Journey to America – Part IV

PART IV – PDO (Pre-Departure Orientation)

Setelah pengumuman final itu, sekitar satu sampai dua minggu kemudian, saya dan semua grantees (penerima beasiswa IELSP Cohort X 2011) disibukkan dengan persyaratan administratif yang harus kami penuhi sebelum keberangkatan kami ke Negeri Paman Obama.

Kami diminta untuk segera membuat passport, foto visa, dan beberapa persyaratan administaratif lainnya. Cukup melelahkan juga, tapi semua telah terbayar, karena kesempatan untuk menginjakkan kaki di Negara super power sudah dalam genggaman.

Alhamdulillah…semua ini adalah karunia dan rezeki yang sangat besar dari Allah swt. 🙂

Singkat cerita, saya dan teman-teman yang beruntung memperoleh beasiswa IELSP cohort X ini di pertemukan dalam acara PDO (Pre-Departure Orientation) di Jakarta pada akhir bulan Maret 2012.

Oh ya, sebagai informasi, total penerima beasiswa IELSP Cohort X ada 80 orang yang berasal dari 80 kampus/Universitas berbeda di seluruh Indonesia.

Kami dibagi menjadi empat grup, masing-masing grup berjumlah 20 orang dengan tujuan Negara bagian (state) yang berbeda di Amerika Serikat. Grup pertama akan diberangkatkan ke Arizona dan akan belajar di Arizona State University.

Kemudian Grup kedua, akan diberangkatkan ke Iowa dan akan belajar di Iowa State University. Selanjutnya Grup ketiga, akan diberangkatkan ke Kansas, dan akan belajar di University of Kansas.

Dan terakhir, Grup empat, akan diberangkatkan ke Colorado. Grup pertama berangkat pada bulan Maret dan kembali lagi ke Indonesia pada bulan Mei.

Selanjutnya Grup kedua dan ketiga berangkatnya bersamaan yakni pada akhir Bulan Mei dan kembali lagi ke Indonesia pada akhir Bulan Juli. Dan terakhir grup lima, akan berangkat ke Amerika pada pertengahan bulan Agustus dan kembali ke Indonesia pada bulan Oktober.

Nah, acara PDO ini adalah orientasi seputar program beasiswa IELSP dan persiapan sebelum kami berangkat ke Amerika. Selain itu, ini adalah moment untuk bertemu dan berkenalan langsung dengan grantees lain yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. 🙂

Sebelumnya saya dan sesama grantee yang akan berangkat dan belajar di Kansas (selanjutnya saya tulis dengan Kansas Grantees 2012), telah berkenalan dan berkomunikasi lewat group page yang kami buat di situs jejaring facebook dan tentunya lewat handphone untuk bertukar informasi seputar hal-hal yang harus kami persiapkan sebelum PDO dan keberangkatan kami ke Amerika.

Alhamdulillah, kami sudah akrab sekitar sebulan lebih sebelum kami bertemu langsung di PDO. Saya senang sekali, karena anak-anak Kansas Grantees [hampir] semua easy-going dan gokil-gokil dengan keunikan mereka masing-masing.

Belum juga ketemu langsung, di facebook kita sudah sering bercanda dan saling memberikan nama panggilan baru yang bukan nama panggilan kami yang sebenarnya. Sebagai contoh (baca: korban pertama), teman saya Hans Riki Wibowo yang berasal dari Semarang dipanggil dengan Wewei. Aslinya sih nama panggilannya Riki.

Kemudian grantee yang lain, Dyan Agustin dari Aceh, kami beri nama panggilan baru dengan Utin, padahal nama panggilan sebenarnya Dyan. Hahaha 😀

and guess what? Nama panggilan baru saya adalah Maman. Hahaha 😀

Gak tau darimana judulnya ini nama. Mungkin mereka comot dari tiga huruf terakhir nama belakang saya, Harman. Padahal saya biasa dipanggil Rasyid sebagai nama panggilan di lingkungan teman dan dosen saya di kampus. Dari sinilah keakraban di antara kami dimulai. 🙂

PDO berlangsung dari tanggal 25 – 28 Maret 2012 di Jakarta tepatnya di Hotel New Idola, Jakarta Timur. Seru sekali, meskipun kegiatannya lumayan padat dari pagi sampai malam, kami semua Alhamdulillah bisa menikmati rangkaian acara demi acara.

