Journey to America – Part II

Part II – The Interview

Perjuangan saya belum selesai kawan, masih ada satu tahapan seleksi lagi yang harus saya lalui yang akan menentukan apakah saya benar-benar lolos dan memenangkan beasiswa ini atau tidak. Jadi saya masih harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya agar saya lolos lagi di seleksi final, yakni wawancara.

Saya pun mempersiapkan diri untuk menghadapi interview yang akan dilaksanakan pada hari Minggu, atau tiga hari setelah pengumuman seleksi berkas.

Selama tiga hari menjelang interview, saya menghubungi mbah Google untuk memperoleh berbagai informasi seputar tips-tips sukses dalam menghadapi interview.

Alhamdulillah saya memperoleh banyak tips dari berbagai sumber dan artikel dari si mbah Google, termasuk dari beberapa tulisan di blog para alumni IELSP angkatan sebelumnya.

Berdasarkan informasi dari tulisan tips seputar interview, yang paling penting dalam interview beasiswa IELSP ini adalah kesesuaian antara tulisan (essays) dalam aplikasi yang kita tulis dengan jawaban yang kita berikan saat interview nanti.

Karena pada dasarnya para peng-interview akan menanyakan hal-hal yang berhubungan langsung dengan apa yang kita tulis di dalam aplikasi beasiswa IELSP itu sendiri. So, membaca dan mempelajari kembali aplikasi beasiswa yang telah kita tulis adalah sebuah keniscayaan bin keharusan. Begitu kira-kira intisari dari berbagai tips yang saya baca dari mbah Google (baca:Internet). Hehe  :)

Hari yang tidak ditunggu-tunggu pun tiba. Hari itu hari Ahad tanggal 11 Desember 2011 sekitar jam 07:30 pagi saya berangkat ke TKP (baca: tempat interview) bersama teman saya, Fika. Fyi, Fika adalah teman kuliah saya yang juga ikut mendaftar beasiswa ini. Alhamdulillah dia juga lolos seleksi administratif berkas dan akan mengikuti interview bersama saya dan ratusan mahasiswa lain dari berbagai Universitas yang ada di Indonesia khususnya di regional Jawa Timur.

Ada sekitar seratusan mungkin lebih mahasiswa yang berasal dari beberapa Universitas regional Jawa Timur yang akan ikut interview pagi itu. Itu berarti aplikasi beasiswa IELSP mereka juga lolos seleksi tahap pertama (seleksi berkas).

Awalnya sempat ada rasa pesimis, “gila aja ini saingannya banyak banget”, pasti mereka hebat-hebat dan punya segudang prestasi. Lah saya? Saya merasa biasa-biasa aja, ga ada prestasi yang begitu menonjol selama di kampus. Sempat mikir, “bisa gak yaa lolos interview?”. 😀

Tapi akhirnya saya menyemangati diri sendiri bahwa saya pasti bisa. Yah pasti bisa. Saya harus bin wajib percaya diri kalau nanti saya akan lolos interview. Saya terus mensugesti diri saya dengan kata-kata positif sebelum interview dimulai. Tidak lupa juga saya mengirimkan sms ke Ibu di rumah untuk mendo’akan saya pagi itu.

 Tidak puas dengan sms, akhirnya saya telpon Ibu beberapa menit sebelum interviewnya dimulai. Saya bilang kalau sebentar lagi saya akan interview, mohon do’anya. Meskipun saat itu Ibu sedang beraktifitas dia tinggalkan aktifitasnya sebentar. Ibu bilang mau sholat Dhuha terus berdo’a untuk kelancaran dan kesuksesan interview saya. 🙂

Ya Allah… saya hampir mau nangis saat itu. Ibu saya benar-benar Ibu yang terbaik yang Allah berikan kepada saya. Saya tidak sedang mendramatisir cerita ini ya, ini benar adanya. Sebenarnya sejak awal daftar beasiswa ini saya sudah dan selalu minta do’a dan restu dari orang tua, terutama Ibu.

Bukan cuma kali ini saja, dari jaman saya mulai masuk Sekolah dulu, kalau mau ikut kegiatan dan lomba atau apalah itu, saya selalu minta do’a restu sama Ibu.

Dan luar biasa sekali, do’a Ibu itu emang top abis dah!! tidak ada Hijab atau penghalang dengan Allah, benar-benar pasti dikabulkan oleh Allah. Apalagi kalau Ibu kita itu berdo’anya ketika sholat, MashAllah tidak ada yang bisa menghalangi do’anya. Bukankah keridho’an Allah itu terletak pada keridho’an orang tua? Begitu juga dengan kemurkaan-Nya?

