Nongkrong di Koran Bestari

Pagi itu, sebuah SMS dari nomor tak dikenal masuk di inbox HP saya. Ketika saya baca, rupanya dari salah satu reporter koran Bestari, koran yang dikelola secara independen oleh kampus tempat saya belajar.

Berikut kutipan SMS-nya,

“Assalamu a’laikum mas… langsung aja ya. Perkenalkan saya Heny dari Bestari Rubrik Sketsa. Sehubungan dg akan diterbitkannya Bestari edisi 293, kami mohon kesediaan mas nya untuk meluangkan waktu buat kita melakukan wawancara… sekiranya mas nya bisa kapan? Terimakasih sebelumnya mas J” (Sender : +628194493XXX, received: 03-12-2012, 09:56:20am)

Saya jawab, OK. Kemudian kami mengatur jadwal untuk ketemu tiga hari kemudian. Kami akhirya sepakat untuk wawancara di koridor sebelah kiri Masjid A.R. Fachruddin, Masjid Kampus yang juga merupakan tempat perkuliahan Keagamaan, dan berbagai kajian ke-Islaman.

Selepas Shalat Dzuhur, wawancara pun berlangsung. Si Heny tak sendirian, ia didampingi Lia, rekan kerjanya yang juga memberondong saya dengan pertanyaan-pertanyaan terkait pengalaman saya berburu beasiswa hingga akhirnya berhasil memperolehnya pada bulan Juni kemarin.

Saya pastikan gak ada satu pertanyaan yang terlewat. Tak terasa, kurang lebih satu jam telah berlalu. Setelah merasa yakin mendapatkan apa yang mereka butuhkan untuk diolah menjadi sebuah berita di Koran Bestari, mereka pun pamit. Melanjutkan pekerjaan ‘part-time’ mereka sebagai reporter. Saya pun kembali melanjutkan aktivitas. Merampungkan tugas akhir saya yang sudah diujung tenggat waktu (you know what I mean). Hehe..

Sekitar dua minggu kemudian, korannya terbit. Si Heny menghubungi saya, sekedar mengabarkan bahwa korannya sudah bisa dibaca di Fakultas masing-masing. Karena gak sabar bercampur penasaran, saya pun segera menuju ke ruang tata usaha Fakultas untuk mengambil beberapa eksemplar koran Bestari.

kolase-foto-nongkrong-di-koran-bestari-des-2012

Barang Bukti nih…hehe. Foto Koran Bestari (No.293/TH.XXIV/Desember/2012) Hal.9.

Fotonya kurang jelas ya? maklum kameranya jelek. Hehe..

Baiklah, saya  akan tulis    salin kembali tulisan (liputan) yang ada di rubrik Sketsa koran Bestari di atas. Biar jelas kan apa isi tulisannya. Hehe..

Here it is :

“Jadilah Pemimpi, Jangan Penghayal”

Tulislah apa yang kau impikan dalam lembaran kertas, percaya atau tidak suatu saat impian itu akan terwujud. Begitulah kutipan kata-kata beberapa motivator di dunia. Siapa sangka, ternyata untaian kata itu bukan hanya sekedar kebohongan belaka. Abdul Rasyid Harman, mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan telah membuktikannya. Berkat usaha, do’a dan tawakkal-nya, di tahun 2012 ini ia telah merealisasikan impiannya menginjakkan kaki di tanah Negeri Paman Sam. Sebuah impian dari sekian banyak hal yang ia tuliskan dalam lembaran kertas.

Rasyid, begitulah ia disapa. Mengaku memang seorang pemimpi. Berangkat ke Amerika adalah salah satu impiannya sejak lama. Amerika menjadi salah satu dari sekian daftar negara yang ingin ia datangi. Kegagalannya berangkat ke Amerika ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) lantaran tak mendapat izin dari pihak Sekolah, lantas tak membuatnya putus asa. Rasyid selalu berpikir positif dan percaya bahwa ada hikmah dibalik semua kejadian. “Allah itu tidak memberikan apa yang kita inginkan, tetapi apa yang kita butuhkan. Mungkin Allah punya rencana lain, banyak kegagalan itu pasti dan jangan menyerah karena suatu saat dengan izin-Nya impian itu akan terwujud,” ungkapnya.

Tak pernah terpikir dibenaknya, ia menjadi salah satu penerima beasiswa Indonesia English Language Study Program (IELSP) Cohort X di University of Kansas, Amerika Serikat. Beasiswa IELSP adalah sebuah program beasiswa yang memberi kesempatan untuk kursus belajar Bahasa Inggris jangka pendek yang disponsori oleh Kedutaan Besar Amerika di Jakarta. Beasiswa ini adalah salah satu beasiswa yang banyak diburu oleh mahasiswa di seluruh Indonesia.

