Direct Assessment Indonesia Mengajar : Road to Indonesia Mengajar Part I

Assalamu’alaikum,

Semoga teman-teman semua sehat wal afiat ya… amiin. 🙂

Kali ini saya akan berbagi sedikit cerita seputar perjalanan [agak] berliku untuk menjadi Pengajar Muda dalam Gerakan Indonesia Mengajar. Saya bersyukur bisa sampai ke seleksi tahap II.

Ya, Alhamdulillah saya lolos seleksi tahap I. Singkatnya, seleksi tahap I itu berupa seleksi administratif, ya seputar aplikasi peserta mencakup penilaian data diri dan pengalaman komprehensif, serta penilaian terhadap esai yang dibuat yang semuanya online-based.

Peserta yang mendaftar se-Indonesia jumlahnya ribuan. Dan ternyata peserta yang mendaftar untuk angkatan 8 ini merupakan yang paling banyak jika dibandingkan dengan angkatan-angkatan sebelumnya. Ada 9.359 aplikasi yang masuk ke Management Gerakan Indonesia Mengajar. Harus bilang wow ga nih? Hehe 😀

Dari sekian ribu itu, yang lolos ke seleksi selanjutnya (Tahap II) sejumlah 298 aplikasi. Gila, berarti yang ga lolos ada berapa orang ya? Silahkan dihitung sendiri..hehe
Udah? Nemu angka berapa? 😀

Baiklah. Kita lanjut yaaa…

Tulisan ini adalah [sepenggal] cerita tentang seleksi Tahap II yang saya ikuti. Yang mau nyimak, silahkan diterusin bacanya, yang ga mau, silahkan facebookan, twitteran, youtuban (yang ini agak makso) hehe.. yang jelas jangan sampe tiduran ya. 😛

Here we go!

Sabtu, 25 Januari kemarin menjadi salah satu hari yang istimewa sekaligus cukup melelahkan. Saya dan teman-teman [kandidat] Pengajar Muda regional Jawa Timur mengikuti seleksi tahap II atau yang biasa disebut dengan Direct Assessment (DA) Indonesia Mengajar Angkatan 8.

Bertempat di Universitas Surabaya (Ubaya) pelaksanaan tes Tahap II ini berlangsung dari pagi sampe sore. Kira-kira jam 08 pagi sampe jam 04 sore. Ada 23 orang kandidat yang terdaftar mengikuti DA di Surabaya. Tapi yang datang hanya 18 orang. Sisanya ga tau, ga ada kabarnya.

Kami dibagi menjadi tiga kelompok (pembagian ke dalam kelompok ini beda-beda, tergantung jumlah peserta, semakin banyak pesertanya, semakin banyak juga pembagian kelompoknya). Rata-rata tiap kelompok berjumlah 5 – 7 orang. Dan dari awal hingga akhir tes kami akan selalu bersama sesuai dengan kelompok masing-masing.

Saya ditempatkan di kelompok 1. Ya biasalah, nasib orang ganteng, #ups hehe. Maksudnya nasib orang yang nama depannya A. Ya terima nasib aja. Tapi ga ngaruh kok, bukan berarti peserta yang masuk kelompok 1 karena [kebetulan] nama depannya berabjad A lantas mendapat “perlakuan khusus” yang memungkinkan lolos dari tes tahap II ini. No way! Ga ada cerita gituan bos!

Tetep aja, semua akan mengikuti seluruh rangkain tes dalam Direct Assessment ini. Apa aja sih rangkaian tesnya? Ada 5 hal yang dinilai dalam DA. Yaitu self-presentation, Focus Group Discussion, Psikotes, Micro Teaching atau Simulasi Mengajar, dan Interview.

Susunannya tidak harus urut. Jadi 3 kelompok ini mulainya beda-beda. Ada yang dapat Focus Group Discussion di urutan pertama, ada juga yang dapat Self-presentation, dan seterusnya hingga semua rangkaian tesnya selesai dilalui satu per satu.

Karena tulisan ini adalah tulisan saya, maka penjelasan dan gambaran setiap tesnya akan saya bahas sesuai dengan yang saya ikuti. Berikut liputannya (ini kayak reporter TV aja) hehe.

Rangkaian Seleksi Tahap II (Direct Assesment) 

1.) Self Presentation

Ini tes yang saya dan teman-teman satu kelompok hadapai pertama kali. Ada dua orang Assessor yang bertugas untuk menilai. Self-presentation ini ya presentasi. Presentasi tentang diri kita atau gampangnya perkenalan. Jadi kami diberi kesempatan selama 7 menit untuk mempresentasikan tentang diri kami masing-masing. Teknisnya terserah kami. Pembagian siapa yang mau maju duluan juga terserah. Ga ada acara, “Kamu aja ya yang maju duluan”. Jadi inisiatif dan keberanianlah yang berbicara.