OK lanjuuuuuuut,

Akhirnya saya dipanggil interview. Ketika masuk ke dalam ruangan, saya dipersilahkan duduk. Ini yang interview sepintas agak serem, ibarat kalau di kampus ada dosen yang kalau ngajar itu suka marah-marah atau yang sering kita kenal dengan istilah dosen killer. Hahaha 😀

Nah anggapan saya saat itu ketika masuk dan melihat penampakan eh perawakan yang mau interview saya juga begitu. Eh dugaan saya meleset 10 %. Artinya 90 % benar!! Hahaha :D meskipun kadar ke-killer-annya tidak seberapa jika dibandingkan dengan salah satu dosen saya. Hehe :D

 Jreng-jreng! 

Saya pun di-interview. Pertanyaan pertama, kedua, ketiga, bisa saya jawab. Oya, yang interview saya ini namanya, katakanlah Ibu Lucy (maaf saya lupa namanya). Saya kurang tahu beliau jabatannya apa, kemungkinan besar sih dosen juga. Karena ada gelar akademik yang bertengger di depan dan belakang namanya. Di depannya tertulis “Dr.” dan belakangnya “M.Sc”.

Tidak salah lagi, ini benar-benar bukan orang sembarangan pikir saya saat itu. Perkiraan saya usianya sekitar 50 tahunan atau mungkin sudah masuk angka 60. Tapi penampilannya sangat modis bin kece. Terbukti dengan berbagai aksesoris yang ia pakai plus, you know what? Sepatu High Heels yang menjadikan beliau tampak sangat fashionable.hehe  :D

Yang menarik selama interview ini adalah ketika saya ditanya tentang budaya Indonesia. Ibu Lucy menanyakan berapa persen budaya Indonesia yang sudah saya kuasai. Waduh kok ada pertanyaan kayak gini ya? Pikir saya saat itu. Di dalam form aplikasi saja tidak ada tema essay yang berhubungan dengan kebudayaan.

Saya mikir sejenak, kemudian saya jawab saja kalau saya belum menguasai seratus persen budaya Indonesia karena budaya Indonesia sangat banyak dan beragam. Tapi, saya tambahkan kalau saya menguasai budaya dari daerah saya sendiri. Saya bilang saja saya bisa menari salah satu tarian yang berasal dari daerah saya di utara pulau Sulawesi. 😀

Meskipun, jujur harus saya akui, saya sudah [agak] lupa dengan gerakan tariannya. Dalam hati “Waduh bahaya nih kalau nanti disuruh memperagakan tariannya.”Hahaha :D

Tapi thanks God, Ibu Lucy tidak meminta saya untuk menari di depannya. Mungkin dia sudah yakin dengan jawaban saya, karena saya menjawab dengan penuh keyakinan meskipun dalam hati was-was juga khawatir kalau nanti disuruh nari..hahaha :D

Kalau misalnya diminta untuk memperagakan itu tarian, saya siap-siap aja, meskipun nanti gerakannya ngarang bin ngaco bin ngawur!! Yang penting nari!! Hahahaha :D

Intinya harus PD kalau kita bisa! oyiiiii?? 😀

Pertanyaan selanjutnya yang tidak kalah menarik dan mengejutkan adalah tentang cultural shock. Ibu Lucy bertanya kalau misalnya saya memenangkan beasiswa ini dan nanti berangkat ke Amerika saya akan mengalami Cultural Shock atau tidak, kalau iya, bagaimana saya akan menyikapi dan mengatasinya. Spontan saja saya jawab iya saya pasti akan mengalami cultural shock! (Yakin banget jawabnya, padahal dalam hati tetep saja dag-dig-dug) 😀

Saya jelasin tuh alasannya panjang lebar dengan menjadikan pengalaman saya selama kuliah di Jawa sebagai contoh nyata. Saya bilang hari-hari pertama saya ketika berada di Kota Malang penuh dengan kata-kata “Kok begini ya? Kok begitu ya? Kenapa begini kenapa begitu?” “Kenapa makanannya seperti ini? Kenapa makanannya gak seperti di daerah saya?” dan seterusnya.

Kemudian saya hubungkan dengan Amerika yang merupakan Negara Adikuasa dengan segala keragaman budaya, makanan, tradisi, dan masyarakatnya yang heterogen dan dinamis. Sudah pasti saya akan mengalami cultural shock.

Nah bagaimana saya akan menyikapinya? Saya dengan gamblang menjelaskan bahwa kita harus bersikap netral, open-minded dan tolerant, artinya kita tidak boleh dengan seenaknya mengeluarkan pernyataan dengan nada menghakimi kalau budaya atau hal-hal yang dilaksanakan dan dipraktekkan di daerah atau di Negara lain dalam hal ini Amerika itu baik atau buruk hanya karena apa yang ada disana itu tidak ada, tidak sesuai dengan tradisi atau budaya yang ada di daerah atau Negara kita.

Mungkin di mata kita itu jelek, tapi di mata mereka justru sebaliknya. Nah sebagai warga Negara yang baik dan mengerti akan pentingnya nilai-nilai toleransi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita harus bisa menempatkan diri pada posisi yang netral.

