesan singkat masuk di BBM. Dari teman saya, si arek Suroboyo itu. Intinya dia nawarin lagi untuk nginap. Bukan nginap bareng loh ya? Hahaha.

Pokoknya dia tiba-tiba aja ngontak saya lagi. Setelah tadi sore sebelum berangkat dari stasiun kota Malang, dia bilang ga bisa bantu untuk mengajak saya mampir (bermalam) di rumahnya dikarenakan saya hanya sendirian. Kontak-kontakan sempat putus. Saya pikir ya dia emang udah ga bisa bantu lagi. And that’s all fine. 🙂  

I don’t know for sure. Saya juga ga terlalu memikirkan itu. Yang ada di pikiran saya, bisa nyampe Surabaya dan bisa melaksanakan medical check-up sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan. Ga peduli nanti mau nginap di stasiun, atau di pinggir jalan, atau dimana aja. Yang penting aman dari makhuk jahat yang berasal dari golongan Jin dan Manusia. Hehe 😀

Teman saya itu bilang, nanti sms/bbm kalo dah nyampe di stasiun Gubeng. Nanti dia dan temannya akan menjemput saya. Wah… tiba-tiba berasa jadi orang penting pake acara jemput segala. Terus iseng saya bilang ke dia, sekalian jangan lupa siapin karpet merah dan karangan bunga. hahaha 😀

Up to this point,  saya kembali berfikir. Kok bisa dia tiba-tiba ngontak saya lagi? Setelah tadi dia bilang, ga bisa ngajak saya mampir dan bermalam di rumahnya? saya berbaik sangka aja, semua ini udah ada yang ngatur. Dan siapa lagi kalau bukan Allah? sang Maha Pengatur.

Sekitar jam 08:30 malam, kereta tiba di Stasiun Gubeng, Surabaya. Saya dan penumpang dengan tujuan yang sama, turun dari dari dalam kereta. Musholla, tempat yang langsung muncul di kepala. Saya belum sholat maghrib dan Isha.

Kemudahan sebagai seorang musafir. Sholat selalu bisa di-rapel. hehe.. setelah menjamak sholat maghrib dan isha, sebuah pesan BBM masuk. Dari teman saya itu, dia nanya kalo posisi saya dimana. Saya bilang udah nyampe di stasiun Gubeng, dan masih di Musholla stasiun, sholat.

Si doi rupanya udah dalam perjalanan menuju stasiun. Beberapa menit kemudian dia tiba di stasiun bersama temannya. Akhirnya kami ketemu di depan gerbang masuk stasiun. Alhamdulillah, dia menawarkan untuk nginap di tempat temannya itu. Bukan di rumahnya. temannya ini cowok. Sekali lagi c-o-w-o-k. Sengaja saya ulang, untuk menghindari fitnah. hahaha 😀

Alhamdulillah, finally problem “nginap” solved! hehe 😀

Malam itu saya bermalam di rumah (tempat kos tepatnya) temannya si doi arek Suroboyo itu. Rencana untuk nginap di stasiun kereta ternyata tidak direstui-Nya. Dan kali ini lagi-lagi saya membuktikan akan kebenaran pernyataan “Rencana Tuhan itu selalu lebih baik dari rencana manusia”.

See? Indahnya rencana dan pengaturan-Nya. Saya dicarikan tempat nginap, nyampe di Stasiun langsung ada yang jemput, padahal belum kenal dekat, ya bisa dibilang orang asing alias stranger. Begitulah, kalo kita melibatkan Tuhan dalam setiap episode kehidupan kita, maka Tuhan pasti akan dengan senang hati turun tangan. Jangankan minta untuk terlibat, ga minta pun, selama ini Dia selalu terlibat di setiap inchi kehidupan kita. ya kan? 😉

$$$

Ke-esokan paginya, sesuai jadwal, saya berangkat ke lokasi tempat medical check-up. Nah ini juga saya di anterin sama temannya teman saya itu. Ya Allah, they’re so damn good people! karena mereka ngerti dan tau dimana lokasi medical check-up. Dan jaraknya juga ga terlalu jauh dari tempat kos yang menjadi persinggahan saya semalam. hehe 😀

Ketika saya tiba di lokasi, ya Allah, sepi. hahaha.. kepagian juga ini kayaknya. Benar saja, jam 07 kurang 10 menit saya sudah berada di lokasi medical check – up. Rajin sih rajin, tapi ga sampe gitu juga kali… #edisisketsagagalfokus hahaha 😀

Saya masuk ke dalam ruangan, tanya ke salah satu petugas. wah, belum buka kata si petugas. Tim dokter yang akan memeriksa juga belum pada datang. Disuruh nunggu sampe jam 08. Ini gimana sih, kok jadi ga jelas. Apa sengaja kali ya, disuruh datang jam 07 biar ga telat. Mungkin saja. Yang penting saya datang on time. Bukan on time lagi ini, tapi in time! hehehe 😀

Tak berapa lama, salah satu teman yang juga merupakan kandidat Pengajar Muda, tiba. Dia juga akan melaksanakan medical check-up jam 07:00. Akhirnya saya dapat teman. Teman untuk menunggu. hahahaha 😀

Jam 08:00. Lupa pastinya tepat jam 08 atau ga. Yang jelas, medical check-up pun berlangsung pagi itu. Apa ja yang di check?

