Belajar dulu, Belajar lagi, Belajar terus

“Mereka yang berhenti belajar akan punah layaknya Dinosaurus.”

-Arasyid Harman- 

Tak ada waktu yang sia-sia bagi setiap insan yang haus akan Ilmu Pengetahuan. Setiap saat mereka sibuk memperbaiki diri yang dimulai dengan memperkaya wawasan keilmuan mereka dengan belajar, belajar, dan belajar.

Yap. Itulah ciri para cendekiawan yang mungkin dianggap aneh oleh kebanyakan   sebagian orang.  Apakah mereka itu manusia yang memang aneh dari sononya? Ah tidak. Dan memang gak ada yang aneh dengan orang-orang yang menghabiskan waktunya dengan belajar kan? Justru yang aneh adalah mereka yang sibuk menghabiskan waktunya untuk mengomentari dan menilai (layaknya hakim) kehidupan orang lain dan luput untuk menilai dan memperbaiki diri mereka sendiri dengan terus belajar.

Belajar sejatinya adalah sebuah kebutuhan. Layaknya tubuh yang membutuhkan makanan untuk kelangsungan organ-organ yang membentuk dan menyusunnya. Belajar dalam arti yang lebih luas adalah menjaga akal agar tidak keriput lalu mati dimakan waktu dan kemajuan peradaban.

Setiap saat kita butuh belajar. Karena setiap saat Ilmu yang ada di dunia ini terus berubah dan berkembang seiring dengan kemajuan pemikiran umat manusia. Adalah sebuah kebodohan yang nyata bagi siapa pun yang malas dan berpikir bahwa belajar itu hanyalah kegiatan yang membuang-buang waktu. Adalah sebuah kemunduran yang nyata bagi siapa saja yang menganggap belajar itu cukup di bangku sekolah saja. Setelah tamat sekolah, belajar itu gak penting, yang penting itu bekerja dan dapat uang.

Ini adalah sebuah pandangan atau pemikiran yang berbahaya dan mematikan. Jangan sampai kita punya pandangan atau pemikiran yang seperti ini ya.

Karena sesungguhnya belajar itu adalah salah satu kewajiban yang diperintahkan langsung oleh sang Pencipta. Kita diperintahkan untuk membaca. Dan membaca ini adalah salah satu cara kita untuk belajar.

Dan belajar itu memang membutuhkan sebuah kesabaran. Kesabaran yang tinggi. Kalau kita gak sabar, ya susah. Sabar adalah salah satu kunci untuk menguasai Ilmu Pengetahuan. Tanpanya, tak akan ada Ilmuwan yang akan berhasil menciptakan berbagai kemajuan dalam segala bidang kehidupan kita saat ini.

Mungkin kita tak akan menikmati cahaya lampu di malam hari jika Thomas Alfa Edison gak sabar dan langsung menyerah saat belajar merangkai dan membuat rangkaian percobaan demi percobaan hingga ia akhirnya berhasil menemukan bohlam lampu listrik yang semua manusia di planet ini merasakan manfaatnya.

Mungkin kita tak akan (pernah) merasakan terbang di udara jika Wright bersaudara gak sabar dalam belajar hingga mereka akhirnya berhasil menciptakan pesawat terbang yang hingga saat ini menjadi salah satu sarana transportasi udara yang memungkinkan kita berpindah dari satu kota ke kota lain atau dari satu Negara ke Negara lain dalam waktu yang cepat.

Dua penemuan luar biasa ini hanyalah sebagian kecil contoh yang merupakan produk dari kemajuan pikiran manusia karena proses belajar yang tak pernah berhenti.

Ada sebuah nasehat dari Imam Syafii yang sangat membumi. Nasehat ini ditujukan kepada kita semua yang mulai merasa bahwa belajar itu gak penting atau belajar itu buang-buang waktu.

Berikut nasehat sang Imam,

“Jika kamu tak tahan lelahnya belajar, maka kamu harus menahan perihnya kebodohan.”

Benar sekali kan? Bahkan menurut saya bukan hanya perihnya kebodohan, tapi juga gelapnya dunia. Gelap dalam artian kemunduran peradaban umat manusia. Kehidupan kita gak akan maju dan berkembang. Mungkin gak akan ada yang namanya teknologi kalau sekiranya semua Ilmuwan itu berhenti belajar.

Akhir kata, kita harus belajar dulu, belajar lagi, dan belajar terus. Bukan untuk mengalahkan yang lain, tapi untuk mengalahkan diri kita sendiri. Dari apa? Dari perihnya kebodohan.

 

Semangat Belajar di akhir pekan ya 🙂

 

 

Salam,

 

Arasyid Harman  

 

Penjual Soto Out of the Box

Dalam rangka perjalanan untuk pekerjaan ke Solo, suatu hari saya mampir makan di Warung Soto di Solo. Habis bubaran shalat Jum’at saya mampir ke Warung Soto itu, karena sangat ramai dikunjungi pelanggannya. Saya pikir Soto ini pasti enak karena pengunjungnya sampai ke teras Warung.

Suasananya rada aneh, ketika saya lihat sekeliling meja, banyak sekali abang-abang becak yang makan disana.

“Hemmm… pantesan rame, Sotonya memang benar-benar enak!”

Ketika selesai makan dan mau membayar, Bu Amir pemilik Warung Soto itu melarang saya mengeluarkan uang.

“Tidak usah bayar Dik, terima kasih atas kunjungannya.”

Dengan penuh rasa heran saya bertanya, kenapa gak mau dibayar?

“Ini hari Jum’at Dik, disini tiap hari Jum’at gratis.”

Masya Allah, terjawab sudah kenapa sebagian besar yang makan di Warung ini tukang becak.

Setengah bingung, saya mencoba mendekat ke tempat Bu Amir duduk.

“Ibu, apa gak rugi jual Soto seharian gak dapat uang?”, tanya saya setengah menyelidik.

“Dik, dari Sabtu sampai hari Kamis kan Alhamdulillah kami dikasi rezeki, dikasih untung sama Allah. Kalau kami bersyukur dengan cara menggratiskan satu hari, untung kami masih sangat banyak untuk ukuran kami. Kalau mau jujur seharusnya kami memberikan hak kepada Allah minimal 30%. Coba Adik pikir, siapa yang menggerakkan hati pelanggan-pelanggan kami untuk datang kemari?”