“Alhamdulillah di luar dugaan, saya bisa menerima beasiswa tersebut. Saya merasa beruntung banget,” ucapnya.

Mengawali ceritanya, sebelum ia resmi menerima beasiswa tersebut, tentu ia harus memenuhi prosedur dan tahapan-tahapan yang harus dipenuhi untuk bersaing dengan ribuan calon yang mendaftarkan diri. Ada dua proses yang harus dilaluinya. Di tahapan pertama ia harus melengkapi semua berkas yang dibutuhkan mulai dari formulir hingga melampirkan empat esai yang mencakup tentang diri sendiri, motivasi, isu-isu hangat yang dibicarakan di Indonesia dan terakhir esai tentang tujuan kedepan setelah menerima beasiswa.

Tak disangka, ternyata berkas-berkas yang dikirimnya lolos dan ia berhak mengikuti tahapan selanjutnya yakni tahapan interview yang dipusatkan di Universitas Negeri Malang untuk regional Jawa Timur. Ia mengaku kaget ketika mendapat telepon dari pihak The Indonesian International Education Foundation (IIEF), yakni Yayasan dari Jakarta yang mengorganisir program beasiswa ini. Rasyid adalah salah satu peserta dari 80 peserta yang berhasil mengalahkan 3000 lebih peserta yang mendaftar se-Indonesia.

Rezeki memang tak kemana, impiannya untuk berangkat ke Amerika benar-benar terwujud di tahun 2012 ini. Setelah mengikuti Pre-Departure Orientation (PDO) selama tiga hari di Jakarta untuk sosialisasi persiapan dan pembekalan selama di Amerika, Rasyid resmi berangkat pada gelombang dua di bulan Juni.

Selama delapan minggu, mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris tersebut menimba Ilmu Bahasa Inggris secara intensif bersama 80 penerima beasiswa lain dari Indonesia. Rasyid mengaku senang atas pengalaman yang ia dapatkan selama di Amerika. Terlebih ketika ia dan teman-temannya dari Indonesia berkesempatan mengenalkan budaya Indonesia pada suatu acara Indonesian Day.

Dengan mengambil tema Indonesia’s Hidden Paradise, Rasyid bersama peserta lain dari Indonesia menyuguhkan kebudayaan asli Indonesia seperti Tari Saman, Tari Batik, Tari Jaipong, hingga Pencak Silat. Menurutnya, Indonesian Day tersebut sekaligus menjadi ajang promosi Indonesia di luar Negeri, terutama di Amerika.

“Ternyata setelah saya dan teman-teman mengenalkan Indonesia pada audience, tidak sedikit yang ingin berkunjung ke Indonesia. Mereka terlihat antusias dengan cerita kami. Terlebih hidangan yang kami sajikan kepada para undangan berupa dadar jagung dan es buah yang benar-benar Indonesia banget.” Kenangnya bangga.

Pengalaman yang Rasyid raih hingga saat ini merupakan bentuk aplikasi dari mimpi yang ia realisasikan. “Jangan jadi penghayal yang hanya bisa menghayal, jadilah pemimpi yang harus bisa menggapai mimpimu itu dengan action,” ujarnya mengakhiri.” ~ p_hen/m-mel

 

****

That’s it. Demikian kutipan dari wawancara yang resmi nongkrong di Koran Bestari (no.293/th.XXIV/Desember/2012), koran kesayangan seluruh civitas akademika UMM.

Sebenarnya masih ada beberapa hal yang belum tercantum dari wawancara yang dilakukan pada tanggal 06 Desember kemarin. Tapi overall, intinya udah dapet. Yang penting spirit-nya sudah tertulis. Ya, bukan apa-apa, harapannya sangat sederhana, semoga teman-teman dan siapa saja yang membacanya mendapatkan inspirasi dalam perjalanan mewujudkan setiap mimpi yang mungkin hingga detik ini masih belum menjadi kenyataan. Itu saja.

Akhirnya, terima kasih saya sampaikan kepada dua reporter cantik dan sang fotografer, Bro Rizki yang juga masih berstatus Mahasiswa atas liputannya yang cakep ini. I love it! Keep up the good work guys!

Semoga suatu saat nanti kalian  teman-teman semua juga bisa memperoleh kesempatan dan pengalaman yang sama (dapat Beasiswa dan belajar di Negeri Paman Obama). Aamiin ya Raab. 🙂

Salam,

Arasyid Harman

Advertisements
This entry was posted in Dreams.

So what do you think? An angel smiles every time you leave a comment :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s