Hampir Ketinggalan

Photo Credit : http://zeefaizi.com/

Photo Credit : http://zeefaizi.com/

Salah satu hal yang paling nyebelin adalah ketinggalan. Ketinggalan disini maksudnya ketinggalan bus, kereta, pesawat, dan sarana transportasi lainnya. Kejadian yang bikin jantung dag-dig-dug ini hampir menimpa saya hari ini. Yup! Saya hampir ketinggalan pesawat sodara-sodara! Hahaha 😀

Saya gak mau kejadian beberapa tahun lalu terulang kembali. Yah, apes bin dongkolnya bukan main kalo ketinggalan pesawat. Udah ga bisa berangkat, eh tiketnya hangus alias ga bisa di-refund lagi (ada sih maskapai lain yang bisa refund tiket, tapi kasus saya ini ga ada cerita refund aka pengembalian tiket dalam bentuk cash).

Rasanya gimanaaaa gitu. Pokoknya pengen meledak-ledak. Bukan sama tetangga loh ya, tapi sama mas-mas dan mbak-mbak yang bertugas di Bandara. (Flasback dikit) hehe 😀

 Okay. Kembali keeeee…… 😀

Jadi ceritanya hari ini saya pulang ke rumah di Manado, ada keperluan sebentar. Jadwal keberangkatan pesawat saya jam 06 pagi. Saya nyampe di bandara Juanda Surabaya, sekitar jam 04:20 WIB. Saya langsung ke Prayer Room untuk sholat shubuh.

Seperti biasa, suasana di bandara selalu ramai. Penumpang datang dan pergi. Namun kali ini, jumlahnya membludak. Seperti semut yang sedang mengerumunin makanan. Banyak, padat. Mungkin banyak yang mau mudik untuk liburan Natal dan tahun baru.

Sebelum saya masuk untuk check in, saya melihat-lihat Information Board. Jadwal pesawat yang akan ke Manado masih belum mendarat. Santai-santai dulu sambil melihat-lihat ratusan manusia dengan berupa bentuk, ukuran, dan warna yang lalu-lalang di Bandara. Ah pesawatnya masih belum datang, check-in tar aja deh. Pikir saya saat itu.

Tiba-tiba ada seorang Bapak, berusia sekitar 30an atau mungkin 40an menghampiri saya dan menawarkan jasanya untuk mencarikan troli. Barang bawaan saya lumayan banyak. Dan troli sangat membantu untuk mengangkut barang bawaan tersebut. Awalnya saya menolak. Dalam hati saya bilang, “Aku bisa nyari sendiri trolinya, ga perlu bantuan bapak.” Tapi, lama-lama hati saya terusik juga. Ga tega liat wajah si Bapak yang sepertinya sangat butuh duit. Si Bapak nawarin, cuma Rp. 5.000 untuk trolinya.

Karena si Bapak tetep keukeh, akhirnya hati saya luluh juga. Si Bapak langsung bergegas untuk mengambilkan troli buat saya. Kurang dari 2 menit, troli sudah ada di hadapan saya. Waah, cepat banget ni si bapak. Saya kasi deh tuh Rp.5.000 untuk si Bapak. Saya niatin sebagai sedekah.

Ya mudah-mudahan bermanfaat dan bisa jadi amal jariyah dan mudah-mudahan juga perjalanan saya lancar sampai Rumah. Wajah si bapak sumringah, sambil menjabat tangan saya, dia mengucapkan terimakasih yang membuat saya nyesel kenapa tadi sempat “ngerjain” si bapak dengan menolak tawaran jasanya. Si bapak pun kemudian pergi, hilang dikerumunan orang yang keluar masuk Bandara.

Saya masih belum masuk juga untuk check in. saya lihat di Papan Informasi kok pesawat yang akan berangkat ke Manado belum muncul-muncul juga ya. Rasa khawatir mulai merasuk. Di jadwal keberangkatan, pesawatnya berangkat jam 06:00 WIB. Tapi kok pesawatnya ga ada ya? Ada sih yang berangkat jam 06:00 WIB, tapi tujuan kotanya ke Jakarta. Waduuh…

***

Jam 05:00 WIB. Pesawat yang akan ke Manado belum muncul juga. Harusnya jam segini udah landing. Dan [harusnya] semua penumpang sudah siap-siap, check in, dan menunggu di waiting room untuk boarding. Saya mondar-mandir, tanya beberapa orang yang kelihatannya akan berangkat juga. Mereka juga tidak tahu-menahu masalah pesawat yang akan berangkat ke Manado.