“Kalau kami harus membayar Salesman, berapa uang yang harus kami bayar?”

“Semoga dengan 1/7 bagian ini Allah ridho. Sebagian besar dari hasil usaha ini kami gunakan untuk membiayai empat anak kami. Mereka kuliah semua Dik. Satu di Kedokteran UGM, satu di Teknik Sipil ITB, yang dua lagi di UNS sini. Kalau bukan karena pertolongan Allah, mana bisa usaha kami yang sekecil ini membiayai kuliah empat orang?”

Bu Amir menjelaskan panjang lebar.

Jelegeeer…!!! saya seperti disambar petir.

Warung Soto sekecil ini bisa membiayai empat orang anaknya kuliah di Universitas Negeri semua! Bahkan malah masih bisa memberi makan kepada tukang-tukang becak dan semua orang yang berkunjung ke Warungnya setiap hari Jum’at, gratis lagi!!

Saya gak kehilangan akal. Untuk membayar rasa kagum dan rasa bersalah makan Soto gratis, saya masuk Mall. Saya membeli dompet cantik sebagai hadiah buat Bu Amir.

Saya pikir, “Masa Bu Amir gak mau dikasih dompet secantik ini?”

Dalam waktu tidak sampai satu jam, saya sudah kembali ke Warungnya.

“Lho kok balik lagi, ada yang ketinggalan Dik?”, sapa Bu Amir heran.

“Mohon maaf Bu, ini hadiah dari saya tolong diterima. Anggap saja kenang-kenangan dari saya buat Ibu yang telah memberi pelajaran hidup yang sangat berarti buat saya.

Dengan senyum tulus dan bicaranya halus Bu Amir menolak.

“Dik, terimakasih hadiahnya. Maaf, bukan Ibu menolak. Ibu cukup pake dompet ini saja, kenang-kenangan dari suami Ibu ketika dia masih ada. Awet banget, tuh sampe sekarang masih bagus.”

Bu Amir menepuk bahu saya.

“Bawa saja pulang dan hadiahkan buat Ibumu. Percayalah, Ibumu pasti senang dapat oleh-oleh dari Solo. Adik mampir di Warung Ibu saja sudah merupakan sebuah kebahagiaan yang tidak ternilai. Ibu senang, benar-benar senang sudah bisa ngobrol sama Adik.”

Begitu kata Bu Amir sambil tersenyum.

Saya kehilangan akal dan hanya bisa pamit sambil menundukkan kepala.

 

****

Subhanallah banget kan? Sebuah pelajaran tak ternilai akan arti sebuah ketulusan dan keikhlasan untuk berbagi dengan sesama terlihat anggun nan mempesona yang terpancar dari sosok Ibu Amir.

Jika teman-teman (akan) berkunjung ke Solo atau sedang berada di Solo, silahkan mampir di Warung Bu Amir ini dan cobain sotonya. Lokasinya di daerah Yosodipuro dekat Museum Pers Solo.

Jika beli soto disitu selain hari Jum’at, kembaliannya jangan diterima. Ketika membayar dan diberi kembaliannya, bilang aja :

“Nderek titip kagem sedekah Jum’at Bu.” (ikut nitip sedekah Jum’at Bu)

Beliau akan berterimakasih dan mendo’akan kita nggak habis-habisnya.

Mudah-mudahan kita semua bisa meneladani Ibu Amir ya. Aamiiin.

 

****

Kisah ini saya peroleh dari grup WA ‘alumni’ penghuni Padepokan  kos Al-Kautsar 53 yang dibagikan oleh Ibu Kos tercinta yang hingga hari ini masih menjalin komunikasi dengan kami, para ‘alumni’ padepokan yang telah bertebaran di berbagai penjuru Nusantara. Duuh.. bahasanya.. hehe.. 😀

Kisah ini dialami dan diceritakan oleh Ibu Das Salirawati, seorang Dosen di Univ. Negeri Yogyakarta.

 

Semoga bermanfaat.

 

Salam

 

Arasyid Harman  

 

Kabar gembira untuk kita semua

 

Assalam a’laikum…

Apa kabar?

Semoga sehat selalu ya. 🙂

Selamat Tahun Baru Islam 1438 H. Yeah! Hari ini kita, umat Islam di seluruh dunia memasuki tahun baru Hijriyah. Alhamdulillah…

Semoga di tahun baru Hijriyah kali ini kita semua senantiasa bersyukur atas semua nikmat yang dilimpahkan oleh Allah swt dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Saya ingin berbagi kabar gembira nih buat teman-teman dan pembaca sekalian. Judulnya kayak penggalan lagu di salah satu iklan TV ya? hehe.. “Kabar gembira untuk kita semua… kini …. sudah ada …..” Yang sering nongkrong depan TV pasti dah hapal ni lirik. Hahaha 😀

Ok. Kembali ke leptop!

Kabar gembiranya sebenarnya sangat sederhana. Tapi ada keindahan dan harapan di balik kabar gembira yang akan saya share ini.

Jadi kabarnya, beberapa waktu yang lalu saya memperoleh sebuah ‘siraman’ rohani dari seorang kawan (tepatnya senior saya di kampus putih) yang ia share di grup WA. Siraman tersebut berupa petikan Hadits Qudsi yang Subhanallah banget. Pokoknya cakep bener dah ini Hadits!

Saya baca berulang-ulang, kok keren ya? Batin saya saat pertama kali membacanya. Lantas, karena penasaran saya Japri deh si Senior ini. Saya ingin menanyakan langsung darimana sumber Hadits Qudsi tersebut. Jawabannya kurang memuaskan. Ia kagak tau juga. Rupanya ia memperolehnya dari grup sebelah. Gitu katanya. Hmm..

Baiklah. Gak apa-apa. Nanti akan saya cari tahu. Insha Allah ini Hadits Qudsi shahih dan benar adanya. Aamiiin.

Seperti apa Haditsnya? Yuk dibaca pelan-pelan ya.

Apa?? pelan-pelan?? Iyaah…kan pelan-pelan itu lebih asyik.hehe.. 😀

 

“Wahai anak Adam, janganlah engkau takut kepada pemilik Kekuasaan. Selama Kekuasaan-Ku masih ada, Kekuasaan-Ku tidak akan sirna selamanya.