Chandra, salah satu peserta yang mengajukan diri untuk maju pertama. Sebenarnya saya pengen maju duluan aja sih, udah pengen maju aja bawaannya. Alasannya sederhana, biar cepat selesai, dan grafik detak jantung segera stabil. Hahaha. Tapi hati kecil berbisik, “Santai bro, let them dance first” hehe.

Chandra memulai aksinya dengan memperkenalkan diri dan berbagai hal yang terkait dengan kegiatan dan prestasi yang pernah ia peroleh selama di bangku kuliah. Pretty impressive.

Saya takjub dengan pembawaan dan gaya bicara si Chandra ini yang tenang, tidak tergesa-gesa dan sistematis. Ditambah dengan latar belakang pendidikannya yang berbau teknik dan sempat memenangkan berbagai kompetisi di bidang yang ia geluti selama kuliah. Well, keren.

Setelah Chandra selesai presentasi, satu per satu (bergantian) kami maju untuk memperkenalkan sekaligus mempresentasikan diri kami masing-masing sebaik mungkin. Dua orang assessor duduk manis di belakang deretan kursi dan menghadap ke arah kami yang sedang bernyanyi eh presentasi tentang diri kami sendiri. Mereka mengamati setiap apa yang kami ucapkan, hingga bagaimana kami berinteraksi dengan teman-teman sesama peserta dalam satu kelompok.

Here’s the trick, usahakan memperkenalkan diri secukupnya saja. Waktu 7 menit itu jangan dipake semua untuk ngomongin diri sendiri dan segala tetek bengek yang menjadi kebanggaan diri, entah itu prestasi, karya, dan sejenisnya. Sebutin aja beberapa yang menurut kita paling berharga dan nilainya masuk kategori “wow” menurut kita. Ga usah semua. Dan sisakan, ya sekitar 2 atau 3 menit untuk menyapa/berinteraksi dengan teman-teman. Ini penting.

Karena, menurut pengamatan saya, kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi, adalah salah satu poin yang menjadi penilaian dalam DA ini. Jadi intinya jangan egois. Dan, satu lagi, jadilah pendengar dan penanya yang aktif.

Maksudnya?

Jadi kita juga harus aktif bertanya, ya pertanyaan seputar teman kita yang presentasi tentang dirinya itu. Misalnya menanyakan tentang hobinya (kalau dia lupa menyebutkan hobinya ketika perkenalan), atau mau nanya alasan ikutan Indonesia Mengajar apa, dan seterusnya. Terserah. Mau nanya “udah punya pacar belum?” juga boleh-boleh saja. Asal jangan nanya no rekening loh ya..hehe..

Poinnya apa? Itu menunjukkan kalau kita punya rasa ingin tahu dan kemampuan interpersonal yang baik. Dan ini, lagi-lagi menurut saya, akan memberikan nilai tambah dimata para assessor. 😀

2.) Focus Group Discussion

Pada tahapan seleksi ini, kami diberikan sebuah kasus. Atau mari kita sebut sebagai sebuah masalah dalam bentuk studi kasus. Ya sebuah masalah yang harus kami pecahkan bersama-sama. Kami diberi satu draft tulisan studi kasus yang terjadi di salah satu daerah lokasi penempatan Indonesia Mengajar. Di dalam draft tulisan tersebut, sudah ada alternatif solusi yang diberikan. Jumlahnya ada sekitar enam atau delapan solusi. Nah, tugas kami adalah memilih tiga solusi yang menurut kami paling tepat dan efektif untuk menyelesaikan permasalahan yang ada.

Dari tiga solusi yang kami pilih, kami harus menuliskannya berdasarkan skala prioritas. Jadi masing-masing diberi selembar kertas kosong untuk menuliskan tiga pilihan solusi beserta alasannya. Waktu yang diberikan sekitar 30 menit.

Setelah selesai menuliskan tiga solusi beserta alasannya, selanjutnya adalah diskusi kelompok. Jadi kami diberi kesempatan satu per satu untuk mempresentasikan pilihan solusi yang kami buat beserta alasannya. Kemudian kami harus memilih dan memutuskan tiga solusi final dari setiap solusi yang ada. Dengan catatan tidak boleh voting atau ngambil keputusan dengan cara “hom pim pa”. Waktu yang diberikan untuk diskusi ini sekitar 45 menit.

Dan seperti diskusi pada umumnya, perbedaan pendapat adalah suatu hal yang lumrah yang pastinya akan bermuara pada pro dan kontra. Apalagi dalam hal ini, menyangkut masalah pengambilan keputusan yang menyangkut kepentingan banyak orang. Untuk sedikit menggambarkan permasalahan dalam studi kasus yang menjadi topik diskusi kami, berikut gambaran singkatnya.