***

Di hari pertama, kami berkumpul di Meeting Room Hotel setelah semua peserta tiba di Hotel (Check in). Disana kami disambut oleh Mbak Chichi dan Mbak Fenty, dua orang yang sudah kami kenal (meskipun kenalnya lewat email) dan sangat berjasa karena merekalah yang mengurus semua hal-hal admistratif terkait beasiswa ini mulai dari A – Z.

Sore itu agendanya adalah Visa Briefing, yakni penjelasan seputar pengajuan Visa ke Amerika, termasuk tips interview Visa. Mbak Chichi dan mbak Fenty menjelaskan dengan detail semua hal yang berhubungan dengan U.S. Visa, lokasi Kedutaan Besar Amerika di Jakarta, the Do’s and Don’ts selama interview Visa, dan dokumen yang harus dibawa saat interview visa.

Sesuai agenda PDO, kami dijadwalkan untuk melakukan Visa Interview pada hari kedua yakni hari Senin (26 Maret 2012).

Visa Interview 

Keesokan harinya, tepatnya pukul 05:30 pagi, kami berangkat ke Kedutaan Besar Amerika yang terletak di Jl. Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat. Kami berangkat pagi-pagi untuk menghindari kemacetan yang jamak terjadi di Ibu Kota Jakarta.

Selain itu, yang paling penting adalah agar kami semua tidak terlambat sampai di Kedubes Amerika. Sesuai jadwal, kantor Kedubes Amerika dibuka tepat pukul 07:00. Dan biasanya, sudah banyak orang-orang yang antri di depan pintu gerbang Kedubes dengan tujuan mereka masing-masing. Namun, kebanyakan adalah untuk mengurus Visa dengan agenda study, liburan, atau urusan bisnis dan pekerjaan di Amerika.

Alhamdulillah, kami tiba lebih awal dan menjadi rombongan antrian pertama yang berjejer di sepanjang jalan trotoar di samping Kantor Kedubes Amerika. Tak lama berselang, muncul beberapa orang yang juga langsung membuat antrian di belakang kami.

Selama menunggu pintu gerbang dibuka, kami mempelajari kembali tips interview visa yang diberikan oleh mbak Chichi dan Mbak Fenty.

Kantor Kedubes Amerika sepintas terkesan “angkuh” dengan pintu gerbangnya yang berdiri kokoh dengan jeruji kawat besi menghiasi puncak gerbangnya. Dikelilingi tembok yang tingginya mungkin setinggi 5 meter, mungkin juga lebih. Saya mau sih iseng ngukur, tapi gak sempat bawa meteran! Hahaha. 😀

Tepat pukul 07:00 WIB, pintu gerbang Kedubes Amerika yang berwarna coklat kehitam-hitaman dibuka. Kami pun segera berjalan masih dalam formasi antrian, merapat ke pos pertama yakni Security Check and Appointment Check yang memeriksa jadwal untuk interview visa.

Alhamdulillah, semua berkas yang dibutuhkan sudah disiapkan oleh Mbak Chichi. Kami juga diminta untuk menunjukkan passport dan diharamkan untuk membawa masuk makanan dan minuman, HP, Kamera, dan semua jenis alat elektronik. Jadi semua gadget harus dititipkan di pos, tidak boleh dibawa masuk.

Setelah Security Check selesai, kami diperkenankan masuk. Di dalam ternyata luas juga, ada lapangan tenisnya. Ini Kedubes apa lapangan olahraga.hehe 😀

Selanjutnya kami diarahkan untuk menuju ruang tunggu. Disana, kami duduk berjejer menunggu instruksi selanjutnya. Alhamdulillah, salah seorang petugas datang menginformasikan kalau rombongan IELSP dari IIEF segera menuju ke loket 1 dan 2 dengan tetap membuat antrian. Jadi kami mendapat prioritas untuk dilayani lebih dulu. #Horeeee 😀

Kami merasa seperti rombongan VIP 😀

Selanjunya kami dibagi kedalam grup, untuk kemudian dipanggil interview. Nah pas interview Visa ini yang bikin jantung lompat-lompat tak beraturan.