Wahai anak Adam, janganlah engkau cemaskan sempitnya rezeki, selama perbendaharaan-Ku masih ada, dan perbendaharaan-Ku tidak akan habis selamanya.

Wahai anak Adam, janganlah meminta kepada selain Aku. Sementara engkau memiliki Aku. Jika engkau mencari-Ku, engkau akan menemukan Aku. Dan jika engkau kehilangan Aku, maka engkau kehilangan seluruh kebaikan.

Wahai anak Adam, Aku ciptakan engkau untuk beribadah. Maka janganlah engkau bermain-main. Dan Aku telah tetapkan bagimu rezekimu, maka jangan penatkan ragamu. Jika engkau ridha terhadap pembagian-Ku, maka akan Aku tenangkan jiwa dan ragamu, dan engkau menjadi orang terpandang di sisi-Ku. Dan jika engkau tidak ridha terhadap pembagian-Ku, maka demi Kemuliaan dan Keperkasaan-Ku, sungguh akan Aku bebankan engkau dengan dunia, engkau terseok-seok laksana hewan melata di permukaan bumi, kemudian engkau tidak akan mendapatkan apa-apa selain yang telah aku tetapkan, dan engkau menjadi orang tercela di sisi-Ku.

Wahai anak Adam, Aku ciptakan tujuh langit dan tujuh bumi, dan Aku tidak berat menciptakan itu semua. Lantas apa beratnya bagi-Ku menyediakan roti (makanan) untuk hidupmu?

Wahai anak Adam, Aku tidak lupa kepada orang yang telah bermaksiat kepada-Ku. Lantas bagaimana mungkin Aku lupa kepada mereka yang taat kepada-Ku? Sedangkan Aku adalah Tuhan Yang Maha Pengasih dan berkuasa atas segala sesuatu.

Wahai anak Adam, janganlah engkau meminta kepada-Ku rezekimu esok hari, sebagaimana Aku tidak menyuruhmu untuk melakukan pekerjaan esok hari.

Wahai anak Adam, Aku sungguh mencintaimu. Maka demi hak-Ku di atasmu, jadilah engkau orang yang cinta kepada-Ku.”

 

***

Subhanallah banget kan? Speechless dah. Rasanya Allah swt seperti sedang ‘berbicara’ langsung dengan kita ya. Adem dan enak banget rasanya. Ini adalah ‘cahaya’ lain yang saya temukan. Setahun yang lalu saya juga menemukan tiga ‘cahaya’ berupa Hadits Qudsi. Masha Allah…

Kembali ke persoalan sumber dari Hadits Qudsi ini, sekiranya ada diantara teman-teman dan pembaca yang mengetahui sumbernya (siapa yang meriwayatkan) atau memiliki kitab dimana Hadits ini berada, tolong di-share disini ya. Tepatnya di kolom komentar dibawah.

Mudah-mudahan kabar gembira ini menjadi penyemangat di tahun baru Hijriyah yang jatuh hari ini. Semoga energi positif dari Hadits Qudsi ini terus menemani kita semua dalam perjalanan mengisi hari-hari di tahun 1438 H.

Sekali lagi, Selamat Tahun Baru Islam 1438 H. Semoga kebaikan dan keberkahan senantiasa menyertai seluruh umat Islam di seluruh penjuru Dunia. Aamiiiin.

 

Bumi Nyiur Melambai, 1 Muharram 1438 H

Wassalam a’laikum…

 

Arasyid Harman

SMS yang mengubah mimpi menjadi kenyataan

Sore ini saya ‘bernostalgia’ (membuka + membaca) SMS di HP yang lama. Banyak kenangan SMS selama kuliah di UMM yang masih tersimpan rapi di inbox dan folder ‘sent items’ HP jadul yang hingga saat ini masih saya pakai. Sengaja gak saya hapus. Sayang kalo dihapus. Membaca percakapan yang ada di SMS seperti membaca buku diary. Pikiran mau gak mau akan dibawa ke masa dimana SMS itu diketik, terus dikirim. Juga merasakan kembali suasana emosional yang muncul saat itu.

Saya hanya bisa senyam-senyum gak jelas seperti orang gila yang sedang kasmaran. Hingga akhirnya saya terhenti sejenak saat membaca SMS dari sekian banyak SMS yang saya kirim ke salah satu kawan baik saya, Yuswardi. Kami suka SMS-an dalam Bahasa Inggris waktu itu. Jadi banyak SMS diantara kami dalam Bahasa Inggris yang (harap dimaklumi) masih amburadul. Hehe..

Tapi, hal itu tak jadi masalah. Niat kami waktu itu adalah untuk belajar dan berlatih meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris kami (khususnya tulisan) yang masih jauh dari predikat ‘Excellent’. Bahkan hingga hari ini pun kami masih terus belajar dan berlatih dengan alasan yang sama. Gak ada kata berhenti belajar dan berlatih dalam kamus kehidupan kami.

Setidaknya ada 3 SMS yang saya kirim ke Yuswardi waktu itu. 3 SMS ini saya kirim dalam waktu yang berdekatan berdasarkan riwayat waktu pengirimannya. Saya gak ingat persis topik apa yang sedang kami bahas. Tapi ketika membaca isi dari SMS-SMS tersebut, saya yakin saat itu kami sedang bertukar pikiran soal beasiswa dan impian untuk ke luar Negeri melanjutkan studi (melalui program beasiswa).