Ada sebuah daerah, katakanlah daerah Semangka. Tepatnya sih pulau, ya mari kita sebut dengan Pulau Semangka. Nah masalah yang ada di Pulau Semangka ini adalah masalah yang cukup kompleks dalam hal pendidikan. Warganya banyak yang memandang pendidikan itu ga penting. Sekolah menurut mereka hanyalah membuang-buang waktu saja. Anak-anak mereka lebih dianjurkan untuk bekerja daripada harus melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.

Jadi rata-rata anak-anak yang ada di pulau Semangka itu sekolahnya ya cuma sampe SD aja. Selain itu masalah akses ke sekolah setingkat SMP juga sangat jauh. Di pulau Semangka itu hanya ada SD. Kalau anak-anak mau melanjutkan ke jenjang SMP, mereka harus menyeberang lautan. Karena SMP hanya ada di pulau seberang.

Belum lagi masalah sosial yang beredar di masyarakat yang ada di pulau tersebut. Dalam hal ini masalah pergaulan anak-anak yang bersekolah diluar pulau Semangka. Banyak dari mereka yang terjerumus ke pergaulan bebas yang mengakibatkan banyak di antara para pelajar putri hamil diluar nikah. Hal ini semakin menjadikan para orang tua khawatir untuk menyekolahkan anak-anak mereka hingga ke luar pulau. Selain rasa berat untuk terpisah dengan anak-anak mereka.

Jadi mereka banyak yang memilih untuk tidak menyekolahkan anak-anak mereka ke jenjang SMP. Pilihan bekerja untuk membantu pekerjaan mereka yang mayoritas adalah nelayan menjadi sebuah keniscayaan.

Nah dah dapat gambaran besar permasalahanya kan?

OK mari kita lanjutkan saudara-saudara,

Kami diberi kesempatan untuk mendiskusikan bagaimana caranya menyelesaikan permasalahan yang terjadi di Pulau Semangka tersebut dengan menggunakan beberapa alternatif solusi yang tersedia. Lagi-lagi kami harus memilih dengan bijak dan tentunya mewakili pendapat setiap orang. Tiga pilihan berdasarkan skala prioritas. Tanpa voting. Ini sungguh tidak mudah.

Saya memberanikan diri untuk memulai diskusi dan bisa dibilang menjadi moderator sukarela. Dan udah bisa ditebak, setiap orang memiliki pilihan solusi yang ga bisa ditebak dan berbeda pastinya. Alhasil diskusi berjalan cukup a lot aka sedikit menegangkan dan tentunya memancing adrenalin untuk naik-turun dalam frekuensi yang gak beraturan. Syukur ga sampe meletup, kalo ada yang meletup hancur dah dunia persilatan..Hehe 😀

Sementara kami berdiskusi, dua orang assessor yang sejak awal mengamati setiap inchi gerak-gerik mulut kami, sibuk corat-coret di lembar penilaian yang mereka pegang. Ga tau apa yang mereka nilai. Yang jelas mereka menilai penampilan setiap peserta.

Menjelang beberapa menit sebelum waktu habis, kami belum sampai pada titik temu atau mufakat dalam hal menentukan tiga solusi untuk dijadikan rujukan sekaligus pilihan solusi terbaik berdasarkan pertimbangan dan kesepakatan kelompok.

Syukurlah sekitar satu dua menit menjelang waktu diskusi berakhir, kami akhirnya berhasil menyamakan pendapat dan memilih tiga prioritas solusi yang menurut kami (pada akhirnya) adalah yang paling pas dan efektif untuk menyelesaikan masalah yang terjadi di Pulau Semangka. Tiga solusi itu adalah, haduh penting ga sih disebutin disini? Ga usah ya.

Intinya ya begitu. Fokus utama adalah pada interaksi diantara kami para peserta ketika kami berdiskusi. Bagaimana kami memberikan pendapat, apakah itu disampaikan dengan cara yang santun atau tidak, itu semua adalah bagian dari proses yang menjadi penilaian para assessor. Mau tau lebih jelasnya lagi? Silahkan tanyakan sendiri ke assesornya. Hahaha 😀

Pada prinsipnya, ya harus tampil maksimal. Ketika diskusi ya usahakan aktif seaktif-aktifnya. Tapi jangan lebay juga. Jangan sampe menimbulkan kesan kita mendominasi forum. Ga bagus juga itu. Kalo kita punya kemampuan untuk memimpin, do it! Tapi tetap stay calm. Pokoknya jangan sampe kita diam aka pasif. Kalo ada pendapat salah satu peserta atau beberapa peserta yang berbeda atau mungkin agak nyeleneh ya komunikasikanlah dengan cara yang santun nan anggun. Ceileh.. bahasanya.. hahaha 😀

3.) Simulasi Ngajar

Simulasi ngajar ini sempat jadi momok bagi saya dan beberapa peserta. Ya gimana mau ngajar dalam waktu sesingkat itu?? 7 menit sih waktu buat basa-basi dulu dengan murid-murid sebelum masuk ke pelajaran. Iya kan?