Kami masuk lagi kedalam ruangan untuk interview. Di dalam ruangan ini ada beberapa loket (sekitar 10, mungkin lebih), untuk interview. Satu-satu kami dipanggil. Beberapa grantees yang dipanggil duluan, saya amati pertanyaan yang diajukan, secara umum kurang lebih sama.

Tiba giliran saya, saya sudah mempersiapkan jawaban yang akan saya berikan ketika ditanya oleh petugas yang akan meng-interview saya. Well, pertanyaannya sangat simple dan mudah sekali. Tidak sesulit yang saya dan teman-teman bayangkan. Cuman, ya itu suasananya yang agak bikin ketar-ketir.hehe 😀

Saya diinterview oleh seorang petugas bule (ini orang Amerika asli), tinggi besar, laki-laki. Sebelum ditanya, dia mengecek semua dokumen persyaratan Visa termasuk passport.

What’s your name? why you want to come to US? Who pays for your trip? How long you will be staying in US? Adalah pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada saya dan teman-teman IELSP grantees. Ada juga beberapa pertanyaan lain yang tidak terduga, seperti have you ever been overseas before? Where, when, and how long?. Tapi empat pertanyaan pertama selalu ditanyakan.

Setelah diinterview, kami diberikan kartu berwarna yang menandakan apakah permohonan Visa kami diterima atau ditolak.

Kalau kartu yang diberikan itu warnanya putih, itu berarti permohonan Visa kami diterima. Warna kuning, itu artinya belum diterima, masih akan diproses. Dan warna merah, itu artinya ditolak.

Setelah kami semua selesai interview, kami keluar menuju ke halaman depan, kami berkumpul di salah satu sudut gedung. Disana kami mengecek apakah ada di antara kami yang mendapat kartu selain warna putih.

Dan kami semua kaget, ternyata salah satu dan satu-satunya teman kami, Layla, yang mendapat kartu warna kuning. Sisanya warna putih semua.

Waduh, gimana ini? Layla pake acara nangis segala lagi. Hahaha 😀 wajarlah dia nangis, karena She was the only & lucky one yang dapat kartu sakti warna kuning. Hahaha 😀

Kalau ada dua atau tiga orang, mungkin dia ga akan sedih dan nangis. Atau bisa jadi juga, ketiga-tiganya nangis semua. Wah bisa gempar tuh kantor Kedubes Amerika… hehe 😀

Akhirnya kami menghubungi mbak Chichi, memberitahukan masalah ini. Kami membesarkan hati Layla, agar dia bersabar, InshAllah Visanya akan keluar. Saya dan beberapa teman pun bertanya-tanya, kok bisa si Layla dapat kartu kuning?

Kata teman-teman saat dia diinterview tadi, dia jawabnya gak lancar dan terlihat gugup bin nervous. Hmm.. mungkin itu penyebabnya. Dan ini yang perlu dicatat, ketika mendapatkan kartu kuning atau putih, kami dan semua pemohon Visa Amerika tidak dibenarkan dan dibolehkan untuk bertanya kenapa pengajuan Visa kami tidak diterima.

Alasannya? Saya dan teman-teman bahkan orang yang punya pengalaman mengurus Visa Amerika pun tidak tahu. Ya begitulah, their home, their rules.

Setelah urusan di Kedubes Amerika selesai, kami kembali ke Hotel. Waktu itu Kota Jakarte panas terik pemirsa dan ya seperti yang sering kita lihat di layar kaca, macet & crouded ..hehe. Kami kembali ke Hotel dengan menumpangi Blue Bird taxi. Alhamdulillah urusan Visa selesai juga.

What’s next??? Penasaran kan? 😛

Just stay tuned and scrolling down!! Hehe 😀

Medical Check-Up

Next thing was, Medical Check-Up. Setelah break-time (Sholat dan Makan siang), semua IELSP Grantees dicek kesehatannya. Tujuannya apa? Agar tidak menyusahkan ketika program berjalan dan tentu saja sebagai langkah antisipasi manakala ada satu dua virus penyakit yang bersarang di dalam tubuh para Grantees.