Berikut petikan SMS-nya :

“I dn’t care!! When I want smthing, I’ll never stop till I get it!! At the end, let’s move together!! I do believe, next year I’ll be not in Indonesia, I’ll be somewhere in another part of the globe!! Insha Allah. My CV has done, now I’m working on anther stuff. Really, I’ll never say never 4 evry single chance that comes to my life!! So what about you??? :D” (Details, To: Yuswardi, sent: 05:16:40pm. 12-09-2011)

“Coz I’m a winner not a Quitter!! A winner never quit, n A Quitter never win!! Just make ur choice!! Winner or Quitter?? :D” (Details, To: Yuswardi, sent: 05:20:11pm. 12-09-2011)

“Just keep this magical words “If there’s a will, there’s a way”, “If you can dream it, you can do it”, “If u think u can, yes u can” n eventually, when u want something, the universe will work for it with the power of The Almighty Allah swt. Let’s just keep doing, moving, n praying fo the best in ourlives!! Allahuakbar!!! :D” (Details, To: Yuswardi, sent: 05:26:28pm. 12-09-2011)

 

Setelah membaca 3 SMS di atas saya merenung, tepatnya membawa diri ‘terbang’ kembali ke masa itu. 12 September 2011. Kurang lebih 5 tahun yang lalu. Waktu itu kami memang sedang mempersiapkan beberapa berkas untuk mendaftar program beasiswa Erasmus Mundus yang sedang dibuka. Kebetulan kampus kami menjadi salah satu mitra Universitas di Indonesia dengan pihak Uni Eropa yang merupakan sponsor dari program beasiswa Erasmus Mundus tersebut. Ada pun kampus yang menjadi tujuan atau mitra dari beasiswa ini semuanya berada di Eropa.

Eropa, salah satu benua yang kaya akan keragaman budaya, bahasa, sejarah,  dan peradabannya. Pokoknya bikin ngiler dah kalo udah ngebahas seputar benua biru itu. Kampus-kampus disana keren-keren baik dari segi sejarah maupun dari segi kualitas sistem Pendidikannya. Gak ada yang gak setuju dengan pernyataan ini kan? Hehe.

Di sisi lain, waktu itu kami juga masih belum selesai dari program OJT di salah satu hotel yang ada di Kota Batu. Masih segar dalam ingatan, semangat dan energi untuk mendaftar berbagai program beasiswa short-term ke luar Negeri begitu besar. Tak ada kata berhenti mencari (atau tepatnya berburu) informasi yang berhubungan dengan program beasiswa ke luar Negeri.

Saya tahu, we were not alone. Pada saat yang sama ada puluhan, ratusan, bahkan ribuan pelajar/mahasiswa di Indonesia yang juga sedang berburu apa yang kami buru, yakni beasiswa. Terlepas apakah beasiswa full-degree (untuk studi S1/S2/S3 di luar Negeri) atau hanya short-term program saja. Apa pun itu, intinya kita sama-sama berjuang untuk sebuah impian memperoleh beasiswa ke luar Negeri.

Yang membuat saya tersenyum setengah gak percaya adalah saya baru menyadari apa yang saya tulis dalam SMS tadi benar-benar terjadi. Benar-benar menjadi kenyataan. Dan yeah, bahkan setelah saya kembali dari belahan dunia yang lain (setahun setelah SMS tadi saya kirim), saya pun masih belum sadar bahwa saya pernah menulis ‘sesuatu’ yang, percaya atau tidak, telah mengantarkan jiwa dan raga saya terbang ke belahan dunia yang lain.

Dalam SMS yang pertama di atas, saya menulis : “…..  I do believe, next year I’ll be not in Indonesia, I’ll be somewhere in another part of the globe!! Insha Allah.”

Dan Alhamdulillah tahun berikutnya, saya benar-benar berada di belahan dunia yang lain. Kebetulan? Ah, rasanya tidak. Saya lebih suka menyebutnya dengan keberuntungan yang bukan kebetulan. Ya, karena dari dulu saya selalu percaya gak ada yang terjadi secara kebetulan di alam semesta ini. Semua atas rencana dan kehendak yang Maha Kuasa, Allah Subhanallahi wabihamdihi subhanallahil adzim. Dan, ini juga penting, karena ada proses yang saya jalani dibalik keberuntungan yang bukan kebetulan itu.

Setelah saya pikir-pikir, delapan bulan kemudian sejak SMS tersebut saya kirim, akhirnya saya berhasil mendapatkan kesempatan untuk terbang dan menginjakkan kaki di belahan bumi yang lain. Waktu yang relatif singkat. Delapan bulan (kurang lebih) Semesta bekerja (atas Perintah sang Pencipta) membantu mewujudkan apa yang menjadi impian saya waktu itu.

Lantas bagaimana kelanjutan dari berkas aplikasi beasiswa Erasmus Mundus yang waktu itu kami persiapkan dan daftarkan? Alhamdulillah gak ada yang lolos. Hahaha!

Tapi, Allah ternyata punya rencana lain buat saya. Saya tidak menyerah. Saya terus mencari informasi lain baik di lingkungan kampus, searching di Internet, maupun di berbagai kegiatan pameran Pendidikan luar Negeri yang diselenggarakan di Kota Malang.

Hingga akhirnya saya mendapatkan informasi salah satu beasiswa yang kemudian mengantarkan saya pada apa yang saya tulis di SMS tadi. Benar-benar berada di belahan bumi yang lain. Bukan di Eropa tapi di Amerika! Masha Allah…

Mengenang perjuangan kala itu, selalu membawa semangat dan energi positif untuk terus berjuang dengan sungguh-sungguh terhadap segala hal yang menjadi impian, cita-cita, dan harapan. Gak ada kata menyerah, gak ada kata putus asa, gak ada kata berhenti terhadap setiap mimpi yang kita miliki, sekecil atau sebesar apa pun itu. Karena Tuhan tak mengenal kata ‘kecil’ atau ‘besar’. Bagi-Nya semua impian itu sama saja. Tinggal bagaimana kita mau atau tidak untuk berjuang dengan sungguh-sungguh dalam meraihnya.

Pelajaran penting yang bisa sama-sama kita catat adalah, apa pun impian atau keinginan atau cita-cita kita, harus dan wajib ditulis. Sekali lagi, di-tu-lis. Dimana saja gak jadi masalah. Selama ia tertulis. Karena, berdasarkan apa yang telah saya alami, impian/keinginan yang kita tulis (apakah di buku catatan, handphone, tablet, laptop, dll) cepat atau lambat, percaya atau gak percaya, akan menjadi kenyataan. Sekali lagi, akan menjadi kenyataan. Ajaib. Benar-benar ajaib!

Tentunya, harus ada niat yang sungguh-sungguh untuk mewujudkannya. Terus dibarengi dengan usaha keras dan do’a dalam proses perjalanan mewujudkan impian tersebut. Sungguh, semesta akan berkonspirasi dalam mewujudkan impian dan keinginan kita. Dan yang pasti, Allah swt juga gak akan tinggal diam. Dia pasti akan membantu. Pasti.