Kayaknya becanda nih panitia seleksi Indonesia Mengajar. Mana saya dapat pelajaran Matematika lagi. Udah bingung aja dari awal. Matematika, salah satu makhluk keren nan kece (bagi sebagian orang) yang selalu gagal menjadi teman baik saya sejak saya memakai seragam putih merah. Aduh ketahuan deh. Hahaha 😀

Tapi tetep persiapan kudu mantap. Saya kursus kilat dengan teman kosan. Kebetulan dia anak Matematik. Jadi saya belajar (lagi) materi yang saya pelajari bertahun-tahun silam. Hahaha 😀

Pas masuk ke dalam ruangan. Wuihh udah ada beberapa kakak-kakak alumni IM yang sudah menunggu di dalam. Kata beberapa teman yang sempat sharing dengan alumni, katanya sih simulasi ngajar ini seru dan ga seperti yang kita bayangkan. Pokoknya gampang, ga ada yang perlu dikhawatirkan. Ah masa sih?

Masuklah saya dan teman-teman satu kelompok. Seorang alumni yang bertugas, memberikan penjelasan singkat seputar tes simulasi ngajar ini. Yang salah satunya adalah seputar aturan main dan penentuan siapa yang maju duluan berdasarkan undian. Yap! Nama-nama kita diacak gitu. Ya semacam lotre atau undian.

Dan sialnya, saya yang dapat giliran pertama. Matiiiii dah… ga mati sih, ini masih ngetik kok.. hahaha. 😀

Setelah memperoleh kehormatan sebagai peserta yang beruntung untuk di bully eh untuk tampil duluan, saya disuruh siap-siap di luar ruangan bersama salah satu kakak alumni yang mendampingi saya diluar sebelum dipanggil masuk. Sementara di dalam sana, mereka (para peserta yang lain) dan kakak-kakak alumni menyusun skenario tentang suasana kelas.

Jadi skenarionya, saya akan mengajar Matematika. Materi yang akan saya ajarkan adalah tentang Pecahan yang meliputi konsep dan penerapannya dalam penyelesaian masalah sehari-hari. Dan yang menjadi murid-murid saya adalah teman-teman peserta dan kakak-kakak alumni yang semuanya akan bertingkah seperti anak kelas 3 SD dengan segala bentuk, corak, warna, dan tingkah laku anak SD pada umumnya ketika belajar di dalam kelas.

Jreng-jreng. Pintu pun dibuka. Saya masuk.

Betapa kagetnya saya, ketika saya masuk, baru mau ngomong, salah satu murid yang berukuran jumbo, mendekat. Dia merengek-rengek mau ditemanin duduk di kursi. Dalam hati, “gila, skenario macam apa ini?” Hahaha 😀

Dan tau gak siapa murid yang bertingkah layaknya penyandang autis tingkat dewa itu??
Siapa lagi kalo bukan salah satu kakak alumni yang mendapat peran sebagai seorang anak autis. Hahaha 😀

“Jadi anak-anak hari ini kita akan belajar tentang pecahan,”

Jawab anak-anak kls 3 SD gadungan,

“Pak pecahan itu apa? Bisa dimakan ga?”

Saya,

“Pecahan itu ya pecahan.” Hahahaha 😀 (asli ga kuat nahan ketawa waktu itu, ya saya ketawa aja)

“Bukan, pecahan itu bukan kue. Maka dari itu hari ini kita sama-sama akan belajar tentang apa itu pecahan.”

Saya lanjutkan dengan menggambar buah melon eh semangka yang saya bagi menjadi dua. Sehingga gambarnya menjadi dua bagian. Belum juga selesai menggambar, beberapa murid jadian itu ada yang naik di atas meja, gangguin temannya, ada yang mau izin keluar, ada yang sibuk ngobrol dengan temannya, dan ada juga yang diam.

Dan yang paling annoying adalah si murid yang berakting sebagai anak pengidap autis tingkat dewa itu. Ya Allah, dia sampe maju ke depan, di suruh duduk gak mau, maunya dekat saya terus. Namanya, sebut saja Toni.

“Toni ayo duduk nak”

“ga mau! Saya mau dekat sama bapak aja.”

“Iyaaa, tapi ini kan kita lagi belajar. Ayo duduk.” (rasanya pengen nabok aja) hahaha 😀

“ga mauuuu..” (sambil megang tangan saya dan senyam-senyum geliiii) hiiiii jatuhnya sih bukan imut-imut tapi amit-amit… hahahaaha 😀 ya iyalah, mana ada murid kls 3 SD badannya kekar gitu, plus janggutan dan autis lagi.. hahahaha 😀 hanya ada di simulasi ngajar ini. 😀

Oke lanjut.