Akhirnya saya menyakannya ke salah satu petugas security yang berdiri di depan pintu masuk keberangkatan. Pas saya tanya sambil menunjukkan tiket, petugasnya langsung bilang pesawatnya udah landing, sebentar lagi mau berangkat! Dengan nada yang cukup keras.

Gubraaak!! Tanpa pikir panjang saya langsung menerobos kerumunan orang. Deg-degannya minta ampuuuun. Ya Allah…. Setelah melewati security check, saya langsung mencari konter maskapai penerbangan yang akan saya tumpangi. Busheeet… di dalam ternyata dah penuh sesak dengan calon penumpang yang antri untuk check in bagasi + Boarding Pass. Haduuh… gimana nih?? Jarum jam sudah menunjuk angka 05:50 WIB. Itu artinya bentar lagi, yah ga lama lagi pesawat akan segera berangkat.

Saya tanya sana-sini kalau pesawat yang akan ke Manado sudah berangkat apa belum. Beberapa ada yang langsung mengarahkan saya ke konter maskapai pesawatnya yang terletak paling ujung. Saya lari! Tak peduli dengan orang-orang yang sedang antri. Suasananya juga udah kacau balau di dalam.

I am not alone. Ternyata ada juga, bahkan lumayan banyak orang yang bergegas supaya ga ketinggalan pesawat. Hahaha 😀

Pokoknya suasananya kacau balau di dalam konter untuk check in. Gilaaa.. Akhirnya saya merapat ke konter pesawat yang akan berangkat jam 06:00. Saya langsung menerobos masuk ke barisan depan, ga peduli dengan orang-orang yang ada di sebelah kiri dan kanan yang sedang antri untuk check in.

“Mbak,Mas, tolong pesawat jam 06:00.” setengah ngos-ngosan.

Seorang petugas (cewek) segera menghubungi petugas lainnya dengan walkie-talkie-nya (saya kurang tau juga posisinya dimana). Yang jelas dia menginformasikan bahwa masih ada satu dua orang penumpang yang akan berangkat dan mohon kiranya untuk ditunggu sebentar.

Ya Allah dalam hati ga henti-hentinya baca sholawat, zikir, dan semua ayat yang terlintas di otak. Mudah-mudahan masih bisa. Soalnya, pengalaman dulu pas pertamakali ketinggalan pesawat, kalau udah tinggal beberapa menit, mereka ga mau menunggu penumpang yang masih belum masuk ke dalam pesawat.

Irama jantung? Jangan ditanya. Hahaha 😀

Petugas check in-nya juga kelihatan panik, wajar saja saya dan beberapa penumpang udah koar-koar ngajak berantem kalo sampe kami ga bisa Boarding. Hahaha 😀

Seorang petugas (cewek) udah tau saya dan beberapa penumpang udah panik, eh dia masih sempet-sempetnya nyuri-nyuri pandang, pake modus basa-basi, “Masnya pesawat jam 06 ya?” hadeeh… maaf mbak ya, belum pernah ditabok pake koper ya?? Hahaha 😀 Ane tau ente cantik, tapi cepetan woi boarding pass-nya mana!!!?? Hahaha 😀

Tapi syukur kata-kata tadi ga semua saya muntahin mentah-mentah. Bisa gempar seisi Bandara. Astagfirullahalaziim..

Beberapa detik kemudian, akhirnya, saya dan beberapa penumpang yang telaaaat check-in mendapat Boarding pass dan bisa segera ke Pesawat. Pas melewati petugas yang nagih buat bayaran Pajak bandara, saya seperti anak panah yang lepas dari busurnya. Wussssssssssssshhh!!!

Loh ga bayar pajak bandara?? Bayar lah! Maksudnya tadi habis bayar, langsung cusss!!! 😛

Saya lari sekencang-kencangnya, karena nama saya dan beberapa penumpang dipanggil-panggil lewat pengeras suara. Ya Allah, mana gate-nya paling ujung lagi. Jauh, ada 100 meter lebih. Tapi saya terus lari. Daripada saya ketinggalan pesawat.

Sampe di depan pintu masuk Pesawat, napas masih tersengal-sengal, keringat udah kayak air mancur berhamburan, eh saya dicegat sama salah satu pramugari, eh pramugara deh, soalnya cowok. 😀

“Permisi bapak, barang bawaannya ditinggal disini ya, soalnya bagasi kabin sudah tidak cukup.”