Sangat mudah bagi Allah untuk mewujudkan semua keinginan/impian hamba-hamba-Nya. Kalau Dia sudah berkehendak, gak ada satu setan makhluk pun yang bisa menghalangi keputusan-Nya. Cukup baginya mengatakan, “Kun! faya kun!” Jadi!, maka jadilah (sesuatu itu). Yang jadi pertanyaan kemudian adalah apakah kita sudah pantas (menerimanya)? Apakah kita sudah siap (lahir-batin)? Apakah kita sudah berusaha dengan sungguh-sungguh dalam meraihnya?

 

***

Semoga tulisan singkat ini menjadi penyemangat, khususnya bagi saya pribadi, juga teman-teman yang saat ini sedang berjuang. Tak hanya dalam hal ‘berburu’ beasiswa, tapi dalam hal apa pun yang menjadi impian dan cita-cita dalam kehidupan masing-masing.

Teruslah berjalan. Teruslah bergerak. Teruslah mencari. Teruslah berusaha. Dan, ini yang paling penting, teruslah berdo’a dan berbaik sangka. Tanpa do’a apa yang terlihat mustahil akan selamanya terlihat mustahil. Dan dengan kekuatan do’a apa yang tak mungkin akan menjadi mungkin atas kehendak dan kuasa-Nya. Berbaik sangka juga sangat penting. Bukankah Allah itu sesuai dengan prasangka hamba-Nya? Jadi do’a + baik sangka adalah komponen utama dalam proses memperoleh keberuntungan yang bukan kebetulan (dalam hal apa pun, gak hanya sebatas dalam mencari beasiswa).

Yakinlah, suatu saat nanti kita akan mendapatkan apa yang kita inginkan dan impikan. Jika belum, jangan menyerah dan patah semangat. Teruslah berjuang. Jangan berhenti sebelum berhasil mendapatkan apa pun yang kita inginkan dalam hidup. Hidup di dunia ini hanya sekali kan? Jadi sayang banget kalau nanti di akhir hayat kita, ada kata menyesal yang muncul karena kita telah memutuskan untuk menyerah (terlalu dini) atas impian, harapan, keinginan, dan cita-cita kita.

Semoga tidak ya.

 

Salam Semangat,

 

Arasyid Harman

Bukan Motivator Biasa

Kalau ditanya siapa Motivator favorit saya, sulit rasanya untuk menyebutkan satu nama saja. Ada begitu banyak Motivator baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri yang menjadi favorit saya. Alasannya cukup sederhana, karena saya terlanjur mengenal mereka lewat pemikiran, gagasan, dan semangat yang tersebar lewat karya-karya mereka baik dalam bentuk buku, DVD, seminar dan pelatihan maupun lewat akun sosial media yang saat ini bisa dengan mudah kita ikuti.

Namun, jika ‘dipaksa’ untuk menyebutkan satu nama dari sekian banyak motivator favorit di Indonesia, maka dengan keras saya akan menyebutkan nama ini : Ippho Santosa! Yeeeahhh! 😀

Ippho Santosa? Ada yang belum mengenal beliau? Kebangetan kalau belum kenal! Saya anggap teman-teman udah tau lah atau setidaknya pernah dengar namanya atau mungkin pernah baca buku-buku karyanya.

Yup. Ippho Santosa. Secara pribadi saya mengagumi beliau, lebih-lebih karya-karyanya yang penuh inspirasi dan membawa perubahan besar bagi siapa saja yang membaca dan mempraktekkannya. Maka tak berlebihan jika saya mengatakan he is one of the best motivators in the World. Iya di dunia. Karena memang beliau juga telah memberikan motivasi melalui seminar di beberapa Negara yang tersebar di 4 benua. Sebuah bukti bahwa ia bukanlah motivator biasa aka abal-abal. hehe.

Setahu saya (mohon dikoreksi jika keliru), dialah satu-satunya motivator Indonesia (hingga hari ini) yang karya dan seminar motivasinya bisa Go International hingga ke 4 benua.

Salah satu buku karyanya yakni 13 Wasiat Terlarang: Dahsyat dengan otak kanan bahkan masuk rekor MURI. Tak hanya itu, hampir semua buku karyanya juga masuk dalam deretan Best Seller di toko-toko buku tanah air.

Mas Ippho Santosa tak hanya berbagi motivasi dan inspirasi lewat buku, ia juga berbagi lewat seminar dan berbagai media sosial seperti facebook, twitter, instagram, whatssApp dan Telegram. Dan semua akun sosial medianya sarat Ilmu. Ilmu yang ia share juga selalu up-to-date, research-based, dan yang pasti mudah dipahami dan dipraktekkan. Tak heran, followers-nya mencapai ribuan bahkan ratusan ribu dan terus bertambah.

Terkait pelatihan dan seminar motivasi, sudah banyak sekali peserta seminar yang mengikuti seminar-seminarnya dan merasakan keajaiban dalam berbagai aspek kehidupan. Tak terkecuali saya pribadi. 🙂

Saya menyukai buku-buku motivasi juga seminar/training motivasi karena saya ingin selalu bersemangat dalam menjalani setiap aktivitas dalam kehidupan sehari-hari. Dan ketika saya membaca buku atau mengikuti seminar/training motivasi semangat hidup saya terus meningkat yang membuat saya lebih produktif. Ibarat baterai HP yang sedang nge-drop, ketika mengikuti seminar motivasi saya mengisi kembali daya ‘baterai’ dalam diri saya yang sedang lemah.

Memang yang namanya semangat itu selalu naik-turun, oleh sebab itulah kita butuh motivasi setiap hari. Bagi saya membaca buku motivasi belumlah cukup. Harus diikuti dengan pelatihan atau seminar motivasi. Karena saat berada dalam satu ruangan dimana kita bertatapan langsung dengan sang motivator, aura aka energi positifnya jauh lebih dahsyat ketimbang hanya membaca buku.

Selain itu, saat mengikuti seminar motivasi saya belajar Ilmu baru yang tak ditemukan di buku-buku motivasi. Menurut saya, seminar atau training motivasi adalah penyempurna dari buku motivasi yang kita baca. Karena apa yang disampaikan di seminar/training belum tentu ada di dalam buku. Singkatnya, dua-duanya penting dan saling melengkapi.