Sekarang bisa kebayang kan gimana kelanjutan kelas saya tadi? ya waktu 7 menit habis untuk mengatur kelas agar tidak ribut dan berisik. Ditambah lagi harus menenangkan si murid autis jadi-jadian itu. hehe 😀

Ketika waktu saya habis, sorak tawa dan tepuk tangan pecah tumpah ruah. Ketawa yang penuh rasa puas, layaknya kawanan perampok yang berhasil menangkap seekor mangsa yang tak berdaya. Sialan. Hahahaha 😀

Teman-teman yang lain pun mengalami hal yang serupa dengan skenario yang berbeda. Ada yang mendapat skenario kelas yang semua muridnya diam seribu bahasa, ada juga yang mendapat skenario kelas yang tiba-tiba terkena gempa yang membuat kelas kocar-kacir berhamburan keluar, ada juga yang mendapat skenario kelas yang di dalamnya ada salah satu anak yang pipis di celana. Hahaha 😀

Seru. Pake banget! Jadi kami merasa bukan sedang mengikuti tes simulasi ngajar for the real one! justru berbeda 180 derajat. Kalo menurut saya, ini adalah tes, bukan tes sih, semacam ajang mengerjain atau jahilin sesama peserta. Hahaha 😀

Ya meskipun tetep dinilai oleh dua orang yang menjadi assessor di deretan kursi paling belakang. Tapi kami tidak merasa sedang dinilai. Dan pastinya seru dan bikin ngakak abis. Hahaha 😀

Entah apa yang dinilai, yang pasti kami tampil sebaik mungkin dan sebisa mungkin untuk memanfaatkan waktu yang hanya 7 menit itu untuk, well, menyampaikan materi pelajaran dan mengatur murid-murid jadian yang tingkahnya melebihi anak SD yang sebenarnya itu.

Oh ya, di akhir kakak-kakak alumni menjelaskan tentang alasan, kenapa skenario suasana kelas dibuat “aneh-aneh” seperti itu. Sebenarnya bukan aneh-aneh atau di buat-buat, tapi justru begitulah keadaan asli atau real di daerah/lokasi penempatan. Begitulah gambaran anak-anak SD disana yang dijumpai oleh kakak-kakak alumni Indonesia Mengajar ketika mereka sedang bertugas (mengajar di dalam kelas).

Tujuannya sederhana, agar nantinya kami (kalo lolos hingga tahap akhir seleksi) sudah punya gambaran tentang keadaan disana, dalam hal ini suasana di dalam kelas ketika proses belajar-mengajar berlangsung.

Yap, begitulah kira-kira. Jadi ga ada niatan yang disengaja untuk ngerjain kami para kandidat Pengajar Muda. Meskipun pada kenyataannya terkesan seperti dikerjain, atau malah sedikit di-bully. Hahahaha 😀

4.) Psikotes

Sebelum masuk ke psikotes, kami break sejenak. Sholat dan makan siang bersama. Alhamdulillah dapat nasi kotak. Makasih kakak-kakak panitia. Hehe. Kirain ga dapat makan siang, jadi paginya sebelum ke lokasi tes, saya dan teman saya Gading mampir beli roti dan air mineral di salah satu mini market yang terletak tidak jauh dari lokasi tes.

Break selesai. Lanjut dengan tes psikologi. Bayangan saya awalnya bakal ngisi tes psikologi pada umumnya dimana ada berbagai soal yang mengukur kemampuan analitis, spasial, hingga tes gambar. Ya maklum, pengalaman dah ikutan tes psikologi dulu pas mau masuk SMA.

Ternyata oh ternyata ga sama. Malah gampang banget soalnya. Jadi ada dua bagian tes. Yang pertama menjawab (memilih) sejumlah pertanyaan pilihan ganda, ya cuma ada pilihan berupa jawaban a dan b. kami diminta memilih pernyataan yang paling sesuai dengan diri masing-masing. Dan itu juga tidak memakan waktu yang lama. Mungkin sekitar 10 – 15 menit udah selesai.

Bagian kedua adalah tes menggambar. Ya menggambar. Kalo yang ini sih, udah pernah ikut waktu tes psikologi yang diadakan waktu SMA untuk menentukan pilihan jurusan. Jadi ga terlalu kaget.

Kami diminta untuk menggambar tiga jenis gambar. Yang udah pernah ikutan tes psikologi pasti dah pada tau. Yap! Yang pertama disuruh menggambar pohon. Kemudian, orang. Dan yang terakhir gambar pohon, rumah, dan orang. Bisa dibilang gabungan dari gambar pertama dan kedua.