Jadi sebelum berangkat ke Negeri Uncle Obama, kesehatan kami semua harus oke. Apabila ada satu dua peserta yang kesehatannya bermasalah, kemungkinan besar dia tidak akan diberangkatkan. Sampai segitunya ya…hehe. Karena, lagi-lagi, rule is rule & it’s theirs. Pokoknya Sami’na Wa ato’na deh.. hehe 😀

Satu-satu kami diperiksa. Mulai dari periksa dan tes urine, mata, mulut, sampai tes paru-paru dengan sinar X (Rontgen).

Selain itu, kami juga diberikan vaksin MMR (Mumes, Miles, dan Rebula), yakni vaksin antibiotic untuk mencegah penularan virus campak. Karena dikhawatirkan ketika berada di Amerika nanti sistem immune kami tidak akan bisa beradapatasi dikarenakan iklim dan cuacanya yang sangat berbeda dengan  yang ada di Indonesia.

Jadi pemberian vaksin sebelum kami berangkat adalah sebuah keharusan. Tim medis yang mengecek kesehatan kami adalah tim medis yang sangat professional dari Omni International Hospitals Jakarta.

Malam harinya, kami semua diajak rekreasi. #Horeee 😀

Gila aja, belum juga berangkat ke Amrik, udah diajak jalan-jalan. Alhamdu..? Alhamdulillaaaah… 😀

kami di ajak oleh Mbak Chichi mengunjungi @america, yakni pusat informasi Amerika Serikat mulai dari A – Z. Semua informasi tentang Amerika ada disini.

Kalau di Kampus saya dan beberapa kampus lainnya, ada juga pusat Informasi seputar Amerika, namanya American Corner. Namun di @amerika ini lebih lengkap dan design ruangannya benar-benar High-tech guys!! for more info about @america go here.

Ini nih beberapa foto di @america yang sempat diabadikan 😀

@america 01

Welcome gate @america. silahkan masuk 😀

@america 02

Semuanya liat kamera!! Senyuuuummm ^_^ eh eh, itu si Harun gagal fokus! #Plak! 😛 hahaha 😀

@america 03

Liat kamera yg satunya lagi woi! Senyuuumm… ^_^ ada yg gagal fokus lagi ga? 😛

@america 04

Yah itu si Inche liatin Layla, si Izka liatin Hp, si Unsun? dia liatin mbak yg jd MC ya? #Plak #Plak #Plak hahaha 😀 si Tio angkat tangan mau ngapain yoo?? jangan2 ada yg nodong ya di blakang? 😀 Keep Smileeee ^_^

@america 05

Aduh Wewei, Layla, & Nyndia kepotong. Ini yg jepret siapa ya? Minta ditabokin kayaknya.. #Plak 😀 Del, mana senyuuuumnyaa? #Plak 😀

@america 07

Ciye ciye ciyeee, ini kaka ade ya? ato ade kaka? hahaha 😀

@america 08

Liat sini woi, wuiih tau aja klo ada yg mau jepret. Layla km ga kejepit kah? 😀

@america 09

ayo cemu cenyuuumm… jepret jepret jepret suara kaki kuda.. loh? Haha 😀
Achi kok merem gituuuu? -____- #Plak 😀

@america 10

Wuih si Zul hormat. Jangan2 yg jepret ini Mr. President, wadooh.. eh si Dian jugaa.. ciyee Zul & Dian, janjian yaaa? hahaha 😀

@america 11

Cewe-cewe kece lg mejeng nih.. xixixi. eh ada 2 cew ganteng yg nyasar pemirsaaa.. xaxaxa 😀

 $$$

Esok harinya adalah acara inti yakni pembekalan sebelum keberangkatan kami semua ke US. Ada Ibu Diana (manager IIEF), Mbak Fenty, Mbak Vera, dan beberapa alumni IELSP Cohort sebelumnya yang hadir untuk berbagi cerita pengalaman mereka selama mengikuti Program IELSP di Amrik. Termasuk, US-alumni Coordinator (waktu itu) Mas Karim juga hadir.

Acaranya bukan di hotel New Idola, tapi di hotel Cemara II. Ga tau juga kenapa pindah hotel. Ya kami sih ngikut ja. No problem, no problem. Wong di-bayarin.. hahaha 😀

Seru banget. Bu Diana menjelaskan hal-hal seputar persiapan baik fisik maupun psikis. Apa saja yang perlu kami persiapkan sebelum keberangkatan, terutama yang berkaitan dengan persiapan mental. Disana, kata beliau, sangat sangat berbeda dengan di Tanah Air. Mulai dari budaya, cuaca, makanan, gaya hidup, dan lain-lain. Jadi kami harus bisa beradaptasi dengan segala hal yang 180 derajat berbeda tersebut.