Kembali ke soal motivator favorit, bagi saya pribadi, Mas Ippho Santosa bukanlah sekedar seorang motivator. Ia juga adalah guru kehidupan. Karena saya belajar banyak dari kisah perjuangan beliau semasa ia hidup di perantauan sebagai seorang pelajar, jauh dari keluarga tercinta demi menimba Ilmu. Semangat juang inilah yang menginspirasi saya untuk lebih bersungguh-sungguh dalam belajar.

Saya selalu kagum dengan gaya bertuturnya baik melalui lisan maupun tulisan. Benar-benar out of the box! Misalnya nih, “Jangan bermalasan dan beralasan!”, “Kaya atau belum kaya, tetaplah ber-mental kaya.”, “Orang hebat itu mau mengajar. Yang lebih hebat lagi, masih mau belajar.” dan masih banyak lagi.

Lebih jauh dari itu, ia juga sering berbagi kisah inspiratif. Dari beberapa kisah yang ia bagikan, ada satu kisah yang luar biasa dalam kehidupan Mas Ippho, dimana ia selalu merinding saat menceritakan kisah ini di berbagai forum seminar motivasi yang sedang ia selenggarakan. Dan, ya, saya pribadi juga ikut merinding saat ia menceritakan kisah tersebut. Apa kisahnya? Cukup panjang kalau saya tulis secara detail. Tapi, izinkan saya mempersingkatnya.

Kisah tersebut adalah kisah seorang bapak-bapak yang memiliki empat orang anak. Ia bekerja di sebuah Perusahaan selama 12 tahun lebih untuk menafkahi keluarganya. Sepanjang karirnya, si Bapak ini gak neko-neko alias lurus-lurus saja dalam bekerja. Ia bekerja dengan baik dan jujur. Tak seperti beberapa karyawan lainnya yang tidak amanah selama bekerja. Suka mengambil barang-barang kantor tanpa izin dari atasan.

Singkat cerita, si Bapak meninggal dunia. Selama 12 tahun lebih bekerja, banyak yang beranggapan ia gak dapat apa-apa. Karena kehidupan keluarganya ya begitu-begitu saja, tetap miskin. Kasian. Begitu komentar para rekan kerjanya. Mungkin ada yang bertanya dimana keadilan Tuhan? Tunggu dulu, kisahnya belum selesai.

Ke-empat orang anak dari si Bapak tadi terus berjuang sepeninggalnya. Ada yang bekerja, dan ada juga yang berbisnis. Dan beberapa tahun kemudian, salah satu anak dari bapak tersebut diliput oleh salah satu media Nasional dan tercatat sebagai salah satu dari 24 tokoh berpengaruh di Indonesia versi RCTI. Ia juga memiliki puluhan cabang Bisnis dan menjadi salah satu pembicara Nasional di berbagai forum. Karya-karyanya juga penuh inspirasi yang mengubah kehidupan banyak orang.

Siapakah anak tersebut? Dialah Ippho Santosa. Yup, dan si Bapak tadi tak lain dan tak bukan adalah Ayah kandung dari Mas Ippho Santosa. Sebuah kisah nyata kehidupan beliau yang mengajarkan kepada kita bahwa sekecil apa pun benih kebaikan yang kita tanam, pasti akan berbuah di kemudian hari. Ayah Mas Ippho memang tidak memetik kebaikan yang ia tanam selama ia bekerja di Perusahaan sebagai ladang amal jariyah baginya untuk menafkahi kehidupan diri dan keluarganya. Namun, benih kebaikan itu kemudian berbuah dan dipetik oleh anak-anaknya.

Setiap kali Mas Ippho menceritakan kisah ini, saya bisa melihat dan merasakan rasa bangganya memiliki seorang Ayah yang hebat dalam kesederhanaan dan kejujuran dalam menjalani kehidupan. Sosok yang sangat berpengaruh dalam perjalanan hidupnya. Dan saya yakin, salah satu hal inilah yang membuat ia menjadi seperti sekarang. Ya, Ippho Santosa bukanlah Motivator biasa. 🙂

Untuk teman-teman yang ingin mengenal Mas Ippho lebih jauh dan lebih dalam, bisa langsung klik link ini:  http://ippho.com/motivator-indonesia-motivator-terbaik-motivator-bisnis

Okay, udah dulu ya sharingnya. Semoga bermanfaat.

Salam Hangat dan Selamat berakhir pekan.

Arasyid Harman

 

 

Jembatan Selat Lembeh

Salah satu indikator kemajuan suatu Negara adalah tersedianya sarana/infrastruktur yang baik yang menunjang segala aktivitas warganya. Pembangunan Infrastruktur yang baik, modern dan berkelanjutan menjadi sebuah keniscayaan bagi kemajuan setiap wilayah perkotaan dan pedesaan yang ada di setiap Negara di dunia. Tak terkecuali di Indonesia.

Indonesia adalah Negara berkembang yang terus menerus melakukan percepatan dalam pembangunan infrastruktur. Setiap daerah di Indonesia terus melakukan inovasi dan percepatan pembangunan infrastruktur untuk menunjang dan memudahkan segala kegiatan warganya.

Salah satu daerah di Indonesia yang terus melakukan pembangunan infrastruktur adalah Kota Bitung, Kota industri yang berada di Provinsi Sulawesi Utara.

Sebagai warga Kota Bitung, penulis melihat pembangunan yang ada di Kota Bitung masih perlu ditingkatkan lagi. Khususnya dalam hal sarana transportasi Jembatan dan Dermaga penyeberangan menuju Pulau Lembeh yang juga merupakan salah satu wilayah Administratif Kota Bitung.

Pulau Lembeh adalah pulau yang menyimpan sejuta pesona wisata bahari dan merupakan salah satu tujuan favorit wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Selain itu, selat lembeh adalah surga bagi para penyelam dan pecinta fotografi bawah laut. Karena kekayaan dan keunikan biota bawah lautnya, para penyelam dan pecinta underwater photography dari berbagai Negara menjulukinya sebagai “The Mecca of Divers” atau Kiblatnya para penyelam dan kiblatnya para underwater macro photography enthusiasts.

Untuk menuju ke Pulau Lembeh, kita bisa melalui Pelabuhan Penyeberangan Feri dan Dermaga Ruko Pateten. Dua titik penyeberangan inilah yang selama ini menjadi sarana transportasi yang digunakan oleh para wisatawan dan masyarakat Kota Bitung yang akan menuju ke Pulau Lembeh dan sebaliknya.