Hanya saja, yang gambar terakhir ini kita dituntut untuk lebih kreatif memadu-padankan tiga objek gambar tadi. Jadi di gambar ketiga ini harus ada pohon, orang, dan rumah. Susunannya kayak apa, ya terserah kita mau digambar kayak gimana.

5.) Interview

Finally, interview juga. Ini one on one interview. Kami sudah ditentukan akan diinterview oleh siapa dan meja nomor berapa. Jadi di dalam ruangan interview udah ada meja tempat interview. Ada sekitar empat meja. Saya mendapat meja yang nomor 1.

Saya masuk. Alhamdulillah ga telat dari yang dijadwalkan. Malah yang mau interview saya yang telat. :/

Pertanyaan demi pertanyaan pun diajukan. Saya jawab semuanya sebaik mungkin. Alhamdulillah tidak ada pertanyaan yang ga bisa saya jawab. Yang meng-interview saya juga sangat ramah dan easy going. Hal itu membuat saya merasa nyaman. Malah saya merasa tidak sedang di-interview, tapi seperti sedang ngobrol santai dengan seseorang yang sudah saya kenal.

Terus apa aja yang ditanyakan?

Yang ditanyakan sih ga jauh-jauh dari hal-hal yang ada di aplikasi pendaftaran yang kita kirimkan pertama kali. Kalau saya jabarin satu persatu bisa panjang banget, soalnya waktu interviewnya aja memakan waktu 1 jam lebih. Dan itu cukup menguras pikiran dan energi.

Saya kasi bocoran garis besarnya aja ya. Well, kalo saya bisa ngasi kesimpulan secara umum mengenai apa yang ditanyakan waktu interview kemarin, saya cuma mau bilang setiap pertanyaan yang diajukan pasti akan bermuara pada bagaimana kita bisa memecahkan sebuah masalah. Yap! Problem solving skill.

Dan ketika kita ngejawab itu, kita ga boleh ngarang atau asal jawab gitu. Tapi semua harus kita sangkut pautkan dengan pengalaman kita pribadi ketika kita dihadapkan pada sebuah keadaan yang mengharuskan kita untuk bertindak menyelesaikan masalah.

Selain itu, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan juga seputar kemampuan kita dalam mengambil keputusan. Entah itu keputusan kecil maupun keputusan besar. Dan lagi-lagi kita harus menjawabnya berdasarkan pengalaman real yang sudah kita lakukan. Lebih-lebih pengalaman ketika kita berada di bangku kuliah. Apakah itu di organisasi atau sebuah acara dimana kita terlibat sebagai pengurus atau panitia, atau malah (mungkin) di dunia kerja kalau kita emang sudah bekerja.

Fokus utamanya adalah pada kata “How” bagaimana. Jadi ketika kita menjawab, misalnya yang interview nanya, “Pernah berada pada situasi yang menuntut kamu untuk mengambil keputusan yang cukup sulit?” Dan ketika kita jawab, “Iya pernah.”

Udah siap-siap aja tar bakalan dikejar dengan pertanyaan berikutnya, “bisa dijelaskan bagaimana proses pengambilan keputusan itu?” dan kalo si dia (yang menginterview) kurang puas dengan jawaban kita, dia akan terus “memaksa” kita untuk memberikan penjelasan yang lebih detail beserta contoh real-nya. Yap! Lagi-lagi sesuai dengan pengalaman pribadi kita. Real one, gak dibuat-buat atau dikarang-karang.

That’s what I had gone through yesterday! Ya itu salah satu contoh pertanyaannya.

Dan pertanyaan lainnya ya standarlah. Pengalaman organisasi, kepanitiaan, pengalaman kerja (bagi yang udah pernah bekerja), dan lain-lain.

Sekedar tips nih buat teman-teman yang (mungkin) saat ini sedang atau akan mengikuti interview. Entah itu interview kerja, beasiswa, atau mungkin juga akan mengikuti interview DA Indonesia Mengajar. Hehe 😀

Yang namanya interview itu kan sejatinya adalah sebuah perkenalan. Perkenalan yang dilakukan oleh pihak-pihak yang akan menjalin kerjasama dengan kita yang tujuannya untuk mengetahui kepribadian kita lebih jauh.

Nah tugas yang meng-interview itu adalah mencari tahu kita itu orangnya seperti apa sih, karakter kita itu gimana, kira-kira cocok ga dengan kriteria yang mereka cari untuk bekerjasama dalam program mereka, ambil contoh program Indonesia Mengajar ini.

Ya begitulah. Dan pas interview, tampil-lah apa adanya. Jangan dibuat-buat. Kalo emang harus ketawa ya ketawa saja.

Ga usah jaim. Ini penting. Berdasarkan pengalaman saya ikut interview, dan hasil diskusi dengan beberapa sahabat, juga hasil baca beberapa artikel tentang interview, ketika interview kita harus jadi diri sendiri. Apa adanya. Kalo kita dari sononya orangnya humoris dan suka ga bisa diam kalau lagi duduk, ya keep it up. Tentunya dengan sedikit penyesuaian.