#nadaserius #nadadiplomatis 😀

Tentu saja dalam hal-hal yang tidak berhubungan dengan masalah akidah atau keimanan. Seperti sebuah pepatah yang berbunyi “Dimana kaki dipijak, disitu langit dijunjung” artinya kita harus menghargai dan menghormati setiap aturan, adat-istiadat, norma, dan budaya sebuah masyarakat atau daerah dimana kita tinggal.

Inilah yang kemudian harus dipahami sebagai upaya untuk menciptakan kerukunan dan keharmonisan yang hanya akan terwujud jika ada rasa saling pengertian terhadap perbedaan budaya antara satu daerah atau satu Negara dengan daerah atau Negara lain. Hal ini biasa kita kenal dengan istilah Cross-Culture Understanding atau pemahaman lintas budaya.

(ini udah kayak pidato diplomasi aja ya) hehe 😀

***

Sejenak saya amati Ibu Lucy mengangguk-anggukkan kepalanya ketika saya menjawab pertanyaannya yang menurut saya cukup menguras pikiran itu.hehe :D

Kurang lebih sekitar 30 menit saya di interview oleh Ibu Lucy. Alhamdulillah semua pertanyaan yang diberikan bisa saya jawab dengan baik. Terakhir sebelum saya keluar, saya ucapkan terimakasih sembari menjabat tangan Ibu Lucy.

Saya pun keluar dengan perasaan lega ditemani sedikit keringat di wajah saya. Di dalam terasa panas, perpaduan antara ruangan yang tidak memiliki AC dan sedikit perasaan nerveous yang tidak bisa saya ajak kompromi mengakibatkan hawa yang ada di dalam ruangan semakin panas. Akibatnya keringat bercucuran bak air mancur, Just kidding. hehe :D

Ketika keluar ruangan interview, teman-teman yang belum dipanggil untuk interview menghampiri saya dan menanyakan seputar pertanyaan apa saja yang diberikan tadi, susah atau gak. Saya bilang gampang kok, pertanyaannya juga tidak jauh-jauh dari aplikasi yang sudah kita tulis. Meskipun ada satu dua pertanyaan yang tak terduga, dan sedikit keluar jalur. Yang penting kita harus percaya diri ketika menjawab pertanyaan yang diberikan. Itu saja. 😉

Saya selesai, tinggal menunggu si Fika yang saat itu masih menunggu panggilan untuk interview di ruang yang berbeda. Saya melihat para peserta yang belum dipanggil interview sibuk mempelajari aplikasi beasiswa yang mereka tulis. Yang jelas, semua terlihat begitu antusias untuk interview.

***

Tak terasa adzhan dzuhur berkumandang. Saya melirik jam tangan, 11:45 WIB. Saya pun menuju ke Musholla yang terletak tidak jauh dari gedung dimana interview sedang berlangsung. Setelah sholat Dzuhur saya kembali menghubungi Ibu saya. Saya bilang terimakasih atas do’anya karena Alhamdulillah tadi waktu interview semua pertanyaan yang diberikan bisa saya jawab dengan baik. Ibu bilang InshAllah saya akan lolos dan memenangkan beasiswa ini. Ibu saya begitu yakin ketika mengatakannya. Saya pun semakin optimis bahwa saya akan berangkat ke Amerika melalui beasiswa ini. (Hati pun mengaminkan dengan penuh keyakinan) 🙂

Yes that feeling just simply strong. I just believe it without any doubt at all. Yakin aja pokoknya. 🙂

Interview selesai. Saya sudah melakukan yang terbaik yang saya bisa. I have done my best and now just let God do the rest. 🙂

Saya serahkan semuanya kepada yang Maha Kuasa. Dialah yang akan menentukan nasib saya selanjutnya. Selama menunggu hasil interview dan pengumuman final, yang saya lakukan adalah terus berpikir positif sambil terus memohon kepada-Nya. Yah saya bertawakkal sepenuhnya kepada-Nya. Dan memang seharusnya begitu, bukankah Dia telah berfirman dalam Kitab-Nya:

Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”. (Q.S. Ali-Imran : 159).

Ayat ini pas banget dengan keadaan saya saat itu. Saya telah berusaha melakukan yang terbaik mulai dari awal pendaftaran sampai ke tahap interview (membulatkan tekad), dan setelah usaha maksimal telah dikerahkan, Allah memerintahkan kita untuk bertawakkal kepada-Nya.

Dalam hal ini biarlah Allah yang melakukan sisa pekerjaan atau usaha kita. Atau dalam bahasa Bule-nya: Do your best and God will do the rest!  (kalo bahasa Pak-lenya gimana ya? Hehe) 😀

(Bersambung…)

Advertisements

So what do you think? An angel smiles every time you leave a comment :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s