Berdasarkan pengamatan penulis di lapangan, belum ada Jembatan penyeberangan yang menghubungkan Kota Bitung dengan Pulau Lembeh. Padahal, jembatan adalah salah satu infrastruktur transportasi yang penting. Dengan adanya jembatan penyeberangan yang menghubungkan Kota Bitung dan Pulau Lembeh akan memudahkan mobilitas warga, barang, dan kendaraan bermotor.

Selama ini warga menggunakan dua transportasi laut yakni kapal Feri dan perahu motor (Kapal Taxi yang dikelola secara mandiri oleh warga setempat). Kapal Feri juga terbatas jam operasionalnya. Hanya melayani dari jam 07:00 pagi hingga jam 15:00 Wita. Hal ini dikeluhkan oleh Masyarakat, karena banyak masyarakat Pulau Lembeh yang bekerja di Kota Bitung dengan membawa kendaraan pribadi, dan sebaliknya. Selain itu, jumlah armada kapal Feri hanya ada satu yang beroperasi setiap harinya.

Sementara itu, moda transportasi perahu motor yang terletak di Dermaga Ruko Pateten menurut pengamatan dan pengalaman penulis juga kurang efisien dan bahkan tidak aman. Meskipun begitu, banyak warga yang menggunakan jasa perahu motor ini. Tidak aman karena setiap sopir dari Perahu Motor juga menerima muatan kendaraan bermotor roda dua untuk diangkut di atas atap perahu. Hal ini tak jarang menjadi faktor terjadinya kecelakaan saat dalam perjalanan menyeberang dikarenakan kelebihan muatan.

Tidak adanya jaminan (asuransi) kecelakaan terhadap jiwa dan barang milik penumpang yang diangkut menggunakan perahu motor (kapal taxi), jelas sangat merugikan warga yang menggunakan jasa perahu motor yang dikelola secara mandiri oleh warga setempat. Selain itu, dari segi keamanan juga tidak tersedia fasilitas pelampung di dalam perahu yang berpotensi membahayakan keselamatan jiwa penumpang jika terjadi kecelakaan (perahu tenggelam) karena gelombang air laut yang tinggi atau kelebihan muatan.

 

Suasana di Dermaga Penyeberangan Ruko Pateten. Foto : Dok. Pribadi

Suasana di Dermaga Penyeberangan Ruko Pateten. Foto : Dok. Pribadi

 

IMG_0560

Suasana di Dermaga Penyeberangan Ruko Pateten. Foto : Dok. Pribadi

 

IMG_4936

Para penumpang sedang menunggu keberangkatan perahu motor yang mereka tumpangi. Foto : Dok. Pribadi

 

IMG_7944

Suasana di dalam perahu motor (Kapal Taxi). Tak ada pelampung yang disediakan untuk keselamatan penumpang. Foto : Dok. Pribadi

 

 

IMG_6298

Salah satu Perahu motor yang sedang antri, menunggu penumpang yang akan berangkat ke Pulau Lembeh. Foto : Dok. Pribadi

 

IMG_0563

Pemandangan perahu motor yang telah berangkat menuju ke Pulau Lembeh. Foto : Dok. Pribadi

 

IMG_0564

Perahu Motor yang berangkat dengan muatan penuh. Jelas terlihat, di atas atap perahu juga disesaki penumpang dan kendaraan motor roda dua. Tidak aman bagi keselamatan penumpang. Foto : Dok. Pribadi

 

Kapal Feri yang melayani penyeberangan Kendaraan bermotor dari Pelabuhan Bitung ke Dermaga Papusungan, Pulau Lembeh. Foto : Dok. Pribadi

Kapal Feri yang melayani penyeberangan Kendaraan bermotor dari Pelabuhan Bitung ke Dermaga Papusungan, Pulau Lembeh. Foto : Dok. Pribadi

 

Meskipun lambat, tetapi aman dan nyaman. Kapal Feri yang dikelola oleh PT. Pelindo IV beroperasi setiap hari. Foto : Dok. Pribadi

Meskipun lambat, tetapi aman dan nyaman. Kapal Feri yang dikelola oleh PT. Pelindo IV beroperasi setiap hari. Foto : Dok. Pribadi

 

Setelah melakukan pengamatan dan wawancara dengan beberapa warga dan penumpang yang berada di Pelabuhan dan Dermaga penyeberangan Ruko Pateten, mereka sangat menginginkan adanya jembatan penyeberangan yang menghubungkan Kota Bitung dengan Pulau Lembeh. Karena dengan adanya jembatan penyeberangan, mereka akan lebih mudah dalam melakukan mobilitas dan aktivitas sehari-hari.

Sebagai bagian dari masyarakat Kota Bitung, penulis sendiri juga mengharapkan hal yang sama. Adanya infrastruktur jembatan yang menghubungkan Kota Bitung dengan Pulau Lembeh akan memberikan multiplay effects di berbagai bidang.

1.) Dengan adanya jembatan, distribusi barang dari Kota Bitung ke Pulau Lembeh dan sebaliknya akan semakin cepat. Hal ini akan mendorong laju perputaran roda perekonomian di Kota Bitung.

2.) Jumlah wisatawan baik lokal maupun mancanegara akan meningkat karena akses menuju Pulau Lembeh akan semakin mudah dan murah. Mereka tidak harus antri di dermaga menunggu jam keberangkatan perahu motor dan kapal Feri yang jam operasionalnya terbatas.

3.) Investor baru akan berdatangan menanamkan modal mereka di Kota Bitung, khususnya di Bidang Pariwisata. Sebagaimana yang kita ketahui bersama, salah satu faktor yang menentukan Investor mau berinvestasi di suatu daerah adalah ketersediaan sarana/infrastruktur yang baik dan menunjang kegiatan bisnis dan investasi mereka.

4.) Jembatan penghubung Kota Bitung dan Pulau Lembeh akan menjadi ikon baru Kota Bitung yang bisa menjadi salah satu magnet para Turis yang ingin berwisata di Kota Bitung pada umumnya, dan pulau Lembeh pada khususnya.