Di menit-menit awal, Bu Diana mengucapkan selamat atas keberhasilan kami semua menjadi penerima (Grantees) beasiswa IELSP Cohort X. Katanya kami adalah orang-orang terpilih yang berhasil menyisihkan 3000 lebih peserta lainnya se-Indonesia. Waoooo… baru tau, ternyata ada 3000 lebih yang mendaftar. Dan yang lolos seleksi hanya 80 orang out of 3000!! udah biasa aja, ga usah bilang wow lagi. Cukup sekali aja bilang wao-nya. hehe.

Orientasinya berlangsung seharian, dari pagi sampe malam. Lumayan capek, tapi ga terasa capeknya karena ada energy booster : makanan + minuman super yummy ala buffet, plus snack yang, MashAllah laziizzzzz…hehehe 😀

$$$

Di penghujung orientasi dan pembekalan, sebelum kami kembali ke hotel New Idola, ada satu agenda yang harus kami selesaikan. Yakni pemilihan Group Leader. Wah, ini sih agenda yang ga ada di jadwal PDO, tapi penting.
Kami, grup Kansas dan grup Iowa, mencari spot yang nyaman untuk diskusi sekaligus musyawarah untuk memilih salah satu di antara kami sebagai ketua grup. Oh ya, lupa ngasi tau. Jadi di PDO ini ada dua grup yang ikut PDO dan akan berangkat bareng. Yakni grup Kansas, dan Iowa. Jadi ada 40 orang yang nantinya akan berangkat bersamaan di penghujung bulan Mei 2012.

OK Lanjuuuuut!

Karena mungkin efek capek & ngantuk, pemilihan ketua grup Kansas (grup kami) di hotel Cemara hasilnya nihil. Udah ada sih beberapa nama yang diusulkan sama teman-teman. Tapi, ada juga yang ngusulin ga usah pake voting segala. langsung aja, siapa yang mau, suka & rela. Ga usah pake acara voting-votingan. Ya ribet deh jadinya.

Akhirnya, sampe waktu habis, ga ada yang mau ngacung secara suka rela untuk menjadi grup leader. Mau ga mau kami harus voting untuk memilih satu nama sebagai group leader Kansas Grantees.

Bagaimana dengan grup Iowa?? wah, mereka udah kelar duluan. Ga tau juga, apa mereka pake acara voting, atau suka rela.
Lah kami? Kansas?? Mbuleeeet pake ribeeett. hahaha 😀

Saya sih nge-jagoin si Harun, karena menurut saya dia punya inisiatif yang cukup menonjol di antara kami. Ya dari hari pertama, udah keliatan aksinya. Mulai dari mengkoordinir teman-teman nyari taksi untuk interview visa di Kedubes Amerika, sampe gedor-gedor pintu kamar teman-teman untuk segera siap-siap berangkat ke Hotel Cemara II. Selain itu, menurut saya, dia juga punya sense of fatherhood. Bahasa Indonesianya, gimana ya? rasa ke-Bapakan kali ya? hehe.

Karena tak kunjung ada yang mau menghibahkan dirinya menjadi ketua grup, resikonya kami malam itu ga boleh langsung tidur sekembalinya ke Hotel New Idola. Voting is the final method.

Grup Iowa pas nyampe di hotel New Idola udah santai, bisa langsung tidur, leyeh-leyeh, karena udah ada yang menjadi grup leader mereka. Terlepas metode apa yang pakai, apakah voting, sukarela, atau malah langsung ditunjuk secara sepihak? haha.

Malam itu kami, grup Kansas (terpaksa) harus ngumpul lagi di salah satu sudut hotel New Idola di lantai tiga. Bukan sudut sih, apa ya, anggap aja spot atau tempat ngerumpi gitu. hohoho.