Wah, yang di cek itu hampir semua. Pertama, tes urine. Untuk memudahkan tes urine, saya minum air putih yang banyak. Tapi anehnya, udah mau habis satu botol air ukuran 1 liter, rasa itu belum juga muncul. hahaha 😀 Rasa apaan? ya rasa itu bro! Ah ente ini pura-pura ga ngerti. 😛

Setelah tes urine, lanjut tes darah. Ya diperiksa kandungan darah. Ini juga aga serem. Bagi yang takut dengan jarum suntik, ya merem aja pas di tusuk jarum. hehe 😀 Saya merem, karena agak ngeri juga, kalo ngeliat darah dari lengan tangan kita disedot dengan jarum suntik. Tapi ga sakit kok, beneran ga sakit. Kalau pun sakit, itu Cuma dikit ja, kayak di gigit Dracula, eh, jangan Dracula deh, nyamuk aja. hehe 😀

Habis tes darah, tes penglihatan yang ditangani langsung oleh dokter umum. Pas masuk di dalam ruangannya si dokter, kita di kasi sebuah buku, bukan untuk dibaca, tapi untuk menebak angka atau huruf yang ada di dalam buku tersebut. Semakin lama, semakin cepat si dokter membolak balikkan halaman buku. Setelah selesai main tebak-tebakkan dalam buku yang dipenuhi bulatan-bulatan kecil, besar, dan penuh warna itu, saya tanya itu tujuannya buat apa.

Kata si dokter, tujuannya untuk mengetahui apakah kita buta warna apa tidak. Kalau seseorang memiliki gangguan dengan penglihatannya, dalam hal ini ada penyakit buta warna, maka dia akan kesulitan menebak angka atau huruf yang ada di dalam halaman buku itu. Benar juga, jadi butuh fokus untuk bisa mengindentifikasi jenis huruf dan angka yang ada di dalam buku itu, karena angka atau huruf itu diapit atau dikelilingi oleh bulatan-bulatan warna yang kadang menyamarkan huruf atau angka tersebut.

Selanjutnya saya diminta berbaring di tempat tidur, diperiksa tekanan darah, dengan alat yang biasa digunakan untuk mengukur tekanan darah. Apa sih namanya? Saya juga ga tau. hehe 😀

Next, periksa jantung. wah ini juga bikin jantung dag-dig-dug. Belum juga masuk ke dalam ruangan, si jantung udah loncat-loncat aja. hahaha 😀
Ada dua orang petugas yang sudah menunggu saya di dalam ruangan. Serem juga. Mereka meminta saya untuk menanggalkan pakaian saya. Haduh, ini mau diapain ya. hahaha.. 😀

Kalau dua orang petugas itu laki semua sih ga apa-apa, tapi masalahnya yang satunya itu cewek bro. Haduhh.. mau ga mau dah, tapi syukur hanya kemeja (atasan) aja yang harus dibuka. Ga kebayang apa jadinya kalo bawahannya juga diminta dilepas. Hahahaha 😀

Ternyata tujuannya adalah untuk memeriksa tekanan jantung, apakah normal atau tidak. atau malah punya penyakit jantung. Jadi di bagian atas diafragma dan di tulang rusuk, dipasang alat, semacam kabel yang terhubung dengan sebuah alat ukur detak jantung.

Setelah selesai, saya tanya apakah ada masalah dengan jantung saya kepada dua orang petugas yang berpakaian serba putih itu. Alhamdulillah kata mereka jantung saya normal. Ada standar yang harus dipenuhi untuk memastikan apakah jantung kita itu berfungsi dengan baik atau tidak. Yang pasti, jantung saya tidak bermasalah. hehe 😀

$$$

Jam 12 kita istirahat untuk sholat Jum’at. Alhamdulillah, ada masjid di sekitar lokasi medical check-up. Jadi kita tinggal nyeberang jalan aja. Masjidnya terletak di seberang jalan.

Setelah sholat Jum’at. Lanjut lagi. Kali ini tes Rontgen dengan sinar X. Kalau yang ini dulu udah pernah juga. Waktu tes kesehatan sebelum berangkat ke Amrik.

Alhamdulillah ga ada masalah dengan tulang rusuk dan paru-paru. Finally, tes pendengaran. ini juga agak aneh. Tes Pendengaran? buat apa? hehe..

Jadi pas tes pendengaran, kita dipakaikan sebuah ear-phone khusus yang sudah terkoneksi dengan sebuah alat untuk mengukur frekuensi bunyi yang bisa kita dengar. Si petugas akan memperdengarkan bunyi yang semakin lama semakin mengecil, dan kemudian menghilang. Nah tugas kita adalah menekan tombol yang diberikan, kalau kita mendengar bunyi suara yang diperdengarkan.

Selesai dah rangkaian medical check-upnya. Waktu itu kami semua selesai medical check-up sekitar jam 05 sore. Capek dan laper. Sebelum balik ke rumah masing-masing, saya dan teman-teman pergi ke warung makan di sekitar lokasi medical check-up. Sekalian sholat maghrib. Alhamdulillah semua tes kesehatan hari itu berjalan lancar.

Mudah-mudahan kami semua lolos tes kesehatan ini dan bisa bergabung untuk menjadi Pengajar Muda dalam Gerakan Indonesia Mengajar. Amiiin.

Terimakasih telah meluangkan waktu untuk membaca pengalaman saya dalam deretan kata-kata yang kadang suka ngelantur ga jelas ini.hehe.

Mudah-mudahan ada manfaat yang bisa di petik. Kalau ada yang mau ditanyakan, silahkan. Comments are always welcome. 🙂

Salam,

mysignaturee

Advertisements

3 comments on “Road to Indonesia Mengajar (Part II)

  1. zeehan says:

    Assalamualaikum..
    Saya mencoba daftar indinesia mwngajar,kira2 pengumuman di terima untuk tahap 1 berapa hari ya, setelah apply profile?

So what do you think? An angel smiles every time you leave a comment :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s