“Oh ga bisa mas, ini harus ikut masuk, soalnya ini barang berharga. Gak apa-apa saya pangku nanti.” (Mungkin bagi beberapa orang ga begitu berharga, tapi bagi saya ini sangat berharga. Apa sih? Buku. Ya Buku. Satu kardus saya bawa.) hehe 😀

Percakapan pun berlanjut,

“Tetep ga bisa Pak, kasihan nanti mengganggu penumpang yang lain.” Ujar si Pramugara dengan nada bicara yang mulai menunjukkan ketidakramahan ditambah ekspresi wajah yang sedikit banyak seperti seorang Algojo. Hahaha 😀

Pas dia bilang gitu, saya melihat ke dalam, beberapa Pramugari sedang sibuk mengatur barang bawaan penumpang di kabin. Dan ada juga beberapa penumpang yang masih mencari-cari nomor kursi sesuai dengan Boarding Pass masing-masing.

“Tap mas, waduh. Pokoknya ga bisa. Tetep harus saya bawa masuk.” Nada suara saya mulai meninggi. Agak jengkel juga. Soalnya dia juga nada suaranya ga ramah gitu. 😛

“Saya jamin, barang bawaan bapak aman. Ini juga ada beberapa barang bawaan penumpang lainnya yang tidak ikut masuk ke dalam kabin.”

“Ga bisa!” Saya ga mau kalah. Enak aja, saya bayar tiket mahal-mahal, masa belum saya cek langsung ke Kabin yang merupakan hak saya, dia malah se-enaknya nahan barang bawaan saya. Ngajak berantem ini orang.

Sempat terjadi aksi tarik-menarik juga antara kami. Karena saya ngotot tetep mau masuk dengan membawa barang berharga itu. Hahaha.. hadehh malu juga lama-lama. Soalnya diliatin penumpang lain. Dan menghalau beberapa penumpang yang akan masuk. Hahaha 😀

Akhirnya saya mengalah. Dengan syarat tapi. Saya minta kartu namanya, plus no kontaknya. Sebagai jaminan. Berani barang saya ilang or ga ada pas tiba di Manado, saya ajak makan mie setan, habis itu saya ulek-ulek mukanya sampe lumat pake ulekan cabe, cabe beneran ya, bukan cabe-cabean. Hahaha 😀

Ya pokoknya, dia harus tanggung jawab!

***

Saya masuk. Lalu mencari tempat duduk sesuai dengan yang ada di Boarding Pass.  Masih dengan peluh yang belum berhenti bercucuran dan nafas yang naik-turun ga beraturan. Panas. Syukurlah, pramugari-pramugari yang berseliweran menjalankan tugas mereka, membuat mata dan hati ini sedikit adem. 😀

MashAllah…. Cakep-cakep. Ya iyalah, mang ada Pramugari ga cakep? Hehe 😀

 Karena banyaknya penumpang, baru kali ini semua kursi di Pesawat (penerbangan lokal) yang saya tumpangi sepanjang sejarah saya naik pesawat, semua terisi penuh. Hal itu membuat para Pramugari & Pramugara sedikit kewalahan mengatur barang-barang yang ada di kabin. Belum lagi harus mengarahkan beberapa penumpang yang bingung nyari tempat duduknya dimana.

Alhasil penerbangan pun agak molor dari jadwal. Dan Alhamdulillah, yang terpenting adalah, saya tidak ketinggalan pesawat lagi. #Horeeee 😀

***

Ketika pesawat take off, dan sudah berada di ketinggian sekitar 35.000 kaki, saya merenung. Ya flashback-lah istilah kerennya. Hehe

Merenung sambil melihat ke luar jendela pesawat, sambil memuji Kebesaran dan Keagungan-Nya, ya Allah semua ini terjadi atas Kuasa-Mu. Saya tiba-tiba ingat dengan kejadian tadi sebelum saya masuk untuk check-in di Bandara.

Kejadian apa? Ya apalagi kalo bukan pertemuan dengan si Bapak yang menawarkan saya untuk dicarikan Troli untuk menaruh barang bawaan saya.

Iya ya, MashAllah. Tadi kan saya memberikan sejumlah uang, masih ingat kan berapa jumlah uang yang saya kasi tadi kepada si Bapak yang datangnya itu tiba-tiba, dan ga tau juga dari arah mana datangnya.

Si Bapak dengan penuh harap, meminta saya untuk memakai jasanya mencarikan Troli. Namun awalnya saya cuekin. Sebelum akhirnya saya ia-in. Ya Allah, saya yakin, yakin sekali ini adalah buah dari Sedekah yang saya keluarkan tadi.