Ngapain? ya ngapain lagi kalo bukan untuk ngelanjutin acara pemilihan ketua grup yang belum sampai pada “titik didih” di hotel Cemara II tadi. Waktu itu udah mau masuk tengah malam. Tepatnya jam 11:00 kurang 10 menit. Ya elah, anak-anak pada ngaret lagi. Kamp***t!! hahaha 😀

Khususnya teman-teman cewek, ampuuun. Ga tau apa, kita udah capek + ngantuk. Saya dan Zul, ya Zul, salah satu grantee udah datang duluan. Si Zul ini berasal dari kota Pare-Pare. Hayo dimana itu?

Oke. Voting pun berlangsung. Setelah muter-muter dengan opini masing-masing, seputar pilihan tentang siapa yang menurut mereka yang dinilai punya potensi (agak lebih) khususnya dalam hal kepemimpinan, kebapakan, kedewasaan, dan hal-hal lain yang melekat pada seorang figur pemimpin, akhirnya keluar tiga nama yang menjadi kandidat ketua grup.

Dan, yang membuat saya ga habis pikir, nama saya adalah salah satu dari tiga nama itu! Sialaaan!! Padahal saya udah berusaha sebisa mungkin agar tidak masuk nominasi. Loh kenapa? Ribet!! dan pasti tanggung jawabnya berat. Ya Allah, apalagi ini mau mimpin 19 orang dalam sebuah program ke luar negeri. Udah kebayang kan, kayak apa ribetnya. Hmmm…

Tapi ya mau gimana lagi, udah kesepakatan bersama untuk voting. Dua orang lainnya yang berhasil masuk nominasi adalah Dhani, dan Harun. Well, satu per satu kami menuliskan nama dari tiga nama yang menjadi nominasi di sebuah gulungan kertas (ini udah berasa kayak Pemilu Presiden. Hahaha). Si Zul yang menjadi notulen sekaligus presidium voting malam itu.

Saya tidak meragukan kemampuan setiap orang yang berada di hadapan saya malam itu, ya mereka adalah orang-orang pilihan yang – saya yakin – memiliki pengalaman nyemplung di dunia Organisasi. They knew what to do for damn sure!

Setelah selesai, penghitungan suara pun berlangsung. Agak deg-degan juga. Dalam hati, mudah-mudahan bukan saya yang kepilih. Mudah-mudahan si Dhani or Harun yang memperoleh suara terbanyak. Pokonya not me. Iya mereka aja. Hahaha.

Aneh ya, saya. Udah pokoknya hati kecil saya maunya gitu. hehe.
Daaaan, to my surprise, saya yang memperoleh suara terbanyak pemirsa!! Mayoritas memilih saya. Ciyeee… apaan ciye-ciyeee! #plak #plak -_____- Di luar sih kulkas, tapi di dalam, kompor gas!! hahahaha 😀

Ampuuuun. Haduuuh, aslinya kaget dan ga percaya, tapi my sense of acting terpaksa saya pakai dan lipatgandakan. Ya, Ilmu kamuflase-nya si Bunglon malam itu (terpaksa) saya keluarin juga. If you’re smiling or maybe laughing right now, you know exactly what I am talking about! hahahaha 😀

Dan suara terbanyak berasal dari teman-teman cewek. Karena emang jumlah mereka lebih banyak, 60 %. Cowok ya sisanya, 40 %.

Setelah saya terpilih, kami langsung mendiskusikan rencana ke depan, khususnya tentang kegiatan yang akan kami laksanakan selain dari agenda program. Belajar dari pengalaman para alumni sebelumnya, dimana mereka mengadakan acara pementasan seni dan budaya Indonesia di sela-sela program, maka kami juga tak mau menyia-nyiakan kesempatan berharga ini untuk mengenalkan seni dan budaya Indonesia di luar negeri, khususnya di negeri Paman Sam.

Karena teman-teman Kansas Grantees mengamanahkan saya sebagai ketua grup, maka mereka harus mengikuti aturan main yang saya terapkan. hihihi.. (Kuntilanak’s laugh) 😀

Saya langsung menunjuk Tami sebagai wakil merangkap sekretaris. Teman-teman yang lain ga ada yang ga setuju. Apa kata saya dah pokoknya. Ampuuun Boss.. hahaha 😀

Malam itu malah jadinya ngerumpi, tapi ini bukan sembarang rumpi ya guys. Kami ngerumpiin tentang kegiatan atau program dan segala persiapan lahir-batin sebelum kami berangkat ke Amerika.