Paham kan maksudnya? Intinya just be yourself.

Satu lagi, tenangkan diri. ga usah grogi. Anggap aja sedang ngobrol dengan teman yang sudah kita kenal lama. Santai, tapi tetap serius.
Dan terakhir, dan yang paling penting, apa itu? yap! Berdo’a. Sebelum masuk ruangan interview ya baca do’a dulu. Minimal baca Bismillahirrohmanirrohim (bagi yang Muslim). Dan bagi yang non-muslim juga silahkan berdo’a sesuai dengan tuntunan agamanya masing-masing. 🙂

Well, that’s all.

Oya, lanjut dikit nih. Alhamdulillah setelah selesai semua rangkaian DA (waktu itu kami selesai sekitar jam 04 sore), Kami berkumpul kembali untuk mengikuti acara inti. Loh acara inti apa lagi?? Bukannya udah??
Tenang dikit kenapa? #Tabukinpakesandal #Plak!!

Dan dibawah ini adalah acara intinya! 😀

DA IM 8 Surabaya

Ngerti kan apa acara intinya? 😛

Demikian sedikit curcol seputar perjalanan saya mengikuti Direct Assesment Indonesia Mengajar. Mudah-mudahan bisa memberikan sedikit gambaran seperti apa sih suasana atau proses DA Indonesia Mengajar itu. Khususnya bagi teman-teman yang saat ini sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti DA ini. Hehe 😀

Semoga bermanfaat,
Wassalam’alaikum,

mysignaturee

Advertisements

24 comments on “Direct Assessment Indonesia Mengajar : Road to Indonesia Mengajar Part I

  1. eky says:

    inspiratif sekali dan super ngakak.,hahahaha.,.,
    makasih ya kak tulisan nya, doakan saya bisa lolos DA tahap II ini dan bisa menjadi Pengajar angkatan XI,.,., Salam kenal

    • Hallo Eky. Amiiin, gmana DA-nya? adakah yg berbeda dri apa yg sy alami dlm tulisan ini? hehe 😀

      Salam kenal juga ya. All the best, smga lolos DA ya.

      Salam dari Bumi Mangsang 😀

  2. widya says:

    super inspiratif dan kreatif juga ceritainnya haha jadi nambah rasa penasaran buat ikutan indonesia mengajar. makasih kak cerita pengalamannya 🙂

  3. hadissa says:

    Makasih banyak kak untuk sharing-nya. Saya benar-benar terbantu sekali dengan informasinya. InsyaAllah saya akan ikut DA untuk Pengajar Muda X akhir Januari ini. Doakan ya kak. Salam kenal. (:

    • Hallo Hadissa,,
      Alhamdulillah it helps! 😀

      Waah selamat ya.. udah lolos smpe tahap II. Tetap semangat, semoga nanti DA-nya lancar & sukses ya. 🙂

      Salam Kenal dari Bumi Serasan Sekate.. 😀

  4. aku ketawa bacanya haha lucu pisan :”D
    Aku juga jadi terinspirasi mau menuliskan juga pengalaman DA IM yg beberapa hari lagi akan aku lalui.

    Btw thanks sharingnya 🙂

    • Hallo Anggita!

      Waaahh CPM X nih.hehe.. Alhamdulillah bisa ketawa..hihihi 😀
      Share tulisan ini ke tmn2 (CPM X) lainnya yaaa, sbg gambaran khususnya bagi CPM yg blm tau seperti apa
      proses DA Indonesia Mengajar.

      Semoga DA-nya sukses ya! 😀

      Salam dari Bumi Serasan Sekate 😉

  5. Puspita Atirennu says:

    Ka Arasyid Harman, terima kasih sharingnya. Saya gak kuat nahan ketawa, haha :D. Ceritanya super sekali dan sangat inspiratif. Doakan saya lulus tahap DA ini ya 🙂

  6. Terima kasih atas berbagi pengalamannya. Banyak belajar dari tulisan ini. 😀
    terima kasih 😀

  7. Arvida Rizzqie Hanita says:

    Waah cool.. Bisa jadi gambaran nih buat proses IM di tahap keduanya. Terima kasih sudah dijelaskan rincinya. Tapi saya justru masih berangan2 gimana kalo yang via online proses DAnya. Apakah sama seperti yang secara langsung atau tidak. Soalnya saya kemungkinan besar menggunakan via online 😄😄😄

