Bukan anak Raja

Assalam ‘alaikum teman-teman,

Apa kabar kalian semua? Semoga selalu semangat menjalani hari ya! πŸ™‚

Tak terasa udah minggu ke dua di bulan Januari. Cepat sekali ya. Perasaan baru kemarin tahun 2013 bersalaman dengan tahun 2014. Betapa cepatnya sang waktu berputar.

Anyway, tanpa sengaja saya menemukan sebuah pesan tertulis dari Imam Ghazali yang membuat saya tersinggung. Bukan tersinggung dalam arti yang negatif, tapi sebaliknya. Emang apa pesannya?

Pesannya cukup singkat,

“Kalau kamu bukan anak raja, dan bukan anak ulama besar, maka menulislah.” (Imam Ghazali)

Jleeb! πŸ˜€

Setelah membaca pesannya ini, (lupa dimana bacanya), saya seperti disiram air dingin! #lebay πŸ˜€

Pesannya singkat, sederhana, namun sarat makna. Saya lantas berfikir dan melihat diri saya. Iya ya, kalau dipikir-pikir saya ini bukanlah anak seorang Raja atau penguasa, bukan pula anak seorang ulama besar. Jangankan ulama besar, ulama kelas teri pun bukan. hehe πŸ˜€

Tapi kenapa saya, terkadang, masih merasa berat untuk menulis. Setidaknya menulis rutin tanpa putus. Padahal jelas-jelas saya tahu manfaat menulis itu apa. Jelas-jelas saya tahu kalau menulis itu adalah kebiasaan yang sangat bagus dan juga merupakan kebiasaan orang-orang besar, yang telah memberikan warisan yang tak ternilai bagi perkembangan Ilmu Pengetahuan beserta berbagai manfaat lainnya yang tak ternilai harganya.

Lama saya berpikir. Mencoba untuk menasehati dan memotivasi diri ini untuk mengikuti apa yang telah dipesankan oleh Imam Ghazali tersebut. Ini adalah sebuah tanda sekaligus peringatan berharga yang harus saya jalankan. Tidak ada kerugian materi sih kalau tidak mengindahkan pesan sang Imam. Namun, sepertinya saya tetap akan merugi.

Pertama, kalau saya tidak menulis, banyak hal yang akan hilang dari ingatan. Saya sadar, sadar sekali kalau ingatan ini lemah. Kapasitas memori sih emang besar, namun tetap saja ada keterbatasan. So, tidak ada jalan lain selain menjaganya dengan baik, dan saya pikir tulisan adalah media terbaik untuk menjaga hal-hal penting dalam hidup agar tetap hidup. Seperti kata peribahasa latin, β€œVerba volant, scripta manent” atau yang tertulis akan abadi. Yah, jelas sudah, tidak ada alasan kuat yang mengharuskan saya dan kita semua untuk tidak menulis. πŸ˜‰

Kedua, kalau saya tidak menulis, saya kehilangan momentum untuk belajar. Karena dengan menulis, sejatinya saya belajar. Belajar memahami diri ini. Belajar memaknai suatu hal dan berbagai hal yang saya alami atau yang saya amati di sekeliling saya. Dan, mungkin ini juga penting, dengan menulis saya merasakan suatu kepuasan yang hanya bisa saya rasakan ketika saya menulis. Tentunya bukan nulis karya Ilmiah atau skripsi dkk ya..hehe πŸ˜€

Ketiga, kalau saya tidak menulis, otak saya perlahan namun pasti akan “membeku”. Karena tidak terpakai untuk berfikir. Sama halnya dengan membaca, menulis juga adalah proses berfikir. Ketika saya menulis maka saya berfikir. Menulis = berfikir. Tidak menulis = tidak berfikir. Tidak berfikir = Otak tumpul. Otak tumpul = Otak beku. Otak beku = …… (isi sendiri) hehe πŸ˜€

Keempat, kalau saya tidak menulis, gagasan atau ide-ide brilian atau pengalaman-pengalaman penting dan berharga akan hilang ditelan waktu. Saya jadi ingat sebuah pepatah Arab, “Ilmu itu laksana binatang buruan. Tulisan itu laksana tali. Ikatlah binatang buruanmu dengan menuliskannya.” Pas sekali bukan? Jadi kalau saya tidak menuliskan ide atau gagasan makan ide atau gagasan tersebut akan “kabur” laksana binatang buruan. Syukur-syukur kalau ia kabur ke pekarangan rumah masih bisa di tangkap, tapi kalau kabur ke hutan? hehehe πŸ˜€

Kelima, kalau saya tidak menulis, saya tidak akan meninggalkan warisan pengetahuan bagi generasi setelah saya. Kita semua sadar, bahwa suatu saat kita akan meninggalkan dunia ini. Gajah saja kalau mati masih ada yang diwariskan. Tahu kan apa yang ditinggalkan sang Gajah? Nah, kalau manusia? Ada yang bilang kalau manusia mati, yang ia tinggalkan adalah namanya. Selain nama? Okelah, harta, perbuatan baik dan buruk selama ia hidup, terus apa lagi? Okelah, anak, istri, saudara, teman, tetangga, rakyat, dan sebagainya.

Namun, menurut saya, ada satu lagi warisan yang sangat berharga yang bisa saya dan kita semua tinggalkan ketika kita telah tiada. Warisan itu adalah Ilmu, pengalaman, dan nasehat yang tertulis dalam sebuah kitab. Atau dalam media apa pun, selama ia tertulis.

Ingat, yang tertulis akan abadi. Bisa dibayangkan, kalau Ilmu, pengalaman, dan nasehat berharga tidak kita warisakan kepada orang lain dan generasi sepeninggal kita hanya karena kita lupa atau justru sengaja tidak menuliskannya? Semoga tidak.

Oleh karena itulah, menulis itu perlu dan harus!

Tentunya menulis sesuatu yang baik dan bermanfaat bagi sesama. Bukankah Ilmu yang kita berikan kepada orang lain itu adalah amal jariyah? Yang Pahalanya akan tetap mengalir meskipun kita telah meninggal dunia selama Ilmu yang kita wariskan itu digunakan dan memberikan cahaya kemanfaatan bagi banyak orang?

Saya yakin kita semua paham akan hal ini.

Mudah-mudahan saya dan kita semua bisa menjalankan apa yang telah dinasehatkan oleh Imam Ghazali di atas. Tidak peduli kau anak Raja atau bukan, menulislah! karena menulis itu bermanfaat tidak hanya bagi diri kita pribadi, tapi juga bagi sesama. πŸ™‚

Semoga bermanfaat. Dan silahkan di-share ke yang lain ya.

Salam Hangat,

@arasyidharman

Advertisements

So what do you think? An angel smiles every time you leave a comment :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s