5.) Masyarakat Kota Bitung dan Pulau Lembeh akan lebih meningkat produktivitasnya karena adanya Jembatan Selat Lembeh  memudahkan mobilitas mereka dalam melakukan berbagai kegiatan ekonomi.

 

Sebagai studi banding, penulis mengusulkan konsep atau model Jembatan Selat Lembeh mengikuti model atau konsep Sydney Harbour Bridge di Sydney, Australia. Jembatan Sydney Harbour adalah jembatan yang menghubungkan distrik pusat bisnis dengan wilayah Utara Sydney. Jembatan ini juga menjadi ikon bagi kota Sydney dan juga Australia bersama dengan Gedung Opera Sydney yang tersohor di seantaro dunia itu.

Dalam hal ini, Pemerintah Australia berhasil membangun infrastruktur yang maju, modern, serta berkelanjutan bagi warga masyarakat Sydney dan Australia pada umumnya. Hal tersebut berdampak pada kunjungan wisatawan yang tinggi setiap tahunnya yang secara langsung meningkatkan pertumbuhan ekonomi khususnya dalam bidang pariwisata. Dan tentunya, yang paling merasakan dampak dari adanya infrastruktur jembatan tersebut adalah warga masyarakat Australia, khususnya warga kota Sydney dimana mobilitas dan aktivitas mereka berjalan dengan efektif dan efisien.

 

 

 

Sydney Harbour Bridge from the air. Sumber : https://en.wikipedia.org/wiki/Sydney_Harbour_Bridge

Sydney Harbour Bridge from the air. Source : https://en.wikipedia.org/wiki/Sydney_Harbour_Bridge

 

Harapan penulis dan warga Kota Bitung pada umumnya, Pemerintah baik Pusat maupun Daerah bisa menerapkan konsep “ATM” (Amati, Tiru, Modifikasi) terhadap apa yang telah dilakukan oleh Pemerintah Australia  dalam inovasi pembangunan dan pengembangan infrastruktur jembatan dan juga Pelabuhan Sydney Harbour.

Adapun gambaran (blue-print) sederhana pembangunan infrastruktur Jembatan Selat Lembeh yang penulis bayangkan akan terwujud di masa depan adalah seperti terlihat dalam foto di bawah ini.

 

BEFORE - Plan of Lembeh Strait Bridge. Foto : Dok. Pribadi

BEFORE – Selat Lembeh yang indah dan menyimpan potensi Pariwisata Bahari kelas Dunia. Foto : Dok. Pribadi

 

AFTER - Plan of Lembeh Strait Bridge. Foto : Dok. Pribadi

AFTER – Plan of Lembeh Strait Bridge. Foto dan Desain Jembatan : Dok. Pribadi

 

Sebuah ide besar ini semoga bisa menjadi pertimbangan bagi Pemerintah baik Pusat maupun Daerah. Tentunya, perlu dilakukan berbagai riset dan studi lebih lanjut sebelum pembangunan Jembatan Selat Lembeh ini direalisasikan.

Penulis yakin, dengan adanya inovasi pembangunan infrastruktur berkelanjutan akan mendorong dan meningkatkan laju perekonomian suatu daerah, dalam hal ini Kota Bitung. Jika Australia memiliki Sydney Harbour Bridge, maka nantinya Indonesia akan memiliki Lembeh Strait Bridge yang akan menjadi ikon Kota Bitung yang juga merupakan Kawasan Ekonomi Khusus di Ujung Utara Indonesia.

Semoga.

 

 

 

2015 : moments to reflect

 

image credit (via) : www.gcu.ac.uk

image credit (via) : http://www.gcu.ac.uk

 

The moment I decided to change the way I think about life was the moment of self-transformation. I have always believed that everything happened for good reasons. If it is not good, then it is better. There are no bad reasons for the sake of life-improvement. It is always good at the end. And if it is not good even better, then yeah it is not the end. Truth be told. That’s how I see life.

I recall one of my teacher’s points of view towards life, he said: “Life is just a matter of ups and downs.” This was, with all means, simply true.

Since then, I kept reminding myself for not taking anything for granted. Just live and enjoy every bit of your life. Period.

I also believe that if God takes something from us, He will give another thing which is far better than the one He took. And, it always at the right, and mostly, perfect time.

When I was in doubt, there was also a voice within myself that kept telling me to believe. To believe in what I can’t see and feel. I didn’t know what that voice was. Was it this little thing known as intuition or some sort?

Maybe. One thing for sure, that voice has been right. I never imagined how it could finally lead me into the right direction.

I am sure all of us have been in ups and downs moments. No matter how perfect our life seems to be. And these moments have shaped our personality as well as characters. Moreover, our point of view towards life itself.

As for me personally, these moments of ups and downs taught me lessons that brought me closer to God. I know, God must not be crazy giving us such moments in our life. He knows exactly what He was, is, will be doing to us and all of His creation.

It is acceptable to complain though. Have I complained? Do I look like that-one-human-free-of-problems? Which made me far away from the word ‘complaining’…??

Of course not! I do complain. A looooot! Hahaha. And that’s fine, I guess. That’s how I measure my faith to God. If I never complained, I would never have the feeling of being weak, lost, desperate, and hopeless, in front of God.

And my complaints always go along with tears. That’s how I relieve all the down-moments. Was God angry to me? What a silly question! Of course He wasn’t. If He was, then He would not change my life for the better after the dark-time (s).

I have come into conclusion that, all these moments are meant to change my life for the better. And that’s only work if I change the way I think about the life God has been blessed me with. For that I can’t thank God enough and I am forever grateful.

It’s always been a self-relief mantra to reflect towards anything that happen in my life. Not to mention, every single thing I’ve done in certain period of time as well as in daily basis. And of course at the end of year before welcoming the new year of freshness and hopes which is yet to come soon.

Well, 2015 has been around the end of its time. This year, has been great with all of its ups & downs of course, and I always value and learn to pause for a reflection towards those mixed-moments of learning, growing, sharing, and living in one whole year. By doing so, I become more content, mature, generous, and most importantly, grateful.

 

2015, Thank you for all the lessons.

2016, I am ready.

Hope everyone is taking their own time of reflection for this amazing year of 2015 and being ready for this (coming) brand new year of 2016!

Is it too soon to shout “Happy New Year” ?

 

Warm Regards from Celebes Island,

 

Arasyid Harman