    • Hallo Arvida! Maaf bgt baru bls komennya..hehe. Terlepas apakh km skrg sdh jd bagian dari IM atau blm, pertanyaan km smga msh relevan utk dijawab (ini asli maksa ngeles..hahaha). Soal DA via online, ada pengalaman seorang kwn yg sempat ikut DA online. Waktu itu dia sdg berada di Ceko. Nah, doi make webcam + skype. Teknisnya nanti bisa koordinasikan dlu dgn Panitia rekrutmen di Jakarta. Kata kwan sih DA-nya lancar2 saja, cuman ya itu. Feel-nya jelas beda bgt dengan DA langsung di tekape! hehe.. 😀 Saran terbaik ya DA live aja di tekape yg udah ditentuin. Tp klo emg gak bisa, ya pokoknya hrs bisa! (ini apa2an) hahaha 😀

      Jd terserah Arvida mau yg online/offline. 🙂

  8. tikaa says:

    Hahahaaa 😀 (Pengen ketawa dulu sebelum coment)..
    Nice, cerita yang sangat lucu dan menginspirasi serta memotivasi saya..

    Curcol dikit,, setelah dinyatakan lolos ke tahap DA (pelaksanaannya besok pagi 1 Agustus 2015), saya merasa jadi orang paling galau sedunia.. Kepercayaan diri dan keberanian saya runtuh ketika memikirkan seleksi besok pagi.. Mungkin karena saya membayangkan akan berhadapan dengan orang-orang ‘keren’, sedangkan saya? aku mah apa atuh.. hiihiii.. Tapi setelah nemu tulisan ini, saya bisa ketawa ngakak, melemaskan otot kegalauan itu.. Jadi menambah gambaran saya tentang seleksi DA IM, dan tentunya merubah mainset saya ttg DA, dari yang sangat serius, ternyata bisa dibawa ngakak begini.. 😀 Thanks kak untuk cerita pengalamannya.. Doakan saya sukses dan lolos ke tahap selanjutnya.. Amiin.. 😉

  9. Rindang says:

    assalamualaikum kak, perkenalkan saya rindang, saya udah daftar IM ini kak, tapi sayang di tahap 1 langsung gak lulus. kak waktu ngisi form itu saya gak ngejawab 2 buah essay, cuma di kasih strip aja. apa itu ngaruh kak untuk ketidak lulusan saya?

    gimana dengan yang tidak mempunyai pengalamaman organisasi kak?

    makasih kak

    • Wa’alaikumsalam… loh knp gak diisi semua neng? ya jelas ngaruhhhh. Yg gak punya pengalaman organisasi jelas kans-nya berkurang. krn itu juga bagian dari rangkaian penilaian dan seleksi kandidat yang memenuhi standar management IM.

      coba lagi ya. Jgn menyerah. Perbaiki kesalahan yg sebelumnya dan pantaskan diri. inshAllah aplikasi Rindang lolos seleksi.

      Good Luck ya! 🙂

  10. Wah, kereen kak..sangat menginspirasi dan sangat membantu tulisannya.

    Saya juga kurang percaya diri untuk DA, karena prestasi hampir dibilang gak ada, pasti teman-teman yang lain sangat lah keren. :’)

    Doakan saya kak, semoga dipermudah untuk DA tgl 29 Juli ini :’)

    • You GO girl! 😀 Pede aja, siapin diri sebaik mungkin. DA, seperti yg sy tulis ini, ya gitu. Pokoknya, Bismillah… 🙂 best of luck for you & semua calon PM angk 14. 🙂 Nanti share jg ya pengalaman DA-nya. Kali aja ada yg beda. hahaha 😀

  11. Aen says:

    nice share. terim akasih banyak kak rasyid… sangat membantu . mohon doanya agar bisa mengikuti jejak. menjadi pejuang pendidikan juga …Aamiin

  12. siti fatimah says:

    kak, saya ingin mendaftar jadi pengajar muda untuk periode anggakatan XIV tapi saya belum wisuda kak, wisuda nanti bulan februari 2017 sesuai tanggal wisuda di kampus saya. terus kan pas wawancara harus bawa kelengkapan berkasnya? oiya kak saya mau tanya, periode untuk pendaftaran IM hanya di akhir tahun ya? setahun cuma sekali? kalau ada pertengahan tahun saya ingin ikut angkatan XV saja. terima kasih

    • Daftar aja. Bisa kok, nanti klo misal lolos aplikasi onlinenya dan dinyatakan utk ikut DA, bawa surat ket lulus dari fakultas. utk periode pendaftarannya, setahun 2 kali. Yg skrg (angk XIV dibuka smpe Des’16). Insha Allah angk XV akn dibuka sktra bln Mei’17).

      Mantapkan Niat aja dulu. Good luck 🙂

  13. ose syahni says:

    Waahh Keren banget Kak… ngakak bacanya 😂😂 saya mau DA juga sejjenis IM juga tapi beda. Makasi sharingnya Kak!!

So what do you think? An angel smiles every time you leave a comment :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s