Kalau misalnya, saya tetap nyuekin si Bapak, bukannya saya sedang beranda-andai ya, tapi bisa saja saya tadi ketinggalan Pesawat. Kemungkinannya besar sekali. Tapi tadi, saya merasa seperti ada yang menolong saya, mulai dari masuk untuk check-in Bagasi, sampe akhirnya saya bisa masuk ke dalam pesawat, yang kalo menurut perhitungan saya secara umum, sangat tipis harapan saya untuk bisa berangkat. Beneran.

Bagi yang pernah mengalami kejadian yang serupa dengan yang saya alami ini, terlambat check-in, atau bahkan ketinggalan pesawat, sangat paham akan situasi yang barusan saya alami. Ya, besar kemungkinan saya ketinggalan pesawat.

Dengan kerumuman penumpang yang MashAllah, padatnya minta ampun. Sementara waktu yang saya butuhkan untuk selesai check-in bagasi, sampe masuk ke dalam pesawat sangat sangat singkat. Ya bisa dipastikan saya ketinggalan pesawat.

Tapi, faktanya saya tidak ketinggalan. Allahuakbar. Allah telah terlibat dalam perjalanan saya tadi. Ya lewat keajaiban sedekah saya ke Bapak-bapak yang nawarin Troli itu. MashAllah, iya bisa jadi.

Sedekah itu emang luar biasa. Saya memperoleh satu lagi fadilah atau keutamaan dari sedekah, apa itu?

Sedekah juga bisa membuat kita ga ketinggalan pesawat. Hehe 😀

Ya intinya, sedekah itu bisa membantu kita dalam segala hal. Bahkan dalam urusan yang beginian. Saya juga mikir, kok bisa ya? Itulah Kuasa-Nya. Kalau saja, lagi-lagi saya flash-back ke Bapak-bapak yang enggak tau darimana datangnya, saya tetep nyuekin si Bapak alias ga menolongnya dengan memberinya upah sebesar lima ribu rupiah, setelah ia mencarikan sebuah Troli, kemungkinan besar Allah tidak akan ikut campur, dan saya yakin saya akan ketinggalan pesawat. Ga tau, saya yakin aja.

SubhanAllah, benar-benar sebuah pelajaran berharga bagi saya.

Kalau saya uraikan lagi, jadi ringkasnya gini, saya sedekah ke Bapak yang nawarin Troli, itu secara langsung saya membantu dia, dengan memberinya upah yang nilainya -kalau saya lihat dari raut wajahnya pas dia nawarin jasanya- cukup besar dan tentunya sangat berharga karena dia sangat membutuhkan uang itu, meskipun bagi saya jumlah tersebut tidak seberapa. Ini bisa dibilang sebab mushababnya.

Akibatnya apa? Saya ditolong sama Allah langsung! Ya, ditolong dengan Kebesaran dan Kuasa-Nya sehingga saya tetap bisa naik pesawat dan tidak ketinggalan meskipun saya sudah terlambat untuk Check-in. Harusnya saya tetep ga bisa berangkat, kalo kita memakai logika cara kerja manusia, dalam hal ini pihak maskapai penerbangan.

Yang mana, seharusnya check-in itu di tutup sekitar 40 menit sebelum berangkat. Lah saya tadi? udah telat, pake banget lagi. Saya check in, sekitar 10 menit sebelum jam keberangkatan (jam 06:00). Hahaha. Tapi, MashaAllah, itu tidak terjadi.

SubhanAllah, betapa hebat pengaturan-Nya. Tidak pernah meleset. Tidak pernah salah atur. And again, when Allah involved in every single thing I do, He always left me amazed and speechless. Allahuakbar. Makasih ya Raab.

***

Dan Alhamdulillah saya tiba di Bandara Samratulangi Manado dengan selamat dan bahagia. Akhirnya bisa kembali berjumpa dengan keluarga tercinta di rumah.

Makasih ya udah mengikuti saya lewat cerita sederhana ini. Mudah-mudahan teman-teman bisa memetik hikmah dari cerita ini. Ya khususnya tentang keajaiban dan kedahsyatan sedekah. Siapa tahu, suatu saat akan mengalami kejadian yang serupa.

Jadi udah tau apa yang harus dilakukan. Biar ga ketinggalan pesawat atau apa-lah jenis transportasinya. Hehe. Kalo misalnya ada yang punya kisah yang serupa, bisa di-share disini atau dimana aja, selama itu bisa menjadi nasehat atau pelajaran bagi kita semua.

Salam dari Utara Pulau Sulawesi,

@arasyidharman

Advertisements

So what do you think? An angel smiles every time you leave a comment :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s