Termasuk hal-hal remeh-temeh mulai dari bagasi, pakaian, gudget, souvenir, berbagai cinderamata khas daerah masing-masing yang akan kami bawa, hingga makanan. Tapi malam itu fokus utama kami adalah persiapan tentang acara besar yang akan kami persembahkan, yakni pertunjukan seni dan budaya Indonesia di Kansas nanti.

Kok kesannya kayak ga ada waktu lagi buat diskusi gitu? Emang dah ga ada waktu lagi untuk bisa ngumpul langsung bertatap muka. Karena besoknya kami harus kembali ke daerah masing-masing untuk persiapan. Jadi malam itu kami manfaatkan sebaik-baiknya untuk sharing berbagai hal terkait persiapan sebelum kami berangkat.

Si Zul, mencatat dengan seksama apa yang menjadi poin penting diskusi kami malam itu. Termasuk pembagian tugas setiap orang yang nantinya akan menyumbangkan keahliannya dalam pementasan. Mulai dari tari, pencak silat, lagu Nasional, hingga makanan yang akan kami buat untuk para tamu undangan pada puncak acara.

Saya sangat mengapresiasi setiap ide, usulan, serta antusiasme teman-teman Kansas Grantee yang keren-keren. Termasuk salah satu teman yang berasal dari Aceh. Dyan namanya. Ketika Saya tanya apakah dia bisa nari Saman atau tidak. Dengan semangat dia menjawab,

“Wah saya ga bisa nari Saman, tapi nanti saya akan belajar dan latihan sekembalinya ke Aceh.” Really appreciate it, Dyan!

Padahal waktu yang tersisa ga banyak. Sekitar sebulan sebelum hari H keberangkatan. Saya bisa ngebayangin, nari Saman itu ga gampang loh. Dan sebulan untuk menguasai tari Saman dari nol, adalah waktu yang sangat minim. Saya dulu pernah belajar (latihan) dengan teman-teman waktu KKN. Kebetulan ada salah satu teman KKN yang bisa nari Saman. Ampun, itu gerakannya susah-susah gampang. It takes a lot of time and energy to deal with!

Tapi Dyan? dia bersedia untuk belajar nari, padahal dia ga bisa nari Saman. This is what I call dedication, pure dedication. Kami mempercayakan masalah tari Saman ini sepenuhnya kepada Dyan. Dia-lah yang nantinya akan menjadi Instruktur tari Saman buat kami nanti ketika kami sudah berada di Amerika.

Acara ngerumpi berakhir lewat tengah malam. Teman-teman bubar, kembali ke kamar masing-masing. Saya dan beberapa teman cowok masih melanjutkan pembicaraan yang makin larut makin ga jelas arahnya. hahaha 😀

$$$

PDO-pun selesai. Kami kembali ke daerah masing-masing dengan membawa kesan yang berbeda-beda namun tetap satu. Satu? Maksudnya? Maksdunya satu dalam rasa tak sabar untuk segera terbang ke belahan bumi yang lain. hehe.

Di satu sisi, keakraban di antara kami pun semakin erat. Seperti jaring laba-laba yang saling merekat satu sama lain. PDO ini adalah awal dari sebuah persahabatan dan dari sebuah petualangan yang tak lama lagi akan kami jalani bersama.

Kurang lebih satu bulan, waktu yang tersedia untuk mempersiapkan segalanya. Ya sebulan sebelum Departure Day. Saya menyempatkan diri untuk pulang ke rumah. Selain untuk pamit dengan keluarga tercinta, saya juga meng-agendakan untuk bertemu dengan para pemangku kepentingan di daerah saya.

Ya semacam minta do’a restu gitu deh, karena Putra daerahnya memperoleh beasiswa dan akan berangkat membawa nama daerahnya ke salah satu Negara yang memiliki pengaruh besar di dunia Internasional. Plus, nggolek sangu to…hahaha 😀

Pengen liat foto-foto PDO yang lain? Pengen ga pengen tetep saya uplod di bawah. Hahaha 😀

This slideshow requires JavaScript.

To be continued…..

 

 

 

 

Advertisements

So what do you think? An angel smiles every time you leave a comment :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s